19 Oktober 2009

Perkembangan Turisme Kota Beijing 3

Dahlan Iskan: Pesatnya Perkembangan Kota Beijing (3-habis)
Tarif Parkir Akan Dinaikkan Setinggi Yao Ming

Sumber: Jawapos, Sabtu 17 Oktober 2009
(http://www.jawapos.co.id/halaman/index.php?act=detail&nid=95627)


MELEDAKNYA pembangunan kota Beijing memang juga membawa sisi buruk: kemacetan total di jalan-jalan raya. Sangat melelahkan. Dari Beijing Hotel ke lapangan basket di Fuxing Lu (untuk nonton pertandingan basket NBA) perlu waktu satu jam. Untuk ke stasiun kereta api Beijing Selatan (stasiun kereta api yang modern dan mewahnya setara dengan Bandara Hongkong) juga satu jam. Padahal, kalau lagi lancar, jarak itu bisa ditempuh hanya 15 menit.

Di kota Beijing saja, kini memang sudah ada 4.920.000 mobil. Dan masih terus bertambah setiap hari. Meski harga bensin 6 yuan/liter (sekitar Rp 9.000/liter), itu tidak membuat orang menghemat. Padahal, naik kereta bawah tanah ke mana pun arahnya dan ganti kereta berapa kali pun, tarifnya hanya 2 yuan (sekitar Rp 3.000).

Memang sudah ada aturan baru. Mobil dengan nomor-nomor tertentu tidak boleh terlihat di jalan raya pada hari-hari tertentu. Bukan lagi aturan genap-ganjil, tapi sudah dua nomor sekaligus. Kalau hanya genap-ganjil, orang masih bisa mengakali dengan membeli dua mobil. Pemerintah Beijing tidak mau ''tertipu" seperti itu. Bahkan, nomor-nomor yang dilarang beroperasi pun selalu diubah setiap delapan minggu. Pengaturan nomor ini saja sudah mengurangi beroperasinya 200.000 mobil setiap hari.

Tapi, ternyata Beijing masih macet saja. Terutama pada hari libur Sabtu-Minggu, ketika semua nomor boleh masuk jalan raya. Saya selalu berpikir apa yang akan terjadi dengan lalu lintas di Beijing lima tahun lagi?

Ternyata sudah ada konsep matang. Tinggal melaksanakan dalam waktu dua tahun ini: menaikkan tarif parkir setinggi pemain basket Yao Ming. Jalan keluar ini diambil setelah para pejabat Beijing melakukan kunker ke luar negeri. Yakni ke Tokyo. Pulang dari kunker, mereka langsung membahas hasil kunker itu dan membuat keputusan untuk dilakukan segera.

Berapa tingginya kenaikan itu, kini masih disimulasikan. Yang jelas, akan sangat tinggi dan revolusioner. Tidak ada jalan lain untuk menghindarkan kota Beijing dari neraka kemajuan. Sekarang ini tarif parkir di Beijing memang tergolong murah untuk kota metropolis. Di pusat kota sampai wilayah ring road 2, tarifnya 10 yuan per jam (Rp 15.000/jam). Di kawasan antara ring road 2 sampai ring road 5, tarifnya 5 yuan per jam (sekitar Rp 7.500/jam). Sedangkan di luar ring road 5 adalah 2 yuan/jam (sekitar Rp 3.000/jam).

Sistem ring road itu sebenarnya dibangun untuk menjamin agar lalu lintas kota Beijing yang kian besar tersebut tetap lancar. Prinsipnya: infrastruktur jalan akan terus ditambah seiring dengan pertambahan mobil dan perkembangan kota. Dengan sistem ring road, kendaraan dari timur ke barat atau dari selatan ke utara tidak harus lewat tengah kota. Sampai-sampai pembangunan jalan lingkar itu terus ditambah. Sekarang ini sudah membangun jalan lingkar yang kedelapan! Toh, kenaikan kemakmuran Tiongkok yang pesat tidak bisa mengatasi bertambahnya jumlah mobil. Maka, aturan yang sangat ''kejam" terpaksa akan diberlakukan.

Sangat mungkin, tarif parkir di kawasan pusat kota sampai ring road 2 akan naik dari 10 yuan menjadi 50 yuan/jam (atau sekitar Rp 75.000/jam). Ini masih sedikit lebih murah daripada tarif parkir di kota San Fransisco. Bahkan, masih jauh lebih murah daripada tarif parkir di Tokyo. Karena itu, kalau tarif semahal itu masih belum juga bisa mengatasi kemacetan Beijing, tidak ada jalan lain kecuali akan terus dinaikkan sampai ke angka di mana masyarakat terpaksa mengendalikan diri untuk tidak menggunakan mobil pribadi lagi.

Saya bayangkan, nanti, kota Beijing yang sudah sangat elegan itu akan mencapai tahap yang setara dengan Tokyo: modern, bersih, dan tidak terasa sesak. Tentu ada kurang lebihnya. Mungkin, di beberapa sektor Tokyo masih unggul, tapi di banyak sektor, Beijing akan jauh lebih unggul.

Karena itu, janganlah lagi punya pikiran bahwa belanja di Beijing lebih murah. Beijing sudah kian mahal saja. Dulu, makan di Beijing lebih murah daripada di Jakarta. Kini sudah terbalik. Dulu, koki-koki terbaik Tiongkok ''lari" ke Hongkong karena bisa lebih makmur. Itulah sebabnya, makanan di Hongkong terkenal enaknya. Restoran-restoran di Hongkong dipegang oleh juru masak-juru masak terbaik. Kini mereka sudah mulai kembali ke Tiongkok, khususnya ke Beijing, karena kemakmuran juga sudah ada di sana.

Beijing saya lihat juga sudah mulai ''mengancam" posisi Shanghai. Inilah yang membuat Shanghai, sebuah kota yang sudah lebih dulu mempunyai citra lebih modern dan menjadi pusat keuangan, juga terus berbenah. Shanghai yang akan menjadi tuan rumah Ekspo Dunia tahun depan (Arab Saudi untuk kali pertama akan memamerkan bentuk masa depan kota Mina di World Expo ini) lagi berusaha keras untuk menjadi satu dengan Hanzhou. Yakni, dengan jalan membangun kereta berkecepatan 330 km/jam yang menghubungkan dua kota itu.

Persaingan Beijing yang sedang mencoba menjadi satu dengan Tianjin ini akan sangat keras di saat Shanghai sedang dalam proses bersatu dengan Hanzhou. Persaingan itu juga telah mendorong Guangzhou untuk menjalin kombinasi dengan Shenzhen di wilayah selatan.

Di Guangzhou, misalnya, saya diberi kesempatan meninjau pembangunan ''kota baru" seluas 28 km2 yang khusus untuk segala fasilitas Asian Games tahun depan. Begitu Asian Games selesai, kota baru tersebut akan menjadi kota modern Guangzhou menggantikan kota yang sekarang. Karena itu, meski dibangun untuk Asian Games, perencanaan dan penataan kota di selatan Guangzhou tersebut sudah disesuaikan dengan perencanaan sebuah kota baru.

Siapa yang kalah dalam persaingan itu nanti? Saya kira tiga-tiganya tidak akan kalah. Yang akan kalah justru Singapura dan Tokyo yang tidak terlibat dalam persaingan tersebut. Ini biasa dalam marketing. Dua raksasa bertempur habis-habisan, yang kalah justru perusahaan yang kecil-kecil. (*)
Selengkapnya...

Perkembangan Turisme Kota Beijing 2

Dahlan Iskan: Pesatnya Perkembangan Kota Beijing (2)
Saatnya Menarik Turis Tiongkok ke Indonesia

Sumber: Jawapos, 16 Oktober 2009

(http://jawapos.com/halaman/index.php?act=detail&nid=95465)


"Beijing baru" telah membuat sikap orang Beijing berubah. Kalau dulu terbiasa naik sepeda dan gerobak, kini sudah harus hidup dengan fasilitas serbadigital dan eskalator. Perokok berat (yang antara lain juga membuat kota kotor) menurun drastis karena terlalu banyak tempat "dilarang merokok". Kebiasaan berdahak dan meludah tidak terlihat lagi di jalan-jalan dan tempat umum. Toilet-toilet yang dulu berbau menyengat tiba-tiba lenyap.

