Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan

03 Juni 2010

Daqing Penghasil Minyak Terbesar di Tiongkok

Sumber: Jawapos, Kamis 03 Juni 2010
http://www.jawapos.co.id/halaman/index.php?act=detail&nid=137504

Mengunjungi Daqing, Daerah Penghasil Minyak Terbesar di Tiongkok
Terinspirasi Spirit Wang Jinxi Taklukkan Sumur Ketiga


Kota Daqing (baca Ta-jing) merupakan kota penghasil minyak terbesar di Tiongkok. Meski banyak aktivitas penambangan minyak di tengah kota, Daqing tetap bersih dan rapi. Hal itulah yang juga disaksikan wartawan Jawa Pos SUDJATMIKO yang mengunjungi kota tersebut atas undangan PetroChina Indonesia, 19-26 Mei lalu.

---

SETELAH menempuh perjalanan estafet dari Shanghai ke Harbin, ibu kota Provinsi Heilongjiang, dengan China Shoutern Airlines selama tiga jam, rombongan meneruskan perjalanan darat melintasi jalan tol sepanjang 156 km ke Kota Daqing.

Perjalanan dari Harbin menuju Daqing memakan waktu sekitar dua jam. Daqing merupakan salah satu kota terpencil di Provinsi Heilongjiang. Posisinya terletak di bagian timur laut Tiongkok.

Sebenarnya sudah ada penerbangan langsung Shanghai-Daqing yang bisa ditempuh dalam waktu empat jam. Tapi, karena penerbangan ke Daqing selalu penuh, rombongan memutuskan untuk menempuh jalan darat dari Harbin ke Daqing. Penerbangan ke Daqing dilakukan setelah kota minyak itu resmi membuka bandaranya bernama Daqing Saertu Airport pada 1 September 2009.

Selain Jawa Pos, rombongan dari Indonesia terdiri atas Vice President PetroChina Indonesia Mary P.Y. Pulunggono, Humas PetroChina Indonesia Ginanjar, Humas BP Migas Susana Kurniasih, dosen perminyakan ITB Rudi Rubiandini, serta wartawan Kompas Antonius Ponco. Dalam lawatan ke Tiongkok itu, rombongan juga mengunjungi Shanghai Expo 2010, pameran teknologi dan kebudayaan terbesar di dunia.

Kota Daqing saat ini memasok 40 persen produksi minyak Tiongkok yang mencapai 189,4 juta ton pada 2009. Karena itu, tak heran, begitu keluar dari pintu tol Daqing, sejauh mata memandang, rangkaian pipa minyak mengular di tepi jalan menuju pusat kota. Dari kejauhan juga terlihat berbagai ukuran pompa angguk (untuk memompa minyak) yang menjalankan aktivitas. Beberapa unit pengolahan minyak mentah juga terlihat di berbagai sudut kota.

Dari pemandangan awal itu, saya sempat membayangkan bahwa pusat Kota Daqing pasti penuh dengan sisa minyak yang berceceran di mana-mana, mengotori lingkungan kota. Sebab, menurut informasi yang saya terima, hampir tak ada jarak antara permukiman penduduk Daqing dan pompa angguk. Karena itu, bisa dibayangkan permukiman penduduk akan dipenuhi ceceran minyak mentah berwarna hitam pekat di jalan-jalan.

Namun, bayangan saya tentang kondisi kota berpenduduk 2,6 juta jiwa itu meleset 180 derajat. Begitu rombongan memasuki Kota Daqing sekitar pukul 16.30 waktu setempat, yang muncul adalah rasa heran dan kagum. Misalnya, soal jalan, luasnya sampai 10 lajur. Antara jalur cepat dan jalur lambat, ada taman yang masing-masing selebar empat meter. Pengendara yang melintasi jalan beraspal mulus itu merasa begitu lapang, panjang, dan tak berdebu. Dari kejauhan, terlihat gedung-gedung menjulang tinggi di pusat kota. Apartemen, mal, gedung perkantoran, dan hotel berdiri di mana-mana.

Menariknya, di antara gedung-gedung tersebut, berdiri puluhan pompa angguk. Ada yang berderet dua sampai empat pompa sekaligus. Bahkan, beberapa di antaranya dibangun di kompleks taman kota. Ada pula pompa angguk yang berimpitan dengan apartemen, di depan mal, atau di sekitar kompleks sekolah.

Jumlah pompa angguk yang beroperasi tidak hanya satu, tapi bisa tiga pompa sekaligus. Menariknya, pompa tersebut hanya dibatasi pagar kawat biasa setinggi dua meter. Sementara itu, pompa angguk yang berada di tepi jalan rata-rata tanpa pagar pembatas.

Meski pompa angguk dan refinery oil (pengolahan minyak mentah) menyatu dengan permukiman penduduk atau pusat perbelanjaan, tak terlihat sedikit pun ceceran minyak yang mengotori lingkungan. Semua terlihat serbarapi. Tata kotanya juga teratur. Setiap blok selalu dihiasi taman kota. Bagi Daqing, pompa angguk bagai aksesori raksasa yang menghiasi kota. Kompleks sebuah mal besar di kawasan Chuangye Road yang kini memasuki pembangunan tahap akhir, misalnya, ''dihiasi'' pompa-pompa angguk yang setiap hari beroperasi.

Bagaimana bila sewaktu-waktu minyak yang dipompa bocor dan menyembur ke permukaan tanah karena kerusakan sistem kontrol pompa seperti yang terjadi di Porong? ''Kami bisa menyelesaikannya dalam waktu sepuluh menit. Peristiwa itu pernah terjadi di kawasan perumahan. Warga pun tidak merasa terganggu,'' kata Mr Hou Yunfu, vice director marketing department PetroChina Daqing Oilfield Co LTD, di sela-sela peninjauan salah satu pompa angguk di kawasan mal, Jumat pekan lalu (22/5).

Menurut pria yang pernah empat tahun tinggal di Indonesia itu, warga Kota Daqing memahami betul pentingnya minyak bagi negara. Karena itu, bila terjadi peristiwa gangguan teknis, warga akan memahami. ''Apalagi, warga Daqing memiliki spirit Wang Jinxi, spirit Iron Man,'' ujarnya.

Siapa Wang Jinxi? Dia merupakan salah seorang penambang minyak yang datang ke Kota Daqing (waktu itu Kota Daqing belum bernama) bersama 30 ribu orang dari berbagai penjuru Tiongkok. Ribuan orang tersebut diminta untuk mengeksplorasi hutan belantara yang sekarang berubah menjadi Kota Daqing itu.

Wang Jinxi datang dari daerah yang jauhnya mencapai 5.000 km dari Daqing. Waktu itu, dia masih berusia 14 tahun. Dia tinggal di suatu desa di Provinsi Ganshu, dekat Xinjiang. Wang berangkat menuju ladang minyak Daqing karena terbakar semangat cinta tanah air.

Berdasar sejarah Kota Daqing, begitu tiba di lokasi tambang, warga langsung membuat kelompok-kelompok kecil yang bertugas mencari sumber minyak. Mereka lalu mengeksplorasi lokasi yang dianggap potensial. Begitu pula yang dilakukan Wang bersama kelompoknya. Setelah dua kali pengeboran gagal, baru pada sumur ketiga Wang dkk menemukan sumber minyak yang besar.

Saat itu, 26 September 1959, diwarnai hujan salju yang tebal, minyak muncrat dengan kerasnya dari pengeboran yang dilakukan Wang cs. Namun, tekanan minyak yang muncrat tersebut langsung diatasi. Wang pun tidak berpikir panjang. Dia bersama para pekerja ramai-rama berusaha menutup sumber minyak tersebut dengan campuran semen dan salju yang telah dicairkan.

Tak lama kemudian, semburan minyak itu dapat dikendalikan. Wang pun dinobatkan sebagai pahlawan dan dijuluki sebagai ''Iron Man''. Untuk mengenang perjuangan dan sepak terjangnya, pemerintah Tiongkok membangun museum khusus yang berkisah tentang perjuangan Wang Jinxi dan kawan-kawan.

Sementara itu, semburan sumur ketiga tersebut menjadi awal produksi tambang minyak di Kota Daqing. Sebab, kemudian ditemukan sumur-sumur lain di banyak lokasi. Pada 1963, sumur-sumur minyak di Kota Daqing mulai berproduksi. Produksi minyak Daqing mencapai puncak pada 1976, yakni 50 juta ton per tahun.

Saat ini, di bawah China National Petroleum Corporation (CNPC) yang di antaranya membawahkan PetroChina, Daqing mampu mempertahankan produksi minyak 1 juta barel per hari. ''Jadi, bagi Tiongkok, Daqing sangat penting,'' tegas Hou Yunfu. (*/c5/ari)
Selengkapnya...

20 November 2009

Elegi Minah dan Tiga Buah Kakao di Meja Hijau

RASA KEADILAN
Elegi Minah dan Tiga Buah Kakao di Meja Hijau...

Sumber: Kompas, Jumat 20 November 2009

http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/11/20/02520329/elegi.minah.dan.tiga.buah.kakao.di.meja.hijau...


Oleh Madina Nusrat

Minah (55) hanya dapat meremas kedua belah tangannya untuk menepis kegalauan agar tetap tegar saat menyampaikan pembelaan atau pleidoi di hadapan majelis hakim di Pengadilan Negeri Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Kamis (19/11).

Tanpa didampingi pengacara, ia menceritakan bahwa alasannya memetik tiga buah kakao di kebun PT Rumpun Sari Antan 4, pertengahan Agustus lalu, adalah untuk dijadikan bibit.

Nenek tujuh cucu yang buta huruf ini sesekali melemparkan pandangan kepada beberapa orang yang dikenal guna memperoleh kekuatan. Ia berusaha memastikan bahwa pembelaannya dapat meyakinkan majelis hakim.

Dengan menggunakan bahasa Jawa ngapak (dialek Banyumasan) bercampur bahasa Indonesia, Minah menuturkan, tiga buah kakao itu untuk menambah bibit tanaman kakao di kebunnya di Dusun Sidoharjo, Desa Darmakradenan, Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas. ”Kalau dipenjara, inyong (saya) enggak mau Pak Hakim. Namung (cuma) tiga buah kakao,” ujar Minah kepada majelis hakim.

Minah mengaku sudah menanam 200 bibit pohon kakao di kebunnya, tetapi ia merasa jumlah itu masih kurang. Namun, belum sempat buah tersebut dibawa pulang, seorang mandor perkebunan, Sutarno, menegurnya. Minah lantas meminta maaf dan meminta Sutarno untuk membawa ketiga buah kakao tersebut.

Alih-alih permintaan maafnya diterima, manajemen PT RSA 4 malah melaporkan Minah ke Kepolisian Sektor Ajibarang, akhir Agustus lalu. Laporan itu berlanjut pada pemeriksaan kepolisian dan berakhir di meja hijau.

Minah sudah berusaha melepaskan diri dari jerat hukum. Tapi usahanya sia-sia. Hukum yang mestinya mengayomi masyarakat dengan menegakkan keadilan, bagi nenek Minah, ternyata tak punya nurani. Hukum kita rupanya tak memberi ampun bagi orang kecil seperti Minah. Tetapi, koruptor pencuri miliaran rupiah uang rakyat melenggang bebas dari sanksi hukum.

Di Jawa Tengah, misalnya, empat bekas anggota DPRD dan aparat Pemerintah Kota Semarang yang menjadi terpidana kasus korupsi dana APBD Kota Semarang tahun 2004 sebesar Rp 2,16 miliar divonis bebas. Mereka bebas dari sanksi hukum setelah Mahkamah Agung (MA) mengabulkan permohonan peninjauan kembali mereka. MA menyatakan keempat terpidana itu tidak melakukan tindak pidana.

Muramnya penuntasan masalah hukum di Jateng masih ditambah lagi dengan putusan hakim yang hanya memberikan hukuman percobaan kepada pelaku tindak pidana korupsi. Salah satunya dijatuhkan kepada Ketua DPRD Jateng periode 1999-2004, Mardijo. Terdakwa korupsi dobel anggaran APBD Jateng sebesar Rp 14,8 miliar ini hanya diberi hukuman percobaan selama dua tahun.

Minah memang tak mengerti masalah hukum seperti para terpidana dan terdakwa kasus korupsi itu. Namun, dengan berkata jujur, ia memiliki keyakinan bahwa ia mampu menghadapi rimba hukum formal yang tidak dimengertinya sama sekali.

Terhitung tanggal 13 Oktober sampai 1 November, Minah menjadi tahanan rumah, yakni sejak kasusnya dilimpahkan dari kepolisian kepada Kejaksaan Negeri Purwokerto. Sejak itu hingga sekarang, ia harus lima kali pergi pulang memenuhi panggilan pemeriksaan di Kejaksaan Negeri Purwokerto, dan persidangan di Pengadilan Negeri Purwokerto.

Rumah Minah di dusun, di pelosok bukit. Letaknya sekitar 15 kilometer dari jalan utama Ajibarang-Wangon. Perjalanan ke Purwokerto masih menempuh jarak sejauh 25 kilometer lagi. Jarak sepanjang itulah yang harus ditempuh Minah setiap kali memenuhi panggilan Kejaksaan Negeri Purwokerto dan Pengadilan Negeri Purwokerto.

Satu kali perjalanan ke Purwokerto, Minah mengaku, bisa menghabiskan Rp 50.000 untuk naik ojek dan angkutan umum. Ditambah lagi untuk makan selama di perjalanan. ”Kadang disangoni anak kula (kadang dibiayai anak saya),” katanya.

Sebelum menyampaikan putusan, majelis hakim juga pernah bertanya kepada Minah, siapa lagi yang memberikannya ongkos ke Purwokerto. ”Saya juga pernah dikasih Rp 50.000 sama ibu jaksa, untuk ongkos pulang,” kata Minah sambil menoleh kepada jaksa penuntut umum Noor Haniah.

Noor Haniah yang mendengar jawaban itu hanya dapat memandang lurus ke Minah.

Elegi Minah tentang tiga kakao yang diambilnya melarutkan perasaan majelis hakim. Saat membacakan pertimbangan putusan hukum, Ketua Majelis Hakim Muslich Bambang Luqmono sempat bersuara tersendat karena menahan tangis.

Muslich mengaku tersentuh karena teringat akan orangtuanya yang juga petani.

Majelis hakim memutuskan, Minah dihukum percobaan penjara 1 bulan 15 hari. Jadi, Minah tak perlu menjalani hukuman itu, dengan catatan tidak melakukan tindak pidana lain selama masa percobaan tiga bulan.

Persidangan ditutup dengan tepuk tangan para warga yang mengikuti persidangan tersebut.

Kasus Minah bisa menjadi contoh bahwa penuntasan masalah hukum di negeri ini masih saja berlangsung tanpa mendengarkan hati nurani, yaitu rasa keadilan....

Selengkapnya...

03 November 2009

Gaji Menteri dan Penjabat Di Tanggung Negara

GAJI MENTERI DAN PEJABAT
Duh, Enak (dan Tak Enaknya) Ditanggung Negara...

Sumber : Kompas, Senin 2 November 2009 Oleh Suhartono
http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/11/02/02580967/duh.enak.dan.tak.enaknya.ditanggung.negara...

Sebanyak 34 menteri baru yang didampingi para istri/suami menunjukkan wajah sumringah dan berseri-seri seusai Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melantik mereka di Istana Negara, Jakarta, Kamis (22/10).

