01 Juli 2009

Irwan Hidayat, Bos PT Sido Muncul

Racikan Cespleng Si Bengal Irwan

  1. Jawapos, Selasa 30 Juni 2009
  2. Jawapos, Selasa 30 Juni 2009
  3. Jawapos, Selasa 30 Juni 2009


Pendidikan tinggi lengkap dengan gelar keilmuan mentereng bagi banyak orang adalah modal penting meniti tangga sukses. Tetapi, menyimak perjalanan Irwan Hidayat, 62, menjadikan Sido Muncul sebagai pabrik jamu terbesar di Indonesia, pendapat itu tidak sepenuhnya benar.

---

BAGI penikmat jamu atau pehobi nonton layar kaca, nama Sido Muncul tentu tidak asing lagi di telinga. Hampir semua kedai jamu dan toko kelontong menjual produk-produk Sido Muncul seperti Kuku Bima dan Tolak Angin. Dan hampir setiap jam, produk minuman energi dan penyembuh gejala influenza itu muncul di setiap jeda iklan televisi.

Sambil menyantap ikan bakar dan sea food saat makan malam di Rumah Makan Gama di Semarang pekan lalu, Irwan bercerita tentang jerih payahnya membangun Sido Muncul. Saat mengawali cerita, pria kelahiran Jogjakarta ini justru merasa bersyukur hanya lulusan SMA. ''Itupun lulusnya setelah saya pindah lima kali,'' ungkapnya sambil tertawa. Katanya, kalau dia pintar, dia tidak mungkin membawa Sido Muncul, perusahaan jamu keluarga yang didirikan tahun 1951 menjadi market leader di tanah air bahkan menembus pasar mancanegara.

''Wah, saya itu dulunya nggak karu-karuan,'' ungkapnya. Irwan mengakui, waktu dia bersekolah, dia bukan tipe pelajar bintang pelajar yang berpenampilan rapi, mematuhi peraturan sekolah, dan nilai-nilai pelajarannya excellent semua. ''Saya males belajar,'' tegasnya.

Irwan menggambarkan dirinya saat SMA dulu, berambut gondrong, bangun selalu kesiangan, buku tulis pun cuma satu. Di selipkan dikantong pula.

"Udah gitu nek ulangan suka ngrepek (nyontek,Red), makanya saya nggak pinter-pinter'' lanjut Irwan dengan logat Jawa Semarang yang kental.

Keadaan itu masih diperparah dengan seringnya dia berpindah-pindah SMA, hingga lima kali. Bukan karena tinggal kelas, tapi sekolahnya dibakar. Maklum, ketika dia SMA dulu, berbarengan dengan masa pemberontakan di Indonesia. ''Lha piye, masuk sekolah A dibakar, pindah sekolah B dibakar lagi, sampe capek sekolahnya dibakar terus. Pindah lagi ke tempat lain, eh, saya masuk sekolahnya ditutup, pindah lagi. Sampai lima kali,'' ungkapnya. Akhirnya, setelah pindah kesana kemari, Irwan berhasil lulus dari SMA Kristen Jogjakarta. "Itupun, sekarang sudah tutup," ujar pengusaha yang punya hobi nonton acara infotainment itu.

Setelah lulus SMA tahun 1965, Irwan tidak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Seperti yang dia katakan, dia malas belajar. Makanya sulung dari lima bersaudara ini memilih untuk mencari kerja. Ternyata, rencananya tidak berjalan mulus. Lamarannya seringkali ditolak. Sempat dia bekerja menjadi sales obat di PT Ireco Pharmaceutical pada 1969. Hanya satu tahun Irwan bertahan. Kebiasaan bangun kesiangan membuat dia gagal bertahan. Pada 1970, Irwan akhirnya masuk ke dalam lingkungan Sido Muncul. Perusahaan jamu keluarga yang didirikan oleh neneknya, Ibu Rahmat Sulistyo.''Mau bagaimana lagi, saya kepepet nggak ada pilihan. Mau kerja ditempat lain juga susah. Nggak ada yang mau nerima,'' ucapnya beralasan.

Irwan sendiri merupakan penerus generasi ke tiga. Setelah neneknya, tongkat kepemimpinan diserahkan ke ibunya, Desi Sulistyo Hidayat. Saat Irwan masuk, tempat produksi Sido Muncul berada di Mlaten, Trenggulun 154, Semarang. Lalu tahun 1981 pabriknya pindah lagi ke Bugangan, Semarang. ''Dari awal saya masuk, saya diberi ibu jabatan direktur. Nggak pernah naik atau turun pangkat,'' kelakarnya.

Jabatan boleh saja direktur, tapi pengetahuan Irwan mengelola perusahaan kala itu benar-benar minim. Dia benar-benar tidak tahu apa-apa.

