30 Januari 2010

Surabaya Siapkan Diri Jadi Liver Transplant Center (1)

Sumber: Jawapos,Kamis, 28 Januari 2010
http://www.jawapos.co.id/halaman/index.php?act=detail&nid=114034

Surabaya Siapkan Diri Jadi Liver Transplant Center (1)

Bermula dari Dahlan, agar Cangkok Hati Lebih Terjangkau

Impian RSUD dr Soetomo Surabaya untuk menjadi pusat transplantasi liver segera terwujud. Pekan lalu tim dokter dan perawat rumah sakit pendidikan itu belajar ke pusat transplantasi liver terbesar di dunia, OOTC, di Tianjin, Tiongkok. Apa saja yang dipelajari dan bagaimana suasana belajarnya? Inilah catatan wartawan Jawa Pos, Nany Wijaya yang mendampingi tim tersebut.

---

ADALAH Dahlan Iskan, mantan CEO Jawa Pos Group yang kini menjadi Dirut Perusahaan Listrik Negara (PLN), yang pertama mencetuskan ide perlunya program transplantasi liver di Surabaya.

Ide yang terdengar seperti suara dari langit itu dia sampaikan pada 31 Oktober 2007, saat meluncurkan buku tentang pengalamannya operasi ganti hati.

Seperti diketahui, 29 bulan lalu, ketika masih menjadi CEO Jawa Pos Group, Dahlan menjalani transplantasi hati di Oriental Organ Transplant Center (OOTC), yang bernaung di bawah bendera Tianjin First Central Hospital (TFCH).

Seperti yang diduga banyak orang, biaya transplantasi liver sangat tidak murah. Sekalipun operasinya di Tiongkok, yang dalam segala hal terkenal sangat murah dibanding di negara lain, seperti Singapura, Korea, apalagi Jepang dan Amerika Serikat.

Itu karena yang harus disediakan penderita bukan hanya biaya operasi dan obat-obatan pascaoperasi. Juga biaya hidup dan tempat tinggal bagi keluarga yang mendampingi selama menunggu donor dan dalam perawatan pascaoperasi. Belum lagi tiket pesawat.

Tingginya biaya inilah yang menjadi concern Dahlan ketika itu. Belum lagi soal kendala bahasa, bagi mereka yang tidak bisa berbahasa Mandarin. Pimpinan lebih dari 100 surat kabar itu tidak punya kendala komunikasi selama di Tiongkok karena bahasa Mandarinnya sangat baik dan fasih.

Dua hal itulah yang lantas membuatnya merasa perlu untuk mendorong adanya program transplantasi liver di Surabaya. "Kalau transplantasinya di Surabaya, biayanya bisa lebih murah sehingga lebih banyak penderita bisa diselamatkan. Selain itu, tak perlu ada kendala bahasa," kata Dahlan saat itu.

Untuk membantu mewujudkan keinginan itu, Dahlan berjanji mendatangkan ketua tim dokter yang mengoperasinya dan menyerahkan semua keuntungan dari penjualan buku Ganti Hati-nya.

Ide dan niat baik Dahlan itu langsung disambut para dokter, terutama ahli bedah digestif (perut) RSUD dr Soetomo Surabaya. Selain karena kebutuhan transplantasi liver itu meningkat, juga sebagian dari mereka sudah mempelajari bidang tersebut ketika belajar di luar negeri. Misalnya, dr Poerwadi SpB, SpBA yang ahli bedah anak dan dr Sjamsul Arief SpA(K) MARS yang ahli penyakit liver anak. Poerwadi belajar transplantasi hati di Groningen, Belanda, sedangkan Sjamsul di Jepang.

Bagi RSUD dr Soetomo Surabaya, transplantasi organ bukan sesuatu yang baru. Jauh sebelum Dahlan ditransplan, mereka sudah banyak melakukan transplantasi kornea, jaringan (tulang dan kulit), dan bahkan ginjal.

Namun, untuk liver, terpikir pun belum. Ada banyak kendala teknis dan nonteknis yang tak mudah diatasi ketika itu. Mulai pengetahuan yang masih minim tentang transplantasi liver sampai ke masalah donor.