Maklumlah, tergambar dalam benak mereka, sang suami atau istri bakal dipanggil dengan julukan ”Pak atau Bu Menteri” karena akan memimpin sebuah departemen atau kementerian negara. Adapun sang istri akan memimpin sebuah Dharma Wanita di lingkungan departemen atau kementerian dan lembaga.

Bicara soal fasilitas dan tanggungan yang diberikan negara kepada para menteri dan pejabat tinggi negara, ibaratnya ”dari rumah sampai keluar rumah” semuanya sudah tersedia.

Diawali dengan gaji pokok ditambah tunjangan istri dan anak bersih sebulan sekitar Rp 19 juta. Adapun gaji pokok dan tunjangan pejabat tinggi negara, termasuk Presiden dan Wapres, Rp 45-Rp 60 juta sebulan. Di luar gaji, seorang masih mendapat tunjangan kelebihan jam kerja senilai Rp 7,5 juta. Artinya, gaji yang diterima sesuai slip tak selalu sama dengan pendapatannya selama sebulan.

Gaji menteri dan pejabat tinggi negara tentu cukup besar jika dibandingkan dengan gaji terendah pegawai negeri sipil (PNS) golongan IA dengan masa kerja nol tahun pada tahun ini yang ditetapkan sebesar Rp 1,040 juta per bulan. Bahkan, juga dengan gaji tertinggi PNS golongan IVE yang tercatat sebesar Rp 3,4 juta per bulan.

Padahal, gaji menteri Rp 19 juta itu juga belum termasuk honor-honor lain apabila si menteri menjadi anggota lembaga lain atau anggota komisi atau badan lain di luar tugas utamanya. Kalau ia tercatat menjadi anggota komisi atau badan atau komisaris sebuah BUMN, minimal ia bisa mengantongi honor dari Rp 1 juta hingga Rp 25 juta lagi.

Bisa pakai DOM
Untuk melancarkan tugas dan tanggung jawabnya sehari-hari, si menteri masih bisa memanfaatkan dana taktis yang nomenklatur (penamaan)-nya di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara disebut Dana Operasional Menteri (DOM). Dana ini jumlahnya berbeda-beda setiap menteri atau kementerian atau pejabat tinggi negara, bergantung pada beban tanggung jawabnya.

Ada yang menerima Rp 100 juta, tetapi ada juga yang menerima Rp 150 juta. ”Setiap menteri memiliki pembebanan tugas dan tanggung jawab yang berbeda-beda,” kata seorang mantan menteri yang enggan disebutkan namanya, Kamis (29/10). Menurut dia, seperti Menteri Keuangan dan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas mengantongi DOM sebesar Rp 150 juta sebulan.

Paskah Suzetta, mantan Menneg PPN/Kepala Bappenas membenarkan bahwa ia menerima DOM Rp 150 juta. ”Akan tetapi, yang saya pakai hanya 10-20 persen saja. Itu pun untuk pembelian tiket ke daerah ataupun ke luar negeri, bayar polisi untuk pembuka jalan dan lainnya. Tetapi, itu semua ada kuitansi sebagai bukti pemakaian,” ungkap Paskah.

Itu urusan gaji dan tunjangan serta dana taktis sang menteri. Untuk urusan pelayanan, si menteri juga mendapat ”pelayanan” seorang ajudan yang melekat 24 jam per hari bilamana diperlukan. Ajudan akan siap melayani menteri, mulai dari siap siaga di depan pintu ruang kerja menteri sampai dengan duduk di kursi depan mobil dinas menteri.

Sebuah Toyota Camry seharga Rp 350 juta, berikut seorang sopir, akan menemani menteri ke mana pun pergi. Ia juga tidak perlu merogoh kantongnya untuk bahan bakar, uang perawatan mobil, dan karcis tol.

”Kalau menteri mau pakai sirene yang ngiung ngiung dan pengawalan, menteri bisa saja meminta bantuan polisi. Otomatis DOM-nya akan banyak terpakai karena dananya dari situ,” ujar Paskah, yang menolak menggunakan sirene dan mobil pembuka atau kendaraan bermotor karena risi.

Bawakan tas

Seorang ajudan menteri juga harus melayani mulai dari menerima dan menyambungkan telepon, terkecuali jika ada telepon dari Presiden, sang pejabat harus mengangkatnya sendiri. Bilamana diperlukan, ajudan juga mengatur jadwal menerima tamu sampai membawakan tas.

Di rumah, seorang menteri dan pejabat tinggi negara juga mendapat fasilitas negara, mulai dari rumah dinas di kompleks para menteri hingga biaya untuk dua pembantu rumah tangga, seorang tukang kebun, dan dua atau tiga satpam yang bisa bergantian menjaga rumah. Listrik dan air PAM pun dijamin.

Di sebuah lembaga tinggi negara, seorang satpam pernah bercerita harus ikut membantu membersihkan rumah dinas pejabat tinggi negara, seperti menyapu dan membersihkan lantai. ”Jika dihitung-hitung, total pengeluaran untuk seorang menteri per bulannya itu bisa mencapai Rp 200 juta-Rp 250 juta,” ungkap Paskah, yang bersama Menkeu banyak mengurusi anggaran negara.

Saat ditanya apakah ia merasa enak menjadi menteri? Paskah menjawab, enak dan tidak enak. ”Jangan dilihat enaknya saja dari sisi fasilitas dan dana yang ditanggung negara, tetapi juga beratnya memikul tanggung jawab segudang untuk negara,” tambahnya.

”Hilang” rumah

Sebagai menteri yang berasal dari partai politik seperti dirinya, Paskah mengaku harus mengeluarkan dana ekstra yang berasal dari kantong pribadinya.

”Sebagai menteri parpol, kita harus siap mengeluarkan dana apabila ada permintaan sumbangan dari para konstituen di daerah. Juga untuk bantuan-bantuan sosial lainnya jika ada proposal. Kalau ditotal, pengeluaran saya cukup besar selama menjadi menteri. Minimal, saya kehilangan satu rumah,” katanya.

Mantan Menteri Kehutanan MS Kaban justru mempertanyakan ukuran enaknya menjadi menteri atau pejabat. ”Fasilitas rumah menteri? Lihatlah, rumahnya sudah tua dan lingkungannya juga tidak nyaman lagi. Mobil dinas? Saya kira biasa saja,” tandas Kaban.

”Kalau gaji Rp 19 juta, memang sudah tahu. Akan tetapi, mau main proyek tidak mungkin. Orang sekarang takut dengan penyadapan. Padahal, permintaan sumbangan luar biasa jumlahnya. Sementara beban pekerjaan itu sangat tinggi sekali,” papar Kaban.

”Nombok”

Mantan Menneg Pemberdayaan Perempuan Meutia Farida Hatta membenarkan besaran gaji yang diterima menteri setiap bulan sebesar Rp 19 juta. Namun, gaji menteri itu sudah lama tidak naik. Sesuai slip gaji, dalam dua tahun gaji itu hanya naik Rp 10.000.

”Padahal, sering kali saya mengeluarkan dana yang lebih dari gaji yang diterima. Jumlahnya bisa mencapai Rp 10 juta hingga Rp 20 juta,” kata Meutia.

Setiap kali kunjungan ke daerah, Meutia menghabiskan dana sekitar Rp 4 juta untuk bantuan kepada masyarakat. Itu tidak termasuk dana program departemen.

Menurut Meutia, sejumlah menteri lain pun pernah mengungkapkan keluhan serupa. Namun, ia tak mempermasalahkan bila harus mengambil uang pribadi karena menjadi menteri adalah sebuah amanah.

Seorang menteri di bidang ekonomi disebut-sebut juga mengaku ”kehilangan” tak hanya rumahnya, tetapi juga sebidang tanah dan mobil mewahnya untuk menopang operasionalisasi jabatan menterinya.

Inilah sisi tidak mengenakkan untuk menjadi seorang menteri. ”Kalau menteri ingin lebih terhormat dan bergaya, memang semakin besar kocek yang harus ia keluarkan,” ungkap Paskah.

Mantan Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Aburizal Bakrie, yang akrab disapa Ical, saat ditanya Kompas terus terang mengaku terpaksa menjual sejumlah saham perusahaannya untuk menomboki pengeluaran yang diakuinya sangat besar sekali sebagai menteri senior.

”Jabatan sebagai menko itu hanya untuk berbakti dan terus terang tidak enak. Karena dari segi dana, lebih banyak kekurangan daripada kelebihannya. Kalau untuk berbakti kepada negara, tentu enak-enak saja menjadi menteri. Itu sebuah kehormatan,” ujar Ical.

Ical menambahkan, ”Menjadi menteri tidak bisa untuk mencari rezeki. Malah uang pribadi yang banyak terpakai. Punya saham terpaksa juga dijual untuk menomboki karena kalau tidak begitu, tidak cukup.”

”Mengapa nombok? Misalnya, kalau kita harus cepat sampai ke tempat tujuan seperti Papua, ya terpaksa pakai uang pribadi. Ini yang tidak enak kalau menjadi menteri,” ujar Ical terkekeh. Ical disebut-sebut acap kali menggunakan pesawat pribadinya untuk menjalankan tugas negara ke tempat-tempat yang jauh di pelosok.

Terkait itu, ia setuju jika gaji menteri dinaikkan. ”Itu terserah pada hasil kerja. Orang tidak bisa diukur dari jumlah yang diterimanya, tetapi dari hasil kerjanya. Apakah itu kerjanya cukup besar dan setara dengan gaji yang diterimanya. Dalam alam reformasi ini, kerja menteri memang bertambah, tetapi juga harus disertai dengan kenaikan gajinya,” papar Ical.

Setelah lima tahun tidak pernah naik, gaji pejabat diusulkan dinaikkan. Pertanyaannya, apakah tepat waktunya pada saat para menteri dan pejabat tinggi negara belum menunjukkan kinerja yang sesungguhnya bagi kesejahteraan rakyat?
Selengkapnya...

19 Oktober 2009

Perkembangan Turisme Kota Beijing 3

Dahlan Iskan: Pesatnya Perkembangan Kota Beijing (3-habis)
Tarif Parkir Akan Dinaikkan Setinggi Yao Ming

Sumber: Jawapos, Sabtu 17 Oktober 2009
(http://www.jawapos.co.id/halaman/index.php?act=detail&nid=95627)


MELEDAKNYA pembangunan kota Beijing memang juga membawa sisi buruk: kemacetan total di jalan-jalan raya. Sangat melelahkan. Dari Beijing Hotel ke lapangan basket di Fuxing Lu (untuk nonton pertandingan basket NBA) perlu waktu satu jam. Untuk ke stasiun kereta api Beijing Selatan (stasiun kereta api yang modern dan mewahnya setara dengan Bandara Hongkong) juga satu jam. Padahal, kalau lagi lancar, jarak itu bisa ditempuh hanya 15 menit.

Di kota Beijing saja, kini memang sudah ada 4.920.000 mobil. Dan masih terus bertambah setiap hari. Meski harga bensin 6 yuan/liter (sekitar Rp 9.000/liter), itu tidak membuat orang menghemat. Padahal, naik kereta bawah tanah ke mana pun arahnya dan ganti kereta berapa kali pun, tarifnya hanya 2 yuan (sekitar Rp 3.000).

Memang sudah ada aturan baru. Mobil dengan nomor-nomor tertentu tidak boleh terlihat di jalan raya pada hari-hari tertentu. Bukan lagi aturan genap-ganjil, tapi sudah dua nomor sekaligus. Kalau hanya genap-ganjil, orang masih bisa mengakali dengan membeli dua mobil. Pemerintah Beijing tidak mau ''tertipu" seperti itu. Bahkan, nomor-nomor yang dilarang beroperasi pun selalu diubah setiap delapan minggu. Pengaturan nomor ini saja sudah mengurangi beroperasinya 200.000 mobil setiap hari.

Tapi, ternyata Beijing masih macet saja. Terutama pada hari libur Sabtu-Minggu, ketika semua nomor boleh masuk jalan raya. Saya selalu berpikir apa yang akan terjadi dengan lalu lintas di Beijing lima tahun lagi?

Ternyata sudah ada konsep matang. Tinggal melaksanakan dalam waktu dua tahun ini: menaikkan tarif parkir setinggi pemain basket Yao Ming. Jalan keluar ini diambil setelah para pejabat Beijing melakukan kunker ke luar negeri. Yakni ke Tokyo. Pulang dari kunker, mereka langsung membahas hasil kunker itu dan membuat keputusan untuk dilakukan segera.

Berapa tingginya kenaikan itu, kini masih disimulasikan. Yang jelas, akan sangat tinggi dan revolusioner. Tidak ada jalan lain untuk menghindarkan kota Beijing dari neraka kemajuan. Sekarang ini tarif parkir di Beijing memang tergolong murah untuk kota metropolis. Di pusat kota sampai wilayah ring road 2, tarifnya 10 yuan per jam (Rp 15.000/jam). Di kawasan antara ring road 2 sampai ring road 5, tarifnya 5 yuan per jam (sekitar Rp 7.500/jam). Sedangkan di luar ring road 5 adalah 2 yuan/jam (sekitar Rp 3.000/jam).

Sistem ring road itu sebenarnya dibangun untuk menjamin agar lalu lintas kota Beijing yang kian besar tersebut tetap lancar. Prinsipnya: infrastruktur jalan akan terus ditambah seiring dengan pertambahan mobil dan perkembangan kota. Dengan sistem ring road, kendaraan dari timur ke barat atau dari selatan ke utara tidak harus lewat tengah kota. Sampai-sampai pembangunan jalan lingkar itu terus ditambah. Sekarang ini sudah membangun jalan lingkar yang kedelapan! Toh, kenaikan kemakmuran Tiongkok yang pesat tidak bisa mengatasi bertambahnya jumlah mobil. Maka, aturan yang sangat ''kejam" terpaksa akan diberlakukan.

Sangat mungkin, tarif parkir di kawasan pusat kota sampai ring road 2 akan naik dari 10 yuan menjadi 50 yuan/jam (atau sekitar Rp 75.000/jam). Ini masih sedikit lebih murah daripada tarif parkir di kota San Fransisco. Bahkan, masih jauh lebih murah daripada tarif parkir di Tokyo. Karena itu, kalau tarif semahal itu masih belum juga bisa mengatasi kemacetan Beijing, tidak ada jalan lain kecuali akan terus dinaikkan sampai ke angka di mana masyarakat terpaksa mengendalikan diri untuk tidak menggunakan mobil pribadi lagi.

Saya bayangkan, nanti, kota Beijing yang sudah sangat elegan itu akan mencapai tahap yang setara dengan Tokyo: modern, bersih, dan tidak terasa sesak. Tentu ada kurang lebihnya. Mungkin, di beberapa sektor Tokyo masih unggul, tapi di banyak sektor, Beijing akan jauh lebih unggul.

Karena itu, janganlah lagi punya pikiran bahwa belanja di Beijing lebih murah. Beijing sudah kian mahal saja. Dulu, makan di Beijing lebih murah daripada di Jakarta. Kini sudah terbalik. Dulu, koki-koki terbaik Tiongkok ''lari" ke Hongkong karena bisa lebih makmur. Itulah sebabnya, makanan di Hongkong terkenal enaknya. Restoran-restoran di Hongkong dipegang oleh juru masak-juru masak terbaik. Kini mereka sudah mulai kembali ke Tiongkok, khususnya ke Beijing, karena kemakmuran juga sudah ada di sana.