Bus kotanya bagus-bagus dan bersih. Sistem karcisnya juga digital. Sistem kereta bawah tanahnya sudah meluas bersilang-silang ke seluruh penjuru kota. Petunjuk jalan di stasiun bawah tanahnya serbadigital. Petanya digital. Iklan-iklan di dalam kereta bawah tanah itu hanya ada iklan digital.

Kalau dulu hanya ada satu lin, kini kereta bawah tanahnya sudah 10 lin. Dari 10 lin itu tinggal satu yang tidak serbadigital. Yakni, lin timur-barat yang melewati Tian An Men. Maklum, inilah lin yang pertama dibangun 30 tahunan lalu. Tapi, 9 jurusan lainnya sudah serbadigital dan tangganya sudah eskalator semua. Saya yang 10 tahun lalu merasa lebih modern dari mereka, kini harus banyak bertanya tentang cara membeli karcis di mesin-mesin yang tidak bisa diajak bicara itu. Saya sudah kalah dengan orang-orang kampung yang dulu menarik gerobak itu.

Maka, kalau dulu orang Beijing sangat memimpikan pergi ke Singapura untuk bisa merasakan kehidupan yang modern, kini berubah total. Pikiran seperti itu sudah dianggap masa lalu. Mereka sendiri sehari-hari sudah berada di kehidupan itu sekarang. Orang Beijing sudah semakin tidak tertarik ke Singapura. Orang-orang Tiongkok di luar Beijing pun, misalnya yang di wilayah selatan, akan kian mimpi ke Beijing daripada ke Singapura.

Perayaan 1 Oktober lalu, misalnya, ternyata telah membuat orang Tiongkok begitu bermimpi ingin melihat Beijing. Perayaan yang isinya perpaduan antara kekuatan militer dan kekuatan hiburan itu memang dikemas sangat intertainment. Lalu harus disiarkan secara langsung di semua channel televisi. Bahkan, selama penyiaran perayaan itu sehari semalam, tidak boleh ada iklan sama sekali. Hari itu semua stasiun tv yang memang dimiliki negara, harus mengabdi sepenuhnya kepada negara. Pemerintah komunis Tiongkok sadar benar peran dan kekuatan media massa dalam memobilisasi emosi dan mengaduk-aduk perasaan. Termasuk membangkitkan perasaan ai guo -cinta negara.

Dan berhasil. Sebagaimana yang dilakukan selama Olimpiade tahun lalu, upaya membangun kebanggaan rakyat melalui pengerahan televisi bukan main dampaknya. Keesokan harinya, setelah Kota Beijing ditutup satu hari untuk perayaan itu, Beijing kebanjiran turis sembilan hari. Di kawasan sekitar Tian An Men, tempat yang sangat populer dalam siaran masal televisi itu, padat manusia. Mereka ingin melihat langsung apa yang mereka lihat di televisi sehari sebelumnya. Apalagi semua yang diparadekan masih dipamerkan di sana. Termasuk dua vtron raksasa masih terus memutar video rekaman parade itu.

Meski penyiarannya dipaksakan oleh pemerintah, siaran itu sendiri memang sangat layak ditonton. Kalaupun ada tv yang dibolehkan menyiarkan acara lain, tidak akan ditonton orang. Parade itu sendiri, dan hiburan pada malam harinya, sangat layak dikagumi: serbaindah dan serbakolosal. Penari, penyanyi, bintang film, pemain kungfu, dan kekuatan persenjataan terbaik yang dimiliki negara memang dikerahkan habis-habisan. Termasuk Peng Li Yuan, penyanyi yang sampai mendapat pangkat tituler brigjen, yang kini menjadi isteri Xi Jinping. Xi Jinping adalah wakil presiden Tiongkok yang tiga tahun mendatang hampir dipastikan menjabat presiden menggantikan Hu Jintao.

Perayaan seperti itu memang hanya boleh dilakukan 10 tahun sekali. Karena itu, sangat emosional. Apalagi, bersamaan dengan kebangkitan Tiongkok dari negara gagal ekonomi (lebih rendah dari status negara sangat miskin) menjadi superpower seperti sekarang.

Di satu pihak apa yang terjadi di Beijing pekan lalu kian membuat kita tertinggal. Tapi, di pihak lain ada pula kesempatan. Yakni, ketika mereka sudah kian makmur dan tidak lagi tertarik ke Singapura. Saatnya kita mengisap turis mereka ke Indonesia. Minat mereka melihat Indonesia sudah kian besar. Apalagi, ke Bali dan Jogja. Sebuah kekayaan alam yang tidak akan bisa dimiliki Beijing sampai kapan pun.

Tinggal bagaimana usaha keras kita mengalihkan turis Tiongkok yang kian lama kian banyak jumlahnya itu. Saya bangga bahwa Garuda mulai melangkah maju. Bahkan, pekan lalu Garuda menjadi berita penting di koran terbesar Hongkong. Judulnya begini: Garuda telah memberi pelajaran pada perusahaan penerbangan Tiongkok.

Isinya menceritakan bagaimana manajemen baru Garuda di bawah Dirut Emirsyah Satar telah melakukan perombakan yang membuat Garuda dari berantakan dan rugi besar menjadi perusahaan berlaba. Lalu mampu menambah pesawat-pesawat baru dari jenis Airbus 330 dan Boeing 737-800. Lalu bisa membuka rute baru di dalam negeri dan luar negeri. Termasuk akan menambah penerbangan Jakarta-Shanghai dan Jakarta-Beijing menjadi setiap hari. Satar juga tahu bahwa turis dari Tiongkok kian meledak saja dan tahun ini mencapai 48 juta orang. Dari jumlah itu baru 250.000 yang ke Indonesia.

Dengan menampilkan Satar itu kelihatannya koran terbesar di Hongkong tersebut ingin mengkritik pemerintah Tiongkok dengan cara halus. Misalnya, ketika menulis bagaimana Satar berani mengurangi jumlah karyawan Garuda dari 6.000 menjadi 5.000. Keberanian seperti inilah yang tidak dimiliki perusahaan penerbangan Tiongkok, sehingga dua tahun terakhir banyak yang rugi besar. Koran itu mengkritik bagaimana panggabungan China Eastern Airlines (Dongfang) dengan Shanghai Airlines akhir tahun ini nanti tidak diikuti restrukturisasi karyawan yang jumlahnya mencapai 52.000. Bagaimana pemerintah Tiongkok telah menjanjikan tidak adanya PHK itu hanya demi terjaminnya lapangan kerja mereka.

Koran itu juga menulis bagaimana Satar berani mengajukan syarat khusus kepada menteri perhubungan ketika dia akan diangkat menjadi CEO Garuda pada 2004 dulu. Syarat itu adalah agar pemerintah tidak mencampuri penetapan rute mana yang harus diterbangi dan rute mana yang harus dihapus. Satar juga minta agar boleh melakukan apa saja untuk membuat perusahaan bisa laba. Ini, kata koran tersebut, bisa dijadikan pelajaran bagi Tiongkok untuk memperbaiki perusahaan penerbangannya.

Persaingan antarnegara, bahkan antarkota, memang kian keras. Diperlukan orang-orang seperti Emirsyah lebih banyak lagi. Saya yakin Indonesia akan punya hubungan ekonomi yang kuat dan saling menguntungkan dengan Tiongkok. Tinggal bagaimana kita memanfaatkannya. Dan, Indonesia akan maju, mengalahkan negara-negara seperti Thailand, Filipna, Malaysia, dan Vietnam dalam waktu tujuh tahun ke depan. (*)
Selengkapnya...

