Tampilkan postingan dengan label Cerita Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Motivasi. Tampilkan semua postingan

03 Juni 2010

Doddy Sularso Bangun, Bos CV Raja Tebu

Sumber: Jawapos, Selasa 2 Juni 2010
http://www.jawapos.co.id/halaman/index.php?act=detail&nid=137245

Doddy Sularso Bangun, Bos CV Raja Tebu, Penjual Minuman Sari Tebu
Memeras Miliaran Rupiah dari Sari Tebu

Pengusaha sejati takkan menyerah ketika salah satu bisnisnya macet. Seperti Doddy yang kembali meraup sukses dengan bisnis minuman sari tebu berkonsep kemitraan, selepas bisnis kayunya mengalami kebangkrutan.

LUCKY NUR HIDAYAT, Jakarta

---

KEGAGALAN adalah sukses yang tertunda. Pepatah itu mungkin cocok untuk menggambarkan perjalanan usaha Doddy Sularso Bangun. Dia mampu bangkit dari kejatuhan bisnis kayu cetakan atau moulding yang dibangun sejak 2001 di Jambi.

''Macetnya bisnis pengelolaan kayu yang saya bangun pada 2004 membuat saya nekat merantau ke Jakarta,'' katanya saat ditemui di kediamannya di Bilangan Simprug, Jakarta Selatan, kemarin (1/6).

Pengalaman pahit ditipu orang dan mulai menipisnya stok kayu akibat gencarnya aksi pemberantasan pembalakan kayu secara liar dan illegal logging, membuatnya ogah kembali bergelut dengan gelondongan-gelondongan kayu. ''Gara-gara kayu juga saya sempat berurusan dengan yang berwajib karena bersitegang dengan polisi di Jambi,'' ungkap penggemar olahraga biliar ini.

Sempat luntang-lantung hidup tak jelas di Jakarta, bahkan menjadi bandar togel, pria yang mengaku gemar tawuran saat SMP dan SMA ini kemudian bertekad ingin sukses di ibu kota. ''Saya dulu kurang kasih sayang. Bapak saya tentara dan meninggal sewaktu saya masih kecil dan ibu pedagang di pasar yang harus bekerja sendiri menghidupi keluarga. Akibatnya, saya pun harus berpindah-pindah sekolah,'' terangnya.

Setelah berputar-putar ibu kota mencari inspirasi usaha baru, Doddy yang kehausan lantas membeli sari tebu. Rupanya jodoh dengan bisnis ini mulai di sini. Saat membeli sari tebu untuk kali pertama di Jakarta, pria kelahiran Jambi, 15 Agustus 1972 ini heran.

Air sari tebu yang dipasarkan pedagang di ibu kota kurang bersih dan rasanya tak seenak yang di Jambi. Karena penasaran dia pun mengamati beberapa pedagang sari tebu. ''Setiap pedagang di pinggir jalan di Mangga Besar, Jakarta Barat, tebu di pertokoan Glodok dan tempat lain saya satroni. Eh, walhasil saya menemukan fakta, beberapa di antara mereka tak menjual air sari tebu murni,'' terang anak pasangan Suprayitno dan Sulasmi ini. Apalagi, tebu yang digunakan juga tak cocok untuk dijadikan sari tebu.

Dari pengamatannya, banyak pedagang yang tak menjaga kebersihan sehingga warna sari tebu yang dihasilkan gelap. ''Sepulang dari survei saya merenung. Di otak saya terngiang-ngiang satu kalimat, jualan sari tebu yang tak murni saja laris, apalagi yang murni,'' ujar jebolan Fakultas Hukum Universitas Taruma Negara ini.

Suami Elly ini juga paham betul bagaimana mengolah tebu menjadi sari tebu dengan rasa enak. Sebab, saat kecil dia sering mengonsumsi tebu di tanah kelahirannya, Jambi, yang memang dikenal memiliki tebu berkualitas tinggi. Air sari tebunya banyak dan lebih manis daripada tebu kebanyakan. Akhirnya pada 2005 dengan modal Rp 50 juta, Doddy memutuskan membuat lima gerai Sari Tebu Murni dengan bahan baku tebu yang didatangkan langsung dari Jambi.

Walau sang istri kurang sreg karena belum melihat potensi bagus di bisnis tebu ini, bendera CV Raja Tebu tetap dikibarkan. Di awal episode bisnis sari tebu, dengan gerobak dorongnya, Doddy sering dikejar-kejar trantib di daerah Kebon Jeruk, Jakarta Barat, dan pulang dengan tangan hampa. ''Tetapi, seiring dengan berjalannya waktu, tidak disangka respons masyarakat lebih dari yang diperkirakan. Begitu roda usaha diputar, langsung banyak yang mengajukan diri untuk bermitra,'' terangnya.

Melihat peluang ini, pria yang mengaku bisa naik haji, membeli rumah, dan mobil dari hasil berjualan tebu ini lantas mematenkan merek dagangnya dan membuat konsep kemitraan. Itu agar gerai Sari Tebu Murni bisa lebih banyak. Salah satu konsep gerai yang sangat laris terjual saat ini adalah menggabungkan sepeda motor dan gerobak. ''Dengan konsep ini si penjaja sari tebu bisa menjemput bola dengan menyambangi keramaian daripada hanya menetap di satu lokasi tertentu dan berharap pembeli datang,'' ujarnya.

Penghobi hampir semua jenis olahraga ini menjual paket gerai sepeda motor gerobak seharga Rp 39,5 juta per unit. Sedangkan gerai yang statis dijual dengan harga Rp 21,5 juta per unit dan yang di mal Rp 28,5 juta per unit. ''Ini murah lho. Itu sudah termasuk biaya pelatihan karyawan, mesin penggilingan tebu, tabung kaca untuk menampung air perasan tebu, saringan, dan tenda pelindung matahari,'' ungkap pria yang mengaku tak pernah malu menjalankan bisnis apa pun ini.

Yang istimewa, lanjutnya, karena usaha tersebut bersifat kemitraan, tak ada royalti yang harus dibayar pedagang. ''Tetapi, untuk menjaga standar kualitas air tebu, kami mewajibkan para mitra membeli tebu yang khusus didatangkan setiap hari dari Jambi," ujarnya.

Minimal setiap hari 4.000 batang tebu dikirim dari Jambi. Per batang dilego kepada para mitra seharga Rp 6.800, plus tambahan Rp 1.000 kalau tebu itu diantarkan ke tempat berjualan. Rata-rata pedagang menghabiskan 25 batang tebu setiap hari. ''Sehari bisa menjual 80 gelas saja dengan harga jual tanpa es Rp 3.500 per gelas atau Rp 4.500 per gelas dengan es, balik modal bisa tercapai sekitar lima bulan,'' seloroh pria yang tengah berencana membuka gerai di Singapura ini. (*/c2/kim)

Tentang Doddy

Nama: Doddy Sularso Bangun.

Lahir : Jambi, 15 Agustus 1972

Pendidikan : Fakultas Hukum Universitas Taruma Negara

Jabatan : Pemilik CV. Raja Tebu

Istri : Elly

Anak : Helen, Andreas, Cindy, Felix, Celline


Sumber: Jawapos, Rabu 2 Juni 2010
http://www.jawapos.co.id/halaman/index.php?act=detail&nid=137244

Naik Kelas, Sari Tebu Jadi Minuman Hotel Mulia

PENGALAMAN mengembangkan bisnis tebu selama lima tahun membuat insting Doddy semakin tajam. Itu juga yang dia tularkan kepada beberapa anak buahnya. Khususnya, yang menjadi ujung tombak di lapangan, yakni penjaja sari tebu dengan gerobak dan motor.

Salah satu hal yang Doddy berikan adalah resep sederhana untuk mengatasi penurunan omzet penjualan kala musim hujan tiba. Selama dua tahun pertama bisnis itu berjalan, bapak lima anak tersebut selalu dipusingkan oleh penurunan omzet sampai 40 persen untuk gerai di pinggir jalan kala musim hujan datang. Bahkan, penurunan omzet bisa lebih dari itu jika hujan turun sehari penuh.

Dia pernah iseng dengan meminta beberapa penjual sari tebu mendatangi tempat keramaian apa pun meski hujan. Ada yang mendatangi lokasi di dekat mal, tetapi tak dapat izin dari keamanan karena dianggap mengganggu arus lalu-lintas.

Namun, salah seorang penjual ternyata meraup sukses ketika berdagang di sekitar hotel dan apartemen. "Itu salah satu keuntungan yang didapat ketika gerai dan pelayanan kami menomorsatukan kebersihan. Karena itu, para penghuni hotel dan apartemen kalangan atas atau kaum berdasi tak canggung untuk meneguk minuman itu pada musim hujan," jelas penggemar olahraga voli tersebut.

Apalagi, kalangan berduit itu terbiasa menenggak minuman dingin pada kondisi apa pun, tak terkecuali kala cuaca dingin. "Sebab, mereka terbiasa tinggal di lingkungan ber-AC yang dingin. Itu membuat mereka lebih kuat dingin," papar dia.

Pucuk dicita, ulam pun tiba. Karena laris, salah satu gerai di Hotel Mulia, Jakarta, pun melirik usaha tersebut. "Alhamdulillah, sekarang, setiap bulan puasa, kami sebulan penuh diminta menggiling dan menyajikan sari tebu dalam hotel tersebut," ucap dia.

Doddy kini bukan lagi penjual sari tebu, tetapi penjual gerai dan tebu untuk mitra-mitranya. Gerai yang dijualnya kepada mitra mulai 10 sampai 20 gerai. Kini dia disuplai petani plasma tebu di Jambi dengan luas lahan 1.000 hektare.

Saat ini penyuka mobil jeep ini juga mampu meraup keuntungan miliaran rupiah dari kinerja gerainya yang kini lebih dari 800 unit yang tersebar di hampir seluruh daerah nusantara. Mitranya 350 orang lebih dengan karyawan lebih dari 900 orang. ''Jangan bicara omzetlah, bisa menakutkan. Yang jelas, bisa untuk beli satu rumah di Pondok Indah,'' terangnya lantas terkekeh. (luq/c11/kim)

Selengkapnya...

29 Mei 2010

Septinus George Saa, Peraih ''Nobel Prize''

sumber Jawapos, Jumat 28 Mei 2010
http://www.jawapos.co.id/halaman/index.php?act=detail&nid=136348


Septinus George Saa, Peraih ''Nobel Prize'' setelah Lulus Kuliah di Amerika
Kerja di Perusahaan Asing, Tak Mau Dipanggil Oge

Nama Septinus George Saa meroket pada 2004. Saat berusia 18 tahun, dia menyabet penghargaan First Step to Nobel Prize in Physics 2004. Penghargaan itu mengharumkan nama Indonesia di dunia internasional. Kini, dia telah lulus kuliah di Amerika.

AGUNG PUTU, Jakarta

---

KETIKA ditemui di kompleks studio Trans TV di Jakarta, Rabu malam lalu, Septinus George Saa tampak lelah. Pria itu memang baru saja ''digilir'' beberapa studio televisi. Dalam seminggu ini, dua stasiun televisi mengundang dia. Yakni, Global TV dalam acara talk show Rossy dan Trans 7 untuk acara Bukan Empat Mata. ''Capek sih, tapi menyenangkan,'' katanya.

Penampilan George sudah berbeda jika dibanding saat berusia belasan tahun dulu. Dia lebih gemuk dan cool. Penampilannya juga layaknya eksekutif muda, berkemeja lengan panjang dan celana licin. George kini mirip rapper asal Kanada, Aubrey Graham aka (also known as) Drake, yang populer dengan lagu Forever.

''Ah, enggak juga. Waktu kuliah di Amerika dulu malah ada yang mengira saya berasal dari Karibia dan Brazil. Tidak ada yang mengira dari Indonesia,'' ujarnya lantas terkekeh.

George kini memang lebih klimis dan trendi. Maklum, pria murah senyum itu kini bekerja di sebuah perusahaan migas asing yang beroperasi di Teluk Bintuni, Papua Barat, Papua. ''Aku menikmati pekerjaanku,'' katanya lantas membisikkan gaji dolar yang dia terima tiap tiga minggu.

Kini, dia juga enggan dipanggil Oge, nama kecilnya, yang populer saat masih tinggal di Kotaraja, Jayapura. ''George saja lah. Oge itu panggilan kecil saya,'' ujarnya.

Penampilannya yang modis tersebut sempat menjadi sasaran kelakar Rosiana Silalahi dalam talk show Rossy. ''Ini kalau kita ketemu di jalanan New York, nggak tahu kalau dia orang Indonesia. Orang nyangka dia rapper yang kesasar,'' kata Rosi -panggilan Rosiana- lantas tertawa. George pun membalas. ''Yeah, wazzup dude,'' ungkapnya.

Nasib George memang mujur. Pada 2004, dia mendapat First Step to Nobel Prize in Physics setelah mengikuti lomba fisika internasional itu di Polandia. Dalam kompetisi yang diikuti pelajar tingkat sekolah menengah di seluruh dunia tersebut, George menjagokan tesis berjudul Infinite Triangle and Hexagonal Latice Network of Identical.

Dia menemukan rumus yang diberi namanya sendiri, George Saa Formula (Jawa Pos, 21 Mei 2004). Tesis itu merupakan hasil risetnya selama setahun. Dia menyisihkan ratusan peserta dari 73 negara setelah melalui penjurian yang sangat ketat.