Beijing saya lihat juga sudah mulai ''mengancam" posisi Shanghai. Inilah yang membuat Shanghai, sebuah kota yang sudah lebih dulu mempunyai citra lebih modern dan menjadi pusat keuangan, juga terus berbenah. Shanghai yang akan menjadi tuan rumah Ekspo Dunia tahun depan (Arab Saudi untuk kali pertama akan memamerkan bentuk masa depan kota Mina di World Expo ini) lagi berusaha keras untuk menjadi satu dengan Hanzhou. Yakni, dengan jalan membangun kereta berkecepatan 330 km/jam yang menghubungkan dua kota itu.

Persaingan Beijing yang sedang mencoba menjadi satu dengan Tianjin ini akan sangat keras di saat Shanghai sedang dalam proses bersatu dengan Hanzhou. Persaingan itu juga telah mendorong Guangzhou untuk menjalin kombinasi dengan Shenzhen di wilayah selatan.

Di Guangzhou, misalnya, saya diberi kesempatan meninjau pembangunan ''kota baru" seluas 28 km2 yang khusus untuk segala fasilitas Asian Games tahun depan. Begitu Asian Games selesai, kota baru tersebut akan menjadi kota modern Guangzhou menggantikan kota yang sekarang. Karena itu, meski dibangun untuk Asian Games, perencanaan dan penataan kota di selatan Guangzhou tersebut sudah disesuaikan dengan perencanaan sebuah kota baru.

Siapa yang kalah dalam persaingan itu nanti? Saya kira tiga-tiganya tidak akan kalah. Yang akan kalah justru Singapura dan Tokyo yang tidak terlibat dalam persaingan tersebut. Ini biasa dalam marketing. Dua raksasa bertempur habis-habisan, yang kalah justru perusahaan yang kecil-kecil. (*)
Selengkapnya...

Perkembangan Turisme Kota Beijing 2

Dahlan Iskan: Pesatnya Perkembangan Kota Beijing (2)
Saatnya Menarik Turis Tiongkok ke Indonesia

Sumber: Jawapos, 16 Oktober 2009

(http://jawapos.com/halaman/index.php?act=detail&nid=95465)


"Beijing baru" telah membuat sikap orang Beijing berubah. Kalau dulu terbiasa naik sepeda dan gerobak, kini sudah harus hidup dengan fasilitas serbadigital dan eskalator. Perokok berat (yang antara lain juga membuat kota kotor) menurun drastis karena terlalu banyak tempat "dilarang merokok". Kebiasaan berdahak dan meludah tidak terlihat lagi di jalan-jalan dan tempat umum. Toilet-toilet yang dulu berbau menyengat tiba-tiba lenyap.

Bus kotanya bagus-bagus dan bersih. Sistem karcisnya juga digital. Sistem kereta bawah tanahnya sudah meluas bersilang-silang ke seluruh penjuru kota. Petunjuk jalan di stasiun bawah tanahnya serbadigital. Petanya digital. Iklan-iklan di dalam kereta bawah tanah itu hanya ada iklan digital.

Kalau dulu hanya ada satu lin, kini kereta bawah tanahnya sudah 10 lin. Dari 10 lin itu tinggal satu yang tidak serbadigital. Yakni, lin timur-barat yang melewati Tian An Men. Maklum, inilah lin yang pertama dibangun 30 tahunan lalu. Tapi, 9 jurusan lainnya sudah serbadigital dan tangganya sudah eskalator semua. Saya yang 10 tahun lalu merasa lebih modern dari mereka, kini harus banyak bertanya tentang cara membeli karcis di mesin-mesin yang tidak bisa diajak bicara itu. Saya sudah kalah dengan orang-orang kampung yang dulu menarik gerobak itu.

Maka, kalau dulu orang Beijing sangat memimpikan pergi ke Singapura untuk bisa merasakan kehidupan yang modern, kini berubah total. Pikiran seperti itu sudah dianggap masa lalu. Mereka sendiri sehari-hari sudah berada di kehidupan itu sekarang. Orang Beijing sudah semakin tidak tertarik ke Singapura. Orang-orang Tiongkok di luar Beijing pun, misalnya yang di wilayah selatan, akan kian mimpi ke Beijing daripada ke Singapura.

Perayaan 1 Oktober lalu, misalnya, ternyata telah membuat orang Tiongkok begitu bermimpi ingin melihat Beijing. Perayaan yang isinya perpaduan antara kekuatan militer dan kekuatan hiburan itu memang dikemas sangat intertainment. Lalu harus disiarkan secara langsung di semua channel televisi. Bahkan, selama penyiaran perayaan itu sehari semalam, tidak boleh ada iklan sama sekali. Hari itu semua stasiun tv yang memang dimiliki negara, harus mengabdi sepenuhnya kepada negara. Pemerintah komunis Tiongkok sadar benar peran dan kekuatan media massa dalam memobilisasi emosi dan mengaduk-aduk perasaan. Termasuk membangkitkan perasaan ai guo -cinta negara.

Dan berhasil. Sebagaimana yang dilakukan selama Olimpiade tahun lalu, upaya membangun kebanggaan rakyat melalui pengerahan televisi bukan main dampaknya. Keesokan harinya, setelah Kota Beijing ditutup satu hari untuk perayaan itu, Beijing kebanjiran turis sembilan hari. Di kawasan sekitar Tian An Men, tempat yang sangat populer dalam siaran masal televisi itu, padat manusia. Mereka ingin melihat langsung apa yang mereka lihat di televisi sehari sebelumnya. Apalagi semua yang diparadekan masih dipamerkan di sana. Termasuk dua vtron raksasa masih terus memutar video rekaman parade itu.

Meski penyiarannya dipaksakan oleh pemerintah, siaran itu sendiri memang sangat layak ditonton. Kalaupun ada tv yang dibolehkan menyiarkan acara lain, tidak akan ditonton orang. Parade itu sendiri, dan hiburan pada malam harinya, sangat layak dikagumi: serbaindah dan serbakolosal. Penari, penyanyi, bintang film, pemain kungfu, dan kekuatan persenjataan terbaik yang dimiliki negara memang dikerahkan habis-habisan. Termasuk Peng Li Yuan, penyanyi yang sampai mendapat pangkat tituler brigjen, yang kini menjadi isteri Xi Jinping. Xi Jinping adalah wakil presiden Tiongkok yang tiga tahun mendatang hampir dipastikan menjabat presiden menggantikan Hu Jintao.

Perayaan seperti itu memang hanya boleh dilakukan 10 tahun sekali. Karena itu, sangat emosional. Apalagi, bersamaan dengan kebangkitan Tiongkok dari negara gagal ekonomi (lebih rendah dari status negara sangat miskin) menjadi superpower seperti sekarang.

Di satu pihak apa yang terjadi di Beijing pekan lalu kian membuat kita tertinggal. Tapi, di pihak lain ada pula kesempatan. Yakni, ketika mereka sudah kian makmur dan tidak lagi tertarik ke Singapura. Saatnya kita mengisap turis mereka ke Indonesia. Minat mereka melihat Indonesia sudah kian besar. Apalagi, ke Bali dan Jogja. Sebuah kekayaan alam yang tidak akan bisa dimiliki Beijing sampai kapan pun.

Tinggal bagaimana usaha keras kita mengalihkan turis Tiongkok yang kian lama kian banyak jumlahnya itu. Saya bangga bahwa Garuda mulai melangkah maju. Bahkan, pekan lalu Garuda menjadi berita penting di koran terbesar Hongkong. Judulnya begini: Garuda telah memberi pelajaran pada perusahaan penerbangan Tiongkok.

Isinya menceritakan bagaimana manajemen baru Garuda di bawah Dirut Emirsyah Satar telah melakukan perombakan yang membuat Garuda dari berantakan dan rugi besar menjadi perusahaan berlaba. Lalu mampu menambah pesawat-pesawat baru dari jenis Airbus 330 dan Boeing 737-800. Lalu bisa membuka rute baru di dalam negeri dan luar negeri. Termasuk akan menambah penerbangan Jakarta-Shanghai dan Jakarta-Beijing menjadi setiap hari. Satar juga tahu bahwa turis dari Tiongkok kian meledak saja dan tahun ini mencapai 48 juta orang. Dari jumlah itu baru 250.000 yang ke Indonesia.

Dengan menampilkan Satar itu kelihatannya koran terbesar di Hongkong tersebut ingin mengkritik pemerintah Tiongkok dengan cara halus. Misalnya, ketika menulis bagaimana Satar berani mengurangi jumlah karyawan Garuda dari 6.000 menjadi 5.000. Keberanian seperti inilah yang tidak dimiliki perusahaan penerbangan Tiongkok, sehingga dua tahun terakhir banyak yang rugi besar. Koran itu mengkritik bagaimana panggabungan China Eastern Airlines (Dongfang) dengan Shanghai Airlines akhir tahun ini nanti tidak diikuti restrukturisasi karyawan yang jumlahnya mencapai 52.000. Bagaimana pemerintah Tiongkok telah menjanjikan tidak adanya PHK itu hanya demi terjaminnya lapangan kerja mereka.

Koran itu juga menulis bagaimana Satar berani mengajukan syarat khusus kepada menteri perhubungan ketika dia akan diangkat menjadi CEO Garuda pada 2004 dulu. Syarat itu adalah agar pemerintah tidak mencampuri penetapan rute mana yang harus diterbangi dan rute mana yang harus dihapus. Satar juga minta agar boleh melakukan apa saja untuk membuat perusahaan bisa laba. Ini, kata koran tersebut, bisa dijadikan pelajaran bagi Tiongkok untuk memperbaiki perusahaan penerbangannya.

Persaingan antarnegara, bahkan antarkota, memang kian keras. Diperlukan orang-orang seperti Emirsyah lebih banyak lagi. Saya yakin Indonesia akan punya hubungan ekonomi yang kuat dan saling menguntungkan dengan Tiongkok. Tinggal bagaimana kita memanfaatkannya. Dan, Indonesia akan maju, mengalahkan negara-negara seperti Thailand, Filipna, Malaysia, dan Vietnam dalam waktu tujuh tahun ke depan. (*)
Selengkapnya...

16 Oktober 2009

Perkembangan Turisme Kota Beijing 1

Dahlan Iskan: Pesatnya Perkembangan Turisme Kota Beijing (1)
Geser Singapura sebagaiPusat Turisme KotaAsia

Sumber: Jawapos/Batampost, Kamis 15 Oktober 2009
(http://batampos.co.id/Kolom/Catatan_Dahlan_Iskan/Pesatnya_Perkembangan_Turisme_Kota_Beijing_(1).html)

KALAU dulu hanya ditemani Wangfujing, kini pusat turisme Tian An Men -Forbiden City sudah dikitari tiga pusat kya-kya sekaligus. Masing-masing dengan ciri khas dan segmennya sendiri-sendiri. Ditambah pembangunan CDB (Central Business District) di arah timur Tian An Men, saya sudah bisa membuat kesimpulan ini: turisme-kota di Asia yang selama ini hanya disimbolkan oleh Singapura, segera diambil alih Beijing.


Setelah penutupan World Media Summit, saya pergi ke CDB dan naik ke lantai 66 sebuah gedung baru di kompleks yang isinya hanya gedung-gedung yang menuding langit. Saya masuk ke restorannya di beberapa lantai di atas lantai 66, lalu naik lagi untuk mengintip diskoteknya, naik lagi untuk melongok ke bar-barnya: saya tidak tahu lagi kalau malam itu berada di Beijing yang pernah saya kenal. Saya sudah seperti berada di kehidupan malam Los Angeles, atau New York, atau Tokyo. Sudah mengalahkan Singapura.

Di samping wisata yang mengandalkan kekunoannya, belanjanya, dan kya-kyanya, kini Beijing pun sudah memiliki wisata hiburan malam yang elegannya seperti di Barat. Bahkan, dengan alokasi ruangan yang lebih besar. Ini karena Beijing juga sudah menjadi salah satu pusat keuangan di luar Shanghai dan Shenzhen.

Pembenahan Kota Beijing yang gila-gilaan lima tahun terakhir memang telah membuat kota ini sangat modern, bersih, cantik, dan terasa sekali sangat elegan. Beijinglah kota paling elegan di Tiongkok. Sudah lebih 15 tahun ini saya tidak pernah tidak ke Beijing setiap tahun. Yakni, sejak saya masih tinggal di hotel yang di halamannya masih berserakan batubara yang sangat kotor untuk menyediakan air panas sampai kini masuk ke hotel yang lobinya saja di lantai 66. Bahkan belakangan, dengan semakin banyaknya kegiatan, saya bisa ke Beijing tiga-lima kali setahun. Saya bisa "menggrafikkan" dengan baik perkembangan Beijing dari tahun ke tahun. Terasa sekali ambisinya untuk mengalahkan Tokyo segera terwujud. Tidak lagi memperhitungkan Singapura.

Maka, kalau dulu turisme hanya mengandalkan peninggalan kuno yang memang sangat berharga seperti Kota Terlarang dan Tembok Besar, kini Beijing sudah benar-benar masuk ke turisme kota. Tian An Men dengan Forbiden Citynya, terus dibenahi sehingga kekunoannya ditambahi daya tarik modernisasi: air mancur bermain di sepanjang tembok depan Kota Terlarang, perombakan tata cahaya di waktu malam dan vtron-vtron raksasa. Orang yang pernah ke kawasan Tian An Men pun akan selalu ingin melihat perkembangan barunya.

Dari sini, ke timur sedikit ada tempat jalan-jalan Wangfujing yang sudah legendaris, tapi juga terus diperbarui. Kini orang juga sudah diberi pilihan untuk jalan-jalan ke arah barat: Xidan. Kawasan inilah yang disiapkan untuk anak-anak muda dengan turisme gaya hidup mudanya.

Bahkan, sekarang ini (baru sekali ini saya lihat karena memang baru saja jadi), kampung di belakang (selatan) Tian An Men sudah pula diubah menjadi pusat jalan-jalan baru yang desainnya sangat modern, tapi dengan ciri khas Tiongkok. Inilah pusat kya-kya baru yang khas dan elegan sepanjang 1 km: Qianmen.

Begitu kuatnya pembentukan ciri khas pusat jalan-jalan di Qianmen ini sehingga tidak satu gerai pun yang boleh melanggar ciri khas yang sudah ditetapkan. Tidak ada kompromi untuk mencapai pencitraan yang kuat itu. Merek terkuat di dunia seperti Starbuck pun harus tunduk. Tidak boleh menampilkan logo Starbuck yang amat spesial itu di sini. Warna gerainya juga tidak boleh menggunakan warna khas Starbuck. Harus diubah menjadi agak abu-abu-hitam yang mencitrakan bangunan modern, tapi terasa kuno.

Inilah rasanya kasus marketing di mana pemilik merek yang menguasai dunia harus kalah total di Beijing. Sampai-sampai di papan nama besar di luarnya pun tidak boleh ada tulisan Starbuck. Yang boleh adalah tulisan Xing Pa Ke dalam huruf Mandarin. Xing Pa Ke adalah nama Mandarin untuk Starbuck sebagaimana nama Iskan menjadi Yu Shi Gan. Nama Starbuck hanya boleh ditulis kecil di bawah samping gerai, itu pun di barisan kedua. Maka, orang asing yang jalan-jalan ke situ tidak akan mengira kalau gerai itu adalah gerai Starbuck.

Ini menandakan bahwa posisi tawar pusat jalan-jalan Qianmen sangat kuat. Sampai bisa membuat merek kelas dunia tunduk pada aturannya. Saya jadi ingat ketika diberi hak sewa tiga tahun untuk mengelola Jalan Kembang Jepun menjadi Kya Kya di malam hari: ingin mengecat bangunan di sepanjang Jalan Kembang Jepun saja tidak mendapat respons dari pemiliknya. Betapa lemahnya posisi saya saat itu. Mungkin juga karena saat itu saya hanya dapat hak kelola dari pemda tiga tahun sehingga tidak bisa mendapat kepercayaan pasar.