Mereka baru tergugah untuk melangkah ke bidang itu setelah Dahlan mengungkapkan keinginan dan dukungannya.

Masalahnya, dukungan saja tidak cukup. Apalagi, kalau transplannya harus menggunakan donor cadaver (mayat). Ketika itu, donor hidup belum terpikirkan meski di Jakarta dan Bandung sudah ada beberapa orang yang menjadi donor hidup bagi transplantasi liver. Apalagi, Dahlan sendiri ditransplan dengan donor cadaver.

Meski cadaver berarti mayat atau orang yang sudah meninggal, itu tidak berarti bahwa organ semua mayat bisa digunakan untuk transplantasi. Organ mayat yang bisa didonorkan adalah organ yang masih "hidup." Artinya, masih dialiri oksigen.

Tubuh mendapatkan oksigen dari paru-paru, melalui darah yang mengalir. Darah hanya bisa mengalir kalau jantung tetap berdenyut.

Seseorang dinyatakan meninggal kalau batang otaknya sudah mati. Kematian batang otak ditandai dengan berhentinya reaksi tubuh terhadap segala bentuk rangsangan. Mulai panggilan, cubitan, tusukan (jarum, misalnya) maupun sinar yang diarahkan ke pupil.

Organ tubuh sendiri tak bisa bertahan "hidup" lebih dari 20 menit, setelah batang otak mati. Kecuali jantung dan parunya dipertahankan tetap bergerak dan mengalirkan darah serta oksigen. Ini berarti orang itu harus dalam keadaan tersambung dengan alat bantu pernapasan, sejak sebelum atau sesaat setelah batang otaknya mati.

Alat bantu napas berfungsi mengalirkan oksigen ke paru dan mendorong jantung untuk tetap bergerak.

Kendala para dokter untuk mengambil organ dari orang yang sudah mati batang otaknya adalah agama dan budaya. Di Jepang sendiri, pelaksanaan donor dengan organ cadaver masih sangat sedikit.

Untuk mengatasi kendala tersebut, Jawa Pos lantas mengadakan beberapa diskusi dengan para ahli agama Islam, pakar dan penegak hukum. Hasilnya, pengambilan organ dari tubuh yang sudah mati tidak melanggar hukum apa pun kalau diambil dari orang yang secara medis memang sudah dinyatakan meninggal, tidak ada unsur jual beli, semasa hidup almarhum sudah mengizinkan, ahli waris juga mengizinkan, dan dianjurkan untuk menggunakan donor yang seiman.

Ternyata "lampu hijau" itu juga tidak cukup untuk menggerakkan tim dokter Surabaya melakukan transplantasi. Padahal, Menteri Kesehatan ketika itu, sudah menyatakan dukungannya. Saya tidak tahu di mana kendalanya.

Baru akhir bulan lalu, setelah dua tahun menunggu, keinginan melakukan transplantasi sendiri itu muncul dan disikapi dengan sangat serius.

Mengapa tiba-tiba keinginan itu muncul dan didorong ke permukaan dengan sangat serius? Tampaknya, ada keinginan yang kuat dari tim bedah anak untuk menyelamatkan nyawa dan masa depan seorang bocah berumur tiga tahun yang menderita kelainan atresia biliari. Bocah ini tinggal di daerah yang jaraknya sekitar empat jam perjalanan darat dari Surabaya, bersama kedua orang tuanya yang berprofesi sebagai guru.

Status bocah ini sekarang adalah pasien rawat jalan, karena memang tak ada yang mengharuskan dia diopname.

Anak-anak dengan kelainan ini lahir dengan saluran empedu yang tidak sempurna. Pada orang normal, saluran empedu menghubungkan dua organ. Ujung yang satu menghubungkan kantung empedu dengan liver. Ujung lain menghubungkan liver dengan usus halus. Pada anak dengan atresia biliari, saluran yang ke usus itu tidak terbentuk. Dengan begitu, cairan empedunya menumpuk di liver. Akibatnya, liver rusak dan beban kerjanya berpindah ke limpa. Akibatnya, limpa membesar.