First Step to Nobel Prize in Physics merupakan kompetisi bergengsi bagi pelajar sekolah tingkat menengah dari seluruh dunia. Waktu itu, dewan juri kompetisi yang berlangsung sejak 1993 tersebut terdiri atas 30 fisikawan yang berasal lebih dari 25 negara.

Setelah menerima penghargaan itu, George diganjar banyak fasilitas. Menteri pendidikan saat itu, Malik Fadjar, meminta George memilih perguruan tinggi mana pun di Indonesia tanpa tes. Kampus tempat dia kuliah juga diwajibkan memberikan fasilitas belajar.

George sempat bingung memilih kampus sebelum utusan Direktur Eksekutif Freedom Institute Rizal Mallarangeng mendatangi dirinya. ''Saya diminta menemui Pak Aburizal Bakrie,'' ungkap pria kelahiran 22 September 1986 tersebut.

Freedom Institute menawari George kuliah di luar negeri. Memilih negara mana pun akan dikabulkan. Mau di benua Amerika, Eropa, bahkan Afrika sekali pun, terserah George. Beasiswa tersebut bukan hanya uang kuliah, tapi juga uang saku serta biaya hidup.

Pria penghobi basket itu sempat bingung memilih negara. Rizal Mallarangeng mengusulkan agar dirinya memilih Amerika. Sebab, negara pimpinan Barack Obama tersebut bagus untuk belajar dan melakukan penelitian. George lantas mendaftar ke jurusan aerospace engineering di Florida Institute of Technology. Kampus di pesisir timur Amerika di Brevard County. Kampus itu berdekatan dengan Kennedy Space Center dan tempat peluncuran pesawat NASA (National Aeronautics and Space Administration).

Di jurusan aerospace engineering alias teknik dirgantara itu, George mempelajari semua hal tentang pesawat terbang, baik pesawat terbang di angkasa maupun luar angkasa. Dia juga mempelajari ilmu yang supersulit di jagat aerospace, yakni rocket science.

''Saking sulitnya, orang Amerika sering bilang, you don't need rocket science to figure it out,'' katanya lantas terkekeh. Di antara 200-an mahasiswa seangkatan, hanya 40 orang yang lulus.

George mempelajari semua hal tentang pesawat terbang. Mulai struktur pesawat, aerodinamika, daya angkat, hingga efisiensi berat dalam teknologi pembuatan burung besi itu.

Ada alasan khusus dirinya suka pesawat terbang. Selain memang mengagumi presiden ketiga Indonesia B.J. Habibie yang gandrung pesawat itu, lelaki bertubuh gempal tersebut semula ingin menjadi pilot. Namun, karena kedua matanya minus 3,25, dia harus mengalihkan impiannya. ''Kalau nggak bisa menerbangkan pesawat, saya harus bisa membuat pesawat. Setidaknya, memahami teknologi pesawat terbang,'' tegasnya.

Tahun pertama di Amerika sangat sulit bagi George. Sebab, dia belum fasih berbahasa Inggris. Pernah, dia tertahan sejam di bagian imigrasi. ''Saya hanya duduk dan diam selama sejam gara-gara tidak bisa bahasa Inggris,'' tuturnya.

Karena itu, tahun pertama, George tak langsung kuliah. Dia belajar bahasa di sekolah bahasa Inggris English Language Service di Cleveland, negara bagian Ohio, AS. Selama setahun dia ngebut belajar bahasa. Mulai pukul 08.00 hingga pukul 17.00, dia melahap materi-materi bahasa Inggris. ''Saya mempelajari lagi grammar dan kosakata,'' jelas anak bungsu pasangan Silas Saa dan Nelly Wafom itu.

George lulus pada akhir 2009. Kini, dia bekerja di perusahaan internasional yang bergerak di bidang migas sembari bantu-bantu di lembaga yang memberinya beasiswa, Freedom Institute. ''Tiga minggu ini aku di Jakarta. Nanti ke laut lagi,'' katanya. (*/c5/cfu)
Selengkapnya...

11 November 2009

Baru Lulus setelah 950 Kali Ujian SIM

Sumber: Jawapos, Selasa 10 November 2009
http://www.jawapos.co.id/halaman/index.php?act=detail&nid=99549

SEOUL - Perjuangan panjang Cha Sa-Soon tidak sia-sia. Setelah 950 kali mengikuti ujian teori guna mendapatkan surat izin mengemudi (SIM), perempuan Korea Selatan (Korsel) itu dinyatakan lulus. Tapi, masih ada ujian praktik yang harus dilalui sebelum dirinya benar-benar memperoleh SIM.

''Saya merasa sangat malu pada diri sendiri karena terus-menerus gagal. Tapi, saya tidak bisa menyerah begitu saja,'' tegas Cha dalam wawancara dengan Kantor Berita Yonhap sebagaimana dikutip Agence France-Presse Minggu (8/11).

Empat anak Cha menyambut gembira berita kelulusan ibu mereka. Maklum, usia sang ibu sudah tidak muda untuk ukuran pencari SIM. Yakni, 68 tahun. Konon, demi mencapai kelulusan, Cha rela mengikuti ujian teori SIM setiap hari. Itu dia lakukan sejak April 2005.

Karena itu, biaya yang dikeluarkan pebisnis sayuran tersebut tidak sedikit. Total nominalnya, menurut Associated Press, lebih dari KRW 5 juta (sekitar Rp 40,6 juta). Itu belum termasuk ongkos perjalanan tiap kali mengikuti ujian di biro layanan SIM Kota Jeonju, sekitar 210 km dari Seoul.

Supaya bisa dinyatakan lulus, peserta ujian teori SIM di Korsel harus mendapatkan skor minimal 60. Selama lebih dari empat tahun mengikuti ujian teori, Cha tidak pernah mencapai skor minimal tersebut. Skor yang dia peroleh berada pada kisaran 30-50. ''Hari ini, dia akhirnya bisa mencapai 60 poin,'' ujar Choi Young-chul, salah seorang polisi yang berdinas di biro layanan SIM tersebut, Rabu (4/11).

Kepada media, Cha mengaku sangat membutuhkan SIM untuk mendukung bisnisnya. Setiap hari, dia keliling dari satu rumah ke rumah yang lain menawarkan sayuran serta peralatan rumah tangga menggunakan gerobak. Setelah mengantongi SIM, dia berencana menjajakan dagangannya menggunakan mobil. Dengan demikian, wilayah yang dijangkau bisa lebih luas dan dagangan yang dibawa lebih banyak.

''Tapi, saya masih harus melewati ujian praktik,'' cetus Cha -yang merahasiakan perihal mengikuti ujian SIM itu dari para tetangganya- kepada The Korea Times.

Kali ini, dia yakin bisa lulus dalam waktu lebih singkat. Sebab, bagi dia, ujian praktik akan jauh lebih mudah daripada ujian teori. (hep/ttg)
Selengkapnya...

09 Oktober 2009

Herman Hartanto Pemilik Tanto Line

Herman Hartanto, Pemilik Perusahaan Pelayaran/Perkapalan Tanto Line
Modal Kaya: Bisa Marah, Memerintah, dan Tanda Tangan

Sumber: Jawapos, Kamis 8 Oktober 2009

Salah satu perusahaan yang di masa sulit pun masih bisa terus berkembang adalah yang satu ini: Tanto Line. Yakni, sebuah perusahaan milik Herman Hartanto, warga kebanggaan Surabaya, yang bergerak di bidang pelayaran/perkapalan. Sebagai orang Hokkian yang bermarga Tan, maka di bagian belakang nama Indonesianya tertulis Hartanto. Bahkan, nama perusahaannya itu pun tidak lepas dari nama marganya dan nama belakang Indonesianya.

Dahlan Iskan, Hongkong

---

DI Surabaya memang ada tiga perusahaan pelayaran yang sangat besar. Yakni Spil, Meratus, dan Tanto. Sulit menilai siapa di antara tiga itu yang terbesar. Tiga-tiganya saya kenal dengan baik. Setiap saya tanya siapa di antara mereka yang terbesar tidak pernah ada yang menepuk dada. Yang satu selalu menyebut yang lain sebagai yang lebih besar. "Kami ini kecil, Pak," ujar Herman Hartanto saat kebetulan bersama-sama terbang ke Hongkong Rabu kemarin (7/10).

Demikian juga Soegeng Hendarto (Huang Dji Tju), si pemilik Spil, mengatakan dirinya masih kecil. Ketua marga Huang Indonesia itu bukan main rendah hatinya. Sikap yang sama juga ditunjukkan pemilik Meratus, Menaro, sampai ke anaknya yang memegang kendali perusahaan sekarang, Charles Menaro. Bahkan, orang seperti mendiang Menaro bukan saja mengaku kecil, melainkan seumur hidupnya tidak pernah naik pesawat di kelas bisnis.

Yang jelas, tiga-tiganya kini masih terus berkembang. Armada kapal mereka masih terus bertambah. Tanto sendiri dalam perjalanannya ke Hongkong kali ini harus mengajak banyak anak buah. Mengapa? Tanto baru saja membeli kapal tambahan. Anak buahnya itulah yang akan membawa kapal tersebut menuju Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Itu adalah kapalnya yang ke-39. Dalam enam bulan terakhir ini saja, Tanto sudah menambah 12 kapal di jajaran armadanya.

"Ini perusahaan jasa. Kami harus terus-menerus meningkatkan servis. Antara lain dengan harus terus menambah kapal," ujar Tanto, merendah. Kapal-kapal yang lama, di samping sudah mulai tua, juga tidak bisa mencukupi keinginan pelanggan yang terus meningkat. Pelanggan menginginkan Tanto Line punya kian banyak tujuan. Itu berarti diperlukan kian banyak kapal.

Herman Hartanto membangun Tanto Line atas usahanya sendiri. Sejak remaja, dia sudah memisahkan diri dari orang tuanya di Medan. "Umur 16 tahun kami bersama empat teman sebaya pergi ke Jakarta," kisah Herman, mengenang masa kecilnya. Waktu itu dia tidak tahu Jakarta itu seperti apa. Tapi, sebagai remaja yang senang sepak bola, dia ingin melihat Asian Games di Jakarta. Itu berarti tahun 1962. Dia naik kapal Ambolombo yang kebetulan singgah di Medan dalam perjalanannya dari Jeddah ke Jakarta mengangkut jamaah haji.

"Tiba di Jakarta, kami kaget. Kok Jakarta ini hebat sekali. Besar sekali. Kami bingung mau ke mana dulu," ujarnya, mengenang. Tapi, sebagai remaja 16 tahun, mereka senang-senang saja. Mereka keliling Jakarta. Bahkan, kemudian mereka hanya bisa nonton Asian Games di televisi hitam putih karena karcis masuk stadion tergolong mahal bagi para remaja itu. Di Jakarta (juga Indonesia) saat Asian Games itulah pertama ada siaran televisi dan masih hitam putih.

Beberapa hari di Jakarta, masing-masing baru ingat bahwa kepergian mereka ke Jakarta itu belum diberitahukan kepada orang tuanya. Mereka pun segera ke kantor pos untuk kirim telegram. "Kami di Jakarta. Ingin nonton Asian Games." Begitu bunyi telegramnya. "Kami saat anak-anak memang sudah biasa tidak pulang. Tidur di rumah teman. Kalau tidak pulang 2-3 hari saja tidak akan dicari orang tua," kata Tanto.

Ternyata, itulah kepergiannya keluar dari Medan yang pertama dan tidak pernah kembali lagi. Dia hijrah dalam pengertian yang sebenarnya. Sekolahnya di kelas 1 SMA tidak dia teruskan. Di Jakarta, karena sudah tidak punya uang lagi, Herman lantas ikut famili temannya. Lalu pindah ikut orang lain. Akhirnya mulai ikut-ikutan bekerja di toko ban. Lalu kirim-kirim onderdil mobil. Pernah juga ikut kapal bea cukai ke Karimun. "Saat berada di Karimun, saya pergi naik perahu ke Singapura. Itulah pertama kalinya saya lihat Singapura," ujarnya. "Kesan saya ketika itu Jakarta jauh lebih hebat daripada Singapura. Jakarta sudah punya Jalan Thamrin yang hebat. Singapura masih seperti kota nelayan," katanya. Dia tidak mengira dalam sekian tahun kemudian, Singapura bisa seperti sekarang.

Setelah malang-melintang di usia pemudanya itu, akhirnya Tanto tahu bagaimana harus mulai usaha sendiri. Yakni usaha jasa pengiriman: ekspedisi. Karena sering kirim barang ke Surabaya, akhirnya dia pun memutuskan untuk menetap di Surabaya.

Lima tahun bekerja di perusahaan ekspedisi, Herman mulai berpikir kalau saja punya kapal sendiri akan bisa lebih untung. Tapi, membeli kapal belumlah waktunya. Dia cari akal bagaimana tidak punya uang, tapi bisa menguasai kapal. Maka, dia sewa kapal milik orang lain. Kebetulan, ada kapal milik Pemda Kalimantan Selatan (Kalsel) yang rusak. Kapal itu sudah tiga tahun tidak beroperasi. Mesinnya sudah hancur.