16 Oktober 2009

Perkembangan Turisme Kota Beijing 1

Dahlan Iskan: Pesatnya Perkembangan Turisme Kota Beijing (1)
Geser Singapura sebagaiPusat Turisme KotaAsia

Sumber: Jawapos/Batampost, Kamis 15 Oktober 2009
(http://batampos.co.id/Kolom/Catatan_Dahlan_Iskan/Pesatnya_Perkembangan_Turisme_Kota_Beijing_(1).html)

KALAU dulu hanya ditemani Wangfujing, kini pusat turisme Tian An Men -Forbiden City sudah dikitari tiga pusat kya-kya sekaligus. Masing-masing dengan ciri khas dan segmennya sendiri-sendiri. Ditambah pembangunan CDB (Central Business District) di arah timur Tian An Men, saya sudah bisa membuat kesimpulan ini: turisme-kota di Asia yang selama ini hanya disimbolkan oleh Singapura, segera diambil alih Beijing.


Setelah penutupan World Media Summit, saya pergi ke CDB dan naik ke lantai 66 sebuah gedung baru di kompleks yang isinya hanya gedung-gedung yang menuding langit. Saya masuk ke restorannya di beberapa lantai di atas lantai 66, lalu naik lagi untuk mengintip diskoteknya, naik lagi untuk melongok ke bar-barnya: saya tidak tahu lagi kalau malam itu berada di Beijing yang pernah saya kenal. Saya sudah seperti berada di kehidupan malam Los Angeles, atau New York, atau Tokyo. Sudah mengalahkan Singapura.

Di samping wisata yang mengandalkan kekunoannya, belanjanya, dan kya-kyanya, kini Beijing pun sudah memiliki wisata hiburan malam yang elegannya seperti di Barat. Bahkan, dengan alokasi ruangan yang lebih besar. Ini karena Beijing juga sudah menjadi salah satu pusat keuangan di luar Shanghai dan Shenzhen.

Pembenahan Kota Beijing yang gila-gilaan lima tahun terakhir memang telah membuat kota ini sangat modern, bersih, cantik, dan terasa sekali sangat elegan. Beijinglah kota paling elegan di Tiongkok. Sudah lebih 15 tahun ini saya tidak pernah tidak ke Beijing setiap tahun. Yakni, sejak saya masih tinggal di hotel yang di halamannya masih berserakan batubara yang sangat kotor untuk menyediakan air panas sampai kini masuk ke hotel yang lobinya saja di lantai 66. Bahkan belakangan, dengan semakin banyaknya kegiatan, saya bisa ke Beijing tiga-lima kali setahun. Saya bisa "menggrafikkan" dengan baik perkembangan Beijing dari tahun ke tahun. Terasa sekali ambisinya untuk mengalahkan Tokyo segera terwujud. Tidak lagi memperhitungkan Singapura.

Maka, kalau dulu turisme hanya mengandalkan peninggalan kuno yang memang sangat berharga seperti Kota Terlarang dan Tembok Besar, kini Beijing sudah benar-benar masuk ke turisme kota. Tian An Men dengan Forbiden Citynya, terus dibenahi sehingga kekunoannya ditambahi daya tarik modernisasi: air mancur bermain di sepanjang tembok depan Kota Terlarang, perombakan tata cahaya di waktu malam dan vtron-vtron raksasa. Orang yang pernah ke kawasan Tian An Men pun akan selalu ingin melihat perkembangan barunya.

Dari sini, ke timur sedikit ada tempat jalan-jalan Wangfujing yang sudah legendaris, tapi juga terus diperbarui. Kini orang juga sudah diberi pilihan untuk jalan-jalan ke arah barat: Xidan. Kawasan inilah yang disiapkan untuk anak-anak muda dengan turisme gaya hidup mudanya.

Bahkan, sekarang ini (baru sekali ini saya lihat karena memang baru saja jadi), kampung di belakang (selatan) Tian An Men sudah pula diubah menjadi pusat jalan-jalan baru yang desainnya sangat modern, tapi dengan ciri khas Tiongkok. Inilah pusat kya-kya baru yang khas dan elegan sepanjang 1 km: Qianmen.

Begitu kuatnya pembentukan ciri khas pusat jalan-jalan di Qianmen ini sehingga tidak satu gerai pun yang boleh melanggar ciri khas yang sudah ditetapkan. Tidak ada kompromi untuk mencapai pencitraan yang kuat itu. Merek terkuat di dunia seperti Starbuck pun harus tunduk. Tidak boleh menampilkan logo Starbuck yang amat spesial itu di sini. Warna gerainya juga tidak boleh menggunakan warna khas Starbuck. Harus diubah menjadi agak abu-abu-hitam yang mencitrakan bangunan modern, tapi terasa kuno.

Inilah rasanya kasus marketing di mana pemilik merek yang menguasai dunia harus kalah total di Beijing. Sampai-sampai di papan nama besar di luarnya pun tidak boleh ada tulisan Starbuck. Yang boleh adalah tulisan Xing Pa Ke dalam huruf Mandarin. Xing Pa Ke adalah nama Mandarin untuk Starbuck sebagaimana nama Iskan menjadi Yu Shi Gan. Nama Starbuck hanya boleh ditulis kecil di bawah samping gerai, itu pun di barisan kedua. Maka, orang asing yang jalan-jalan ke situ tidak akan mengira kalau gerai itu adalah gerai Starbuck.

Ini menandakan bahwa posisi tawar pusat jalan-jalan Qianmen sangat kuat. Sampai bisa membuat merek kelas dunia tunduk pada aturannya. Saya jadi ingat ketika diberi hak sewa tiga tahun untuk mengelola Jalan Kembang Jepun menjadi Kya Kya di malam hari: ingin mengecat bangunan di sepanjang Jalan Kembang Jepun saja tidak mendapat respons dari pemiliknya. Betapa lemahnya posisi saya saat itu. Mungkin juga karena saat itu saya hanya dapat hak kelola dari pemda tiga tahun sehingga tidak bisa mendapat kepercayaan pasar.

Di Qianmen ini bahkan restoran Peking Duck tertua di Tiongkok (tahun ini berumur 145 tahun) harus tunduk pula. Akibatnya, restoran ini harus mundur ke barisan kedua di belakang bangunan barisan pertama. Kalaupun ngotot tetap buka di barisan pertama, restoran ini tidak akan bisa mendapat jatah ruang yang luas. Padahal, ribuan orang makan bebek di sini.

Saya harus minta tolong teman di Beijing mengantrekan sejak pukul 15.00 untuk bisa mengajak rombongan para pengelola DBL dari seluruh Indonesia untuk makan pukul 16.30 (saat restoran mulai dibuka). Itu pun sudah kalah dulu. Mendapat nomor 17.

Tembok depan berumur 145 tahun yang menjadi ciri khas restoran ini pun harus dipindah! Tidak cocok dengan karakter yang ingin dibentuk pusat jalan-jalan ini. Pemilik restoran terpaksa mengabadikan tembok bersejarah itu dengan cara membangun tembok baru dengan desain yang sama di pintu masuknya yang baru di barisan kedua bangunan di Qianmen.

Sebenarnya restoran ini sudah punya satu cabang tidak jauh dari situ. Yakni, sebuah bangunan besar 7 lantai yang setiap lantai selalu penuh dengan orang yang makan bebek. Saya juga sering membawa keluarga makan di sini. Kelebihannya: kita mendapat sertifikat yang berisi pemberitahuan bebek ke berapa yang kita makan hari itu. Bebek yang saya makan hari itu, misalnya, adalah bebek yang ke 1.684.356.245. Artinya, sampai hari itu sudah 1,6 miliar lebih bebek yang oleh manusia tidak dihargai perikebebekannya.