Karena semakin membesar, beberapa bulan lalu limpa itu diangkat oleh dr Poerwadi SpB, SpBA dari RSUD dr Soetomo Surabaya. Sebelum operasi dan setelahnya, bocah ini ditangani dr Sjamsul Arief SpA(K) yang ahli liver anak.

Dalam kasus atresia biliari, pengangkatan limpa sebenarnya tak banyak menolong. Sebab, yang dibutuhkan adalah saluran empedu yang menghubungan liver dengan usus halus dan liver yang sehat. Tetapi, jika limpanya tak segera diangkat, akibatnya bisa lebih fatal dan mungkin pertahanan hidup bocah malang itu lebih pendek.

Didorong oleh keinginan untuk menyelamatkan bocah ini dan lebih dari 20 bocah lain yang sependeritaan, program transplantasi liver ini dijajaki lagi.

Hanya, kali ini lebih serius, karena ada dukungan yang sangat konkret dari direktur RSUD dr Soetomo Surabaya dan gubernur Jawa Timur.

Pekan lalu, dengan rekomendasi Dahlan Iskan dan fasilitas Jawa Pos, sembilan dokter ahli dan dua perawat spesialis dari RSUD dr Soetomo Surabaya berangkat ke Tianjin, Tiongkok.

Kesembilan dokter itu adalah ahli bedah anak (dr Poerwadi SpB, SpBA dan dr IGB Adria Hari Astawa SpB, SpBA), ahli bedah digestif dewasa (dr Vicky Sumarki Budipramana SpB-KBD dan dr Iwan Kristian SpB-KBD), dan ahli bedah vaskuler (dr Heroe Soebroto SpBTKV). Kemudian, ahli anestesi (dr Philia Setiawan SpAn-KIC, dr Arie Utariani SpAn-KIC, dan dr Elizeus Hanindito SpAn-KIC) serta ahli penyakit liver anak (dr Sjamsul Arief SpA-K). Sedangkan dua perawat spesialisnya, masing-masing Choirul Anam dan Eko Yeppianto.

Ketika meninggalkan Surabaya pada 16 Januari lalu, tak ada yang mengira bahwa mereka adalah tenaga ahli yang sebenarnya sudah sangat siap melakukan transplantasi liver di Surabaya. Saya yakin, saat itu, mereka sendiri dan tim dokter ahli transplan di Tianjin juga tak menyadari hal itu.

Kehebatan dan kesiapan mereka untuk menjalankan misi besar itu justru tampak setelah mereka melihat langsung bagaimana transplantasi liver dilakukan di Tianjin dan setelah berdiskusi dengan tim dokter andalan OOTC. (bersambung/besok: 'Bengkel Manusia' Terbesar di Dunia/kum).
Selengkapnya...

31 Desember 2009

Kopi & Teh Perangi Diabetes Tipe 2

Sumber: okezone 29 Desember 2009
http://lifestyle.okezone.com/read/2009/12/29/27/289063/kopi-teh-perangi-diabetes-tipe-2

UNTUK mengatakan bahwa minum kopi adalah tradisi seluruh dunia rasanya tidak salah. Statistik menunjukkan, orang di seluruh dunia mengonsumsi lebih dari 400 miliar cangkir kopi setiap tahun.

Misalnya, di Amerika Serikat, 30 juta orang dewasa menjadikan kopi sebagai minuman harian, di mana hampir 7 pounds (sekira 3,2 kg) kopi dikonsumsi tiap orang per tahunnya. Penelitian baru menemukan fakta bahwa minum kopi dan teh (kafein secara keseluruhan) membantu menurunkan risiko terhadap diabetes. Demikian menurut sebuah artikel yang dimuat Sheknows.

Jangan sepelekan kebutuhan kafein

Kafein tak hanya bisa dimanfaatkan untuk menemani kerja lembur Anda. Tak ada alasan untuk mengabaikan kebutuhan kafein (meski doktor Anda mengatakan sebaliknya), sebab kajian baru mengatakan, konsumsi kopi dan teh harian berkaitan dengan pengurangan risiko diabetes.