Herman berusaha memperbaiki kapal itu. Dari sini pula, Herman belajar mesin kapal. Juga belajar bagaimana mengelola kapal -yang kelak menjadi sangat berarti ketika sudah memiliki kapal sendiri. Meski dia bukan insinyur (tamat SMA pun tidak), dia punya kemauan keras untuk belajar. Dia banyak bertanya di bengkel-bengkel mesin. Bahkan, dia ikut menunggui ketika bengkel memperbaiki mesin. Lama-lama Herman mengerti mesin kapal. "Pengusaha kapal yang tidak mengerti mesin kapal sangat bahaya. Bisa dibohongi terus-menerus," katanya.

Usaha apa pun, kalau mau sukses, haruslah kerja keras, ulet, tidak mudah putus asa, dan memegang kepercayaan. Itulah juga prinsip kerja Herman. Bahkan, dia menilai bisnis di bidang perkapalan jauh lebih sulit daripada yang lain. "Kalau bisnis pabrik, begitu pabriknya dibuka, bisa jalan, tidak terlalu stres. Kerja kapal ini siang-malam harus deg-degan. Apalagi kalau ada telepon berdering. Langsung saja punya pikiran ada apa ini? Kapal tenggelam? Kandas? Bocor di tengah laut? Dan seterusnya," kisahnya. "Apalagi kalau dering teleponnya tengah malam di saat tidur nyenyak. Pasti deg-degan," ungkapnya.

Kini, di usianya yang 65 tahun, Tanto masih kelihatan antusias. Badannya yang langsing dan sehat membuat dirinya kelihatan lebih muda daripada umurnya. Sampai tahun 2009 ini, berarti sudah 38 tahun dia menggeluti bisnis perkapalannya itu. "Saya tidak pernah menyesali mengapa saya terjun ke bisnis kapal ini," ujarnya. "Memang banyak sekali kesulitan, tapi harus dihadapi. Kian sulit persoalan yang dihadapi kian menantang untuk diselesaikan," katanya.

Bagaimana soal latar belakang pendidikannya yang tidak tamat SMA? Dengan bergurau, Tanto mengatakan bahwa yang penting dirinya bisa melakukan tiga hal saja: bisa marah, bisa memerintah, dan bisa tanda tangan... ha ha ha.

Tiga perusahaan kapal (Spil, Meratus, dan Tanto) itu tentu menjadi kebanggaan Surabaya. Sebab, tiga perusahaan itu saja, di tambah banyak lagi perusahaan Surabaya lainnya, kalau disatukan sudah lebih besar daripada perusahaan serupa di Jakarta. Maka, kalau sampai sekarang Surabaya masih layak disebut sebagai Kota Maritim, antara lain, itu berkat jasa tiga perusahaan tersebut. Tanpa mereka, gelar Surabaya itu harus dicabut. (*)


Selengkapnya...

04 September 2009

Dokter Lo Siaw Ging, Tak Sudi Berdagang

Kamis, 16 Juli 2009
Laporan wartawan KOMPAS Sonya Helen Sinombor

Ketika biaya perawatan dokter dan rumah sakit semakin membubung tinggi, tidak ada yang berubah dari sosok Lo Siaw Ging, seorang dokter di Kota Solo, Jawa Tengah. Dia tetap merawat dan mengobati pasien tanpa menetapkan tarif, bahkan sebagian besar pasiennya justru tidak pernah dimintai bayaran.

Maka, tak heran kalau pasien-pasien Lo Siaw Ging tidak hanya warga Solo, tetapi juga mereka yang berasal dari Sukoharjo, Karanganyar, Sragen, Klaten, Boyolali, dan Wonogiri. Usianya yang sudah menjelang 75 tahun tak membuat pria itu menghentikan kesibukannya memeriksa para pasien.

Dokter Lo, panggilannya, setiap hari tetap melayani puluhan pasien yang datang ke tempatnya praktik sekaligus rumah tinggalnya di Jalan Jagalan 27, Kelurahan Jebres, Kota Solo. Mayoritas pasien Lo adalah keluarga tak mampu secara ekonomi. Mereka itu, jangankan membayar ongkos periksa, untuk menebus resep dokter Lo pun sering kali tak sanggup.

Namun, bagi Lo, semua itu dihadapinya dengan ”biasa saja”. Dia merasa dapat memahami kondisi sebagian pasiennya itu. Seorang pasiennya bercerita, karena terlalu sering berobat ke dokter Lo dan tak membayar, ia merasa tidak enak hati. Dia lalu bertanya berapa biaya pemeriksaan dan resep obatnya.

Mendengar pertanyaan si pasien, Lo malah balik bertanya, ”Memangnya kamu sudah punya uang banyak?”

Pasiennya yang lain, Yuli (30), warga Cemani, Sukoharjo, bercerita, dia juga tak pernah membayar saat memeriksakan diri. ”Saya pernah ngasih uang kepada Pak Dokter, tetapi enggak diterima,” ucapnya.

Kardiman (45), penjual bakso di samping rumah dokter Lo, mengatakan, para tetangga dan mereka yang tinggal di sekitar rumah dokter itu juga tak pernah diminta bayaran. ”Kami hanya bisa bilang terima kasih dokter, lalu ke luar ruang periksa,” katanya.

Cara kerja Lo itu membuat dia setiap bulan justru harus membayar tagihan dari apotek atas resep-resep yang diambil para pasiennya. Ini tak terhindarkan karena ada saja pasien yang benar-benar tak punya uang untuk menebus obat atau karena penyakitnya memerlukan obat segera, padahal si pasien tak membawa cukup uang.

Dalam kondisi seperti itu, biasanya setelah memeriksa dan menuliskan resep untuk sang pasien, Lo langsung meminta pasien dan keluarganya menebus obat ke apotek yang memang telah menjadi langganannya. Pasien atau keluarganya cukup membawa resep yang telah ditandatangani Lo, petugas di apotek akan memberikan obat yang diperlukan.

Pada setiap akhir bulan, barulah pihak apotek menagih harga obat tersebut kepada Lo. Berapa besar tagihannya? ”Bervariasi, dari ratusan ribu sampai Rp 10 juta per bulan.”

Bahkan, pasien tak mampu yang menderita sakit parah pun tanpa ragu dikirim Lo ke Rumah Sakit Kasih Ibu, Solo. Dengan mengantongi surat dari dokter Lo, pasien biasanya diterima pihak rumah sakit, yang lalu membebankan biaya perawatan kepada Lo.

Kerusuhan 1998

Nama dokter Lo sebagai rujukan, terutama bagi kalangan warga tak mampu, relatif ”populer”. Namun, mantan Direktur RS Kasih Ibu ini justru tak suka pada publikasi. Beberapa kali dia menolak permintaan wawancara dari media.

”Enggak usahlah diberita-beritakan. Saya bukan siapa-siapa,” ujarnya.

Bagi Lo, apa yang dia lakukan selama ini sekadar membantu mereka yang tak mampu dan membutuhkan pertolongan dokter. ”Apa yang saya lakukan itu biasa dilakukan orang lain juga. Jadi, tak ada yang istimewa,” ujarnya.

Di kalangan warga Solo, terutama di sekitar tempat tinggalnya, Lo dikenal sebagai sosok yang selalu bersedia menolong siapa pun yang membutuhkan. Tak heran jika saat terjadi kerusuhan rasial di Solo pada Mei 1998, rumah dokter keturunan Tionghoa ini justru dijaga ketat oleh masyarakat setempat.

Lo juga tak merasa khawatir. Justru para tetangga yang meminta dia tidak membuka praktik pada masa kerusuhan itu mengingat situasinya rawan, terutama bagi warga keturunan Tionghoa. Namun, Lo menolak permintaan itu, dia tetap menerima pasien yang datang.

”Saya mengingatkan dokter, kenapa buka praktik. Wong suasananya kritis. Eh, saya yang malah dimarahi dokter. Katanya, dokter akan tetap buka praktik, kasihan sama orang yang sudah datang jauh-jauh mau berobat,” cerita Putut Hari Purwanto (46), warga Purwodiningratan, yang rumahnya tak jauh dari rumah Lo.

Bahkan, meski tentara datang ke rumah Lo untuk mengevakuasi dia ke tempat yang aman, Lo tetap menolak. Maka, wargalah yang kemudian berjaga-jaga di rumah Lo agar dia tak menjadi sasaran kerusuhan.

”Saya ini orang Solo, jadi tak perlu pergi ke mana-mana. Buat apa?” ucapnya.

Anugerah

Menjadi dokter, bagi Lo, adalah sebuah anugerah. Dia kemudian bercerita, seorang dokter di Solo yang dikenal dengan nama dokter Oen, seniornya, dan sang ayahlah yang membentuk sosoknya. Dokter Oen dan sang ayah kini telah tiada.

Lo selalu ingat pesan ayahnya saat memutuskan belajar di sekolah kedokteran. ”Ayah saya berkali-kali mengatakan, kalau saya mau jadi dokter, ya jangan dagang. Kalau mau dagang, jangan jadi dokter. Makanya, siapa pun orang yang datang ke sini, miskin atau kaya, saya harus terbuka. Saya tidak pasang tarif,” kata Lo yang namanya masuk dalam buku Kitab Solo itu.

Papan praktik dokter pun selama bertahun-tahun tak pernah dia pasang. Kalau belakangan ini dia memasang papan nama praktik dokternya, itu karena harus memenuhi peraturan pemerintah.

Tentang peran dokter Oen dalam dirinya, Lo bercerita, selama sekitar 15 tahun dia bekerja kepada dokter Oen yang dia jadikan sebagai panutan. ”Dokter Oen itu jiwa sosialnya tinggi dan kehidupan sehari-harinya sederhana,” ujarnya.

Dari kedua orang itulah, Lo belajar bahwa kebahagiaan justru muncul saat kita bisa berbuat sesuatu bagi sesama. ”Ini bukan berarti saya tak menerima bayaran dari pasien, tetapi kepuasan bisa membantu sesama yang tidak bisa dibayar dengan uang,” katanya sambil bercerita, sebagian pasien yang datang dari desa suka membawakan pisang untuknya.

Gaya hidup sederhana membuat Lo merasa pendapatan sebagai dokter bisa lebih dari cukup untuk membiayai kehidupannya sehari-hari. Apalagi, dia dan sang istri, Maria Gan May Kwee atau Maria Gandi, yang dinikahinya tahun 1968, tak memiliki anak.

”Kebutuhan kami hanya makan. Lagi pula orang seumur saya, seberapa banyak sih makannya?” ujar Lo.

Bahkan, di mata para pasien, Lo seakan tak pernah ”cuti” praktik. Lies (55), ibu dua anak, warga Kepatihan Kulon, Solo, yang selama puluhan tahun menjadi pasiennya mengatakan, ”Dokter Lo praktik pagi dan malam. Setiap kali saya datang tak pernah tutup. Sepertinya, dokter Lo selalu ada kapan pun kami memerlukan.”

DATA DIRI

• Nama: Lo Siaw Ging
• Lahir: Magelang, 16 Agustus 1934
• Istri: Maria Gan May Kwee (62)
• Pendidikan: - Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, 1962 - S-2 (MARS) Universitas Indonesia, 1995
• Profesi: - Dokter RS Panti Kosala, Kandang Sapi, Solo (sekarang RS dokter Oen, Solo) - Mantan Direktur Rumah Sakit Kasih Ibu, Solo


Selengkapnya...

26 Agustus 2009

Jiwa Wirausaha bagi Indonesia Maju

Sumber: Kompas, Rabu 26 Agustus 2009

Entrepreneurship harus terus dikembangkan karena tak akan ada habisnya. Akan terus ada peluang untuk entrepreneurship dalam mengubah kotoran menjadi emas,” ujar Ciputra dalam acara Hari Pendiri (Founder’s Day) Grup Ciputra di Jakarta, Senin (24/8). Suara Ciputra tetap prima walau telah mengikuti acara sepanjang hari.

Ditemani istrinya, Dian Sumeler, dan beberapa pucuk pimpinan Grup Ciputra, tokoh properti ini merayakan ulang tahun ke-78 bersama ratusan karyawan Grup Ciputra di kantor pemasaran Ciputra World di Kuningan, Jakarta.

Kesuksesan mengembangkan bisnis properti selama empat dekade tidak membuat Ciputra berpuas diri. Beberapa tahun terakhir ini, pendiri Grup Ciputra, yang memegang peran besar dalam Grup Jaya dan Metropolitan Development Group, ini berkeliling Indonesia menebarkan kewirausahaan.

Dalam satu kesempatan berbicara di depan ratusan orang dalam seminar yang diadakan Universitas Indonesia di Jakarta, Ciputra mengungkapkan, dia menjalani semua itu demi mencetak wirausaha andal.

Tanpa lelah Ciputra memotivasi semua orang, tua-muda, pemerintah-swasta, agar berwirausaha. Dia mendirikan berbagai sekolah dan tiga perguruan tinggi untuk mewujudkan cita-citanya, menelurkan jutaan wirausaha Indonesia. Ia meyakini, mereka yang memiliki jiwa wirausaha memiliki daya juang, inovasi, dan daya saing tinggi.

”Karena inovasi dalam kerangka entrepreneurship sangat penting untuk kemajuan,” katanya. Berkali-kali ia menekankan kata inovasi dalam orasinya.

Dalam berbagai kesempatan, Ciputra mengatakan, suatu bangsa membutuhkan sedikitnya 2 persen dari jumlah penduduknya menjadi wirausaha agar menjadi negara maju.