Tentu saya tidak pernah bertanya apakah benar bebek yang saya makan itu adalah bebek yang ke 1.684.356.245. Saya takut dianggap tidak percaya lalu disuruh menghitung sendiri. Angka yang saya tulis itu pun tidak perlu Anda tanyakan keakuratannya. Sertifikat asli saya sudah hilang. Saya hanya ingat angka-angka depannya. Kalau tidak percaya, Anda terpaksa membantu menemukan kembali sertifikat saya....(*)
Selengkapnya...

09 Oktober 2009

Herman Hartanto Pemilik Tanto Line

Herman Hartanto, Pemilik Perusahaan Pelayaran/Perkapalan Tanto Line
Modal Kaya: Bisa Marah, Memerintah, dan Tanda Tangan

Sumber: Jawapos, Kamis 8 Oktober 2009

Salah satu perusahaan yang di masa sulit pun masih bisa terus berkembang adalah yang satu ini: Tanto Line. Yakni, sebuah perusahaan milik Herman Hartanto, warga kebanggaan Surabaya, yang bergerak di bidang pelayaran/perkapalan. Sebagai orang Hokkian yang bermarga Tan, maka di bagian belakang nama Indonesianya tertulis Hartanto. Bahkan, nama perusahaannya itu pun tidak lepas dari nama marganya dan nama belakang Indonesianya.

Dahlan Iskan, Hongkong

---

DI Surabaya memang ada tiga perusahaan pelayaran yang sangat besar. Yakni Spil, Meratus, dan Tanto. Sulit menilai siapa di antara tiga itu yang terbesar. Tiga-tiganya saya kenal dengan baik. Setiap saya tanya siapa di antara mereka yang terbesar tidak pernah ada yang menepuk dada. Yang satu selalu menyebut yang lain sebagai yang lebih besar. "Kami ini kecil, Pak," ujar Herman Hartanto saat kebetulan bersama-sama terbang ke Hongkong Rabu kemarin (7/10).

Demikian juga Soegeng Hendarto (Huang Dji Tju), si pemilik Spil, mengatakan dirinya masih kecil. Ketua marga Huang Indonesia itu bukan main rendah hatinya. Sikap yang sama juga ditunjukkan pemilik Meratus, Menaro, sampai ke anaknya yang memegang kendali perusahaan sekarang, Charles Menaro. Bahkan, orang seperti mendiang Menaro bukan saja mengaku kecil, melainkan seumur hidupnya tidak pernah naik pesawat di kelas bisnis.

Yang jelas, tiga-tiganya kini masih terus berkembang. Armada kapal mereka masih terus bertambah. Tanto sendiri dalam perjalanannya ke Hongkong kali ini harus mengajak banyak anak buah. Mengapa? Tanto baru saja membeli kapal tambahan. Anak buahnya itulah yang akan membawa kapal tersebut menuju Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Itu adalah kapalnya yang ke-39. Dalam enam bulan terakhir ini saja, Tanto sudah menambah 12 kapal di jajaran armadanya.

"Ini perusahaan jasa. Kami harus terus-menerus meningkatkan servis. Antara lain dengan harus terus menambah kapal," ujar Tanto, merendah. Kapal-kapal yang lama, di samping sudah mulai tua, juga tidak bisa mencukupi keinginan pelanggan yang terus meningkat. Pelanggan menginginkan Tanto Line punya kian banyak tujuan. Itu berarti diperlukan kian banyak kapal.

Herman Hartanto membangun Tanto Line atas usahanya sendiri. Sejak remaja, dia sudah memisahkan diri dari orang tuanya di Medan. "Umur 16 tahun kami bersama empat teman sebaya pergi ke Jakarta," kisah Herman, mengenang masa kecilnya. Waktu itu dia tidak tahu Jakarta itu seperti apa. Tapi, sebagai remaja yang senang sepak bola, dia ingin melihat Asian Games di Jakarta. Itu berarti tahun 1962. Dia naik kapal Ambolombo yang kebetulan singgah di Medan dalam perjalanannya dari Jeddah ke Jakarta mengangkut jamaah haji.

"Tiba di Jakarta, kami kaget. Kok Jakarta ini hebat sekali. Besar sekali. Kami bingung mau ke mana dulu," ujarnya, mengenang. Tapi, sebagai remaja 16 tahun, mereka senang-senang saja. Mereka keliling Jakarta. Bahkan, kemudian mereka hanya bisa nonton Asian Games di televisi hitam putih karena karcis masuk stadion tergolong mahal bagi para remaja itu. Di Jakarta (juga Indonesia) saat Asian Games itulah pertama ada siaran televisi dan masih hitam putih.

Beberapa hari di Jakarta, masing-masing baru ingat bahwa kepergian mereka ke Jakarta itu belum diberitahukan kepada orang tuanya. Mereka pun segera ke kantor pos untuk kirim telegram. "Kami di Jakarta. Ingin nonton Asian Games." Begitu bunyi telegramnya. "Kami saat anak-anak memang sudah biasa tidak pulang. Tidur di rumah teman. Kalau tidak pulang 2-3 hari saja tidak akan dicari orang tua," kata Tanto.

Ternyata, itulah kepergiannya keluar dari Medan yang pertama dan tidak pernah kembali lagi. Dia hijrah dalam pengertian yang sebenarnya. Sekolahnya di kelas 1 SMA tidak dia teruskan. Di Jakarta, karena sudah tidak punya uang lagi, Herman lantas ikut famili temannya. Lalu pindah ikut orang lain. Akhirnya mulai ikut-ikutan bekerja di toko ban. Lalu kirim-kirim onderdil mobil. Pernah juga ikut kapal bea cukai ke Karimun. "Saat berada di Karimun, saya pergi naik perahu ke Singapura. Itulah pertama kalinya saya lihat Singapura," ujarnya. "Kesan saya ketika itu Jakarta jauh lebih hebat daripada Singapura. Jakarta sudah punya Jalan Thamrin yang hebat. Singapura masih seperti kota nelayan," katanya. Dia tidak mengira dalam sekian tahun kemudian, Singapura bisa seperti sekarang.

Setelah malang-melintang di usia pemudanya itu, akhirnya Tanto tahu bagaimana harus mulai usaha sendiri. Yakni usaha jasa pengiriman: ekspedisi. Karena sering kirim barang ke Surabaya, akhirnya dia pun memutuskan untuk menetap di Surabaya.

Lima tahun bekerja di perusahaan ekspedisi, Herman mulai berpikir kalau saja punya kapal sendiri akan bisa lebih untung. Tapi, membeli kapal belumlah waktunya. Dia cari akal bagaimana tidak punya uang, tapi bisa menguasai kapal. Maka, dia sewa kapal milik orang lain. Kebetulan, ada kapal milik Pemda Kalimantan Selatan (Kalsel) yang rusak. Kapal itu sudah tiga tahun tidak beroperasi. Mesinnya sudah hancur.

Herman berusaha memperbaiki kapal itu. Dari sini pula, Herman belajar mesin kapal. Juga belajar bagaimana mengelola kapal -yang kelak menjadi sangat berarti ketika sudah memiliki kapal sendiri. Meski dia bukan insinyur (tamat SMA pun tidak), dia punya kemauan keras untuk belajar. Dia banyak bertanya di bengkel-bengkel mesin. Bahkan, dia ikut menunggui ketika bengkel memperbaiki mesin. Lama-lama Herman mengerti mesin kapal. "Pengusaha kapal yang tidak mengerti mesin kapal sangat bahaya. Bisa dibohongi terus-menerus," katanya.

Usaha apa pun, kalau mau sukses, haruslah kerja keras, ulet, tidak mudah putus asa, dan memegang kepercayaan. Itulah juga prinsip kerja Herman. Bahkan, dia menilai bisnis di bidang perkapalan jauh lebih sulit daripada yang lain. "Kalau bisnis pabrik, begitu pabriknya dibuka, bisa jalan, tidak terlalu stres. Kerja kapal ini siang-malam harus deg-degan. Apalagi kalau ada telepon berdering. Langsung saja punya pikiran ada apa ini? Kapal tenggelam? Kandas? Bocor di tengah laut? Dan seterusnya," kisahnya. "Apalagi kalau dering teleponnya tengah malam di saat tidur nyenyak. Pasti deg-degan," ungkapnya.