Kajian yang dipublikasikan pada the Archives of Internal Medicine meninjau sejumlah kajian lebih kecil yang membahas topik konsumsi kopi dan teh serta efeknya terhadap kesehatan. Para peneliti memperbandingkan 18 kajian dan memperoleh statistik penelitian mencapai lebih dari 450 ribu orang. Berdasarkan data terkait, ternyata setiap penambahan konsumsi cangkir kopi per hari sama dengan pengurangan risiko diabetes tipe 2 sebesar 7 persen.

Diabetes tipe 2 umum terjadi

Diabetes tipe 2 berhubungan dengan pertumbuhan obesitas dan diet yang salah. Diabetes tipe 2 adalah penyakit yang menyebabkan pankreas tidak bisa memproduksi insulin dalam jumlah cukup atau mencegah tubuh dari mendapatkan manfaat yang diperlukan dari insulin.

Idealnya, tubuh mendapatkan energi oleh pembuatan glukosa yang berasal dari makanan, seperti roti, kentang, beras, pasta, susu, dan buah. Untuk menggunakan glukosa ini, tubuh membutuhkan insulin, sebuah hormon yang membantu tubuh mengontrol tingkat glukosa atau gula dalam darah.

Bahaya diabetes bagi kesehatan

Lebih dari 90 persen diabetesi (penderita diabetes) menderita diabetes tipe 2. Diabetes meningkatkan risiko kerusakan pada pembuluh darah kecil dan sejumlah saraf karena peningkatan level glukosa dalam darah.

Diabetes juga meningkatkan risiko pengerasan pembuluh darah besar yang menyebabkan serangan jantung, stroke, atau berkurangnya aliran darah ke kaki. Diabetes pun memberi dampak pada mata dan ginjal.

Hubungan kopi dan teh dalam pencegahan diabetes


Hasil penelitian menunjukkan bahwa minum kopi secara teratur bisa mengurangi serangan diabetes tipe 2 sebanyak 7 persen per cangkirnya. Namun, sebelum Anda ke pergi Starbucks untuk memesan Venti Bold, Anda perlu tahu bahwa ada batasan minum kopi yang masih bisa ditolerir.

Takaran yang disarankan adalah 4 atau 5 cangkir (8 ons) kopi per hari. Meminum 4 cangkir kopi mampu mengurangi risiko diabetes tipe 2 sekira 25 persen dibandingkan orang yang tidak minum kopi sama sekali. Sebagai catatan, Venti Bold milik Starbucks berukuran 20 ons.

Teh juga punya manfaat sama


Kajian terbaru menemukan fakta bahwa teh juga memberikan manfaat yang sama seperti kopi. Minum sekira 4 atau 5 cangkir (8 ons) teh setiap hari akan menurunkan risiko diabetes tipe 2 sekira 25 persen dibandingkan orang yang tidak pernah minum teh.

Seperti kopi, manfaat kesehatan lainnya juga selalu dihubungkan dengan kebiasaan minum teh secara rutin. Kajian menekankan pada nilai antioksidan yang ditemukan pada teh hijau dan teh hitam untuk mengurangi risiko gastric (berhubungan dengan lambung), kanker kulit, serta kanker tenggorokan. Sejumlah manfaat ini berhubungan dengan mengonsumsi rata-rata 4 atau lebih cangkir teh per hari secara teratur.
Selengkapnya...

Sehat dengan Pola Makan Tepat

Sumber: okezone, 30 Desember 2009
http://lifestyle.okezone.com/read/2009/12/30/27/289384/sehat-dengan-pola-makan-tepat

POLA makan sangat menentukan kesehatan seseorang. Dengan pola makan yang salah, berbagai macam penyakit bakal mengintai Anda. Nah, mulai sekarang terapkan pola makan sehat.