Singapura, yang tidak lebih luas dari DKI Jakarta, punya 7,2 persen wirausaha. AS 2,14 persen wirausaha. Indonesia baru memiliki 0,1 persen wirausaha. Indonesia, kata Ciputra, butuh sedikitnya 4 juta wirausaha.

”Jiwa entrepreneurship harus terus ditanamkan untuk survive dan menang dari kompetitor. Jangan berpuas diri. Kita punya juara olimpiade matematika dan lain-lain, tapi tidak maju karena kurang entrepreneur,” ujarnya.

Bill Gates kalah

Pak Ci, begitu panggilan akrabnya, menerima dua penghargaan dari pendiri Museum Rekor Dunia Indonesia (Muri) Jaya Suprana. Pertama, untuk prestasi meraih 42 penghargaan internasional dan domestik, dan, kedua, karena upayanya menyelenggarakan pelatihan kewirausahaan untuk 1.231 dosen.

Universitas Ciputra Entrepre- neurship Center menyusun model pembelajaran kewirausahaan, berakar pada sukses Ciputra.

”Pak Ci sudah menerima 42 penghargaan. Bill Gates cuma menerima 12 penghargaan,” ujar Jaya Suprana.

Menurut Jaya, banyak pengusaha yang sukses seperti Ciputra. Namun, dalam hal kewibawaan di usaha properti, nama Ciputra tidak ada tandingan.

Ciputra menjadi begawan properti yang disegani kawan dan lawan. Hanya dengan keteguhan jiwa wirausaha Ciputra mampu mencapainya. Jiwa yang ingin diwariskan kepada semua anak negeri ini. (hamzirwan)

Selengkapnya...

Usain Bolt, Sang Sprinter Legendaris

Sumber: Kompas, Rabu, 26 Agustus 2009

Oleh Korano Nicolash LMS

Seusai memecahkan rekor dunia 200 meter atas namanya sendiri pada Kejuaraan Dunia Atletik Ke-12, di Stadion Olympic, Berlin, Jerman, Kamis (20/8), Usain Bolt yang genap berusia 23 tahun pada 21 Agustus lalu dengan rasa percaya diri tinggi menegaskan, sasarannya adalah menjadi sprinter legendaris dunia.

”Saya ingin menyampaikan bahwa tujuan saya berlari selama ini untuk menjadi sprinter legendaris. Oleh karena itu, saya tak pernah memikirkan rekor dunia. Saya juga tak membiarkan diri berada dalam suasana yang tertekan. Saya tahu apa yang harus dilakukan, semuanya tinggal dilaksanakan,” tandas Bolt.

”Saya berusaha melakukan semuanya sebaik mungkin. Saya merasa berada di jalur yang tepat untuk menjadi sprinter legendaris. Saya sungguh bahagia,” ujar pria dengan tinggi badan 196 sentimeter ini.

Keinginan Bolt menjadi sprinter legendaris dunia sudah dibuktikan sejak memecahkan rekor dunia 200 meter atas namanya sendiri. Tahun lalu dia juga beberapa kali memecahkan rekor dunia atas namanya.

Berawal pada 31 Mei 2008 dalam kejuaraan atletik di New York, Amerika Serikat. Ketika itu Bolt untuk pertama kalinya memecahkan rekor dunia atas nama rekan senegaranya, Asafa Powell. Rekor dunia Powell yang tercatat 9,74 detik pada Kejuaraan Nike dipertajam Bolt 0,02 detik menjadi 9,72 detik.

Hanya berselang tiga bulan kemudian, pada Olimpiade Beijing di Stadion Sarang Burung, Bolt kembali mempertajam rekor dunia 100 meter atas namanya sendiri, dari 9,72 detik menjadi 9,69 detik.

Tiga medali

Di Beijing, Bolt tidak hanya memecahkan rekor dunia 100 meter, tetapi juga rekor dunia 200 meter atas nama Michael Johnson, sprinter AS yang mencatat waktu 19,32 detik pada Olimpiade 1996 Atlanta.

Bolt mempertajamnya menjadi 19,30 detik, dan berselang empat hari kemudian Bolt bersama-sama rekannya, Nesta Carter, Michael Frater, dan Asafa Powell, kembali membuat rekor baru untuk nomor estafet 4 x 100 meter. Rekor sebelumnya dibuat tim estafet Inggris dengan waktu 37,73 detik, dan bertahan sembilan tahun.

Inilah kelebihan Bolt dibandingkan sprinter flamboyan asal AS, Carl Lewis, yang mampu meraih tiga medali emas sekaligus di Olimpiade Los Angeles 1984. Dia menjadi legenda karena meraih medali emas dari nomor 100 meter, 200 meter, serta nomor lompat jauh.

Sebelumnya, Jessy Owen, sprinter AS, meraih empat medali emas pada Olimpiade 1936 di Berlin. Bolt memperoleh ketiga medali emas di Olimpiade Beijing, ini sekaligus merupakan pemecahan rekor lari jarak pendek.

Bukti bahwa dirinya berada di jalur yang tepat untuk menjadi sprinter legendaris kembali dia pertontonkan pada Kejuaraan Dunia Atletik 2009 Berlin yang berakhir Minggu (23/8). Pada hari kedua (Minggu, 16/8) kejuaraan utama atletik yang merupakan babak final nomor 100 meter, Bolt turun di lajur 4. Ia kembali mencuri perhatian dunia setelah mampu memecahkan rekor dunia atas namanya sendiri menjadi 9,58 detik.

Tyson Gay (26), sprinter AS yang berharap mampu memberikan perlawanan kepada Bolt, tak mengecewakan. Gay berlari dengan waktu 9,71 detik. Dengan hasil tersebut, itu berarti Gay tertinggal 0,13 detik atau empat-lima meter di belakang Bolt, sekalipun waktu yang dibuat Gay menjadi rekor nasional baru untuk AS.

Kemampuan Bolt mempertajam rekor dunia atas namanya sendiri membuat orang lupa bahwa Maret lalu dia mengalami kecelakaan saat mengendarai kendaraannya di Kingston, ibu kota Jamaika. Beruntung, kecelakaan itu hanya membuat Bolt mengalami cedera ringan.

Berlatih keras

”Semua ini saya peroleh karena bekerja keras, berlatih keras, dan berusaha keras agar mampu mendapat hasil tercepat,” tutur Bolt seusai penutupan Kejuaraan Dunia Atletik Ke-12 tersebut.

Kerja keras Bolt kembali dibuktikan ketika kembali memecahkan rekor pada nomor 200 meter atas namanya sendiri. Untuk nomor ini, dia meninggalkan lawan-lawannya jauh di belakang. Percepatan yang dia lakukan atas rekor dunia itu signifikan, mencapai 0,11 detik. Ketika di Beijing, Bolt mencatat 19,30 detik dan di Berlin dia berlari dengan waktu 19,19 detik.

Medali emas ketiga Bolt kembali diperoleh dari nomor estafet 4 x 100 meter. Hanya di Berlin, Nesta Carter diganti sprinter spesialis 200 meter Jamaika lainnya, Steve Mullings.

Namun, bersama Mullings, Michael Frater, dan Powell— yang merupakan peraih medali perunggu 100 meter Berlin—tim Jamaika belum mampu memecahkan rekor dunia, seperti yang mereka lakukan di Beijing.

”Sebelum menyelesaikan nomor ini ada beberapa persoalan yang mengganggu, seperti Powell yang mengalami cedera selangkangan. Itu sebabnya dia berlari lurus agar tidak terganggu cederanya. Adapun saya menjadi pelari ketiga karena lebih bagus berlari di lintasan miring,” ungkapnya.

Apa pun hasil estafet 4 x 100 meter itu, Bolt sudah membuktikan bahwa dirinya berada di jalur menjadi sprinter legendaris dunia. Dalam dua kali kesempatan, Olimpiade dan Kejuaraan Dunia, dia meraih tiga medali emas sekaligus pemecahan rekor pribadinya.

Dari kriket

Berlari menjadi pilihan hidupnya. Lewat lari, Bolt mengantongi ribuan dollar AS. Dari Kejuaraan Dunia Atletik yang lalu, sebagai hasil pemecahan rekor, ia mendapat 320.000 dollar AS.

Pria kelahiran Trelawny, Jamaika, ini awalnya tak melirik dunia lari. Orangtuanya, Jennifer dan Wellesley, mengingat Bolt kecil yang suka bermain kriket hingga menginjak SMA William Knibb.

Namun, pelatih kriket di sekolah justru melihat bakat lari dalam diri Bolt. Dia lalu dilatih khusus oleh Pablo McNeil, mantan atlet olimpiade Jamaika, dan Dwayne Barrett. Pada Kejuaraan Dunia Yunior 2001 di Hongaria, Bolt belum mendapat medali.

Kemampuannya belum terasah, antara lain karena ia tak bisa melepaskan kebiasaan keluar malam. Namun, pada kejuaraan yunior di Kingston 2002, Bolt langsung menjadi juara dengan catatan waktu 20,61 detik di nomor 200 meter. Namanya langsung masuk tim olimpiade Jamaika.

Seusai meraih gelar di Sherbrooke, Quebec, Kanada, Bolt mulai dikenal. Bahkan ia memperoleh penghargaan dari International Amateur Athletic Federation (IAAF) sebagai atlet muda istimewa tahun 2003.

Bolt makin bersinar ketika dilatih Glen Mills tahun 2005. Mills mengajarkan pentingnya disiplin dan sikap profesional seorang atlet.

Olimpiade 2012 London masih tiga tahun lagi, tetapi Bolt sudah harus menyiapkan diri untuk mengikuti Liga Emas IAAF yang akan berlangsung di Zurich, Swiss, Jumat (28/8) ini.

Masih adakah kejutan yang bakal dia tunjukkan di Zurich? Pengamat atletik menyatakan bahwa kemungkinannya kecil mengingat kondisi Bolt masih belum pulih 100 persen. Kita tunggu saja....

Usain Bolt, Pemegang Rekor Dunia 100 Meter dan 200 Meter
sumber: Jawapos, 27 Agustus 2009

Segera Jadi Legenda

Arena atletik Olimpiade Beijing 2008 memunculkan satu nama yang amat fenomenal. Sprinter Jamaika Usain Bolt mengentak dengan tiga rekor dunia untuk melengkapi tiga medali emas yang dibawanya pulang.

---

USAIN Bolt jadi raja nomor lari jarak pendek dunia. Juara Olimpiade dan Kejuaraan Dunia sudah jadi bukti. Tapi, prestasi itu rupanya belum menjadi klimaks atas segala prestasi di dunia yang ditekuninya tersebut.

Dengan pose khas yang disebutnya sebagai pose ''Lightning Bolt'', bercanda di hadapan ratusan kamera foto dan televisi serta menyambut hangat sambutan para penonton di Olympic Stadium Berlin, Bolt kembali menjadi bintang di Kejuaraan Dunia Atletik 2009. Seperti di Beijing, Bolt mendominasi pemberitaan even tersebut berkat rekor dunia yang kembali diraihnya. Pelari 23 tahun itu memecahkan rekor atas namanya sendiri di 100 meter dan 200 meter.

Bolt mempertajam dua rekornya dengan lebih cepat 0,11 detik. Di 100 meter, catatan waktunya menjadi 9,58 detik, sementara di 200 meter jadi 19,19 detik. Tak diragukan lagi, Bolt masih layak menyandang julukan manusia tercepat di dunia atau Raja Sprint atau julukan-julukan lain yang sejenis.

Bolt datang ke Berlin melalui persiapan yang mungkin lebih keras jika dibandingkan dengan sebelum olimpiade. Beban untuk mempertahankan predikat juara jelas lebih berat baginya. Di tengah sikapnya yang hangat dan banyak bercanda, Bolt sukses menunjukkan keseriusannya yang berbuah manis.

''Tahun lalu (di Beijing) saya adalah lelucon. Tapi, saya menunjukkan kepada orang-orang tak ada lagi lelucon di sini (Berlin). Saya melakukan hampir semuanya seperti yang saya lakukan di Beijing. Memenangkan tiga emas di sini, sa­ya bangga pada diri saya,'' ujarnya. Bolt meninggalkan kesan yang mendalam di Berlin. Dengan gaya khasnya yang suka bercanda, dia membuat banyak orang di Berlin tersenyum.

"Bagi saya, tak terlalu sulit melakukan apa yang telah saya tunjukkan. Sebab, saya hanya berusaha untuk menjadi diri sa­ya sendiri dan bersenang-senang. Saya sangat ingin datang ke sini dan menunjukkan kepada siapa pun kepribadian saya. Ter­nyata, mereka suka itu,'' tutur Bolt.

Kini, jalan Bolt untuk menjadi legenda dari arena atletik makin terbuka. Dia sudah memiliki prestasi yang menakjubkan dan dikenal bersih dari hal-hal berbau kontroversi, seperti doping, yang sempat menenggelamkan atletik beberapa tahun terakhir. Karena itu, nama dan prestasinya turut mengangkat kembali pamor atletik.

''Saya belum sampai ke sana (menjadi legenda). Dari tahun ke tahun, saya harus menjadi juara lagi dan lagi,'' paparnya.