Di Qianmen ini bahkan restoran Peking Duck tertua di Tiongkok (tahun ini berumur 145 tahun) harus tunduk pula. Akibatnya, restoran ini harus mundur ke barisan kedua di belakang bangunan barisan pertama. Kalaupun ngotot tetap buka di barisan pertama, restoran ini tidak akan bisa mendapat jatah ruang yang luas. Padahal, ribuan orang makan bebek di sini.

Saya harus minta tolong teman di Beijing mengantrekan sejak pukul 15.00 untuk bisa mengajak rombongan para pengelola DBL dari seluruh Indonesia untuk makan pukul 16.30 (saat restoran mulai dibuka). Itu pun sudah kalah dulu. Mendapat nomor 17.

Tembok depan berumur 145 tahun yang menjadi ciri khas restoran ini pun harus dipindah! Tidak cocok dengan karakter yang ingin dibentuk pusat jalan-jalan ini. Pemilik restoran terpaksa mengabadikan tembok bersejarah itu dengan cara membangun tembok baru dengan desain yang sama di pintu masuknya yang baru di barisan kedua bangunan di Qianmen.

Sebenarnya restoran ini sudah punya satu cabang tidak jauh dari situ. Yakni, sebuah bangunan besar 7 lantai yang setiap lantai selalu penuh dengan orang yang makan bebek. Saya juga sering membawa keluarga makan di sini. Kelebihannya: kita mendapat sertifikat yang berisi pemberitahuan bebek ke berapa yang kita makan hari itu. Bebek yang saya makan hari itu, misalnya, adalah bebek yang ke 1.684.356.245. Artinya, sampai hari itu sudah 1,6 miliar lebih bebek yang oleh manusia tidak dihargai perikebebekannya.

Tentu saya tidak pernah bertanya apakah benar bebek yang saya makan itu adalah bebek yang ke 1.684.356.245. Saya takut dianggap tidak percaya lalu disuruh menghitung sendiri. Angka yang saya tulis itu pun tidak perlu Anda tanyakan keakuratannya. Sertifikat asli saya sudah hilang. Saya hanya ingat angka-angka depannya. Kalau tidak percaya, Anda terpaksa membantu menemukan kembali sertifikat saya....(*)
Selengkapnya...

29 September 2009

Rodrigo Roa Walikota Nyentrik 3


Rodrigo Roa ”Django” Duterte, Wali Kota Nyentrik dari Davao (3-Habis)
Laporan : Kardono S. Davao, Filipina

Bikin Killing Field Damai, Menang Pilwali Enam Kali

Sumber: Jawapos, Selasa 29 September 2009

Davao pernah mempunyai julukan seram: The Killing Field. Selama masa itu sering terjadi gesekan antara polisi dan tentara Filipina versus pemberontak komunis dan Moro. Selain itu, kota tersebut menjadi tempat yang nyaman (safe heaven) bagi kelompok kriminal.

---

DAVAO adalah kota yang pernah mengalami semua jenis kekerasan. Pengeboman, pembunuhan, perang antargeng, dan perang tentara dengan kelompok separatis. Tapi, itu sebelum 1991. ''Totally mess (benar-benar kacau),'' kata Attorney Melchor Y. Quintain, sekretaris kota (Sekkota) Davao, kepada Jawa Pos.

Menurut Quintain, saat itu kotanya "terbelah" menjadi pusat dua kelompok separatis. Davao Utara dikuasai milisi pimpinan Commander Parago, seorang jenderal perang dari NPA (New People's Army, kelompok militan komunis). Sementara sisi selatan menjadi basis kelompok pemberontak muslim Moro National Liberation Front (MNLF).

Maka, bisa dipahami jika Davao menjadi episentrum konflik di Pulau Mindanao. Tembak-menembak sering terjadi ketika polisi dan tentara masuk dan berusaha mengambil kontrol. ''Seperti laboratorium perang mini. Konflik bersenjata hampir tiap hari terjadi. Pengeboman berkali-kali terjadi,'' tutur Quintain.

Kondisi yang kacau juga menjadi "berkah" bagi para penjahat kelas kakap. Bahkan, sejumlah kriminal yang beraksi di Manila maupun Cebu (kota terbesar kedua di Filipina), selalu kabur ke Davao. Mareka aman karena boleh dibilang polisi dan tentara tak mempunyai jangkauan untuk masuk ke kota Davao.

''(Saat itu) kami tak bisa membangun apa-apa. Tiap hari hanya terdengar tembakan, orang tewas, tembakan, orang tewas. Kami tak bisa membangun,'' ujar Quintain.

Begitu angkernya kondisi Davao sehingga kawasan bisnis paling ramai saat itu (hingga sekarang), Magsasay Avenue, sudah senyap saat waktu magrib lengser. Kegiatan bisnis langsung berhenti. ''Warga tak ada yang berani keluar (rumah) lebih dari pukul 19.00. Urusan bisa gawat. Kalau tidak kena peluru nyasar, bisa kena rampok. Serbasalah,'' katanya.

Tak ada turis yang berani datang. ''Yang datang hanyalah orang-orang yang berkepentingan,'' imbuhnya.

Namun, segalanya berubah ketika Rodrigo Roa Duterte terpilih menjadi wali kota Davao pada 1988. Saat itu usianya 43 tahun. Dia memenagi pilwali tiga kali berturut-turut pada 1988, 1992, dan 1995. Karena aturan pemerintah Filipina (setelah tiga kali tak boleh lagi menjabat), pada 1998 Duterte menjadi anggota kongres di Manila hingga 2001. Dia kemudian maju dan memenangi pilwali lagi pada 2001, 2004, dan 2007.

Lewat tangan besi Duterte-lah Davao berubah drastis. Pendekatan yang dilakukan pria yang dijuluki majalah Times pada 2002 sebagai The Punisher tersebut memang berbeda. Alih-alih memerangi, Duterte merangkul kedua kelompok revolusioner (NPA dan MNLF). Bahkan, dia berani mendatangi "sarang" Commander Parago, mempertanyakan aktivitas yang mengganggu ketenteraman warga kota.

''Masalahnya ya ekonomi. Saya bilang ke mereka, saya tidak ada urusan dengan ideologi dan saya menghormatinya. Namun, saya meminta mereka membantu keamanan. Saya rekrut mereka sebagai keamanan,'' ungkap Duterte.

Begitu pula MNLF. Duterte lalu menjadikan Nur Misuari (chairman MNLF) sebagai sahabat. Semua kebutuhan dicukupi dengan satu syarat, Nur Misuari dan anak buahnya mau menjaga keamanan dan tak beraksi di Davao.

Untuk lebih mengambil hati mereka, Duterte membuat langkah kontroversial. Dia menjamin keamanan pentolan NPA dan MNLF dari penangkapan. ''Sepanjang mereka (NPA dan MNLF) tidak melakukan aksi kekerasan, semuanya aman di sini, malah akan saya fasilitasi,'' tuturnya.

Janji Duterte bukan sekadar isapan jempol. Pada 1990-an, ketika Nur Misuari tak puas dengan pemerintah Filipina dan mengobarkan pemberontakan bersenjata di Jolo, dia menjadi buron yang dicari penguasa di Manila. Anehnya, Duterte malah menyediakan rumah "persembunyian" untuk Nur Misuari di Davao. Tindakan ini bisa dianalogikan sama kontroversialnya dengan seorang wali kota di Indonesia menyediakan rumah dan safe house untuk pimpinan OPM.

Namun, Duterte tak ambil pusing. Dia pun menjadi pemrakarsa perundingan damai Misuari dengan pemerintah Filipina. Selama di Davao, Duterte menjamin keselamatan Misuari. Bahkan, ketika perundingan berlangsung, dia mengeluarkan aturan tegas: tidak boleh ada senjata yang masuk ke Davao. Tentara dan milisi MNLF pun harus menaatinya tanpa ke­cuali. ''Kalau mau perang, perang saja di hutan-hutan. Kalau di kota, harus berunding,'' tuturnya.

Di sisi lain, tentara dan polisi juga menghormatinya. Sebab, beberapa kali perwira tentara maupun polisi, termasuk seorang jenderal bintang satu, diculik NPA, Duterte-lah yang membebaskannya. Maka, pada 1991, boleh dibilang pria yang sebelumnya seorang prosecutor (jaksa penuntut umum) telah memegang dua kelompok bersenjata dengan baik. Merasa dicukupi kebutuhannya, bahkan dicarikan pekerjaan, kelompok-kelompok revolusioner itu pun "patuh". Secara tak langsung, Duterte sukses melakukan deradikalisasi kelompok militan. Sesuatu yang masih sangat sulit dilakukan di Indonesia.

Selanjutnya, Duterte tinggal menangani bandit dan kriminal jalanan. Ini tak terlampau sulit. Dia mempunyai banyak sumber melimpah ruah untuk melakukan "pembersihan" tersebut. Yakni, orang-orang dari NPA dan MNLF yang bisa dipekerjakan. Tentu saja dengan diam-diam. Sebab, sampai saat ini Duterte tetap tak mau dikaitkan dengan upaya "pembersihan" tersebut.

Selain melakukan pembersihan, Duterte menegakkan hukum secara ketat. Yang terbaru, Davao mengeluarkan regulasi lalu lintas. Untuk keamanan, seorang pengendara sepeda motor harus memakai helm full face dan sepatu. Sepeda motor juga tak boleh dimodifikasi macam-macam yang membahayakan. Seorang staf KJRI di Davao pernah terkena tilang gara-gara tak mengenakan sepatu saat mengendarai sepeda motor. Dia pun harus membayar denda 500 peso (sekitar Rp 100 ribu).

Penegakan yang dilakukan Duterte mendapat respons masyarakat. Dari yang semula chaotic, masyarakat Davao kini adalah masyarakat yang tertib. Bar dan tempat dugem pun sampai harus membuat ruang khusus merokok, karena memang dilarang merokok di dalam gedung dan ruang publik. Juga, seseorang tak bisa membuka pintu taksi dari samping kiri (Filipina menggunakan jalur kanan), karena itu sudah merupakan aturan -yang didasarkan logika memang berbahaya membuka pintu dari samping kiri pada lajur kanan.

Hasilnya adalah sebuah ledakan ekonomi di Davao. Kota yang kini berani mengklaim sebagai kota "teraman di Asia Tenggara" tersebut pun semakin makmur.

Kalau pada 1991 hanya ada satu mal, kini Davao memiliki enam mal besar-besar di penjuru kota. Dua mal lagi segera menyusul diresmikan. Selain itu, ada 40 universitas di Davao yang siap memasok SDM terdidik untuk menggerakkan laju ekonomi.

Namun, di atas semua itu, yang paling penting kota ini mampu membuat banyak turis mancanegara datang. Sepanjang 2008, setiap bulan tercatat sekitar 4.000 turis datang ke Davao. "Seperempat di antaranya warga Korea," kata kepala Dinas Pariwisata Davao.

Selain dari devisa yang dihasilkan oleh 200 ribu buruh migran Filipina asal Davao di berbagai negara, ekspor buah serta ikan, para turis mancanegara inilah yang membuat ekonomi Davao semakin maju pesat. Ini semua berkat dua kata kunci Duterte dalam menjalankan pemerintahannya: Peace and Order. Damai dan Tertib. (el)



Selengkapnya...

28 September 2009

Rodrigo Roa Walikota Nyentrik 2


Rodrigo Roa ''Django'' Duterte, Wali Kota Nyentrik dari Davao (2)
Buka Praktik Curhat Seminggu Tiga Kali

Sumber: Jawapos, Senin 28 September 2009

Rodrigo Roa Duterte adalah wali kota dengan karakter yang sangat ''jalanan''. Davao yang diklaimnya sebagai kota terluas di dunia dia atur sebagaimana mengatur sebuah gang. Banyak persoalan diselesaikan dengan model street justice. Davao kini jadi kota termakmur di Mindanao, bahkan Filipina. Semangat begitu mungkin bisa ditiru dikit-dikit pejabat publik di Indonesia.

Laporan : Kardono S. Davao, Filipina

---

RUANG ''praktik curhat'' Duterte berbentuk memanjang, kira-kira berukuran 6 x 10 meter. Suasananya persis dengan ruang tunggu dokter. Ada kursi panjang dan orang-orang yang hendak menyampaikan unek-unek duduk berjejer menunggu giliran. Di depan para pengantre ada sebuah meja panjang yang diisi tiga orang. Yang duduk di tengah tentu saja Rodrigo Roa ''Django'' Duterte, city mayor Davao. Dua orang lainnya bergantian. Kadang deputinya, kadang kepala dinasnya. Bergantung situasi.

Itu sangat berbeda dengan tatap muka langsung antara penguasa dan rakyat model kelompencapir (kelompok pendengar, pembaca, dan pemirsa) zaman Pak Harto. Itu adalah forum tanya jawab Duterte sebagai wali kota dengan warga, tanpa rekayasa dan dilakukan secara rutin. Di forum itu Duterte mendengar langsung keluhan, aduan, protes, dan semacamnya dari masyarakat, lalu mencarikan penyelesaiannya. Solusi itu sebisa mungkin juga diupayakan secara langsung oleh Duterte. Masyarakat bebas mengadukan semua persoalan. Buruknya pelayanan publik, persoalan sosial, masalah pribadi dalam rumah tangga, atau apa pun ke sang wali kota.

Duterte melakukan itu di City Hall of Davao setiap Senin, Rabu, dan Jumat. Dia buka ''praktik curhat'' mulai pukul 13.00 hingga selesai -biasanya selesai paling cepat pukul 19.00.

''Pada Selasa dan Kamis, saya biasanya ke daerah. Ya seperti ini, mendengarkan langsung keluhan masyarakat,'' kata sang wali kota.

Davao adalah sebuah kota yang sangat luas -Duterte mengklaim kota itu terluas di dunia. Luasnya lebih dari 2.000 km persegi. Jawa Pos pergi dari ujung selatan ke timur, juga selatan ke barat, menghitung jarak yang ditempuh adalah 50 km. Jadi, tak semua warga bisa mencapai kota untuk sekadar mengeluh.

Macam-macam yang diadukan, mulai kesulitan bayar bill rumah sakit, buruknya jalan di kampung, orang yang mau naik haji tapi tak punya uang, hingga ke layanan publik. Saat Jawa Pos melihat secara langsung public complaint tersebut pada Rabu (23/9), Duterte tengah mendengarkan pengaduan seorang wanita yang suaminya melakukan kekerasan dalam rumah tangga kepada dirinya. Mendengar itu, Duterte langsung memanggil Attorney Melchor Y. Quintain, city legal office-nya, dan meminta dia mengambil langkah-langkah hukum untuk menjaga sang istri dari keke­rasan suami. Selain itu, Duterte meminta Quintain segera memanggil sang suami untuk membahas masalahnya. Kepada si perempuan, Duterte juga meminta untuk segera menyelesaikan masalah internalnya.

Hal itu menarik karena jarang-jarang ada pejabat publik yang levelnya lebih tinggi daripada gubernur mau berhubungan langsung dengan warga yang sedang dirundung masalah. Sistem pemerintahan dalam negeri Filipina memang unik. City mayor adalah pejabat yang langsung bertanggung jawab kepada presiden, sedangkan gubernur bertanggung jawab kepada Mendagri. Gubernur hanya mengepalai kota-kota kabupaten. Bukan kota madya. Di Mindanao, ada empat daerah yang dikepalai city mayor. Yaitu, Davao, General Santos, Kagayan, dan Zamboanga.