Saat ini banyak sekali penyakit yang disebabkan gaya hidup yang salah, salah satunya adalah pola makan. Konsultan kesehatan Semanggi Specialist Clinic Jakarta dr Fiastuti Witjaksono SpGK mengatakan, untuk mencegah berbagai penyakit tersebut, pola makan sehat harus diterapkan. Pola makan sehat memiliki rumus yang tepat dan akurat, yaitu 3 J: jumlah, jadwal, dan jenis. Jumlah dengan memperhatikan jumlah kalori sesuai kebutuhan. Jadwal dengan memperhatikan waktu makan. Dan untuk jenis, yang perlu diperhatikan adalah komposisi karbohidrat, protein, dan lemak harus seimbang dan konsumsi cukup buah.

”3 J ini harus diperhatikan dan menjadi patokan untuk melakukan pola makan, termasuk diet yang sehat,” ujarnya saat menghadiri acara Warna-Warni Kasih Bunda dengan tema ”Hidup Sehat Ala Bunda Aktif” yang diadakan Bua-vita.

Hal tersebut juga berlaku untuk anak-anak yang memang sebaiknya diperhatikan pola konsumsinya oleh ibu. Fiastuti menuturkan menjadi ibu berarti juga menjadi manajer keluarga, termasuk pada masalah apa yang dikonsumsi keluarga haruslah diperhatikan ibu di rumah. ”Sarankan kepada seluruh keluarga untuk makan sesuai kebutuhan,” ujar dokter lulusan Universitas Indonesia ini.

Fiastuti menjelaskan, jumlah kandungan yang disarankan aman untuk dikonsumsi tubuh adalah 55–65 persen karbohidrat dari total jumlah kalori, yang umumnya terdapat dalam beras, gandum, terigu, buah-buahan, serta sayuran.

”Jangan lupa untuk mengurangi karbohidrat simpleks seperti gula, sirup, dan makanan manis, maksimal 3–5 sendok makan per harinya,” ungkapnya.

Dan untuk asupan protein yang tepat adalah 10–15 persen dari jumlah kalori, di mana protein itu sebaiknya yang berasal dari hewani dan nabati. Untuk lemak, sebaiknya jumlah yang dikonsumsi adalah 25–30 persen dari kalori total. Hindari makanan yang berlemak, seperti gorengan, serta selalu konsumsi lemak baik.

Untuk konsumsi makanan sehat, tidak ada salahnya juga untuk mengonsumsi makanan non-fat. Pada makanan tanpa lemak, kita mengenal bahwa makanan tersebut kandungan gizinya, terutama kandungan lemak, sudah dikurangi, tetapi ternyata semua makanan tersebut tidak semuanya bebas dari kalori.

Seperti yang dikatakan Nutrition Division, Kemang Medical Care Women & Children, Putri Gita Menur SKM, bahwa semua bahan makanan mengandung kalori, termasuk makanan tanpa lemak. Kalori itu sendiri didapat berdasarkan jumlah protein, karbohidrat, lemak, vitamin, dan mineral yang terkandung dari suatu bahan makanan.

”Makanan non-fat bukan berarti bebas kalori, hanya total kalori yang dihasilkan lebih rendah dibandingkan dengan makanan biasa, karena kandungan lemak yang cenderung lebih sedikit atau bahkan tidak mengandung lemak,” papar ahli gizi yang mengambil program D-3 di Politeknik Kesehatan (Politekkes) Jakarta ini.

Putri menjelaskan, mengonsumsi makanan rendah lemak akan membantu menurunkan kadar kolesterol darah dan mengurangi risiko penyakit degeneratif, seperti penyakit jantung koroner, diabetes melitus, atau hipertensi. Selain pola makan tak sehat, faktor lingkungan juga sangat memengaruhi kesehatan seseorang. Kini aneka zat radikal bebas menambah buruk kesehatan seseorang. Ahli gizi dari Semanggi Clinic, Plaza Semanggi, Jakarta Dr Samuel Oetoro SpGK, menekankan bahwa sangat penting sekali untuk menerapkan hidup sehat dengan mengonsumsi makanan dan minuman yang bergizi.

Selain itu, berolahraga juga sangat penting agar tubuh dapat menangkal radikal bebas yang dilepaskan oleh lingkungan yang tidak bersahabat.