Pernyataan Bolt tersebut seakan merevisi dari pernyataannya beberapa hari sebelumnya saat di terjebak dalam euforia se­telah mencetak rekor di 200 meter. Saat itu, dengan penuh percaya diri, dia menyebut dirinya layak untuk disebut sebagai legenda lari jarak pendek.

"Saya akan menjadi legenda. Saya tidak peduli dengan rekor, tidak pula tertekan untuk itu. Saya tahu apa yang harus saya lakukan dan akan mengeksekusinya de­ngan baik," kata pelari berusia 23 tahun itu sebagai­mana di­lansir Reuters. (anton hadiyanto/diq)

Belum Puas Cuma 100 meter dan 200 Meter
Sumber: Jawapos, Kamis 27 Agustus 2009

USAIN Bolt membutuhkan tantangan lain di masa mendatang. Dia ingin menjadi pelari yang do­minan di nomor lari jarak pendek. Untuk itu, setelah menciptakan rekor dunia di nomor 100 meter dan 200 meter, Bolt mengincar rekor nomor 400 meter.

Bolt sedang menikmati kejayaan sesudah menciptakan dua rekor di Kejuaraan Dunia Atletik 2009 di Berlin, Jerman. Selain itu, dia menjadi bagian dari tim estafet 4 x 100 meter Jamaika yang juga menciptakan rekor Olimpiade.

Glenn Mills, pelatih Bolt, mengatakan kepada Radio Jamaica bahwa Bolt berambisi memecahkan rekor 400 meter yang masih dipegang oleh sprinter AS Michael Johnson. Rekor dengan catatan waktu 43,18 detik itu diciptakan Johnson pada 1999. Namun, Mills mengatakan bahwa realisasi Bolt bisa turun di nomor 400 meter baru terjadi pada 2010.

"Dalam poin karirnya saat ini, saya tak melihat ada masalah ba­gi dia (Bolt, Red) untuk ber­kon­sentrasi pada nomor 100 dan 200 meter. Jika dia tak termotivasi untuk terjun ke 400 meter, saya tak akan menekannya. Tapi, dia ingin mencobanya pada 2010," ujar Mills kepa­da Eurosport.

Menurut Mills, 2010 menjadi waktu yang tepat untuk me­ngawali kompetisi di 400 meter. Ma­sih ada dua tahun sebelum ber­langsungnya Olimpiade London 2012. Sehingga Bolt dan Mills dapat mengatur masa puncak sebelum terjun ke berbagai kompetisi sebagai persiapan menuju Olimpiade.

Sejauh ini, belum ada pelari yang memiliki rekor di tiga nomor tersebut. Bolt berpeluang menjadi orang pertama yang punya rekor di tiga nomor jarak pendek dalam waktu bersamaan. Sampai saat ini, catatan terbaik Bolt di 400 meter adalah 45,28 detik.

Sementara itu, seorang biomechanist asal Stanford University (AS), Prof Mark Denny, me­rilis sebuah penelitian tentang re­kor 100 meter. Setelah Olimpiade lalu, dia memprediksi bahwa rekor di nomor tersebut masih bisa diperbaiki hingga seperlima de­tik atau 0,20 detik di masa men­datang. Denny melihat bahwa para sprinter pria belum men­dapatkan kecepatan puncak di berbagai nomor lomba.

Saat ini, rekor Bolt di 100 meter adalah 9,58 detik. Jika di­ban­dingkan dengan rekor Bolt di Olimpiade Beijing 2008, catatan waktu tersebut lebih cepat 0,11 detik. Denny memperkirakan, suatu saat nanti ada sprinter yang mencatat waktu 9,48 detik. Artinya, Bolt tinggal 0,10 detik lagi untuk bisa mencapai puncak kecepatan sprinter pria versi Denny. (ady/diq)

Segera Rilis Buku Kisah Sukses
Sumber: Jawapos, Kamis 27 Agustus 2009

PERJALANAN Usain Bolt hingga mencapai kesuksesan terbukti telah memberikan inspirasi bagi banyak orang. Tapi, kisah yang dilakoni Bolt tersebut saat ini baru bisa diketahui kalangan terbatas. Artinya, masyarakat luas masih belum bisa mengetahuinya dengan detail.

Nah, beberapa saat lagi, kisah itu bisa dinikmati kalangan lebih luas. Pihak Bolt berencana me­nerbitkan buku seputar kisah sukses Bolt. Saat ini proses untuk merealisasikan niat tersebut sudah masuk dalam pembicaraan dengan beberapa penerbit yang tertarik memublikasikan buku yang dimaksud.

"Kami sedang melakukan negosiasi buku tentang Usain," ujar Ricky Simms, agen Bolt, kepada Associated Press. "Kami belum dapat mengungkapkan lebih jauh hal itu saat ini," tambahnya.

Banyak hal yang akan dice­ritakan dalam buku tersebut. Tak hanya perjalanan Bolt di garis lintasan, tapi juga kisah hi­dupnya di luar kompetisi. Be­gitu pula kehidupan masa kecilnya dan kedekatannya de­ngan keluarganya.

"Negosiasi tak hanya tentang bagaimana buku tersebut disebarluaskan. Kami juga melakukan pembicaraan tentang semuanya, termasuk isi buku dan berbagai hal pendukungnya," jelas Simms. (ady/diq)

Inspirasi untuk Berprestasi
sumber: Jawapos, 27 Agustus 2009

KIPRAH Usain Bolt hingga ber­tabur rekor terbukti telah memberi inspirasi. Banyak orang mendapatkan motivasi tambahan dalam kehidupan. Bahkan, karena hal itu, Jamika bisa mencapai level atas dalam persaingan di dunia atletik.

Jamaika pulang dari Kejuaraan Du­nia Atletik 2009 dengan torehan tujuh emas, empat perak, dan dua perunggu. Bolt hanya menyumbangkan tiga emas di antaranya. Tapi, empat emas lain yang diperoleh rekan-rekannya terinspirasi dari emas pertama yang diraih Bolt pada nomor 100 meter.

''Usain membuat kami nyaman. Kemenangannya memberikan tambahan motivasi bagi kami. Akan sangat berbeda jika dia mengalami kegagalan besar di nomor 100 meter yang merupakan kekuasaannya,'' tutur Shelly Ann-Fraser yang menyumbangkan emas pada nomor 100 meter wanita.

Hal senada diungkapkan Brigitte Foster-Hylton dan Melaine Wal­ker. Ke­duanya meraih emas di lari ga­wang, Foster-Hylton di 100 meter dan Walker di 400 meter. ''Tim ini sangat beruntung memiliki pri­badi seperti Usain. Dia memberikan kemenangan besar bagi bangsa kami,'' papar Foster-Hylton. (ady/diq)


Selengkapnya...

22 Agustus 2009

Tong Sin Fu

Sumber: Jawapos, Sabtu 22 Agustus 2009


Tong Sin Fu, di Balik Generasi Emas Bulu Tangkis Indonesia-Tiongkok
Sudah Tidak Lagi Berpikir Menjadi WNI

Salah satu orang penting di balik keberhasilan Tiongkok menguasai bulu tangkis dunia adalah Tong Sin Fu alias Tang Xianhu. Pelatih kelahiran Lampung itu pernah memoles generasi emas bulu tangkis Indonesia. Dia terpaksa kembali ke Tiongkok karena permohonannya menjadi WNI (warga negara Indonesia) ditolak.

M.DINARSA K., Hyderabad

---

PRIA renta itu hampir selalu berada di tepi lapangan setiap kali Lin Dan tampil pada Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis 2009. Kepalanya terbungkus topi dan sebuah tas diselempangkan di pundak. Lin Dan, pebulu tangkis tunggal pria andalan Tiongkok, selalu menoleh ke arah pria renta itu setiap kali lawan berhasil menerobos pertahanannya. Me­nunggu instruksi.

Lin Dan, yang sejatinya hanya diunggulkan di peringkat kelima, akhirnya berhasil menjadi juara dunia di Gachibowli Indoor Stadium, Hyderabad, 10-16 Agustus lalu. Keberhasilannya, antara lain, berkat instruksi pria tua yang tak lain adalah Tong Sin Fu, pelatih tim nasional (timnas) Tiongkok.

Itu adalah gelar juara dunia ketiga bagi pemain berjuluk Super Dan tersebut, setelah memenanginya pada 2006 dan 2007. Di partai final, Tong tak tampak di pinggir lapangan lagi. Alasannya, mungkin, partai tersebut mempertemukan sesama pemain Tiongkok, Lin Dan v Chen Jin.

Tong adalah sosok yang sangat berjasa bagi kemajuan bulu tangkis di negeri terpadat di dunia itu. Sentuhan magisnya membuat Tiongkok menjadi raksasa bulu tangkis di era modern ini. Para pemain Tiongkok, dalam beberapa tahun terakhir, memang bermain dengan kemampuan jauh di atas pemain mana pun. Tak heran, pada kejuaraan di India itu timnas Tiongkok hanya kehilangan gelar ganda campuran. Empat nomor lain dikuasai pemain Tiongkok. Bahkan, tiga partai final berlangsung antarpemain Tiongkok.

Sebaliknya, Indonesia terpuruk. Nova Widianto/Liliyana Natsir, satu-satunya wakil di final kerjuaraan itu,dikalahkan duet Denmark, Thomas Laybourn/Kamilla Rytter Juhl.

Melatih pemain Tiongkok, kata Tong, tidak terlalu susah. Sebab, mereka sangat berbakat. ''Di Tiongkok, para pemandu bakat telah menyediakan pemain-pemain bagus. Kami, para pelatih, tinggal memoles,'' katanya dengan bahasa Indonesia yang masih fasih.

Tong memang lahir dan besar di Indonesia. Tepatnya di Teluk Betung, Lampung, 13 Maret 1942.

''Di Tiongkok, nama saya sering disebut Tang Xianhu atau Tang Hsien Hu, bergantung dialek daerah masing-masing. Tapi, orang tua saya memberi nama Tong Sin Fu,'' paparnya kala ditemui di sela Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis 2009. Ketika masih menangani timnas Indonesia, dia punya nama Fuad Nurhadi.

Tak kurang dari tiga puluh tahun dia menjadi pelatih bulu tangkis. Kepelatihannya berawal pada akhir 1979, saat dia mulai gantung raket. Selama enam tahun Tong memoles para pemain wanita Tiongkok. Di antaranya Li Lingwei dan Han Aiping. Dua pebulu tangkis andalan Tiongkok di era 1980-an.

Kemudian pada 1986 Tong melatih di Indonesia. Awalnya, dia tidak menangani pemain Pelatnas Cipayung. Dia melatih di klub Pelita Jaya milik Aburizal Bakrie. Ketika itu dia dikontrak USD 750 per bulan. Setelah itu Tong ditarik untuk menangani pebulu tangkis yang ditempa di Pelatnas Cipayung.

Ketika itu sejumlah pemain legendaris nasional masih di pelatnas. Seperti Liem Swie King di masa-masa akhirnya, Icuk Sugiarto, dan Hastomo Arbi. Kemudian, dia ikut membidani lahirnya para pemain generasi emas, seperti Alan Budikusuma, Ardi B. Wiranata, dan Hariyanto Arbi.

Bahkan, Tong mengantarkan Alan meraih medali emas bulu tangkis di Olimpiade Barcelona 1992. Waktu itu Susi Susanti juga berhasil meraih emas sehingga dijuluki pengantin emas. ''Para pemain Indonesia saat itu memang berbeda dengan yang ada sekarang,'' katanya.

''Secara kualitas mereka lebih baik. Selain itu, saya lihat mereka punya semangat dan kemauan keras untuk menjadi juara,'' lanjut pria 68 tahun itu. ''Filosofi saya sebagai pelatih adalah bukan pelatih yang harus pandai, melainkan pemain sendiri. Tugas pelatih hanya membantu,'' sambungnya. Pemain terakhir Indonesia yang ditangani adalah Hendrawan yang juga sempat menyabet juara dunia.

Pada 1998 dia memutuskan kembali ke Tiongkok setelah permohonannya menjadi warga negara Indonesia (WNI) ditolak. ''Kenapa itu (penolakan menjadi WNI, Red) diungkit-ungkit lagi. Itu sudah cerita lama,'' kata pria yang kini menetap di Fuzhou tersebut. ''Waktu itu saya sudah berusaha mati-matian untuk menjadi WNI, tapi tetap tidak dikabulkan. Apa mau dikata,'' katanya.

Dia hanya terdiam ketika ditanya apakah masih ingin menjadi WNI. ''Saya cukup bahagia dengan posisi saya saat ini. Kalau toh bisa menjadi WNI, sekarang usia saya sudah lanjut,'' kata suami Li Qing itu, sembari sesekali membenarkan letak topinya.

Meski begitu, dia belum tahu kapan akan pen siun sebagai pelatih. ''Saya menikmati peran saya sekarang. Selama saya masih kuat, saya akan terus melatih. Sebab, di usia ini kalau tidak ada kegiatan, malah tidak enak,'' paparnya.

Di Tiongkok, Tong tak langsung melatih tim nasional, melainkan menjadi pelatih tim bulu tangkis Provinsi Fujian. Tak lama kemudian, dia melatih timnas Negeri Panda itu. Pada Olimpiade Sydney 2000, dia harus melihat anak didiknya, Xia Xuanze, menyerah di tangan Hendrawan yang pernah dilatihnya.