Sungguh menyenangkan rasanya melihat pejabat setingkat di atas mau mendengarkan langsung dan menyelesaikan keluhan masyarakat. Berbeda dengan di Indonesia, yang kebanyakan pejabatnya hanya menyediakan kalimat: ya, aspirasi Anda kami tampung, nanti kami selesaikan... Tak jelas entah kapan penyelesaiannya.

Kasus yang dilakukan Duterte juga termasuk masalah-masalah finansial dalam rumah tangga. ''Tiap hari ada saja masyarakat kurang mampu yang terbelit masalah keuangan. Misalnya, tak mampu membayar biaya rumah sakit,'' katanya. Terhadap problem jenis itu, Duterte berusaha membantu secara langsung. ''Tiap hari kami menganggarkan 500 ribu peso hingga 700 ribu peso (sekitar Rp 100 juta-Rp 140 juta). Dana itu dari anggaran departemen sosial kami. Begitu sudah sampai 700 ribu peso kami stop. Pemohon yang belum kebagian hari itu bisa datang lagi besok,'' lanjut Duterte.

Apa yang membuat dia melakukan itu? Duterte mengatakan, itu adalah konsekuensi pilihan langsung. ''Mereka memilih saya secara langsung dan saya juga harus mendengarkan mereka langsung. Bila ada apa-apa, masyarakat tentu pengin mengadu langsung ke wali kota untuk segera diselesaikan. Kalau saya menjadi masyarakat, kalau ada apa-apa, saya pasti juga ingin langsung mengadu ke penentu keputusan,'' ucap sosok yang tak suka basa-basi itu dengan suara keras.

Gaya Duterte memang tak lazim. Namun, dia berhasil menyenangkan rakyatnya. Indikator ekonomi memang kurang menggembirakan. Pendapatan rata-rata masyarakat Davao sekitar Rp 1 juta per bulan, dengan harga bensin fluktuatif mengikuti pasar dunia (di kisaran Rp 7.300 per liter). Dua hal yang seharusnya membuat masyarakat Davao hidup dalam kemiskinan.

Namun, itu tak terjadi. Rakyat Davao tergolong tak kekurangan dan merupakan yang paling makmur di seantero Mindanao. Itu terjadi karena Duterte menyiapkan banyak jaring pengaman sosial. Angkutan publik, misalnya. Untuk jeepney (semacam angkot, Red), dengan harga bensin Rp 7.200, tarifnya hanya Rp 1.400. Untuk anak sekolah, warga sepuh, dan orang cacat malah hanya cukup membayar Rp 500. Begitu pula taksi, tarifnya sangat murah. Dengan Rp 20 ribu saja, Anda bisa bepergian dari ujung Davao ke ujung lainnya. Itu masih ada diskon pula untuk senior citizen dan orang cacat. ''Kami memang menyiapkan anggaran besar untuk kepentingan sosial. Jeepney dan taksi memang kami subsidi,'' tuturnya. Subsidi untuk taksi diberikan ketika membeli bensin dan langsung mendapat potongan tiap liter.

Saya membatin, bila diterapkan di Indonesia, pasti akan banyak penyalahgunaan. Angkot dan taksi bisa datang ke SPBU berkali-kali untuk isi bensin, tapi kemudian ditap dan dijual lagi ke pengecer. Namun, itu tidak terjadi di Davao karena Duterte meminta para sopir jujur. ''Kalau ketahuan curang, kami akan menindak secara tegas,'' paparnya. Sanksinya adalah pelarangan menyopir selama satu bulan atau bahkan hak mengemudinya dicabut, bila pelanggarannya berat.

Spanduk-spanduk di terminal yang bertulisan Be honest, even if the others are not (Jujurlah, meski yang lain tidak) ternyata bukan slogan kosong. Tak ada sopir yang memutar-mutarkan penumpang dulu supaya argo banyak. Bahkan, sopir mengembalikan barang penumpang yang tertinggal adalah cerita sehari-hari di Davao. Ketika saya bertanya ke Mao, taksi yang saya tumpangi, bagaimana cara mengontrol kejujuran, ternyata parameternya sederhana. ''Anda tinggal mencatat nomor lambung kami dan mengadukan ke public complaints,'' tandasnya. Duterte dikenal sangat menghargai para turis. Dia akan langsung marah ketika ada turis yang mengadu karena dicurangi sopir. Dan, para sopir sangat takut bila Duterte marah.

Selain itu, Davao bercita-cita ingin menjadikan Davao kota pro lingkungan. Makanya, penerapan kawasan terbatas merokok sangat ketat. Di Davao, larangan merokok bisa dibilang lebih ketat daripada di Singapura. Kalau masih berada di bawah atap (bahkan bila berada di bawah halte yang ada atapnya kecil, Red), tak boleh merokok sama sekali. Juga di dalam kamar hotel. Termasuk di taman kota yang notabene adalah kawasan terbuka. ''Kami ingin kota ini menjadi aman dan nyaman bagi siapa pun,'' tandasnya.

Duterte juga terbantu dalam mengelola kotanya. Karena yang menjadi wakil wali kota adalah Sarah Duterte, anak sendiri. Di Davao, wakil wali kota otomatis menjadi ketua city council (dewan kota, seperti DPR kota, Red). Belum lagi, Paulo Duterte, anaknya yang satu lagi, juga menjadi anggota dewan kota. Jadi, kebijakan Duterte biasanya langsung lolos ketika diajukan di dewan kota.

Tak heran bila tagline kota Davao adalah ''The most livable place in Philippines''. Dengan penataan seperti itu, Davao terus menggeliat dengan pertumbuhan 4,9 persen hingga 5,7 persen tiap tahun (menurut Department of Budgeting and Management Filipina). Menurut seorang diplomat yang tak mau disebutkan namanya, delapan tahun lalu Davao masih lebih kecil daripada Manado. ''Tapi, kini sudah menyamai Makassar,'' ucapnya. Makanya, Davao memang menjadi tempat yang livable. Udara segar, di seluruh sudut kota tertata apik, jalur hijau yang ditumbuhi tanaman (meski belum sebagus Surabaya), dan para sopir transportasi publik yang jujur. (lea)

Selengkapnya...

Rodrigo Roa Wali Kota Nyentrik 1

Rodrigo Roa ''Django'' Duterte, Wali Kota Nyentrik dari Davao, Filipina (1)
Warning Penjahat Melalui TV, Punya Eksekutor Khusus

Sumber: Jawapos, Minggu 27 September 2009

Masih ingat -atau setidaknya pernah dengar- film koboi klasik pada 1970-an, Django, yang dibintangi Franco Nero? Rodrigo Roa Duterte adalah sosok wali kota yang memimpin Davao, Filipina, dengan gaya seperti koboi jagoan itu. Wilayah yang tadinya dipenuhi peperangan antarkelompok revolusioner dan keributan antarbandit di bawah kekuasaannya kini aman.

Kardono Setyorakhmadi, Davao

---

PEACE and Order. Damai dan tertib. Dua kata itu merupakan kredo Duterte dalam mengelola kotanya. Dia merangkul banyak pihak, namun sangat tegas memberesi para penjahat yang membuat kota menjadi tak aman. ''No security, no business. No business, you cannot pay anything. People can not go to school, and the economy stuck,'' tandasnya. Ba­ginya, keamanan adalah investasi yang sangat mahal.

Duterte yang sehari-hari selalu bercelana jeans, membagi ancaman keamanan di wilayahnya ke dalam empat hal. Yaitu, ancaman keamanan dari kelompok revolusioner (MILF, MNLF, NPA, Abu Sayyaf), konflik antarsuku, tindakan semena-mena aparat, dan para bandit. Dia sangat serius menangani kasus-kasus itu. Beginilah cara dia menangani.

Yang pertama adalah kelompok revolusioner. Alih-alih memerangi, Duterte malah merangkul mereka. ''Saya tidak memerangi kelompok revolusioner. Mereka punya idealisme sendiri yang saya hargai,'' ucapnya.

Untuk itu, Duterte mempersilakan kelompok revolusioner bertemu dan berkumpul tanpa takut ditangkap. Syaratnya cuma satu, Duterte meminta kelompok itu tak beraksi di Davao. Hasilnya, cespleng.

Tak pernah ada aksi kekerasan di Davao oleh kelompok revolusioner kendati Mindanao adalah daerah yang bergolak.

Kedua adalah konflik antarsuku. Di Filipina, itu adalah masalah serius. Untuk mengatasi masalah itu, Duterte mengangkat deputi dari tiap suku yang ada, kemudian meminta mereka ''menertibkan'' suku masing-masing. Dia juga cukup bijak bila ada tanda kerusuhan. ''Selain meminta deputi, saya mengirimkan tentara dan polisi. Tapi, saya lihat dulu apa agamanya,'' urainya.

Bila konflik terjadi di suku beragama Islam, Duterte mengerahkan tentara dan polisi Islam untuk melakukan pendekatan. Karena itu, meski di kota lain sering terjadi konflik suku, tak sekali pun itu terjadi di Davao.

Ketiga adalah soal aparat yang sewenang-wenang. Duterte sangat keras terhadap masalah itu. Pernah, Maret lalu, dia menerima pengaduan dari seorang warga. Pelapor mengaku dipukuli seorang polisi ketika sama-sama mabuk di sebuah kelab malam.

Tanpa banyak cingcong, di hadapan pelapor, Duterte menelepon chief of Davao City Police untuk mengirimkan anggota yang mokong itu ke kantornya. Dia kemudian menutup semua ruangan dan menanyakan kepada pelapor diapakan saja.

''Saat itu dia (pelapor) mengatakan bahwa kepalanya dipukul. Karena itu, langsung saya pukul kepala polisi itu,'' ucapnya, lantas menirukan gerakan memukul. Kemudian, Duterte bertanya kepada pelapor lagi dan dijawab ditendang. Duterte pun menendang si polisi itu.

Benar-benar Django! Warga yang melapor puas, polisi itu kapok. Setelah berjanji tak akan mengulangi lagi perbuatan buruknya, si polisi nakal dipulangkan. ''Di sini, saya berkuasa. Polisi pun takut kepada saya,'' katanya, sedikit jemawa.

Duterte memang tak omong kosong. Karena sistem pemerintahannya, Davao City Police tak hanya bertanggung jawab kepada Philippines National Police (PNP), tetapi juga ke penguasa daerah. Sebab, meski gaji polisi berasal dari pemerintah pusat, anggaran operasional semua dari pemerintah daerah. Bahkan, PNP tak punya kewenangan menempatkan seorang polisi menjadi Kapolwil. PNP hanya mengajukan nama-nama untuk kemudian dipilih oleh city mayor. Bila Duterte merasa tak ada yang cocok dengan nama yang diusulkan, PNP harus mencari nama lain.

Namun, yang paling fenomenal adalah cara Duterte berurusan dengan para pelaku tindak kriminal yang beraksi di jalanan. ''I am very strict. They must pay for the crimes they committed,'' tegasnya. Kebijakan yang diambil simpel saja: sikat habis. Meski tak pernah mengungkapkan itu secara formal, kebijakannya adalah di-810 (tembak mati untuk istilah polisi Indonesia, Red).

Yang menjadi sasaran adalah para pelaku kriminal yang sudah beberapa kali masuk penjara, penjahat kakap, dan terutama para pengedar narkoba. Duterte benci setengah mati terhadap para pengedar narkoba. ''Karena yang menjadi korban bukan hanya penggunanya, tapi juga masyarakat,'' ucapnya dengan nada geram.

Karena itu, tak heran bahwa dalam beberapa kali wawancara TV, seorang Atorney yang juga merangkap City Administrator, Melchor Y. Quintain, sering membawa foto para buron dan memberikan peringatan. ''Orang ini sudah beberapa kali melakukan kejahatan berat. Saya rasa, hidupnya tak lama lagi. Bisa jadi dibunuh oleh musuh gangnya. Tapi, ini saya bercanda lho,'' kata Quintain.

Meski ada kata ''saya ini bercanda'' di akhir kalimat, siapa pun tahu bahwa Quintain tak sekadar bercanda. Kata itu lebih bermakna pengingkaran secara formal. Tapi, kata-katanya jelas merupakan peringatan. Dan, benar, berselang tiga hari sejak siaran TV itu, orang tersebut ditemukan tewas tertembak di kota General Santos.

Itu terjadi karena ada yang dinamakan satu kelompok misterius bernama DDS (Davao Death Squad). Kelompok itulah yang melakukan ''pekerjaan kotor'' tersebut. Namanya itu disebarkan dari mulut ke mulut dan secara formal kelompok ini sebenarnya tak pernah ada. Tak ada satu pun pejabat resmi Duterte's Administration yang mengakui itu. Duterte sendiri ketika saya tanya soal DDS mengelak. ''Saya tidak tahu itu. Lebih baik kita bicara soal lain,'' jawabnya.

Menurut salah seorang pejabat kota yang tak mau disebut namanya, DDS memang ada dan sifat keanggotaannya sangat cair. ''Nunggu order saja. Ada yang dari militer, polisi, dan juga orang sipil. Di sini banyak orang sipil yang jago tembak,'' tuturnya. Menurut dia, yang biasa dikontak ada 50-100 orang. Bayarannya 5 ribu peso per kepala.

Karena itu, sejak dua tahun lalu -wacana soal DDS kali pertama muncul-, tak ada ampun bagi para penjahat di Davao. Sebelumnya memang sudah ada petrus, tapi belum sesistematis seperti dua tahun terakhir ini. Hingga kini, DDS masih terus beroperasi.

Masyarakat Davao sudah paham bahwa ketika tiba-tiba ada seorang pria mendekat, kemudian menembak kepala preman atau pengedar narkoba, pria itu adalah anggota DDS. ''Bahkan, tak jarang di tengah keramaian sekalipun pada siang bolong,'' ucap Jerry, warga Indonesia yang sudah 10 tahun tinggal di Davao.

Menurut Jerry, tiap bulan lebih dari 20 penjahat tewas. ''Lihat saja di koran. Hampir tiap hari ada penjahat yang tewas. Kadang, sekali tembak bisa lima orang,'' urainya.

Menariknya, salah seorang murid Sekolah Indonesia Davao (SID) pernah diambil oleh DDS saat di mal. Dia sudah dibawa ke tempat sepi. Namun, ketika akan mengeksekusi, anggota DDS itu mencocokkan lagi fotonya. Karena memang bukan yang dimaksud, anggota DDS tersebut meminta maaf, memberi dia uang sebagai tanda penyesalan, dan kemudian mengantarkan kembali ke tempat dia diambil.

Semua warga yang saya temui mengatakan tahu soal DDS. ''Katanya digaji sendiri oleh Mayor. Cuma, tidak ada yang tahu siapa mereka,'' kata Joseph, sopir taksi yang saya tumpangi.

Dia menyatakan senang dengan adanya DDS. ''Bagi orang baik-baik, DDS itu malah membantu. Jadi, kami tak ada masalah dengan adanya DDS,'' tuturnya.

Namun, tak semua sependapat dengan Joseph, terutama Komisi HAM Filipina. Agustus lalu Komisi HAM Filipina mendatangi Duterte dan mengklarifikasi atas disappearance in person (penghilangan orang). Sebab, sejak Januari lalu, komisi ini mendapat pengaduan dari keluarga penjahat yang di-810, yang merasa bahwa kejahatan yang dilakukan anggota keluarganya tak sepadan dengan hukuman mati.