Kini, di usianya yang 65 tahun, Tanto masih kelihatan antusias. Badannya yang langsing dan sehat membuat dirinya kelihatan lebih muda daripada umurnya. Sampai tahun 2009 ini, berarti sudah 38 tahun dia menggeluti bisnis perkapalannya itu. "Saya tidak pernah menyesali mengapa saya terjun ke bisnis kapal ini," ujarnya. "Memang banyak sekali kesulitan, tapi harus dihadapi. Kian sulit persoalan yang dihadapi kian menantang untuk diselesaikan," katanya.

Bagaimana soal latar belakang pendidikannya yang tidak tamat SMA? Dengan bergurau, Tanto mengatakan bahwa yang penting dirinya bisa melakukan tiga hal saja: bisa marah, bisa memerintah, dan bisa tanda tangan... ha ha ha.

Tiga perusahaan kapal (Spil, Meratus, dan Tanto) itu tentu menjadi kebanggaan Surabaya. Sebab, tiga perusahaan itu saja, di tambah banyak lagi perusahaan Surabaya lainnya, kalau disatukan sudah lebih besar daripada perusahaan serupa di Jakarta. Maka, kalau sampai sekarang Surabaya masih layak disebut sebagai Kota Maritim, antara lain, itu berkat jasa tiga perusahaan tersebut. Tanpa mereka, gelar Surabaya itu harus dicabut. (*)


Selengkapnya...

29 September 2009

Rodrigo Roa Walikota Nyentrik 3


Rodrigo Roa ”Django” Duterte, Wali Kota Nyentrik dari Davao (3-Habis)
Laporan : Kardono S. Davao, Filipina

Bikin Killing Field Damai, Menang Pilwali Enam Kali

Sumber: Jawapos, Selasa 29 September 2009

Davao pernah mempunyai julukan seram: The Killing Field. Selama masa itu sering terjadi gesekan antara polisi dan tentara Filipina versus pemberontak komunis dan Moro. Selain itu, kota tersebut menjadi tempat yang nyaman (safe heaven) bagi kelompok kriminal.

---

DAVAO adalah kota yang pernah mengalami semua jenis kekerasan. Pengeboman, pembunuhan, perang antargeng, dan perang tentara dengan kelompok separatis. Tapi, itu sebelum 1991. ''Totally mess (benar-benar kacau),'' kata Attorney Melchor Y. Quintain, sekretaris kota (Sekkota) Davao, kepada Jawa Pos.

Menurut Quintain, saat itu kotanya "terbelah" menjadi pusat dua kelompok separatis. Davao Utara dikuasai milisi pimpinan Commander Parago, seorang jenderal perang dari NPA (New People's Army, kelompok militan komunis). Sementara sisi selatan menjadi basis kelompok pemberontak muslim Moro National Liberation Front (MNLF).

Maka, bisa dipahami jika Davao menjadi episentrum konflik di Pulau Mindanao. Tembak-menembak sering terjadi ketika polisi dan tentara masuk dan berusaha mengambil kontrol. ''Seperti laboratorium perang mini. Konflik bersenjata hampir tiap hari terjadi. Pengeboman berkali-kali terjadi,'' tutur Quintain.

Kondisi yang kacau juga menjadi "berkah" bagi para penjahat kelas kakap. Bahkan, sejumlah kriminal yang beraksi di Manila maupun Cebu (kota terbesar kedua di Filipina), selalu kabur ke Davao. Mareka aman karena boleh dibilang polisi dan tentara tak mempunyai jangkauan untuk masuk ke kota Davao.

''(Saat itu) kami tak bisa membangun apa-apa. Tiap hari hanya terdengar tembakan, orang tewas, tembakan, orang tewas. Kami tak bisa membangun,'' ujar Quintain.

Begitu angkernya kondisi Davao sehingga kawasan bisnis paling ramai saat itu (hingga sekarang), Magsasay Avenue, sudah senyap saat waktu magrib lengser. Kegiatan bisnis langsung berhenti. ''Warga tak ada yang berani keluar (rumah) lebih dari pukul 19.00. Urusan bisa gawat. Kalau tidak kena peluru nyasar, bisa kena rampok. Serbasalah,'' katanya.

Tak ada turis yang berani datang. ''Yang datang hanyalah orang-orang yang berkepentingan,'' imbuhnya.

Namun, segalanya berubah ketika Rodrigo Roa Duterte terpilih menjadi wali kota Davao pada 1988. Saat itu usianya 43 tahun. Dia memenagi pilwali tiga kali berturut-turut pada 1988, 1992, dan 1995. Karena aturan pemerintah Filipina (setelah tiga kali tak boleh lagi menjabat), pada 1998 Duterte menjadi anggota kongres di Manila hingga 2001. Dia kemudian maju dan memenangi pilwali lagi pada 2001, 2004, dan 2007.

Lewat tangan besi Duterte-lah Davao berubah drastis. Pendekatan yang dilakukan pria yang dijuluki majalah Times pada 2002 sebagai The Punisher tersebut memang berbeda. Alih-alih memerangi, Duterte merangkul kedua kelompok revolusioner (NPA dan MNLF). Bahkan, dia berani mendatangi "sarang" Commander Parago, mempertanyakan aktivitas yang mengganggu ketenteraman warga kota.

''Masalahnya ya ekonomi. Saya bilang ke mereka, saya tidak ada urusan dengan ideologi dan saya menghormatinya. Namun, saya meminta mereka membantu keamanan. Saya rekrut mereka sebagai keamanan,'' ungkap Duterte.

Begitu pula MNLF. Duterte lalu menjadikan Nur Misuari (chairman MNLF) sebagai sahabat. Semua kebutuhan dicukupi dengan satu syarat, Nur Misuari dan anak buahnya mau menjaga keamanan dan tak beraksi di Davao.

Untuk lebih mengambil hati mereka, Duterte membuat langkah kontroversial. Dia menjamin keamanan pentolan NPA dan MNLF dari penangkapan. ''Sepanjang mereka (NPA dan MNLF) tidak melakukan aksi kekerasan, semuanya aman di sini, malah akan saya fasilitasi,'' tuturnya.

Janji Duterte bukan sekadar isapan jempol. Pada 1990-an, ketika Nur Misuari tak puas dengan pemerintah Filipina dan mengobarkan pemberontakan bersenjata di Jolo, dia menjadi buron yang dicari penguasa di Manila. Anehnya, Duterte malah menyediakan rumah "persembunyian" untuk Nur Misuari di Davao. Tindakan ini bisa dianalogikan sama kontroversialnya dengan seorang wali kota di Indonesia menyediakan rumah dan safe house untuk pimpinan OPM.

Namun, Duterte tak ambil pusing. Dia pun menjadi pemrakarsa perundingan damai Misuari dengan pemerintah Filipina. Selama di Davao, Duterte menjamin keselamatan Misuari. Bahkan, ketika perundingan berlangsung, dia mengeluarkan aturan tegas: tidak boleh ada senjata yang masuk ke Davao. Tentara dan milisi MNLF pun harus menaatinya tanpa ke­cuali. ''Kalau mau perang, perang saja di hutan-hutan. Kalau di kota, harus berunding,'' tuturnya.

Di sisi lain, tentara dan polisi juga menghormatinya. Sebab, beberapa kali perwira tentara maupun polisi, termasuk seorang jenderal bintang satu, diculik NPA, Duterte-lah yang membebaskannya. Maka, pada 1991, boleh dibilang pria yang sebelumnya seorang prosecutor (jaksa penuntut umum) telah memegang dua kelompok bersenjata dengan baik. Merasa dicukupi kebutuhannya, bahkan dicarikan pekerjaan, kelompok-kelompok revolusioner itu pun "patuh". Secara tak langsung, Duterte sukses melakukan deradikalisasi kelompok militan. Sesuatu yang masih sangat sulit dilakukan di Indonesia.