”Memilih menu yang akan dikonsumsi sangat baik untuk kesehatan tubuh. Oleh sebab itu, lakukanlah pola hidup yang sehat dengan makanan tepat dan mengonsumsi buah-buahan,” ungkap dokter yang berpraktik di Klinik Nutrisi, kawasan Semanggi, Jakarta.
Selengkapnya...

Kurang Tidur Berisiko Diabetes

Sumber: okezone, 31 Desember 2009 
http://lifestyle.okezone.com/read/2009/12/31/27/289730/kurang-tidur-berisiko-diabetes

HATI-HATI bagi Anda yang mengalami kurang tidur. Sebuah penelitian di Amerika Serikat mengungkapkan bahwa orang yang memiliki masalah kesulitan tidur, berisiko besar terhadap penyakit diabetes.

Hal ini terungkap dari berdasarkan penelitian yang dilakukan peneliti dari Fakultas Kedokteran Universitas Chicago, Plamen Penev. Ia mengatakan, dari hasil studi yang dilakukannya, penyakit diabetes bukan hanya merupakan imbas dari gaya hidup yang tidak sehat. Termasuk di antaranya kebiasaan mengonsumsi makanan yang tidak sehat. Ataupun kurangnya aktivitas berolahraga.

”Namun, penyakit ini juga disebabkan kurangnya jumlah jam tidur,” kata Penev. Ia melakukan observasi pada 11 sukarelawan, yang terdiri atas lima pria dan enam wanita. Usia mereka sebagian besar adalah 40 tahun.

Partisipan ini memiliki kecenderungan kelebihan berat badan dan tidak banyak melakukan olahraga, tetapi mereka dalam keadaan yang sehat. Para sukarelawan tersebut rata-rata hanya tidur di bawah delapan jam dalam satu hari.

Selama 14 hari, mereka tinggal di laboratorium. Di tempat itu mereka tidur, beraktivitas, dan melakukan diet. Tekanan darah mereka pun terus dalam pengawasan. Selama diobservasi, mereka tidak diizinkan untuk melakukan olahraga dan sengaja disediakan makanan junk food sebagai makanan mereka sehari-hari.

Selama 14 hari berikutnya, mereka diizinkan untuk tidur selama delapan setengah jam setiap hari. Sementara pada periode berikutnya, para sukarelawan ini hanya boleh tidur lima setengah jam setiap hari. Ketika waktu tidur mereka dikurangi, mereka malah tidur larut malam dan bangun pagi hari yakni pukul 06.00.

Hidangan junk food yang disediakan, kurangnya aktivitas fisik, membuat berat badan mereka semakin bertambah. Kemampuan tubuh mereka untuk memproses glukosa pun berkurang sehingga meningkatkan risiko diabetes.

Ketika dites setelah tidurnya terganggu, sensitivitas insulin para sukarelawan ini berkurang 25 persen, yang menandakan mereka butuh lebih banyak insulin untuk mengurangi kadar glukosa. Namun, pembuangan insulin tidak meningkat pada 8 sukarelawan sehingga sebagai akibatnya, terjadi kenaikan glukosa dalam darah mereka sebanyak 23 persen.

Dalam penelitian ditemukan, ketika waktu tidur mereka berkurang, gula darah sukarelawan menjadi naik. Penev mengatakan, ”Ketika gaya hidup tidak sehat dikombinasikan dengan kurangnya jam tidur, memicu timbulnya risiko kelebihan berat badan dan membuka peluang bagi munculnya penyakit diabetes,” kata Penev seperti dikutip dari webmd.com.

Penyakit diabetes mellitus yang juga dikenal sebagai penyakit kencing manis atau penyakit gula darah adalah golongan penyakit kronis yang ditandai dengan peningkatan kadar gula dalam darah sebagai akibat adanya gangguan sistem metabolisme dalam tubuh karena organ pankreas tidak mampu memproduksi hormon insulin sesuai kebutuhan tubuh.