Namun, Hendrawan hanya meraih perak di Olimpiade itu setelah di final dikalahkan Ji Xinpeng, pemain lain Tiongkok. Salah satu keberhasilan Hendrawan saat itu berkat arahan Tong Sin Fu. Sebaliknya, keberhasilan Ji Xinpeng mengalahkan Hendrawan -yang kini melatih tim Malaysia- juga berkat sentuhan Tong Sin Fu.

Setelah itu Tong ikut membidani lahirnya para pebulu tangkis andalan Tiongkok saat ini. Mi salnya, Lin Dan, Chen Jin, Bao Chunlai, dan ganda pria Cai Yun/Fu Haifeng. Nama-nama inilah yang beberapa tahun terakhir mendominasi peta persaingan bulu tangkis dunia. Bahkan, selain mengantarkan Lin Dan hat-trick juara dunia, dia berhasil mengantar Super Dan meraih medali emas Olimpiade Beijing tahun lalu.

Tong merupakan salah satu pemain junior Indonesia terbaik di era 1950-an. Pada 1960, dia pergi ke Tiongkok bersama rekannya, Hou Chia Chang, asal Surabaya. ''Saya meninggalkan Indonesia untuk melanjutkan studi sambil bermain bulu tangkis,'' tutur bapak dua anak itu.

Dia meninggalkan orang tua dan tiga saudaranya, yang saat itu tinggal di daerah Pejompongan, Jakarta.

Di Tiongkok karir bulu tangkis Tong Sin Fu melesat. Hanya dalam lima tahun dia sudah menjadi juara nasional. Gelar itu dikuasai sampai 1975. Hou Chia Cang juga berhasil. Mereka berdua dijuluki Raksasa Tiongkok karena keperkasaannya.

Sayang, ketika itu pemerintah Tiongkok tak mengizinkan atlet-atletnya mengikuti turnamen di Eropa atau di negara-negara yang tak sepaham. Akibatnya, nama mereka berdua tidak begitu dikenal secara internasional. Tapi, pers Barat yang mengendus keberadaan mereka menganggapnya sebagai kekuatan tersembunyi.

Tong hanya tampil di Ganefo (Games of The New Emerging Forces) 1963 dan 1966. Dia menjadi juara tunggal pria.

Pada 1976, ketika rezim komunis Tiongkok mulai terbuka dan mengizinkan atlet-atletnya bermain di luar negeri, Tong dan Hou mulai menunjukkan kemampuan. Bahkan, di sebuah laga ekshibisi, Tong berhasil menggilas pe main terbaik Eropa saat itu, Erland Kops, dengan skor sangat telak, 15-0, 15-0. Oleh pers Barat, Tong dijuluki The Thing.

Ketika itu dominasi tunggal pria dunia di tangan Rudy Hartono yang berhasil menjuarai All-England delapan kali. Tapi, Tong maupun Hou tidak sempat ditarungkan dengan jagoan Indonesia itu.

Mereka pernah bertemu Iie Sumirat dalam sebuah even antarpemain Asia di Bangkok pada 1976. Iie Sumirat berhasil memecundangi keduanya. Saat dikalahkan Iie Sumirat, usianya sudah 34 tahun. Tak lama kemudian, dia memutuskan gantung raket, dan menjadi pelatih.

Tong mengaku, meski sudah tak tinggal dan melatih di Indonesia, dia terus memperhatikan perkembangan bulu tangkis di negeri kelahirannya ini. Dia tak menampik, saat ini prestasi bulu tangkis nasional memang tak sebaik di era-era sebelumnya. Tapi, dia yakin, Indonesia kembali bangkit. ''Hanya masalah waktu menunggu bulu tangkis Indonesia berkibar kembali,'' ucapnya.

Dia mengaku masih punya banyak sanak-saudara di Indonesia. Sesekali dia pulang ke Indonesia. Kedua anaknya -dia tidak mau menyebutkan namanya- juga dilahirkan di Indonesia. Tong adalah contoh mutiara berharga yang disia-siakan. (*/cfu)


Selengkapnya...

30 Juli 2009

Prof. Yohanes Surya


Persiapkan Indonesia Raih Nobel 2020

Fisikawan pendidik dan peneliti ini telah berjasa membuka jalan bagi bangsa Indonesia untuk memasuki fase renaisans. Dia telah merintis jejak bagi murid-murid cemerlang sekolah menengah Indonesia masuk pada komunitas fisika pemula antarbangsa melalui Olimpiade Fisika Internasional dan kompetisi riset fisikawan muda beraras dunia: The First Step to Nobel Prize in Physics. Ia pun bercita-cita mempersiapkan peneliti Indonesia meraih Nobel tahun 2020.

Sehubungan dengan cita-cita itu, dia didaulat memimpin pusat penelitian nanoteknologi dan bioteknologi, dua bidang ilmu di gerai perbatasan, The Mochtar Riady Center for Nanotechnology and Bioengineering, yang Desember 2004 nanti resmi dibuka di Karawaci, Tangerang.

Peran pembuka jalan itu menutup peluang pria kelahiran Jakarta 6 November 1963 ini berkiprah dalam fisika nuklir, yang ia tekuni di Jurusan Fisika College of William and Mary, Virginia, AS hingga mendapat PhD (1994) dengan summa cum laude.

Tahun depan ia bermaksud menjala pelajar berlatar Badui, Kubu, dan Sakai untuk pelatihan fisika di Jakarta yang akan disertakan dalam olimpiade fisika tingkat nasional. Tak keliru kalau ia memantarkan diri dengan Yohanes Pembaptis.

"Bila Yohanes Pembatis mempersiapkan jalan bagi Yesus, maka Yohanes Surya membuka jalan bagi Indonesia meraih Nobel," katanya.

Menyuntik optimisme adalah bagian dari retorikanya saban mengajar di pusat pelatihan Tim Olimpiade Fisika Indonesia, Karawaci. Memimpin TOFI sejak ikut Olimpiade Fisika Internasional (1993), Yohanes Surya berhasil menyemai 55 pelajar SMU berbagai kota Indonesia (setiap tahun Indonesia mengutus lima peserta) bertanding fisika yang diadakan di Amerika, Asia, Australia, dan Eropa dengan hasil mengagumkan.

Sejak pertama ikut, langsung mendapat perunggu, Indonesia tak pernah berhenti membawa pulang penghargaan dari sana. Yohanes baru lega ketika tahun 1999 di Padova, Italia, peserta Indonesia mulai mendulang medali emas dari kompetisi yang menyertakan hampir 100 negara itu.

Sukses itu tak berhenti di sini. Pengalaman mengikuti olimpiade dengan prestasi membanggakan itu memudahkan Yohanes menghubungi perguruan tinggi papan atas AS melamar tempat belajar sekaligus beasiswa bagi alumni TOFI. Tak kurang Universitas Princeton memilih satu orang, Institut Teknologi Massachusetts (MIT) menerima tiga orang, Universitas Stanford mengundang satu orang, dan Institut Teknologi California (Caltech) memanggil satu orang. Belum lagi universitas bagus Amerika lain.

Dua di antaranya sedang dibimbing fisikawan penerima Nobel. Oki Gunawan, anggota TOFI 1993, kini dibimbing Daniel Chee Tsui di Princeton. "Kalau sudah dibimbing pemenang Nobel, riset mereka nanti tak mungkin kelas kacangan," kata dekan Fakultas Sains dan Matematika Universitas Pelita Harapan ini. "Itu yang membuat saya makin optimistis, Indonesia tak lama lagi meraih Nobel."

Di dalam negeri, fisikawan yang lulus sarjana di UI tahun 1986 itu dengan senang hati memenuhi undangan pemerintah daerah hampir semua provinsi untuk menatar dan melatih guru fisika SLTP dan SMU. Perjalanannya ke daerah membuka jaringan yang memungkinkannya mengindrai murid pandai untuk ia rekrut entah buat TOFI entah buat lomba lain. Tahun ini, Septinus George Saa dari SMU Negeri 3 Waena, Jayapura, Papua, berhasil menjuarai The First Step to Nobel Prize.

Jaringan dengan daerah itu kemudian membuka jalan baru bagi Yohanes mencari anak jenius yang tersebar di seantero negeri. Di Yogyakarta ia menemui Indranu, putra sepasang dosen UGM, yang dalam usia sembilan sudah akrab dengan persamaan relativitas umum Einstein. Sempat mengalami kesulitan sebelum bertemu dengan Yohanes, Indranu kini mahasiswa teknik tahun pertama di UGM tapi, kata Yohanes, "Dia sudah bikin 15 makalah relativitas umum, kuantum gravitasi, dan superstring yang ia pelajari sendiri dan dinilai berkelas doktor oleh guru besar fisika Swedia."

Seakan merupakan kehendak sejarah bahwa ia pembuka jalan di jagat fisika, terbuka lagi kesempatan baginya menjadi fisikawan rombongan pertama yang membawa ekonofisika, cabang ilmu yang mengawinkan fisika dan ekonomi, di Indonesia. Bidang ini akan jadi pilihan kajian bagi mahasiswa Fakultas Sains dan Matematika Universitas Pelita Harapan, yang didirikan tahun 2003 di mana ia duduk sebagai dekan.

Semangatnya menyelenggarakan pelatihan khusus fisika di Karawaci yang makan waktu satu sampai dua tahun itu bukannya tak mengundang kritik. Guru besar fisika ITB, Tjia May On, saat Olimpiade Fisika Internasional di Nusadua, Bali, mengingatkan sukses Indonesia dalam lomba ini tak dapat dijadikan ukuran keberhasilan pengajaran fisika di sini. Masalahnya, peserta olimpiade Indonesia mendapat perlakuan khusus dengan latihan ketat, sementara Amerika-yang tak sesukses Tiongkok atau Indonesia dalam peristiwa itu-mengandalkan muridnya dari sekolah biasa saja.

Sabtu, 20 Maret lalu Yohanes Surya dikukuhkan sebagai Guru Besar Tetap dalam Fisika UPH. Dialah fisikawan Indonesia yang masuk jajaran ilmuwan "selebritis" di sini. Selain dikenal khalayak lantaran kadang muncul di televisi, juga karena tulisan populernya yang tak terhitung di koran-koran. Penjelasan singkatnya tentang peristiwa fisika dalam format kartun disiarkan beberapa koran dan telah diterbitkan sebagai buku.

Sehari-hari bekerja dengan fisika, Yohanes Surya memperistri Christina yang tidak mendalami bidang ini. Dia sarjana bahasa Inggris. Bertemu pertama kali di gereja 15 tahun silam, pasangan ini dikaruniai tiga putri: Chrisanthy Rebecca Surya (14), Marie Felicia Surya (5), dan Marcia Ann Surya (6 bulan).


Berikut percakapan dengan guru yang luwes bergaul ini.

TENTANG apa pidato pengukuhan Anda?

Ada contoh dari bidang keuangan. Sistem saham yang ruwet didasari oleh suatu konsep yang dikembangkan tahun 1990an. Namanya pengaturan diri sendiri. Konsep ini kemudian jadi bahasan utama saya dalam orasi kemarin, yang ternyata banyak saya jumpai dalam pengalaman sebagai fisikawan pendidik.

Apa itu pengaturan diri sendiri?

Gagasannya dari tumpukan pasir. Misalkan kita menumpuk pasir. Begitu mencapai ketinggian dan kemiringan tertentu, pasir yang kemudian kita tambahkan dari atas tumpukan itu akan berusaha mengatur diri sendiri sehingga kemiringannya selalu sama dengan kemiringan tadi.

Rupanya ada semacam pengaturan di alam: setelah mencapai keadaan kritis, suatu sistem akan mengatur diri sendiri. Yang menarik, proses pengaturan itu mengikuti hukum pangkat. Kalau divisualkan, hukum pangkat itu begini: beberapa elemen punya nilai tinggi, tapi bagian terbanyak dari elemen di dalam sistem itu mendadak bernilai kecil. Di alam hukum pangkat ini menguasai banyak bidang.

Mahasiswa saya bikin tesis mengenai demografi dan menemukan penyebaran penduduk Indonesia itu mengikuti hukum pangkat. Artinya apa?

Ada pengaturan diri sendiri dalam penyebaran penduduk. Orang akan mengorganisasi diri menuju tempat yang memberi keuntungan. Tempat seperti itu penuh dan hanya beberapa jumlahnya di tiap provinsi. Sebagian besar tempat lain yang sulit mendulang keuntungan langsung sepi.

Berlaku di seluruh daerah?

Ya. Tesis ini menjelaskan mengapa transmigrasi gagal. Begitu kita memindahkan sejumlah orang ke suatu tempat, mereka akan mengorganisasi diri. Bila tempat itu tidak menguntungkan, mereka akan kembali. Jadi, program transmigrasi tak terlalu bagus di sini.

Kecuali kalau dibuat daerah itu menarik dan mendatangkan uang?

Ya, itu mungkin bisa. Hasil pemilu kemarin mengikuti hukum pangkat juga. Kami sudah bikin analisis bagaimana korelasi antara partai dan jumlah pemilih. Yang paling tinggi: Golkar dan PDI-P. Perolehan partai lain langsung drop dan mengikuti hukum pangkat. Mengapa? Karena orang akan mengatur diri sendiri memilih mana yang menurut pikirannya sesuai dengan kemauannya.