Tapi, di hadapan komisi itu, Duterte tetap menyanggah dan menyatakan tak tahu-menahu soal disappearance tersebut. Tentu saja, mana ada pejabat yang mengaku melakukan pekerjaan kotor tersebut. Bukan itu saja. Goyangan terhadap wali kota yang telah memimpin selama 15 tahun tersebut juga merambah ke bidang lain. Duterte juga dibidik lawan-lawan politiknya atas tudingan kolusi. Sejumlah proyek besar kota, kabarnya, jatuh ke tangan keluarganya.

Namun, apa pun tudingan lawan politik dan komisi HAM, banyak warga yang merasa senang kepada Duterte. ''Dia wali kota yang baik dan tegas. Kami senang kepadanya,'' klaim Joseph. (lea)

Selengkapnya...

04 September 2009

Mantan Pelatih Indonesia yang Kini Tangani India


Sumber: Jawapos, Kamis 3 September 2009

Atik Jauhari, Mantan Pelatih Indonesia yang Kini Tangani India

Lelah Berpetualang Terus

Beberapa tahun terakhir, bulu tangkis India maju pesat. Puncaknya, Saina Nehwal sanggup menjadi juara Indonesia Super Series 2009. Faktor Atik Jauhari tidak bisa dianggap sebelah mata.
---

INDIA menorehkan sejarah dalam Indonesia Terbuka 2009. Gelar tunggal wanita jatuh ke tangan pebulu tangkis negara yang beribu kota di New Delhi tersebut, Saina Nehwal. Pebulu tangkis peringkat ketujuh dunia itu mampu menundukkan Wang Lin asal Tiongkok. Sayang, di Kejuaraan Dunia 2009 di negeri sendiri, India gagal mendapatkan gelar.

Kendati begitu, harus diakui bahwa India kembali menjadi kekuatan bulu tangkis dunia. Sebelumnya, negeri tersebut pernah diperhitungkan di era 1980-an lewat Prakash Padukone dan awal 1990-an melalui Pullela Gopichand.

Bulu tangkis India maju salah satunya berkat jasa Atik Jauhari. Mantan pelatih Pelatnas Cipayung itu adalah pelatih kepala di pelatnas India. Sejak 19 Agustus 2008, pria kelahiran Bandung, 14 Agustus 1949 itu membesut para pebulu tangkis terbaik di India. Pelatnas di India dilakukan di dua tempat, Bangalore dan Hyderabad.

Atik mengepalai pelatnas di Hyderabad di Pullela Gopichand Badminton Academy. Di Bangalore, pelatnas dilangsungkan di Prakash Padukone Badminton Academy. Dua akademi itu milik dua legenda bulu tangkis India, Pullela Gopichand dan Prakash Padukone, yang menyumbangkan gelar juara All England bagi negaranya.

"Di sini, saya menangani semuanya. Mulai membuat program sampai mengawasi kemanjuan anak-anak satu per satu," jelas Atik saat ditemui di tempat tinggalnya, Ridge Hills Apartment, Hyderabad.

Namun, Atik tidak sendiri. Di sana dia memiliki asisten dari Indonesia, Hadi Idris. Hadi bertugas menjadi multifeeder bagi para pebulu tangkis India.

Atik menyatakan, kontraknya habis pada Desember tahun depan, usai dihelatnya Commonwealth Game 2010 (Pesta Olahraga Persemakmuran). Kebetulan, multieven antarnegara persemakmuran Inggris itu dilangsungkan di India.

"Sebelum kontrak saya habis, saya menargetkan mengantarkan Saina masuk jajaran lima besar. Tahun lalu, Saina berada di urutan ke-15, sekarang sudah keenam. Artinya, tugas saya tinggal sedikit," urainya. Setelah kontraknya dengan BAI (Asosiasi Bulu Tangkis India) habis, Atik mengatakan tidak akan memperpanjangnya, meski sudah ada omongan-omongan kontraknya. "Saya sudah lelah terus bertualang ke luar negeri. Saya ingin menghabiskan masa tua di kampung halaman," tuturnya.

Sebelum melatih India, selama dua tahun (2006-2008) suami Neng Titi itu menjadi pelatih di Thailand dan memoles Ponsana bersaudara (Boonsak dan Salakjit). Sebelum itu, Atik memoles para pemain Pelatnas Cipayung pada 2004-2006.

Di Pelatnas Cipayung, tugasnya melatih para pemain ganda wanita. Di antaranya, Gresyia Polii/Jo Novita. Sebelum kembali ke pelatnas, Atik melatih para pemain Swedia. Dia berada di Swedia pada 1999-2003.

Awal karir Atik sebagai pelatih memang diawali di Pelatnas Cipayung pada 1974-1999. Lalu, apa yang membuat Atik akhirnya melatih di luar negeri? Atik tak menampik bahwa alasan utamanya melanglang ke luar negeri adalah penghasilan. "Saya butuh banyak uang untuk membiayai anak-anak saya. Terus-terang, di luar negeri hasilnya lebih baik. Tapi, kapan pun PBSI membutuhkan bantuan, saya pasti bersedia. Itu adalah komitmen saya sebagai insan bulu tangkis Indonesia," jawab ayah empat anak tersebut.

Dia mengatakan, negara yang membuatnya terkesan saat menjadi pelatih adalah Swedia. Tak heran, dia bertahan di sana sampai empat tahun. Anak terakhirnya, Yanuar Anas, bahkan tinggal dan berkuliah di Negeri Skandinavia tersebut.

Menurut Atik, federasi bulu tangkis Swedia cukup puas dengan kinerjanya. Sampai-sampai mereka menawari Atik dan keluarganya untuk menjadi warga negara di sana. "Saya tidak menerima tawaran itu. Sebab, bagaimanapun saya masih cinta Indonesia," ujarnya.

Atik sebenarnya tidak menyangka akan menjadi pelatih keliling. Karirnya sebagai pelatih bisa dibilang bermula dari kecelakaan. Pada akhir 1960-an sampai awal 1970-an, Atik adalah pebulu tangkis nasional. Terakhir, dia berpasangan dengan Christian Hadinata pada 1971. Saat itulah musibah tersebut terjadi.

"Waktu latihan, smes Christian tidak sengaja mengenai mata saya. Akibatnya, mata saya tidak begitu awas lagi. Pada 1974, saya coba main lagi, tapi tidak bisa maksimal. Akhirnya, saya belajar melatih," lanjutnya.

Dia mengatakan, selama melatih di pelatnas, anak didiknya yang paling membuatnya terkesan adalah ganda Ricky Subagja/Rexy Mainaky dan Chandra Wijaya/Tony Gunawan. Menurut Atik, dua pasangan itu merupakan ganda pria terbaik Indonesia sepanjang masa. "Mereka sangat berbakat. Tapi, mereka juga giat berlatih. Itu membuat mereka semakin baik," tegasnya. (m. dinarsa kurniawan/diq)

Biasa Borong Beras

Sumber: Jawapos, Kamis 3 September 2009

SETIAP tempat pasti memiliki budaya dan situasi yang berbeda. Karena itu, setiap kali berpindah tempat, Atik Jauhari harus menyesuaikan diri dengan budaya setempat.

Dia menyatakan, kali pertama melatih di luar negeri, yaitu di Swedia, dirinya butuh waktu cukup lama untuk beradaptasi. Sebab, kondisinya memang sangat berbeda. Terutama suhu yang jauh lebih rendah daripada di Indonesia. Apalagi, di sana ada musim salju.

Hal serupa dialami di India, tempat Atik kini melatih. Dia juga harus beradaptasi. Adaptasi itu lebih banyak dilakukan untuk menyesuaikan diri dengan budaya di negeri yang dilalui aliran Sungai Gangga tersebut. "Mengenai masalah iklim, tidak jauh berbeda dari Indonesia. Jadi, nggak ada masalah," katanya.

Mengenai budaya, Atik harus bekerja ekstrakeras untuk menyesuaikan diri. Mayoritas penduduk Swedia bukan muslim seperti di Indonesia. Warna religius di negara itu juga tidak begitu terasa. Kondisi tersebut berbeda dari India yang sangat kental dengan pengaruh Hindu dalam kehidupan sehari-hari rakyatnya. Apalagi, penduduk India memiliki karakter unik. "Di sini, semua persiapan serba mendadak. Awalnya, stres. Tapi, lama-lama bisa melatih kesabaran," ungkapnya.

Salah satu contohnya dialami Atik saat mempersiapkan tim jelang Makau Gold Grand Prix bulan lalu. Saat itu, hanya sehari sebelum keberangkatan, dia diberi tahu bahwa dirinya akan dibrangkatkan ke Makau. Tapi, dia batal berangkat. Sebab, dia masih tersandung urusan administrasi di New Delhi.

Atik dan istrinya yang ikut diboyong ke India cukup maklum dengan budaya India. Tapi, lidah mereka belum bisa menerima masakan India. Dia menuturkan bahwa masakan India terlalu banyak mengandung rempah-rempah. Dia juga tidak cocok dengan beras India yang disebut Basmati.

"Kalau lagi ke luar negeri, seperti Tiongkok, Makau, atau Vietnam, saya selalu borong beras. Kadang-kadang, saya titipkan anak-anak biar bisa bawa banyak," paparnya.

Apalagi, saat sedang berkunjung ke Indonesia. Bahan makanan adalah barang yang paling banyak dibawa ke India. Saat berkunjung ke apartemennya, memang barang yang terlihat adalah bahan makanan dari Indonesia. Misalnya, kerupuk udang, terasi, dan kopi toraja. (nar/diq)


Hafal Seratus Lagu

Sumber: Jawapos, Kamis 3 September 2009

KESEHARIAN Atik Jauhari memang kerap dihabiskan di lapangan bulu tangkis. Tapi, ketika tidak sedang melatih, dia banyak menghabiskan waktu untuk bernyanyi sembari bermain gitar yang menjadi hobinya.

Atik mengatakan, hobi bermain gitar dimulai sejak menjadi pebulu bulu tangkis di pelatnas. "Waktu saya masuk pelatnas, di kamar saya selalu ada gitar yang saya beli di Guangzhou. Selain saya hobi nyanyi, waktu itu di pelatnas tidak ada hiburan," kenang Atik.

Kala menjadi atlet, dia menyatakan baru berpisah dengan gitar ketika harus pergi ke luar negeri untuk mengikuti turnamen. Atik belajar bermain gitar dan bernyanyi secara otodidak.

Masa mudanya, kata Atik, merupakan zaman keemasan para musisi rock n roll. Tak heran, Atik hafal lagu-lagu The Beatles atau Elvis Presley. Untuk musisi Indonesia, Atik menyukai Broery Marantika, Bimbo, dan Ebiet G. Ade.

"Saya hafal sekitar seratus lagu Indonesia maupun Barat," ujar Atik sambil menyetel gitar akustiknya.

Selain sebagai pelatih bulu tangkis andal, ternyata, Atik sangat berbakat menjadi penyanyi. Suaranya merdu dan lantang dengan vibrasi yang menggetarkan. Saat ditemui di apartemennya di Hyderabad, India, dia membawakan beberapa lagu. Di antaranya, Angin Malam dari Broery Marantika dan Melati dari Jayagiri milik Bimbo.

Dengan modal suara merdu, Atik mengatakan sering didaulat untuk menyanyi setiap kali Asosiasi Bulu Tangkis India (BAI) mengadakan acara. Tidak hanya di India, di tempat-tempat lain dia melatih, Atik juga kerap menjadi penghibur dadakan.

Dia memang piawai bernyanyi dan bermain gitar. Bakat seni itu menurun kepada anak-anaknya, terutama anak bungsu, Yanuar Anas, 23. Atik mengatakan, Yanuar sempat memiliki band dan rekaman di Swedia.

Selain bernyanyi dan bermain gitar, hobi lain Atik adalah memasak dan meminum kopi. Minimal dua cangkir kopi selalu dia minum setiap hari. Di apartemennya, dia juga selalu menyediakan kopi. Saat itu, Atik bilang di dapurnya ada dua macam, yakni kopi Toraja dan kopi Italia. "Kopi membuat saya lebih bersemangat,'' ucapnya. (nar/diq)
Selengkapnya...

26 Agustus 2009

Eniya, Membuka Jalan ke Kota Hidrogen

Sumber: Kompas, Selasa 25 Agustus 2009

Oleh Nawa Tunggal

Selama belajar 10 tahun hingga memperoleh gelar doktor di Jepang, 1993-2003, inspirasi puncak Eniya Listiani Dewi meretas jalan menuju ”kota hidrogen” di Indonesia, seperti tahun 2003 saat Jepang mulai mewujudkannya di kota industri otomotif, Fukuoka.

Eniya berhasil membuka jalan ke kota hidrogen setelah memproduksi ”jantung” sel bahan bakar hidrogen dengan komponen lokal 80 persen sehingga harganya jauh lebih murah dibandingkan dengan pasaran di Asia kini.

Masyarakat Ilmu Polimer Jepang memberinya penghargaan atas temuan tersebut dalam simposium internasional di Kobe, 29 Mei 2009 lalu. Sebanyak 4.000 ahli polimer dari berbagai penjuru dunia diundang menghadiri kegiatan itu. Namun, pemberangkatan Eniya dan semua peserta yang lain kemudian dicegah karena saat itu Kobe terserang pandemi flu A-H1N1.

Simposium dibatalkan. Simbol anugerah dikirimkan ke Indonesia dan diterima Eniya akhir Juni 2009. ”Justru masyarakat Jepang lebih dulu menghargai temuan hasil riset tim kami,” ujar Eniya, Kepala Perekayasaan Fuel Cell atau Sel Bahan Bakar pada Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Eniya, putri pertama dari dua bersaudara pasangan Hariyono (almarhum) dan Sri Ningsih, asal Magelang, Jawa Tengah, ini meraih banyak penghargaan di bidangnya.

Memulai dari akhir

Memahami kota hidrogen mencakup pemenuhan kebutuhan energi masyarakat kota secara ramah lingkungan. Tujuannya, melanggengkan kehidupan kota tanpa risiko pencemaran karena sel bahan bakar hidrogen menghasilkan energi tanpa mengemisi karbon dan limbahnya hanya air dan panas.

Aplikasi sel bahan bakar untuk kota hidrogen bertujuan memenuhi kebutuhan rumah tangga, mulai dari penerangan, memasak, sampai kendaraan. Jadi, knalpot kendaraan tak mengepulkan asap, tetapi mengucurkan air murni.

Menurut Eniya, Jepang membuat simulasi kota hidrogen dengan membagikan generator sel bahan bakar berkapasitas 1.000 watt-2.000 watt kepada 2.000 keluarga di Fukuoka untuk penggunaan cuma-cuma selama lima tahun. Disediakan pula angkutan umum bus dengan bahan bakar hidrogen yang ramah lingkungan.

Keinginannya mewujudkan kota hidrogen di Indonesia memang terkesan tak mungkin. Di balik itu Eniya mengungkap spirit dari teknokrat BJ Habibie dalam teknik berinovasi, yaitu start from the end atau memulai dari yang terakhir.

Kenangan akan Habibie terus mengendap karena Eniya berhasil mewujudkan keinginannya sejak kecil untuk studi di luar negeri berkat kebijakan Habibie era 1990-an. Saat itu Kementerian Negara Riset dan Teknologi di bawah Habibie memberi beasiswa bagi lulusan SMA berprestasi untuk melanjutkan studi ke berbagai negara industri.