Bahkan dia mengatakan, baru memiliki ide-ide segar setelah tahun 1990.''Selama dua puluh tahun, dari tahun 1970 sampai 1990, saya ndak maju-maju. Keliruuuuuuu terus,'' katanya.

Bagaimana tidak, setelah menjabat jadi direktur dia datang ke kantor jam 12.00 siang. ''Jam dua siang main kartu, jam empat pulang,'' lanjutnya. Beruntung, dia tidak sendirian. Keempat adiknya, Sofyan Hidayat, Johan Hidayat, Sandra Linata, dan David Hidayat juga ikut terlibat dalam perusahaan tersebut. Makanya, mereka saling bahu membahu.

Setelah dua puluh tahun lebih dia memegang perusahaan, tidak ada kemajuan yang berarti. Barulah dia sadar. Mulailah Irwan memikirkan bagaimana membuat jamu yang baik, bagaimana meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap produknya. ''Lha gimana lagi, dua puluh tahun jualan tapi nggak laku-laku,'' candanya.

Saat krisis, 1997, Irwan membangunkan pabrik modern. Saat itu, banyak kolega mengingatkan keputusan itu nekat. Namun ,sikap ''tidak mau tahu'' itu yang malah menyelamatkan Irwan dan Sido Muncul. Tahun 2000, pabrik rampung dan beroperasi. Sido Muncul menjadi perusahaan paling siap setelah krisis reda. ''Makanya saya bersyukur meski hanya lulusan SMA. Kalau sudah hebat dari awal, mungkin saja pabrik ini belum berdiri. Soalnya kebanyakan spekulasi,'' kata suami dari M. Shinta Ekoputri Sujarwo ini.

Kini, Sido Muncul menjadi produsesn jamu yang kian diperhitungkan. Memiliki pabrik seluas kurang lebih 46 hektar di Klepu, Ungaran, Semarang, Jawa Tengah, Sido Muncul didukung 3.500 karyawan dan delapan laboratorium modern untuk pengembangan produk. Pabrik Sido Muncul kini mampu memproduksi Tolak Angin sampai 40 juta sachet dan 300 juta sachet untuk pabrik Kuku Bima Energi dan minuman energi lainnya per bulan

Karena Sido Muncul merupakan perusahaan keluarga, generasi ke tiga ini sudah mulai mempersiapkan memberikan tongkat estafet ke generasi ke empat. Yaitu anak-anak mereka. ''Anak-anak kami sudah mulai terlibat di dalam perusahaan. Banyak yang bilang, mempertahankan perusahaan keluarga itu sulit. Setelah generasi ke tiga performa perusahaan mulai melorot. Tapi itu tidak berlaku bagi kami. (janesti/kim)

Tentang Irwan Hidayat

Tempat/Tanggal Lahir : Jogjakarta, 23 April 1947

Jabatan : Direktur Utama PT Sido Muncul

Istri : M. Shinta Ekoputri Sujarwo

Anak : tiga

Pendidikan: SMA

Produk : Jamu dan minuman energi

Omzet : 40 juta sachet Tolak Angin dan 300 juta

sachet Kuku Bima Energi per bulan.

Pemasaran : Seluruh kota di Indonesia dan Malaysia,

Hongkong, dan negara timur tengah.


Bersatu, Jamu Sido Muncul Maju

SELAIN selalu beradaptasi dengan perkembangan zaman, tantangan perusahaan keluarga yang sudah beroperasi turun-temurun adalah menjaga keharmonisan antar-anggota keluarga. Sebagai anak pertama dari lima bersaudara pewaris Sido Muncul, Irwan Hidayat merasa persatuan menjadi kunci suksesnya meneruskan perusahaan keluarga yang sudah berdiri sejak 1940 ini.

Irwan mengakui, menjaga keutuhan bisnis keluarga yang sudah jadi warisan turun temurun bukan suatu pekerjaan yang mudah, mengingat sebelum manajemen perusahaan diserahkan kepadanya, banyak kepentingan beradu di masing-masing anggota keluarga pewarisnya. "Perbedaan pendapat itu tidak salah yang penting tahan diri, kendalikan diri dan jangan saling mementingkan diri sendiri. Apalagi saat miskin, kita justru harus rukun," ujar bapak tiga anak dan kakek dua cucu ini.

Bertutur tentang masa lalunya, Irwan kecil yang fotonya bersama sang nenek dijadikan logo perusahaan Sido Muncul ini justru mengaku suka berbeda pendapat dalam banyak hal. Namun, saat perbedaan pendapat terjadi antara dirinya dan saudara-saudara yang lain, justru sang ibu menyalahkan dirinya. " Menurut ibu, kalau ada konflik berarti anak tertua yang salah karena dia memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga kerukunan adik-adiknya," ujarnya. Dengan berbekal kesabaran, akhirnya sedikit demi sedikit Irwan mencari jalan tengah untuk menjaga kerukunan antarsaudara yang satu dengan yang lain. Upaya itu dilakukan dengan mulai mendengarkan pendapat adik-adiknya satu per satu dan membicarakan setiap perbedaan pendapat melalui jalan musyawarah.