Selanjutnya, Duterte tinggal menangani bandit dan kriminal jalanan. Ini tak terlampau sulit. Dia mempunyai banyak sumber melimpah ruah untuk melakukan "pembersihan" tersebut. Yakni, orang-orang dari NPA dan MNLF yang bisa dipekerjakan. Tentu saja dengan diam-diam. Sebab, sampai saat ini Duterte tetap tak mau dikaitkan dengan upaya "pembersihan" tersebut.

Selain melakukan pembersihan, Duterte menegakkan hukum secara ketat. Yang terbaru, Davao mengeluarkan regulasi lalu lintas. Untuk keamanan, seorang pengendara sepeda motor harus memakai helm full face dan sepatu. Sepeda motor juga tak boleh dimodifikasi macam-macam yang membahayakan. Seorang staf KJRI di Davao pernah terkena tilang gara-gara tak mengenakan sepatu saat mengendarai sepeda motor. Dia pun harus membayar denda 500 peso (sekitar Rp 100 ribu).

Penegakan yang dilakukan Duterte mendapat respons masyarakat. Dari yang semula chaotic, masyarakat Davao kini adalah masyarakat yang tertib. Bar dan tempat dugem pun sampai harus membuat ruang khusus merokok, karena memang dilarang merokok di dalam gedung dan ruang publik. Juga, seseorang tak bisa membuka pintu taksi dari samping kiri (Filipina menggunakan jalur kanan), karena itu sudah merupakan aturan -yang didasarkan logika memang berbahaya membuka pintu dari samping kiri pada lajur kanan.

Hasilnya adalah sebuah ledakan ekonomi di Davao. Kota yang kini berani mengklaim sebagai kota "teraman di Asia Tenggara" tersebut pun semakin makmur.

Kalau pada 1991 hanya ada satu mal, kini Davao memiliki enam mal besar-besar di penjuru kota. Dua mal lagi segera menyusul diresmikan. Selain itu, ada 40 universitas di Davao yang siap memasok SDM terdidik untuk menggerakkan laju ekonomi.

Namun, di atas semua itu, yang paling penting kota ini mampu membuat banyak turis mancanegara datang. Sepanjang 2008, setiap bulan tercatat sekitar 4.000 turis datang ke Davao. "Seperempat di antaranya warga Korea," kata kepala Dinas Pariwisata Davao.

Selain dari devisa yang dihasilkan oleh 200 ribu buruh migran Filipina asal Davao di berbagai negara, ekspor buah serta ikan, para turis mancanegara inilah yang membuat ekonomi Davao semakin maju pesat. Ini semua berkat dua kata kunci Duterte dalam menjalankan pemerintahannya: Peace and Order. Damai dan Tertib. (el)



Selengkapnya...

28 September 2009

Rodrigo Roa Walikota Nyentrik 2


Rodrigo Roa ''Django'' Duterte, Wali Kota Nyentrik dari Davao (2)
Buka Praktik Curhat Seminggu Tiga Kali

Sumber: Jawapos, Senin 28 September 2009

Rodrigo Roa Duterte adalah wali kota dengan karakter yang sangat ''jalanan''. Davao yang diklaimnya sebagai kota terluas di dunia dia atur sebagaimana mengatur sebuah gang. Banyak persoalan diselesaikan dengan model street justice. Davao kini jadi kota termakmur di Mindanao, bahkan Filipina. Semangat begitu mungkin bisa ditiru dikit-dikit pejabat publik di Indonesia.

Laporan : Kardono S. Davao, Filipina

---

RUANG ''praktik curhat'' Duterte berbentuk memanjang, kira-kira berukuran 6 x 10 meter. Suasananya persis dengan ruang tunggu dokter. Ada kursi panjang dan orang-orang yang hendak menyampaikan unek-unek duduk berjejer menunggu giliran. Di depan para pengantre ada sebuah meja panjang yang diisi tiga orang. Yang duduk di tengah tentu saja Rodrigo Roa ''Django'' Duterte, city mayor Davao. Dua orang lainnya bergantian. Kadang deputinya, kadang kepala dinasnya. Bergantung situasi.

Itu sangat berbeda dengan tatap muka langsung antara penguasa dan rakyat model kelompencapir (kelompok pendengar, pembaca, dan pemirsa) zaman Pak Harto. Itu adalah forum tanya jawab Duterte sebagai wali kota dengan warga, tanpa rekayasa dan dilakukan secara rutin. Di forum itu Duterte mendengar langsung keluhan, aduan, protes, dan semacamnya dari masyarakat, lalu mencarikan penyelesaiannya. Solusi itu sebisa mungkin juga diupayakan secara langsung oleh Duterte. Masyarakat bebas mengadukan semua persoalan. Buruknya pelayanan publik, persoalan sosial, masalah pribadi dalam rumah tangga, atau apa pun ke sang wali kota.

Duterte melakukan itu di City Hall of Davao setiap Senin, Rabu, dan Jumat. Dia buka ''praktik curhat'' mulai pukul 13.00 hingga selesai -biasanya selesai paling cepat pukul 19.00.

''Pada Selasa dan Kamis, saya biasanya ke daerah. Ya seperti ini, mendengarkan langsung keluhan masyarakat,'' kata sang wali kota.

Davao adalah sebuah kota yang sangat luas -Duterte mengklaim kota itu terluas di dunia. Luasnya lebih dari 2.000 km persegi. Jawa Pos pergi dari ujung selatan ke timur, juga selatan ke barat, menghitung jarak yang ditempuh adalah 50 km. Jadi, tak semua warga bisa mencapai kota untuk sekadar mengeluh.

Macam-macam yang diadukan, mulai kesulitan bayar bill rumah sakit, buruknya jalan di kampung, orang yang mau naik haji tapi tak punya uang, hingga ke layanan publik. Saat Jawa Pos melihat secara langsung public complaint tersebut pada Rabu (23/9), Duterte tengah mendengarkan pengaduan seorang wanita yang suaminya melakukan kekerasan dalam rumah tangga kepada dirinya. Mendengar itu, Duterte langsung memanggil Attorney Melchor Y. Quintain, city legal office-nya, dan meminta dia mengambil langkah-langkah hukum untuk menjaga sang istri dari keke­rasan suami. Selain itu, Duterte meminta Quintain segera memanggil sang suami untuk membahas masalahnya. Kepada si perempuan, Duterte juga meminta untuk segera menyelesaikan masalah internalnya.

Hal itu menarik karena jarang-jarang ada pejabat publik yang levelnya lebih tinggi daripada gubernur mau berhubungan langsung dengan warga yang sedang dirundung masalah. Sistem pemerintahan dalam negeri Filipina memang unik. City mayor adalah pejabat yang langsung bertanggung jawab kepada presiden, sedangkan gubernur bertanggung jawab kepada Mendagri. Gubernur hanya mengepalai kota-kota kabupaten. Bukan kota madya. Di Mindanao, ada empat daerah yang dikepalai city mayor. Yaitu, Davao, General Santos, Kagayan, dan Zamboanga.

Sungguh menyenangkan rasanya melihat pejabat setingkat di atas mau mendengarkan langsung dan menyelesaikan keluhan masyarakat. Berbeda dengan di Indonesia, yang kebanyakan pejabatnya hanya menyediakan kalimat: ya, aspirasi Anda kami tampung, nanti kami selesaikan... Tak jelas entah kapan penyelesaiannya.