Kalau diberi kebebasan, dia akan mengikuti hukum pangkat. Kalau ada rekayasa?

Ha-ha-ha. Itu enggak bisa. Makanya saya bilang, pemilu ini demokratis karena mengikuti hukum pangkat. Orang mengatur dirinya sendiri. Partai mana yang menang? Yang paling banyak kampanye dan paling memengaruhi orang.

Mengapa memilih topik ini?

Karena sekarang saya bekerja dalam ekonofisika. Saya mau analisis sosial itu lebih ke arah sistem kompleks.

Bagaimana menjelaskan pelatihan khusus yang Anda adakan untuk mengikuti olimpiade fisika dikaitkan dengan konsep mengatur diri sendiri? Amerika mencomot peserta dari sekolah saja.

Saya sebenarnya hanya memengaruhi siswa supaya dapat mengorganisasi diri dalam arti, mengatur diri sendiri untuk belajar dengan baik. Di Amerika kesadaran belajar sendiri sudah begitu besar. Walau enggak disuruh, orang belajar sendiri.

Di pelatihan itu saya sebetulnya cuma memfasilitasi. Anak belajar sendiri. Kami kasih buku supaya mereka mengatur diri sendiri dan mencapai hasil maksimal. He-he-he. Menurut saya, pelatihan itu enggak salah. Sekolah itu sama saja dengan pelatihan sebab di sekolah orang dilatih juga.

Kapan mengikuti pola Amerika?

Ke depan arah kita akan ke situ. Sekarang saya menulis buku latihan. Enam dari 16 buku yang saya rencanakan sudah jadi. Sepuluh sedang saya rapikan. Isinya soal dan penyelesaian bahan yang diujikan di olimpiade, serta soal mekanika dan elektromagnetik.

Kami akan sebarkan buku yang rencananya selesai tahun 2005 itu ke seluruh Indonesia. Semua orang bisa dapat, bisa belajar sendiri. Pada saat itu kompetisinya benaran. Target saya tahun 2006, Indonesia juara dunia. Nanti kita lihat hukum pangkat akan berlaku sebab setelah juara dunia, saya mau murid mengatur dirinya sendiri.

Jadi, enggak ada lagi pelatihan?

Tetap ada. Cuma beberapa bulan.

Orangtua anak jenius yang anaknya pernah Anda latih tak setuju Anda terlalu memaksa anak bekerja keras. Sudah pintar kenapa usaha harus luar biasa?

Sebab bakat enggak cukup. Harus kerja keras. Saya tidur tiga sampai empat jam sehari. Saya kerja keras: menulis, bikin video untuk memudahkan pengajaran fisika, mempersiapkan kuliah, dan merancang soal untuk pelatihan. Tidur pukul satu. Pukul empat pagi sudah bangun.

Saya melihat ternyata untuk meraih Nobel, enggak perlu pintar. Memang banyak yang pintar seperti Feynman, Gell-Man, atau Schwinger. Itu kan jenius. Top-toplah.

Tapi, ada juga yang tak terlalu pintar seperti Masatoshi Koshiba yang dapat Nobel tahun 2002. Dia itu semula tak diterima di universitas karena nilainya jelek. Profesor yang menguji kasih rekomendasi untuk dibawa Koshiba kepada profesor lain. Bunyinya "Saya tak kasih rekomendasi, tapi kalau Anda mau terima, silakan". Ternyata dia dapat Nobel. Karena kerja keras. Cerita seperti ini tak hanya dari satu pemenang Nobel.

Yang menarik juga adalah peran orangtua. Kebanyakan orangtua peraih Nobel itu memberi perhatian kepada anaknya supaya bisa berkembang. Orangtua Feynman mengarahkannya jadi fisikawan sejak SD. Terus Hooft. Orangtuanya memberi dia sejak kecil permainan yang mengasah logika.

Daniel Chee Tsui; orangtuanya buta huruf dan tinggal di desa. Mereka berkorban jual rumah supaya bisa menyekolahkan anak ke luar negeri.

Tapi, Feynman banyak main?

Ya, main waktu senggang. Selagi mahasiswa dan saat meneliti dia bekerja mati-matian. Belajar sampai pagi. Berpikir tanpa berhenti. Gell-Mann begitu juga. Menghitung dan menghitung terus, berpikir dan berpikir terus, sampai menemukan sesuatu.

Saya sering cerita bagaimana orang berpikir terus sampai menemukan sesuatu. Kalau seorang berpikir terus, menurut fisikawan Helmholtz, dia akan mengalami tiga fase. Pertama, fase inkubasi. Kedua, fase saturasi. Ketiga, fase pencerahan. Jadi, setelah jenuh sekali, dia tercerahkan. Pada masa pencerahan itu bisa keluar ide luar biasa yang bisa terucapkan tanpa sadar.

Gell-Mann menyebut sembarang saja tanpa sadar mengenai isospin pecahan pada sebuah ceramah di Princeton, padahal itulah yang selama ini dia cari. Berkat temuan itu dia dapat Nobel.

Saya sadar kalau enggak kerja keras, enggak ada apa-apanya. Kalau saya mau berarti, harus lebih dari pemenang Nobel itu, dong. Memang bakat bisa mendorong.


ANDA selalu menyebut tahun 2020, Indonesia meraih Nobel. Kenapa begitu antusias?

Karena dengan Nobel, Indonesia bisa lebih maju. Coba lihat Pakistan. Negara itu miskin. Sekarang orang bilang sains di Pakistan itu bagus karena ada Abdus Salam yang dapat Nobel. Jadi, Nobel semacam simbol yang akan menarik orang.

Orang Pakistan sekarang tertarik pada fisika karena Salam?

Betul, ada hubungannya. Karena dengan itu, Salam dapat menarik fisikawan Pakistan yang dia bimbing untuk bekerja dengan koleganya pemenang Nobel atau fisikawan di berbagai tempat sekelas Nobel.

Maksud Anda membentuk jaringan?

Persis. Seperti kita sekarang. Dengan bertahun-tahun dapat medali di olimpiade, kita punya tiga mahasiswa S1 di MIT, selain di Stanford, Caltech, dan Princeton. Hebat-hebat. Nilai mereka tinggi. Saya tanya, "Kok bisa?" Mereka bilang pelajaran tingkat 1 dan 2 terlalu gampang, jadi ada yang langsung ambil kuliah semester 9.

Evelyn, angkatan 2002 TOFI, di Stanford sekarang dibimbing Douglas Osheroff yang dapat Nobel 1996. Dia dipilih karena nilainya terlalu tinggi. Jadi, murid yang saya lihat bakal dapat Nobel kini diasuh peraih Nobel. Karena sudah jadi murid peraih Nobel, dia akan kecipratan cara berpikirnya. Nah, inilah yang kita harapkan dapat Nobel di masa mendatang.

Asuhan Anda pada maju, sementara Anda jadi pelatih. Tampaknya mengorbankan diri?

Saya mediator, fasilitator, dan merasa diciptakan untuk itu. Kalau Yohanes Pembaptis menyiapkan jalan bagi Yesus; Yohanes Surya membuka jalan untuk Nobel. Ha-ha-ha. Saya sudah bahagia dengan posisi ini. Mungkin ini peran saya. Saya pikir ini panggilan pribadi

Pernah merasa kesepian karena mengurus ini sendiri?

Sebenarnya saya menikmati. Saya tidak sendirian banget. Banyak orang mendukung. Setiap tahun banyak hal aneh terjadi. Selalu ada yang bantu menyediakan dana, sejak saya pimpin TOFI tahun 1993 sampai sekarang. Mulai orangtua murid, Radius Prawiro, Mochtar Riady, sampai Departemen Pendidikan Nasional yang kini menyerap olimpiade sebagai program nasional. Sambil itu, saya membuka bidang yang frontier.

Bidang apa itu?

Nanoteknologi, suatu teknologi di mana kita memanipulasi atom atau molekul untuk menghasilkan produk baru tapi terdepan. Mochtar Riady mengajak saya membangun pusat riset nanoteknologi dan bioteknologi di Karawaci.

Yang termasuk nanoteknologi di pusat ini adalah terapi genetika dan manipulasi atom. Ke depan, dengan manipulasi atom ini, orang memperkirakan dapat mengubah batubara jadi emas sebab dengan mengubah kedudukan atom-atom pada molekul batubara, ia bisa jadi emas.

Di bidang bioteknologi, nanoteknologi itu mengubah gen-gen. Kita bisa dapat tanaman yang jauh lebih bagus. Pengobatan kanker sekarang melalui nanorobot. Di Amerika sudah diusahakan bagaimana robot membawa obat kanker ke sasaran yang tepat

Kedua bidang ini, nanoteknologi dan rekayasa genetika, sangat frontier. Mochtar Riady bilang mau mendirikan pusat nanoteknologi. "You mau pimpin enggak," katanya. Kita mau Indonesia bisa bermain di atas juga. Saya bilang oke.

Siapa yang akan bergabung?

Saya kumpulin tokoh terkenal di bidang ini dari AS, Jerman, Jepang, dan pemenang Nobel, Calude Cohen Tannoudji. Saya kontak dengan beberapa teman. Felix Mesak, orang Indonesia peneliti di Pusat Terapi Kanker Ottawa, yang menemukan obat kanker. Dia sangat terkenal, penilai untuk jurnal nanoteknologi yang amat prestisius. Kemudian Sinta Limantara dari Satya Wacana yang ahli dalam pemanfaatan klorofil dan dapat Hadiah Humboldt dari Jerman. Juga Kebamoto dari UI.


Bagaimana dengan laboratorium?

Akan dibangun di Karawaci. Laboratorium yang sangat canggih. Mahal, tapi (Pak) Mochtar sudah siap sebab dia ingin di masa tuanya ingin menyumbangkan sesuatu buat ilmu pengetahuan. Ini akan jadi tempat buat orang Indonesia menemukan hal-hal hebat, satu jalan untuk dapat Nobel entah fisika, kimia, biologi karena ketiga bidang ini jadi dasarnya.


Anak Anda ketularan fisika?

Chrisanthy kelihatannya ketarik sama fisika. Dia siswi SMP, tapi banyak baca buku fisika universitas.

Anda paksa dia?

Bukan. Mungkin karena banyak ketemu dengan anak-anak olimpiade. Itu mungkin yang saya sebut tadi self organizing, mengatur diri sendiri. He-he-he. Jadi, dia kepengaruh. Mungkin pikirannya orang lain bisa, kok saya enggak bisa. Dia mau belajar, mau tunjukin ke saya.

Anda membimbing dia?

Secara khusus enggak. Kalau ada pertanyaan, saya layani. Kelihatan dia mau belajar. Yang kedua masih 5 tahun. Mungkin karena self organizing juga, lihat kakaknya, dia mau belajar juga. Ha-ha-ha. Saya mulai dengan matematika SD, pelajaran kelas tiga. ►Kompas, Minggu, 16 Mei 2004, Pewawancara: Salomo Simanungkalit
Selengkapnya...

Prof Nelson Tansu, Ph.D.

Usia 25 Tahun Mengajar S-3

Sumber : Tokoh Indonesia

Dia asli orang Indonesia yang prestasinya diakui dunia internasional. Pria kelahiran Medan 20 Oktober 1977, ini sudah meraih 11 penghargaan dan memiliki tiga hak paten atas penemuan risetnya. Pada usia 25 tahun ia telah berhasil meraih gelar PhD di University of Wisconsin, Madison, dan kemudian langsung mengajar mahasiswa S-3.

Dia menjadi profesor di universitas ternama Amerika, Lehigh University, Pensilvania, mengajar para mahasiswa di tingkat master (S-2), doktor (S-3), bahkan post doctoral Departemen Teknik Elektro dan Komputer.

Lebih dari 84 hasil riset maupun karya tulisnya dipublikasikan di berbagai konferensi dan jurnal ilmiah internasional. Sering diundang menjadi pembicara utama di berbagai seminar, konferensi dan pertemuan intelektual, terutama di Washington DC.

Selain itu, dia sering datang ke berbagai kota lain di AS dan luar AS seperti Kanada, sejumlah negara di Eropa, dan Asia. Yang mengagumkan, sudah ada tiga penemuan ilmiahnya yang dipatenkan di AS, yakni bidang semiconductor nanostructure optoelectronics devices dan high power semiconductor lasers.

Di bidang itu, ia mengembangkan teknologi yang mencakup semiconductor lasers, quantum well dan quantum dot lasers, quantum intersubband lasers, InGaAsN quantum well dan quantum dots, type-II quantum well lasers, dan GaN/AlGaN/InGaN semiconductor nanostructure optoelectronic devices. Teknologi tersebut diterapkan dalam aplikasi di bidang optical communication, biochemical sensors, sistem deteksi untuk senjata, dan lainnya.

Meski sudah hampir satu dekade ia berada di AS, hingga sekarang ia masih memegang paspor hijau berlambang garuda. Pria ganteng kelahiran Medan, 20 Oktober 1977, ini mengaku mencintai Indonesia. Ia tidak malu mengakui bahwa Indonesia adalah tanah kelahirannya. "Saya sangat cinta tanah kelahiran saya. Dan saya selalu ingin melakukan yang terbaik untuk Indonesia," katanya serius. "Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar dan merupakan bangsa yang mampu bersaing dengan bangsa-bangsa besar lainnya. Tentu saja jika bangsa kita terus bekerja keras," kata Nelson lagi.