Sejak saat itu Irwan sadar, tanpa kerukunan maka tidak akan berbuah kesuksesan. Sebaliknya, kesuksesan tanpa kerukunan juga tidak ada artinya.

Ternyata visi menjaga kerukunan itu terbukti sukses membawa Sido Muncul menjadi perusahaan industri jamu terbesar di Indonesia.

Bahkan kerukunan itu pula yang terus menerus dia pesankan kepada anak-anak serta keponakan-keponakannya yang akan jadi generasi penerus perusahaan. (jan/kim)


Iklan Sido Muncul Pilih Marijan-Chris John karena Penakut

SELAIN produk jamunya yang mujarab, Sido Muncul juga dikenal karena strtegi memasarkan produknya yang "berani beda". Jika perusahaan lain suka memajang artis yang cantik dan ganteng untuk menjual produk, pabrik jamu terbesar ini malah berani menampilkan bintang-bintang iklan lokal, dengan penampilan "pas-pasan", namun punya prestasi menjulang.

Tidak heran, jika Sido Muncul dalam iklannya menampilkan Mbah Marijan, penjaga Gunung Merapi, sebagai ikon minuman suplemen Kuku Bima. Tidak itu saja, Sido Muncul juga menggandeng petinju kelas dunia, Chris John, untuk sekadar memberi branding image kepada masyarakat bahwa Kuku Bima cocok untuk yang memerlukan energi tambahan setiap hari. Padahal sejak tahun 1970, Sido Muncul juga rajin beriklan dengan artis top seperti Aminah Cendrakasih, Teti Kadi, Sophan Sophian sampai Agnes Monica. ''Sebenarnya tidak harus pakai orang ngetop untuk main iklan. Orang-orang seperti Mbah Marijan, Chris John, bahkan TKW dan orang cacat yang masih tetap bekerja pun bisa menjadi ikon. Mereka gambaran orang yang survive dan kuat,'' ujar Irwan memberi alasan.

Ide menggunakan orang-orang "special" itu muncul ketika dirinya dan penulis skenario serial Si Doel Anak sekolahan Harry Tjahjono berkunjung ke Gunung Merapi bertemu dengan Juru Kunci Mbah Maridjan. Dalam sebuah obrolan akhirnya mereka tahu, kalau sebenarnya Mbah Maridjan takut dengan wedhus gembel (awan bergulung penanda gunung meletus,red) . ''Padahal kita tahu, ketika gunung Merapi diberitakan akan meletus Mbah Maridjan ngotot bertahan,'' ucapnya. Begitu juga saat bertemu Chris John. Siapa yang tidak kenal petinju asal Banjarnegara Jawa Tengah ini. Di dalam ring, pria ini tangguh tak terkalahkan. ''Kelihatannya begitu, kan. Tapi ternyata dia itu takut kalau lagi di ring lho,'' katanya. Meski takut, baik Mbah Maridjan dan Chris John tetap bertahan dengan tugasnya masing-masing. Mengetahui sisi lain kedua pria itu, Irwan dan Harry Tjahjono akhirnya mengangkat mereka berdua menjadi ikon lelaki pemberani.

Selain iklan yang lebih merakyat, Sido Muncul juga terkenal dengan mudik gratisnya. Sudah puluhan ribu penyeduh jamu se-jabodetabek ''dipulangkan'' ke kampung halaman oleh Sido Muncul saat hari raya. ''Ide awal mudik gratis sebenarnya dari adik saya, Sofyan. Saya sih cuma bagian klebet bendero (mengibarkan bendera),'' ucapnya merendah.

Ide itu tercetus karena sebenarnya mereka ingin memberikan hadiah untuk penjual jamu. Dan, menurut dia, hadiah yang tepat adalah mudik gratis. ''Penjual jamu itu kebanyakan orang desa. Dan kami lihat kalau pas waktunya mudik, mereka kesusahan cari tiket,'' ungkapnya. Mudik Gratis sendiri tercetus kali pertama tahun 1991. Sampai tahun lalu, mudik gratis sudah berjalan 19 kali. (jan/kim)

1 komentar:

IBU RAHMA YANI RIAU mengatakan...

TOKO ABADY CELL discount 50%
BLACKBERRY LAPTOP DN LAIN2
INFO Hub/SMS 085333333492
Atau kunjungi situs kami
www.abady-cell.blogspot.com