Kasus yang dilakukan Duterte juga termasuk masalah-masalah finansial dalam rumah tangga. ''Tiap hari ada saja masyarakat kurang mampu yang terbelit masalah keuangan. Misalnya, tak mampu membayar biaya rumah sakit,'' katanya. Terhadap problem jenis itu, Duterte berusaha membantu secara langsung. ''Tiap hari kami menganggarkan 500 ribu peso hingga 700 ribu peso (sekitar Rp 100 juta-Rp 140 juta). Dana itu dari anggaran departemen sosial kami. Begitu sudah sampai 700 ribu peso kami stop. Pemohon yang belum kebagian hari itu bisa datang lagi besok,'' lanjut Duterte.

Apa yang membuat dia melakukan itu? Duterte mengatakan, itu adalah konsekuensi pilihan langsung. ''Mereka memilih saya secara langsung dan saya juga harus mendengarkan mereka langsung. Bila ada apa-apa, masyarakat tentu pengin mengadu langsung ke wali kota untuk segera diselesaikan. Kalau saya menjadi masyarakat, kalau ada apa-apa, saya pasti juga ingin langsung mengadu ke penentu keputusan,'' ucap sosok yang tak suka basa-basi itu dengan suara keras.

Gaya Duterte memang tak lazim. Namun, dia berhasil menyenangkan rakyatnya. Indikator ekonomi memang kurang menggembirakan. Pendapatan rata-rata masyarakat Davao sekitar Rp 1 juta per bulan, dengan harga bensin fluktuatif mengikuti pasar dunia (di kisaran Rp 7.300 per liter). Dua hal yang seharusnya membuat masyarakat Davao hidup dalam kemiskinan.

Namun, itu tak terjadi. Rakyat Davao tergolong tak kekurangan dan merupakan yang paling makmur di seantero Mindanao. Itu terjadi karena Duterte menyiapkan banyak jaring pengaman sosial. Angkutan publik, misalnya. Untuk jeepney (semacam angkot, Red), dengan harga bensin Rp 7.200, tarifnya hanya Rp 1.400. Untuk anak sekolah, warga sepuh, dan orang cacat malah hanya cukup membayar Rp 500. Begitu pula taksi, tarifnya sangat murah. Dengan Rp 20 ribu saja, Anda bisa bepergian dari ujung Davao ke ujung lainnya. Itu masih ada diskon pula untuk senior citizen dan orang cacat. ''Kami memang menyiapkan anggaran besar untuk kepentingan sosial. Jeepney dan taksi memang kami subsidi,'' tuturnya. Subsidi untuk taksi diberikan ketika membeli bensin dan langsung mendapat potongan tiap liter.

Saya membatin, bila diterapkan di Indonesia, pasti akan banyak penyalahgunaan. Angkot dan taksi bisa datang ke SPBU berkali-kali untuk isi bensin, tapi kemudian ditap dan dijual lagi ke pengecer. Namun, itu tidak terjadi di Davao karena Duterte meminta para sopir jujur. ''Kalau ketahuan curang, kami akan menindak secara tegas,'' paparnya. Sanksinya adalah pelarangan menyopir selama satu bulan atau bahkan hak mengemudinya dicabut, bila pelanggarannya berat.

Spanduk-spanduk di terminal yang bertulisan Be honest, even if the others are not (Jujurlah, meski yang lain tidak) ternyata bukan slogan kosong. Tak ada sopir yang memutar-mutarkan penumpang dulu supaya argo banyak. Bahkan, sopir mengembalikan barang penumpang yang tertinggal adalah cerita sehari-hari di Davao. Ketika saya bertanya ke Mao, taksi yang saya tumpangi, bagaimana cara mengontrol kejujuran, ternyata parameternya sederhana. ''Anda tinggal mencatat nomor lambung kami dan mengadukan ke public complaints,'' tandasnya. Duterte dikenal sangat menghargai para turis. Dia akan langsung marah ketika ada turis yang mengadu karena dicurangi sopir. Dan, para sopir sangat takut bila Duterte marah.

Selain itu, Davao bercita-cita ingin menjadikan Davao kota pro lingkungan. Makanya, penerapan kawasan terbatas merokok sangat ketat. Di Davao, larangan merokok bisa dibilang lebih ketat daripada di Singapura. Kalau masih berada di bawah atap (bahkan bila berada di bawah halte yang ada atapnya kecil, Red), tak boleh merokok sama sekali. Juga di dalam kamar hotel. Termasuk di taman kota yang notabene adalah kawasan terbuka. ''Kami ingin kota ini menjadi aman dan nyaman bagi siapa pun,'' tandasnya.

Duterte juga terbantu dalam mengelola kotanya. Karena yang menjadi wakil wali kota adalah Sarah Duterte, anak sendiri. Di Davao, wakil wali kota otomatis menjadi ketua city council (dewan kota, seperti DPR kota, Red). Belum lagi, Paulo Duterte, anaknya yang satu lagi, juga menjadi anggota dewan kota. Jadi, kebijakan Duterte biasanya langsung lolos ketika diajukan di dewan kota.

Tak heran bila tagline kota Davao adalah ''The most livable place in Philippines''. Dengan penataan seperti itu, Davao terus menggeliat dengan pertumbuhan 4,9 persen hingga 5,7 persen tiap tahun (menurut Department of Budgeting and Management Filipina). Menurut seorang diplomat yang tak mau disebutkan namanya, delapan tahun lalu Davao masih lebih kecil daripada Manado. ''Tapi, kini sudah menyamai Makassar,'' ucapnya. Makanya, Davao memang menjadi tempat yang livable. Udara segar, di seluruh sudut kota tertata apik, jalur hijau yang ditumbuhi tanaman (meski belum sebagus Surabaya), dan para sopir transportasi publik yang jujur. (lea)

Selengkapnya...

Rodrigo Roa Wali Kota Nyentrik 1

Rodrigo Roa ''Django'' Duterte, Wali Kota Nyentrik dari Davao, Filipina (1)
Warning Penjahat Melalui TV, Punya Eksekutor Khusus

Sumber: Jawapos, Minggu 27 September 2009

Masih ingat -atau setidaknya pernah dengar- film koboi klasik pada 1970-an, Django, yang dibintangi Franco Nero? Rodrigo Roa Duterte adalah sosok wali kota yang memimpin Davao, Filipina, dengan gaya seperti koboi jagoan itu. Wilayah yang tadinya dipenuhi peperangan antarkelompok revolusioner dan keributan antarbandit di bawah kekuasaannya kini aman.

Kardono Setyorakhmadi, Davao

---

PEACE and Order. Damai dan tertib. Dua kata itu merupakan kredo Duterte dalam mengelola kotanya. Dia merangkul banyak pihak, namun sangat tegas memberesi para penjahat yang membuat kota menjadi tak aman. ''No security, no business. No business, you cannot pay anything. People can not go to school, and the economy stuck,'' tandasnya. Ba­ginya, keamanan adalah investasi yang sangat mahal.

Duterte yang sehari-hari selalu bercelana jeans, membagi ancaman keamanan di wilayahnya ke dalam empat hal. Yaitu, ancaman keamanan dari kelompok revolusioner (MILF, MNLF, NPA, Abu Sayyaf), konflik antarsuku, tindakan semena-mena aparat, dan para bandit. Dia sangat serius menangani kasus-kasus itu. Beginilah cara dia menangani.

Yang pertama adalah kelompok revolusioner. Alih-alih memerangi, Duterte malah merangkul mereka. ''Saya tidak memerangi kelompok revolusioner. Mereka punya idealisme sendiri yang saya hargai,'' ucapnya.

Untuk itu, Duterte mempersilakan kelompok revolusioner bertemu dan berkumpul tanpa takut ditangkap. Syaratnya cuma satu, Duterte meminta kelompok itu tak beraksi di Davao. Hasilnya, cespleng.

Tak pernah ada aksi kekerasan di Davao oleh kelompok revolusioner kendati Mindanao adalah daerah yang bergolak.