Nelson Tansu adalah anak kedua di antara tiga bersaudara buah hati pasangan Iskandar Tansu dan Lily Auw yang berdomisili di Medan, Sumatera Utara. Kedua orang tua Nelson adalah pebisnis percetakan di Medan. Mereka adalah lulusan universitas di Jerman. Abang Nelson, Tony Tansu, adalah master dari Ohio, AS. Begitu juga adiknya, Inge Tansu, adalah lulusan Ohio State University (OSU). Tampak jelas bahwa Nelson memang berasal dari lingkungan keluarga berpendidikan.

Dalam perjalanan hidup dan karirnya, ia mengakui mendapat dukungan yang besar dari keluarga terutama kedua orang tua dan kakeknya. "Mereka menanamkan mengenai pentingnya pendidikan sejak saya masih kecil sekali," ujarnya.

Ketika Nelson masih SD, kedua orang tuanya sering membanding-bandingkan Nelson dengan beberapa sepupunya yang sudah doktor. Perbandingan tersebut sebenarnya kurang pas. Sebab, para sepupu Nelson itu jauh di atas usianya. Ada yang 20 tahun lebih tua. Tapi, Nelson kecil menganggapnya serius dan bertekad keras mengimbangi sekaligus melampauinya.

Waktu akhirnya menjawab imipian Nelson tersebut. "Jadi, terima kasih buat kedua orang tua saya. Saya memang orang yang suka dengan banyak tantangan. Kita jadi terpacu, gitu," ungkapnya. Nelson mengaku, mendiang kakeknya dulu juga ikut memicu semangat serta disiplin belajarnya. "Almarhum kakek saya itu orang yang sangat baik, namun agak keras. Tetapi, karena kerasnya, saya malah menjadi lebih tekun dan berusaha sesempurna mungkin mencapai standar tertinggi dalam melakukan sesuatu," jelasnya.

Saat usia SD itu pulalah, Nelson kecil gemar membaca biografi para ilmuwan-fisikawan AS dan Eropa. Selain Albert Einstein yang menjadi pujaannya, nama-nama besar seperti Werner Heisenberg, Richard Feynman, dan Murray Gell-Mann ternyata sudah diakrabinya. "Mereka hebat. Dari bacaan tersebut, saya benar-benar terkejut, tergugah dengan prestasi para fisikawan luar biasa itu. Ada yang usianya muda sekali ketika meraih PhD, jadi profesor, dan ada pula yang berhasil menemukan teori yang luar biasa. Mereka masih muda ketika itu," jelas Nelson penuh kagum.

Berkat kegemarannya membaca itu, sejak kecil Nelson sudah mempunyai cita-cita yang besar. "Sejak SD kelas 3 atau kelas 4 di Medan, saya selalu ingin menjadi profesor di universitas di Amerika Serikat. Ini benar-benar saya cita-citakan sejak kecil," ujarnya dengan wajah serius.

Seiring dengan perjalanan waktu, Nelson meniti tangga pendidikan mengejar cita-cita masa kecilnya. Sebelum bertolak ke Amerika, lulusan terbaik SMU Sutomo 1 Medan 1995 ini lolos menjadi finalis Tim Olimpiade Fisika Indonesia. Sukses ini membuat dirinya mendapat tawaran beasiswa dari Bohn's Scholarships untuk kuliah di jurusan matematika terapan, teknik elektro, dan fisika di Universitas Wisconsin-Madison, Amerika Serikat.

Masuk kampus September 1995, laki-laki berdarah Tionghoa ini menyandang gelar bachelor of science hanya dalam tempo dua tahun lebih sembilan bulan. Predikatnya pun summa cum laude. Setelah merampungkan S-1-nya di bidang applied mathematics, electrical engineering, and physics pada 1998, ia kebanjiran tawaran beasiswa dari berbagai perguruan tinggi top di Amerika. Meski ada tawaran dari universitas yang peringkatnya lebih tinggi, ia memilih tetap tinggal di Universitas Wisconsin dan meraih gelar doktor di bidang electrical engineering pada Mei 2003.

Selama bersekolah di sana, berkat beasiswa yang diperolehnya, orang tua Nelson hanya membiayai hingga tingkat S-1. Selebihnya berkat kerja keras dan prestasi Nelson sendiri. Biaya kuliah tingkat doktor hingga segala keperluan kuliah dan kehidupannya ditanggung lewat beasiswa universitas. "Beasiswa yang saya peroleh sudah lebih dari cukup untuk membiayai semua kuliah dan kebutuhan di universitas," katanya.

Selama menggarap program doktornya, Nelson terus mengukir prestasi. Berbagai penghargaan dikoleksinya, antara lain WARF Graduate University Fellowships dan Graduate Dissertator Travel Funding Award. Bahkan, penelitan doktornya di bidang photonics, optoelectronics, dan semiconductor nanostructires meraih penghargaan tertinggi di departemennya, yakni The 2003 Harold A. Peterson Best ECE Research Paper Award.

Setelah menyandang gelar doktor, Nelson mendapat tawaran menjadi asisten profesor dari berbagai penjuru universitas di Amerika. Peluang menggiurkan ini menjauhkan minatnya untuk kembali ke Tanah Air. Akhirnya, awal 2003, di usianya yang ke-25, ia memilih Lehigh University, dan menyandang gelar asisten profesor di bidang electrical and computer engineering. Di AS, itu merupakan gelar untuk guru besar baru di perguruan tinggi. "Walaupun saya adalah profesor di jurusan electrical and computer engineering, riset saya sebenarnya lebih condong ke arah fisika terapan dan quantum electronics," jelasnya.

Lehigh University merupakan sebuah universitas unggulan di bidang teknik dan fisika di kawasan East Coast, Negeri Paman Sam. Ia berhasil menyisihkan 300 doktor yang kehebatannya tidak diragukan lagi. "Seleksinya ketat sekali, sedangkan posisi yang diperebutkan hanya satu," ujarnya menggambarkan situasi saat itu.

Lelaki penggemar buah-buahan dan masakan Padang itu mengaku lega dan beruntung karena dirinya yang terpilih. Menurut Nelson, dari segi gaji dan materi, menjadi profesor di kampus top seperti yang dia alami sekarang sudah cukup lumayan. Berapa sih lumayannya? "Sangat bersainglah. Gaji profesor di universitas private terkemuka di Amerika Serikat adalah sangat kompetitif dibandingkan dengan gaji industri. Jadi, cukup baguslah, he...he...he...," katanya, menyelipkan senyum.

Sebagai intelektual muda, dia menjalani kehidupannya dengan tiada hari tanpa membaca, menulis, serta melakukan riset. Tentunya, dia juga menyiapkan materi serta bahan kuliah bagi para mahasiswanya. Kesibukannya itu bertumpu pada tiga hal yakni yakni, learning, teaching, and researching.

Boleh jadi, tak ada waktu sedikit pun yang dilalui Nelson dengan santai. Di sana, 24 jam sehari dilaluinya dengan segala aktivitas ilmiah. Waktu yang tersisa tak lebih dari istirahat tidur 4-5 jam per hari.

Selama mengajar di kampus, karena wajahnya yang masih muda, tak sedikit insan kampus yang menganggapnya sebagai mahasiswa S-1 atau program master. Dia dikira sebagai mahasiswa umumnya. Namun, bagi yang mengenalnya, terutama kalangan universitas atau jurusannya mengajar, begitu bertemu dirinya, mereka selalu menyapanya hormat: Prof Tansu.

"Di semester Fall 2003, saya mengajar kelas untuk tingkat PhD tentang physics and applications of photonics crystals. Di semester Spring 2004, sekarang, saya mengajar kelas untuk mahasiswa senior dan master tentang semiconductor device physics. Begitulah," ungkap Nelson menjawab soal kegiatan mengajarnya.

Selama September hingga Desember atau semester Fall 2004, dia mengajar kelas untuk tingkat PhD tentang applied quantum mechanics for semiconductor nanotechnology. "Selain mengajar kelas-kelas di universitas, saya membimbing beberapa mahasiswa PhD dan post-doctoral research fellow di Lehigh University ini," jelasnya saat ditanya mengenai kesibukan lainnya di kampus.

Tansu yang Lain

Meski namanya sudah banyak dikenal di seluruh dunia, hanya sedikit yang tahu bahwa guru besar muda ini berasal dari Indonesia. Di sejumlah kesempatan, banyak yang menganggap Nelson adalah orang Turki yang ada hubungan famili dengan mantan PM Turki Tansu Ciller.

Ada pula yang mengira bahwa Nelson adalah orang Asia Timur, tepatnya Jepang atau Tiongkok. Yang lebih seru, beberapa universitas di Jepang malah terang-terangan melamar Nelson dan meminta dia "kembali" mengajar di Jepang.

Seakan-akan Nelson memang orang sana dan pernah mengajar di Negeri Sakura itu. Dilihat dari nama, wajar jika kekeliruan itu terjadi. Begitu juga wajah Nelson yang seperti orang Jepang. Lebih-lebih di Amerika banyak profesor yang keturunan atau berasal dari Asia Timur dan sangat jarang yang berasal dari Indonesia.

Nelson pun hanya senyum-senyum atas segala kekeliruan terhadap dirinya. "Biasanya saya langsung mengoreksi. Saya jelaskan ke mereka bahwa saya asli Indonesia. Mereka memang agak terkejut sih karena memang mungkin jarang ada profesor asal aslinya dari Indonesia," jelas Nelson.

Tansu sendiri sesungguhnya bukan marga kalangan Tionghoa. Memang, nenek moyang Nelson dulu Hokkien, dan marganya adalah Tan. Tapi, ketika lahir, Nelson sudah diberi nama belakang "Tansu", sebagaimana ayahnya, Iskandar Tansu. "Saya suka dengan nama Tansu, kok," kata Nelson dengan nada bangga.

Rebutan Berbagai Universitas

Berkat prestasi Nelson Tansu yang luar biasa, ia sempat menjadi incaran dan malah "rebutan" kalangan universitas AS dan mancanegara. Ada yang menawari jabatan associate professor yang lebih tinggi daripada yang dia sandang sekarang (assistant professor). Ada pula yang menawari gaji dan fasilitas yang lebih heboh daripada Lehigh University.

Tawaran-tawaran menggiurkan itu datang dari AS, Kanada, Jerman, dan Taiwan serta berasal dari kampus-kampus top.

Semua datang sebelum maupun sesudah Nelson resmi mengajar di Lehigh University. Tapi, segalanya lewat begitu saja. Nelson memilih konsisten, loyal, dan komit dengan universitas di Pennsylvania itu. Tapi, tentu ada pertimbangan khusus yang lain.

"Saya memilih ini karena Lehigh memberikan dana research yang sangat signifikan untuk bidang saya, semiconductor nanostructure optoelectronic devices. Lehigh juga memiliki leaderships yang sangat kuat dan ambisinya tinggi menaikkan reputasinya dengan memiliki para profesor paling berpotensi dan ternama untuk melakukan riset berkelas dunia," papar pengagum John Bardeen, fisikawan pemenang Nobel itu.

Nelson mengaku memilih universitas luar negeri sebagai wadah kiprah ilmiahnya karena semata-mata iklim keilmuan di sana sangat kondusif. Di sana ia bisa memanfaatkan fasilitas laboratorium yang lengkap, mengakses informasi dari perangkat berteknologi canggih, dan melahap buku-buku terbaru di perpustakaan.

Peran dan keberadaan para ilmuwan sangat dihargai dan dihormati di sana. Selain itu, fasilitas riset yang sangat ia butuhkan juga menunjang komitmennya untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang bermanfaat bagi negara dan dunia.

Walaupun dikelilingi oleh berbagai fasilitas yang lengkap, hidup di perantauan membuatnya harus memendam rindu pada keluarga, teman, dan makanan khas Indonesia. Namun, kerinduan itu terobati dengan peluang berkarya yang lebih besar dan gaji yang cukup di universitas swasta ternama seperti tempatnya bekerja.

Ia memang tak mau menyebut angkanya. Tapi, sebagai gambaran, kata Nelson, rata-rata US$ 10.000 per bulan plus fasilitas kesehatan. "Jumlah ini cukup kompetitif dengan gaji yang ditawarkan dunia industri," kata ilmuwan muda yang rajin memberi ceramah di berbagai universitas di Amerika dan Eropa ini.

Meski memilih menetap di Amerika, ahli semikonduktor untuk serat optik ini mengaku akan mempertimbangkan dengan serius kalau pemerintah sungguh-sungguh membutuhkannya.

Ditanya soal pacar, Nelson tersipu-sipu dan mengaku belum punya. Padahal, secara fisik, dengan tinggi 173 cm, berat 67 kg, dan wajah yang cakep khas Asia, Nelson mestinya mudah menggaet (atau malah digaet) cewek Amerika.

"Ha... ha... ha.... Pertama, saya ini nggak ganteng ya. Tapi, begini, mungkin karena memang belum ketemu yang cocok dan jodoh saja. Saya sih, kalau bisa, ya dengan orang Indonesia-lah. Saya sih nggak melihat orang berdasarkan kriteria macem-macem. Yang penting orangnya baik, pintar, bermoral, pengertian, dan mendukung," paparnya panjang lebar sambil tersipu malu.
Selengkapnya...