Ia terpilih menjadi salah satu penerima beasiswa dalam program Science and Technology Advance Industrial Development (STAID) Kementerian Negara Riset dan Teknologi.

Eniya menyelesaikan S-1 di Universitas Waseda, Tokyo, hingga memperoleh gelar doktor (S-3) pada Fakultas Aplikasi Kimiawi, Polimer, Katalis, dan Sel Bahan Bakar.

Teknologi sel bahan bakar termasuk the end atau bagian akhir pengembangan teknologi mutakhir menyongsong peradaban ramah lingkungan dalam pemenuhan energi dengan sumber energi tak terbatas, seperti air sebagai sumber hidrogen.

Menurut Eniya, metode produksi hidrogen, selain proses elektrolisis dari air, dapat pula ditempuh seperti di Fukuoka, yakni mengubah metana dari berbagai bahan bakar gas, termasuk biogas menjadi hidrogen.

Memupuk harapan

Seperti para periset dan perekayasa lain, Eniya berharap ada investor yang mampu mengaplikasikan temuannya untuk pengembangan sel bahan bakar secara kompetitif. Ia membuka secara transparan, bagaimana mengganti komponen ”jantung” sel bahan bakar impor dari AS atau Jepang dengan komponen-komponen lokal.

Manufaktur generator sel bahan bakar dengan komponen lokal sudah diuji menurunkan 80 persen harga dari pasaran Asia. Substitusinya antara lain pada material katalis elektrode sel bahan bakar impor dengan logam platina, yang berharga jauh lebih mahal, diganti komponen lokal vanadium yang fungsi dan keandalannya tak jauh beda.

Penggunaan nafion pada polimer elektrolit sel bahan bakar impor seharga 1.000 dollar AS (sekitar Rp 10 juta) per meter persegi disubstitusi proses sintesis hidrokarbon polimer nanosilika berharga Rp 1,5 juta per meter persegi, atau berkurang 85 persen.

Substitusi material impor juga untuk komponen lain sel bahan bakar yang dirangkai berurutan membentuk lapisan stack fuel cell atau generator sel bahan bakar. Komponen itu meliputi end-plate, current collector, graphite bipolar-plate, dan membrane electrode assembly (MEA) sebagai ”jantung” sel bahan bakar. Rangkaian stack fuel cell impor (tanpa MEA) senilai Rp 23,95 juta bisa diturunkan menjadi Rp 5 juta.

”Untuk mengaplikasikan temuan ini, saya berpijak pada upaya memproduksi listrik permukiman dengan sumber hidrogen yang menyesuaikan sumber daya setempat. Aplikasi untuk sistem transportasi bisa menyesuaikan kemudian,” ujar Eniya.

Selengkapnya...

12 Agustus 2009

Pulau Pribadi Rp 1,7 T

Athina Onassis Jual Pulau Pribadi Rp 1,7 T

Sumber: Jawapos, Rabu 12 Agustus 2009

ATHENA - Anda tertarik memiliki pulau untuk kepentingan pribadi? Cucu miliarder dan mantan raja kapal mendiang Aristotle Onassis, Athina Onassis Roussel, menjual sebuah pulau milik keluarganya di Kepulauan Ionian, Yunani. Pulau Skorpios tersebut ditawarkan EUR 120 juta (sekitar Rp 1,709 triliun).

Kabar penjualan pulau itu menjadi pemberitaan media massa di Yunani Senin lalu (10/8) dan dikutip sejumlah kantor berita asing kemarin (11/8).

Pulau tersebut digunakan Onassis sebagai tempat pernikahan dengan janda mendiang Presiden AS John F. Kennedy, Jacqueline (Jacky) Kennedy, pada 1968. Setelah Onassis meninggal pada 1975, pulau itu diwariskan kepada putrinya dan anak keduanya, Christina. Selanjutnya, ketika meninggal pada 1988, Christina mewariskan pulau tersebut kepada putri tunggalnya, Athina.

Jenazah Onassis, anak pertamanya (Alexander), dan Christina dimakamkan di pulau itu. Sebagai penghormatan, patung Onassis dibangun di Pulau Lefkada, pulau terbesar di Kepulauan Ionian, di dekat Pulau Skorpios.

Saat ini Athina merupakan satu-satunya keturunan Onassis yang masih hidup. Perempuan kelahiran 29 Januari 1985 itu mewarisi kekayaan tak kurang EUR 2,5 miliar (sekitar Rp 35,6 triliun) berupa properti, saham, perusahaan, karya seni, dan jet pribadi.

Namun, ahli waris kerajaan Onassis tersebut jarang menghabiskan waktu di Pulau Skorpios. Meskipun keturunan Yunani, pada 1999 dia menulis dokumen bahwa dirinya ''membenci semua hal yang berbau Yunani''.

Lahir dengan nama Athina Roussel, dia lebih suka menggunakan nama Athina Onassis de Miranda atau Athina Miranda Onassis dalam kompetisi berkuda. Apalagi, sejak dia menikah dengan atlet berkuda Álvaro Affonso de Miranda Neto pada Desember 2005.

Belakangan, muncul laporan bahwa Athina ingin menjual pulau itu setelah berselisih dengan pemerintah Yunani. Ini menyusul penolakan Yunani untuk memberikan status warga negara bagi suami Athina agar bisa mengikuti kompetisi berkuda dalam Olimpiade Athena pada 2004.

Negosiasi penjualan pulau masih berlangsung. Orang terkaya di dunia versi majalah Forbes, Bill Gates, menjadi salah satu tokoh yang berminat membeli. Diva musik pop Madonna juga tertarik.

Pulau Skorpios merupakan salah satu di antara gugusan pulau di Kepulauan Ionian. Saat ini pulau kecil itu dijaga ketat alias tertutup bagi orang luar. Sebagai pulau pribadi, Skorpios mulai dibangun pada 1960-an. Sekitar 500 pekerja membangun kediaman keluarga Onassis. Rumah tersebut dilengkapi fasilitas listrik dan jaringan air minum. Saat ini sekitar 30 orang dipekerjakan di sana sebagai penjaga keamanan.

Di pulau tersebut juga terdapat Pink House (vila yang ditinggali Jacky Kennedy), lapangan tenis, dan taman yang luas dan mewah. Ada dua pantai di pulau tersebut tempat kapal-kapal bisa bersandar.

Di atas salah satu pantai, terdapat kapel (gereja kecil). Di sanalah Onassis menikahi Jacky Kennedy dan anggota keluarganya dimakamkan. (DPA/dwi)

Selengkapnya...

03 Agustus 2009

Kembar Siam Dempet Kepala Pertama di Indonesia

Sumber: Jawapos, Senin 3 Agustus 2009

Ana-Ani, Kembar Siam Dempet Kepala Pertama di Indonesia
Hidup Normal, Berprestasi di Kampus

Dua puluh dua tahun lalu, untuk yang pertama di Indonesia, dua bayi kembar dempet kepala bisa dipisahkan. Kini, mereka sudah beranjak dewasa dan tergolong berprestasi di kampusnya. Inilah kisah mereka yang penuh liku.

---


JUMAT lalu (31/7) adalah hari ulang tahun Pristian Yuliana dan Pristian Yuliani, dua saudara kembar yang ketika lahir dalam kondisi dempet kepala (craniopagus). Anak pasangan Tularji-Hartini itu lahir di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, pada 1987.

Kondisi Ana dan Ani (panggilan akrab untuk Yuliana dan Yuliani) saat itu tentu menyedihkan kedua orang tuanya. Setelah bertanya ke sana kemari, mereka dirujuk ke Jakarta. Akhirnya, pada 21 Oktober 1987, dilakukan operasi pemisahan oleh tim dokter di RS Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta Pusat. Saat itu, operasi dipimpin Prof dr RM Padmosantjojo yang melibatkan 96 dokter, memakan waktu 13 jam, dan menelan biaya sedikitnya Rp 42 juta. Kasus Ana-Ani tersebut dicatat sejarah kedokteran di Indonesia sebagai kembar siam pertama yang sukses menjalani operasi pemisahan.

Kini Ana dan Ani sudah beranjak dewasa. Bulan depan, mereka memasuki semester lima masa perkuliahannya di Universitas Andalas, Padang. Dasar kembar, dalam banyak hal -mulai pilihan pakaian, aksesori, sampai gaya rambut yang dibiarkan tergerai panjang- selera mereka sama.

Sejak kecil, keduanya punya cita-cita yang sangat kuat untuk menjadi dokter. Itu dipengaruhi oleh sosok Padmosantjojo, ketua tim dokter yang sukses memisahkan mereka. Namun, hanya Ani yang berkesempatan masuk ke fakultas kedokteran. Ana berkuliah di fakultas perternakan jurusan nutrisi dan makanan. Meski beda fakultas, mereka satu kampus.

''Kami sudah sepakat, pokoknya harus satu universitas. Apa pun jurusannya. Pokoknya, yang penting salah satu dari kami ada yang di kedokteran,'' kata Ani ketika ditemui Jawa Pos di rumah Prof Kamardi Talut, orang tua wali Ana-Ani yang tinggal di Jalan Jati IV, Padang, akhir pekan lalu. Selama di Padang, Ana-Ani memang tinggal di rumah dokter spesialis bedah urologi Universitas Andalas itu.

***

Setelah lulus dari SMU Katolik Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, pada 2006 Ana-Ani mengikuti tes masuk PTN (perguruan tinggi negeri). Karena bercita-cita jadi dokter, keduanya memilih Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI). Itu pilihan pertama. Pilihan kedua adalah Fakultas Kedokteran Universitas Riau. Sayang, hasil tes mengumumkan, mereka tidak lulus.

Ana-Ani kemudian pulang kampung dan kuliah di LP3I Tanjung Pinang. Meski lulus tes di jurusan IT dan komputer, tak lama kemudian keduanya pindah ke jurusan akuntansi. ''Kami pindah ke akuntansi. Sebab, di jurusan IT dan komputer, yang perempuan di kelas cuma kami,'' tutur Ani.

Setahun berjalan tak menyurutkan mimpi keduanya untuk menjadi dokter. Pada 2007, Ana-Ani kembali menjajal keberuntungan. Mereka kembali ikut tes masuk PTN. Pilihannya tetap kompak, fakultas kedokteran. Tapi, kali ini atas saran Padmosantjojo, pilihannya di Universitas Andalas. Asumsinya, persaingan masuk di Andalas tak seketat di UI.

Hubungan Padmosantjojo dengan Ana-Ani memang terjalin sejak mereka menjalani operasi pemisahan. Meski tak ada hubungan famili, Padmosantjojo sudah menganggap Ana-Ani seperti anak kandungnya. Begitu juga di mata dua saudara kembar itu, sosok Padmosantjojo sudah dianggap sebagai bapak kandung mereka. Karena itu, untuk cita-cita pun, mereka ingin menjadi seperti Padmosantjojo, yakni menjadi dokter ahli saraf.

Padmosantjojo juga sangat perhatian kepada anak-anak angkatnya tersebut. Karena itu, ketika tahu Ana-Ani ingin sekali menjadi dokter, dia dengan penuh ketulusan membantu. Termasuk membantu pembiayaan.

Saat tes masuk PTN ke Universitas Andalas, keduanya memilih fakultas kedokteran. Untuk pilihan kedua, mereka kompak mengambil jurusan nutrisi dan makanan fakultas peternakan.

Ternyata, hasil tes mengumumkan bahwa mereka diterima di pilihan kedua. Tentu saja mereka kecewa. Karena saking kepengin masuk di kedokteran, mereka lantas menjajal jalur extension. Sebenarnya, melalui jalur itu, keduanya bisa saja diterima. Tapi, Ana-Ani sadar, jika mereka sama-sama kuliah di jalur extension fakultas kedokteran, biayanya sangat mahal.

Sebagai gambaran, biaya masuknya saja di extension mencapai Rp 80 juta. Belum lagi SPP per semester Rp 6 juta. Kalau di peternakan jalur reguler, biaya masuk pada 2007 itu hanya Rp 3 juta dengan SPP Rp 1.450.000 per semester.

Ana-Ani sadar bahwa mereka tak ingin membebani Padmosantjojo dengan sama-sama memaksa masuk di jalur extension. Apalagi, saat itu Padmosantjojo yang biasa mereka panggil pakde akan segera memasuki masa pensiun.

Sejak lahir hingga sekarang, sang pakde itulah yang membiayai pendidikan mereka. Atas pertimbangan tersebut, Ana mengalah. Dia memilih tetap kuliah di fakultas peternakan dan Ani yang masuk ke kedokteran dari jalur extension. Apalagi, menurut mereka, Padmosantjojo sempat menyampaikan bahwa Ani lebih cocok di kedokteran. Ana dianggap tidak tegaan dan gampang merasa jijik daripada si Ani.

Selama menjalani kuliah, prestasi akademik keduanya cukup membanggakan. Nilai IPK terakhir si Ana 3,42 dan Ani 3,00.

***

Gara-gara beda fakultas, Ana-Ani tidak bisa lagi selalu berpenampilan kompak. Ada peraturan khusus di fakultas kedokteran. Semua mahasiswinya wajib mengenakan rok. Padahal, Ana maupun Ani sama-sama paling benci memakai rok. ''Ya sudah, Ani harus pakai rok. Mau bagaimana lagi, soalnya peraturan. Kalau aku, nggak bakalan deh,'' tutur Ana, lantas tertawa.

Di kampus, keduanya juga sering mendapatkan perhatian istimewa dari para dosen. Apalagi Ana-Ani memang cukup aktif di kelas. Tak jarang, dosen mengajak untuk membantu bila ada proyek-proyek penelitian. ''Ada nggak enaknya. Meskipun ada teman-teman yang suka, lebih banyak yang nggak suka. Banyak yang jealous (iri, Red),'' tuturnya.

Bagaimana soal biaya bulanan? ''Ada dari pakde (Padmosantjojo, Red) dan dari keluarga di Tanjung Pinang juga. Pokoknya, lebih dari cukup,'' jawab Ana.

Ani menceritakan, dirinya ingin menjadi dokter spesialis bedah saraf seperti Padmosantjojo. Dia sangat kagum dengan kepiawaian orang tua angkatnya itu. Apalagi, di kedokteran dia mempelajari betapa rumitnya saraf-saraf di kepala. Dengan segala keterbatasan teknologi kedokteran dulu, Ani sangat sadar bahwa peluang hidup mereka saat dipisahkan sebenarnya sangat kecil.

''Ternyata, Tuhan sangat baik sama kami. It's a miracle,'' kata Ani. Dia menyadari, sampai sekarang, pemisahan bayi kembar siam masih menjadi operasi yang berisiko tinggi. Terutama kembar dempet bagian kepala seperti dia.

Sebut saja kembar siam craniopagus asal Iran, Ladan dan Laleh Bijani, yang meninggal dunia karena kegagalan operasi pemisahan mereka di RS Raffles, Singapura, pada 8 Juli 2003. Padahal, saat operasi dilakukan, mereka sudah berusia 29 tahun.

Secara terpisah, Padmosantjojo menjelaskan, berdasar data yang dimilikinya, baru Ana-Ani satu-satunya kembar dempet kepala yang sukses dipisahkan, hidup sampai dewasa dan kuliah. Bukan hanya di Indonesia, tapi juga dunia.

Sekitar enam tahun lalu, Padmosantjojo mendapat kabar bahwa ada kembar dempet kepala yang juga sukses dipisahkan di Zimbabwe. Tim dokter di sana, ternyata, menggunakan teknik seperti saat Padmosantjojo memisahkan Ana-Ani. Caranya adalah membelah pembuluh darah (sinus sagitalis) di daerah otak si bayi kembar.