Kedua adalah konflik antarsuku. Di Filipina, itu adalah masalah serius. Untuk mengatasi masalah itu, Duterte mengangkat deputi dari tiap suku yang ada, kemudian meminta mereka ''menertibkan'' suku masing-masing. Dia juga cukup bijak bila ada tanda kerusuhan. ''Selain meminta deputi, saya mengirimkan tentara dan polisi. Tapi, saya lihat dulu apa agamanya,'' urainya.

Bila konflik terjadi di suku beragama Islam, Duterte mengerahkan tentara dan polisi Islam untuk melakukan pendekatan. Karena itu, meski di kota lain sering terjadi konflik suku, tak sekali pun itu terjadi di Davao.

Ketiga adalah soal aparat yang sewenang-wenang. Duterte sangat keras terhadap masalah itu. Pernah, Maret lalu, dia menerima pengaduan dari seorang warga. Pelapor mengaku dipukuli seorang polisi ketika sama-sama mabuk di sebuah kelab malam.

Tanpa banyak cingcong, di hadapan pelapor, Duterte menelepon chief of Davao City Police untuk mengirimkan anggota yang mokong itu ke kantornya. Dia kemudian menutup semua ruangan dan menanyakan kepada pelapor diapakan saja.

''Saat itu dia (pelapor) mengatakan bahwa kepalanya dipukul. Karena itu, langsung saya pukul kepala polisi itu,'' ucapnya, lantas menirukan gerakan memukul. Kemudian, Duterte bertanya kepada pelapor lagi dan dijawab ditendang. Duterte pun menendang si polisi itu.

Benar-benar Django! Warga yang melapor puas, polisi itu kapok. Setelah berjanji tak akan mengulangi lagi perbuatan buruknya, si polisi nakal dipulangkan. ''Di sini, saya berkuasa. Polisi pun takut kepada saya,'' katanya, sedikit jemawa.

Duterte memang tak omong kosong. Karena sistem pemerintahannya, Davao City Police tak hanya bertanggung jawab kepada Philippines National Police (PNP), tetapi juga ke penguasa daerah. Sebab, meski gaji polisi berasal dari pemerintah pusat, anggaran operasional semua dari pemerintah daerah. Bahkan, PNP tak punya kewenangan menempatkan seorang polisi menjadi Kapolwil. PNP hanya mengajukan nama-nama untuk kemudian dipilih oleh city mayor. Bila Duterte merasa tak ada yang cocok dengan nama yang diusulkan, PNP harus mencari nama lain.

Namun, yang paling fenomenal adalah cara Duterte berurusan dengan para pelaku tindak kriminal yang beraksi di jalanan. ''I am very strict. They must pay for the crimes they committed,'' tegasnya. Kebijakan yang diambil simpel saja: sikat habis. Meski tak pernah mengungkapkan itu secara formal, kebijakannya adalah di-810 (tembak mati untuk istilah polisi Indonesia, Red).

Yang menjadi sasaran adalah para pelaku kriminal yang sudah beberapa kali masuk penjara, penjahat kakap, dan terutama para pengedar narkoba. Duterte benci setengah mati terhadap para pengedar narkoba. ''Karena yang menjadi korban bukan hanya penggunanya, tapi juga masyarakat,'' ucapnya dengan nada geram.

Karena itu, tak heran bahwa dalam beberapa kali wawancara TV, seorang Atorney yang juga merangkap City Administrator, Melchor Y. Quintain, sering membawa foto para buron dan memberikan peringatan. ''Orang ini sudah beberapa kali melakukan kejahatan berat. Saya rasa, hidupnya tak lama lagi. Bisa jadi dibunuh oleh musuh gangnya. Tapi, ini saya bercanda lho,'' kata Quintain.

Meski ada kata ''saya ini bercanda'' di akhir kalimat, siapa pun tahu bahwa Quintain tak sekadar bercanda. Kata itu lebih bermakna pengingkaran secara formal. Tapi, kata-katanya jelas merupakan peringatan. Dan, benar, berselang tiga hari sejak siaran TV itu, orang tersebut ditemukan tewas tertembak di kota General Santos.

Itu terjadi karena ada yang dinamakan satu kelompok misterius bernama DDS (Davao Death Squad). Kelompok itulah yang melakukan ''pekerjaan kotor'' tersebut. Namanya itu disebarkan dari mulut ke mulut dan secara formal kelompok ini sebenarnya tak pernah ada. Tak ada satu pun pejabat resmi Duterte's Administration yang mengakui itu. Duterte sendiri ketika saya tanya soal DDS mengelak. ''Saya tidak tahu itu. Lebih baik kita bicara soal lain,'' jawabnya.

Menurut salah seorang pejabat kota yang tak mau disebut namanya, DDS memang ada dan sifat keanggotaannya sangat cair. ''Nunggu order saja. Ada yang dari militer, polisi, dan juga orang sipil. Di sini banyak orang sipil yang jago tembak,'' tuturnya. Menurut dia, yang biasa dikontak ada 50-100 orang. Bayarannya 5 ribu peso per kepala.

Karena itu, sejak dua tahun lalu -wacana soal DDS kali pertama muncul-, tak ada ampun bagi para penjahat di Davao. Sebelumnya memang sudah ada petrus, tapi belum sesistematis seperti dua tahun terakhir ini. Hingga kini, DDS masih terus beroperasi.

Masyarakat Davao sudah paham bahwa ketika tiba-tiba ada seorang pria mendekat, kemudian menembak kepala preman atau pengedar narkoba, pria itu adalah anggota DDS. ''Bahkan, tak jarang di tengah keramaian sekalipun pada siang bolong,'' ucap Jerry, warga Indonesia yang sudah 10 tahun tinggal di Davao.

Menurut Jerry, tiap bulan lebih dari 20 penjahat tewas. ''Lihat saja di koran. Hampir tiap hari ada penjahat yang tewas. Kadang, sekali tembak bisa lima orang,'' urainya.

Menariknya, salah seorang murid Sekolah Indonesia Davao (SID) pernah diambil oleh DDS saat di mal. Dia sudah dibawa ke tempat sepi. Namun, ketika akan mengeksekusi, anggota DDS itu mencocokkan lagi fotonya. Karena memang bukan yang dimaksud, anggota DDS tersebut meminta maaf, memberi dia uang sebagai tanda penyesalan, dan kemudian mengantarkan kembali ke tempat dia diambil.

Semua warga yang saya temui mengatakan tahu soal DDS. ''Katanya digaji sendiri oleh Mayor. Cuma, tidak ada yang tahu siapa mereka,'' kata Joseph, sopir taksi yang saya tumpangi.

Dia menyatakan senang dengan adanya DDS. ''Bagi orang baik-baik, DDS itu malah membantu. Jadi, kami tak ada masalah dengan adanya DDS,'' tuturnya.

Namun, tak semua sependapat dengan Joseph, terutama Komisi HAM Filipina. Agustus lalu Komisi HAM Filipina mendatangi Duterte dan mengklarifikasi atas disappearance in person (penghilangan orang). Sebab, sejak Januari lalu, komisi ini mendapat pengaduan dari keluarga penjahat yang di-810, yang merasa bahwa kejahatan yang dilakukan anggota keluarganya tak sepadan dengan hukuman mati.

Tapi, di hadapan komisi itu, Duterte tetap menyanggah dan menyatakan tak tahu-menahu soal disappearance tersebut. Tentu saja, mana ada pejabat yang mengaku melakukan pekerjaan kotor tersebut. Bukan itu saja. Goyangan terhadap wali kota yang telah memimpin selama 15 tahun tersebut juga merambah ke bidang lain. Duterte juga dibidik lawan-lawan politiknya atas tudingan kolusi. Sejumlah proyek besar kota, kabarnya, jatuh ke tangan keluarganya.

Namun, apa pun tudingan lawan politik dan komisi HAM, banyak warga yang merasa senang kepada Duterte. ''Dia wali kota yang baik dan tegas. Kami senang kepadanya,'' klaim Joseph. (lea)

Selengkapnya...