''Saya dengar karena membelahnya ragu-ragu, keduanya selamat. Tapi, ada cacat mental,'' katanya.

Ketua Umum Yayasan Nakula-Sadewa -sebuah perhimpunan bagi orang-orang kembar di Indonesia- Seto Mulyadi mengatakan, di dunia ini memang baru Ana-Ani kembar dempet kepala yang sukses dipisahkan dan tumbuh sehat hingga dewasa. ''Sampai sekarang, saya berpendapat mereka -termasuk Prof Padmosantjojo- sebagai harta kekayaan bangsa ini,'' ujar Seto, yang juga ketua Komnas Anak. (pri/kum)


Padmosantjojo, Dokter Dermawan yang Mengoperasi si Kembar Dempet Kepala
Sulitnya seperti Memisah Uang Kertas

Sumber : Jawapos, Senin 3 Agustus 2009

Prof Dr dr Padmosantjojo SpBS mungkin tergolong dokter langka. Dialah yang ikut mengoperasi bayi kembar dempet kepala Yuliana-Yuliani hingga berhasil. Perannya tak hanya sampai di situ. Dia juga yang membiayai sekolah saudara kembar itu hingga sekarang di bangku kuliah.

---

SETELAH mengoperasi Yuliana-Yuliani pada 1987, Padmosantjojo ti­dak pernah lagi menemukan dan berhadapan dengan kasus serupa. Bagi Padmosantjojo, operasi pemisahan kembar siam dempet kepala Yuliana-Yuliani merupakan momentum sekali dalam seumur hidupnya.

''Kalau bisa jangan ada lagi deh. Capek dan be­lum tentu berhasil lagi,'' kata ahli bedah saraf itu sete­ngah bercanda, saat ditemui di ruang praktiknya di RSCM, Jakarta Pusat, awal pekan lalu.

Menurut dia, Yuliana-Yuliani sampai sekarang masih memegang rekor sebagai bayi kembar siam dempet kepala termuda yang menjalani operasi pemisahan dan berhasil. Saat dioperasi, Yuliana-Yuliani baru berusia 2 bulan 21 hari.

Padmo merasa sukses besar yang diraih bersama tim tidak akan tercapai tanpa perlindungan Tuhan. ''Bayangkan saja, prinsipnya dikarang sendiri, lantas hipotesis itu juga dibuktikan sendiri. Nggak ada yang memberi contoh,'' ungkap ahli bedah saraf keturunan Pakubuwono IV, kelahiran Kediri 26 Februari 1938 itu.

Meskipun tak ada panduannya, operasi Yuliana-Yuliani meraih sukses besar. Keduanya terus hidup sampai sekarang dalam keadaan normal. Puncak dari operasi pemisahan itu adalah saat Padmo dengan telaten selama berjam-jam membelah perlengketan duramater otak dan pembuluh darah vena (sinus sagitalis) setebal 2,5 mm tanpa lecet dengan mata telanjang.

Cara ini tak pernah diikuti para pakar bedah saraf dunia, karena mereka tak cukup telaten. Ketika menghadapi kasus seperti ini, umumnya mereka memberikan seluruh pembuluh darah yang seolah menyatu itu ke salah satu bayi kembar siam. Lalu, pasangannya dicangkoki pembuluh darah buatan. ''Pemisahan ini seperti membelah uang kertas, tanpa merusak gambar pada sisi masing-masing,'' tuturnya.

Padmo juga meyakini dalam kasus kembar siam dempet kepala, operasi sebaiknya dilakukan secepatnya. Dia juga lebih suka membiarkan selaput otak luar membentuk lapisan tulang kepala sendiri daripada membuatkan tulang buatan. Teknik inilah yang belakangan diakui dunia bedah saraf internasional dengan sebutan prinsip Padmosantjojo.

Pascaoperasi, Padmo tidak mengizinkan Yuliana-Yuliani langsung dibawa pulang ke Tanjung Pinang. Bukannya khawatir dengan efek menyimpang yang muncul pascaoperasi pemisahan, Padmo ternyata tidak percaya keluarganya sanggup merawat Yuliana dan Yuliani dengan baik.

''Bagaimana mau percaya, wong dia (Tulardji) tukang batu yang nggak punya apa-apa,'' katanya. ''Padahal, usia balita itu kan rentan sekali. Bisa kena demam berdarah, mencret, atau muntaber yang nggak ada hubungannya dengan kondisi kembarnya, lalu bisa mati,'' imbuh lulusan Rijksuniversiteit, Groningen, Belanda itu.

Sampai 1994, Yuliana-Yuliani berada dalam perawatan intensif Padmo. Bahkan, kedua orang tua mereka, yakni Tulardji dan Hartini, be­serta ibun­da Tulardji, terus tinggal di Jakarta. Biaya selama di Jakarta hampir seratus persen ditanggung Padmo. Padmo menyebut banyak orang yang hanya membonceng populer. Tapi, mereka tidak ikut memberikan bantuan.

Setelah masa balita Yuliana-Yuliani dilalui, Padmo memutuskan merelakan keduanya beserta keluarga kembali ke Tanjung Pinang. Selain memberikan modal usaha bagi Tulardji, Padmo tetap membiayai kebutuhan sehari-hari, terutama pendidikan Yuliana-Yuliani.

''Saya kagum dengan Tulardji yang kehidupannya bisa berkembang seperti sekarang. Jarang ada orang diberi modal, terus mau berupaya serius untuk mengembangkannya,'' kata Padmo.

Tapi, mengapa mengizinkan Yulia­na-Yuliani yang sangat istimewa kembali ke Tanjung Pinang, bukannya dirawat sendiri?

''Saya tidak mau, kalau sudah dewasa terjadi cultural shock. Keluarga saya dan keluarganya berbeda. Di keluarga saya semua tersedia. Kalau nanti dia balik ke keluarganya lalu terjadi perbedaan nilai-nilai, kan jadi bingung. Bagi saya yang penting kesehatan ter­jaga, soal moral dan budaya biar ikut keluarganya sendiri,'' bebernya.

Soal besarnya cita-cita Yuliana-Yuliani untuk menjadi dokter, Padmo menyebut dia sama sekali tidak pernah mengarahkan hal tersebut. (pri/kum)


Ayah Pingsan, Ibu Tak Boleh Lihat


Sumber : Jawapos, Senin 3 Agustus 2009

JIKA saja Ana dan Ani lahir normal, keluarga Tulardji sebenarnya mempunyai persediaan uang yang cukup untuk biaya persalinan. Menjelang Hartini -istri Tulardji-melahir­kan, dia punya tabungan Rp 4 juta. Itu bukan jumlah yang kecil untuk ukur­an pada 1987.

Tapi, setelah proses persalinan Hartini harus melalui operasi caesar, Tulardji sama sekali tidak punya uang lagi. ''Begitu tahu bayi saya yang kembar dalam kondisi begitu (dempet kepala, Red), saya sempat pingsan. Saya merasa pusing, seolah tidak ada jalan solusi,'' kenang pria 48 tahun itu saat ditemui di rumahnya, Jalan Sumatera, Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, awal pekan lalu.

Pekerjaan Tulardji sehari-hari hingga sekarang adalah tukang bangunan. Dia hanya lulusan SD.

Pria asli Pacitan itu mengatakan, dirinya sama sekali tidak pernah punya bayangan akan memiliki anak kembar. Apa lagi kembar siam dempet kepala. Begitu juga Hartini.

Hartini setelah menjalani caesar di RSU Tanjung Pinang tidak bisa lang­sung menemui bayi kembarnya. Kala itu, pintu ruang bayi tempat Ana-Ani selalu tertutup dan dijaga. Pihak rumah sakit, termasuk Tulardji, sengaja merahasiakan keadaaan sang bayi agar psikologis Hartini yang masih lemah tidak drop.

Beberapa hari menjelang dirujuk ke RSCM, Jakarta Pusat, Hartini baru bisa menemui Ana-Ani kali pertama. ''Hati saya kaget, takut, dan sedih. Tapi, saya mencoba untuk kuat,'' ke­nang wanita 44 tahun itu.

Jalan mulai terbuka setelah Bambang Sumantri, dokter anak di RSU Tanjung Pinang, merujuk Ana-Ani ke RSCM. Dengan bantuan biaya dari Pemda Riau, mereka bisa berangkat ke Jakarta pada hari yang ke-20. Sampai dilakukan operasi pemisahan, Tulardji dan Hartini tinggal di mes milik Pemda Riau. Setelah itu, mereka dipindah ke mes milik Depsos.

Tulardji menuturkan, ketika dilakukan operasi pemisahan Ana-Ani, situasinya sangat menegangkan. ''Sepanjang operasi berlangsung, saya dan istri hanya bisa berdoa,'' katanya.

Hingga sekarang, Tulardji mengaku tidak tahu persis siapa yang membia­yai operasi tersebut. Dia hanya me­ngerti bahwa perawatan dua buah hatinya pascaoperasi atas bantuan Ya­yasan Tiara Putra yang diketuai Halimah Bambang Trihatmodjo, menantu mantan Presiden Soeharto (alm).

Meskipun operasi berjalan sukses, para anggota tim dokter, terutama Padmosantjojo, yang menangani bedah saraf dan Iskandar Wahidiyat selaku dokter anak melarang Ana-Ani pulang ke Tanjung Pinang.

Padmosantjojo seminggu sekali memeriksa perkembangan Ana-Ani. Dari sana, hubungan kekeluargaan yang lebih erat tumbuh di antara mereka. Setelah dua tahun menumpang di mess milik Depsos, Tulardji diminta untuk mencari rumah kontrakan. Padmosantjojo yang membiayai.

Hingga 1994, Tulardji sekeluarga, termasuk ibunya, tinggal di Jakarta. Ketika itu, dia mulai merasa tidak betah. Penyebabnya, kehidupan ekonomi keluarganya tidak berkembang. Padmosantjojo memang sangat membantu. Tapi, Tulardji tak mau terus-menerus menjadi beban. Akhirnya, dia memutuskan untuk membawa pulang Hartini dan bayi kembarnya ke Tanjung Pinang pada perte­ngahan 1994.

Kembali ke Tanjung Pinang, Tulardji mendapat ''sangu'' sebagai modal hidup dari Padmosantjojo. Sebagian uang itu digunakan Tulardji untuk membeli tanah 17 x 17 m seharga Rp 15 juta di Jalan Sumatera yang menjadi tempat tinggalnya hingga sekarang.

Saat ini, di sebelah rumahnya itu berdiri rumah kos-kosan dua tingkat yang juga buah karya Tulardji. Yang di atas tiga kamar dan yang dibawah dua kamar. Selain memiliki satu Suzuki Shogun, Tulardji baru saja membeli dua kavling tanah di Batu Delapan, arah luar Kota Tanjung Pinang.

Hartini juga cukup produktif. Dia ikut membantu menambah pemasukan keluarga. Bersama sejumlah kawannya, dia berbisnis kredit barang-barang rumah tangga.

Menurut Tulardji, bantuan Padmosantjojo kepada keluarganya, terutama untuk Ana-Ani, tidak mungkin mampu dibalasnya. ''Ibarat bumi sama langit. Saya hanya bisa berdoa mudah-mudahan beliau sehat, mudah rezeki, dan panjang umur,'' katanya.

Ana-Ani punya dua adik, yaitu Geddy Prastikno, 15, yang baru saja masuk SMA dan Rizky Ferdiansyah, 11, kelas 1 SMP. Tulardji menuturkan, berbeda dengan kakaknya yang kembar, biaya semua keperluan Geddy dan Rizky mereka penuhi sendiri. ''Sebagai orang tua, kami menginginkan semua anak kami mendapatkan yang terbaik,'' tuturnya. (pri/kum)


Mata Kanan Mereka Sama-Sama Minus Tiga

Sumber : Jawapos, Senin 3 Agustus 2009

MESKI satu universitas, karena kuliah di fakultas yang berbeda, lokasi kampus Yuliana dan Yuliani terpisah. Fakultas kedokteran berada di Jalan Perintis Kemerdekaan dan fakultas peternakan di Jalan Limau Manis.

Dari rumah Kamardi Talut (orang tua wali si kembar) ke kampusnya, Yuliani cukup berjalan kaki sekitar 5 -10 menit. Sementara itu, Yuliana lebih jauh lagi, sekitar 30 menit dengan bus kampus.

Meskipun kampusnya terpisah lumayan jauh, perasaan mereka yang sensitif tetap terikat. ''Kalau Yuliana dapat masalah, aku bisa merasakan mood yang tadinya ceria tiba-tiba ikut sedih. Ada apa ini, aku langsung bisa kebayang dia,'' ujar Yuliani.

Soal pakaian juga tidak ketinggalan. Meskipun sering mencoba bereksperimen membeli baju di gerai terpisah, pilihan model yang diambil tetap saja sama. ''99 persen model pakaian kami kembar. Padahal, saat beli, banyak yang misah lho,'' katanya. Kalaupun ada perbedaan, hanya pada pilihan warna. Yuliani lebih suka warna biru dan hitam. Sedangkan Yuliana lebih dominan dengan warna hitam, merah, dan oranye.

Menurut Yuliani, semua itu terjadi secara alamiah, tanpa direncanakan sebelumnya. ''Kalau soal baju, apa yang Yuliana suka biasanya aku juga suka. Begitu juga sebaliknya,'' tambahnya. Mimpi saat tidur, kegandrungan terhadap musik R&B, dan hasrat untuk ke toilet kadang juga muncul secara bersamaan.

Bahkan, minus mata mereka juga hampir sama. Yuliani minus yang sebelah kanan 3 dan kiri 4. Yuliana minus yang kanan 3 dan kiri 2,75. ''Jadi, kami kembaran di kanan, minus 3,'' kata Yuliani.

Meski begitu, bukannya tidak ada perbedaan di antara mereka. Yuliani lebih cerewet dan Yuliana cenderung berkarakter serius dan tenang. Mungkin karena itu, Yuliana diposisikan oleh Yuliani sebagai kakak. Dalam keseharian, Yuliani menyapa Yuliana dengan panggilan mbak.

Soal makanan juga ada perbedaan selera rasa. Secara spesifik, mereka menyukai cokelat, hati, dan daging ayam. Tapi, secara umum, Yuliana lebih suka yang asin-asin dan Yuliani suka yang pedas, terutama cabai rawit.

Dalam hubungan keduanya, beberapa kali diwarnai kejadian lain yang kadang sulit dinalar. Misalnya, ada barang milik Yuliani rusak, pasti segera disusul milik Yuliana. Suatu ketika, tangkai kanan kacamata Yuliana patah gara-gara jatuh. Tak lama kemudian tangkai kacamata Yuliani ikut patah, tapi yang kiri.

Di waktu lain, Yuliani terjatuh dan lengan kirinya terluka. Nah, tanpa alasan yang jelas, tahu-tahu lengan kanan Yuliana ikut terluka dan berdarah. Pernah juga Yuliana hampir ditabrak kendaraan dari sisi kanan. Keesokannya gantian Yuliani yang diserempet ambulans dari arah kiri.

''Ajaib banget kan. Kalau aku sakit, Ana pasti ikutan sakit. Salah satu saja yang minum obat, pas­ti yang lain sembuh,'' kata Yuliani. Dia juga menyadari, luka-luka yang dialaminya sering pada ba­gian kiri. Begitu juga kalau ada barang yang rusak, sebagian besar di sisi kiri. Yuliana kebalikannya, yakni di sebelah kanan. (pri/kum)
Selengkapnya...