Insulin adalah salah satu hormon yang diproduksi pankreas yang bertanggung jawab untuk mengontrol jumlah/kadar gula dalam darah dan insulin dibutuhkan untuk mengubah (memproses) karbohidrat, lemak, dan protein menjadi energi yang diperlukan tubuh manusia. Hormon insulin berfungsi menurunkan kadar gula dalam darah.

Diperkirakan, jumlah orang Amerika yang mengidap penyakit ini dalam 25 tahun ke depan akan menjadi dua kali lipatnya. Faktor utamanya adalah obesitas, hal ini berdasarkan studi yang dilakukan peneliti Elbert S Huang dari universitas yang sama. ”Jika orang tidak mengubah gaya hidup mereka, dalam dua dekade berikutnya akan ada peningkatan jumlah penderita diabetes secara masif,” kata Elbert.

Elbert memperkirakan, pada tahun 2034, sebanyak 44 juta warga Amerika akan mengidap penyakit ini. Jumlah ini meningkat dari penderita diabetes di Amerika yang mencapai 23 juta orang. Sementara biaya untuk merawat pasien diabetes, diproyeksikan naik dari USD113 miliar menjadi USD336 miliar dalam satu tahun sebelum inflasi. Angka ini akan semakin melonjak jika pasien semakin tua dan bertambah lemah untuk mendapatkan perawatan yang lebih intensif.

Penyakit ini menyerang siapa saja, tanpa melihat umur ataupun jenis kelamin. Adapun jika mengira hanya orang yang menderita kelebihan berat badan yang mengidap penyakit ini, maka pikir lagi. Tidak sedikit artis Hollywood yang menderita penyakit ini. Sebut saja aktris cantik pemeran Cat Woman Halle Berry yang menderita diabetes tipe dua.

Sementara, penyanyi dari grup Jonas Brothers Nick Jonas, menderita penyakit diabetes tipe satu. Ketika divonis mengidap diabetes, gula darahnya lebih dari 700, padahal gula darah normal antara 70 hingga 120. Jonas kemudian langsung dilarikan ke rumah sakit.

Sebelumnya, Jonas mengaku memiliki gejala kehilangan berat badan dan rasa haus yang sering kali. Di belakang Jonas maupun Halle, masih ada sederet figur papan atas lainnya. Seperti Larry King, Randy Jackson, ataupun Salma Hayek. Diabetes mellitus tipe satu adalah diabetes yang bergantung pada insulin Pada kondisi ini tubuh kekurangan hormon insulin, dikenal dengan istilah insulin dependent diabetes mellitus (IDDM).

Hal ini disebabkan hilangnya sel beta penghasil insulin pada pulau-pulau Langerhans pankreas. Diabetes tipe 1 banyak ditemukan pada balita, anak-anak, dan remaja.

Sampai saat ini, diabetes mellitus tipe satu hanya dapat diobati dengan pemberian terapi insulin yang dilakukan secara terus-menerus berkesinambungan. Riwayat keluarga, diet, dan faktor lingkungan sangat memengaruhi perawatan penderita diabetes tipe satu.

Pada penderita diabetes tipe satu haruslah diperhatikan pengontrolan dan memonitor kadar gula darahnya, sebaiknya menggunakan alat tes gula darah. Terutama pada anak-anak atau balita yang mana mereka sangat mudah mengalami dehidrasi, sering muntah dan mudah terserang berbagai penyakit.

Sementara, pada diabetes tipe dua, hormon insulin dalam tubuh tidak dapat berfungsi dengan semestinya, dikenal dengan istilah non-insulin dependent diabetes mellitus (NIDDM). Hal ini karena berbagai kemungkinan seperti kecacatan dalam produksi insulin, resistensi terhadap insulin atau berkurangnya sensitivitas (respons) sel dan jaringan tubuh terhadap insulin yang ditandai dengan meningkatnya kadar insulin di dalam darah.
Selengkapnya...

20 November 2009

Elegi Minah dan Tiga Buah Kakao di Meja Hijau

RASA KEADILAN
Elegi Minah dan Tiga Buah Kakao di Meja Hijau...

Sumber: Kompas, Jumat 20 November 2009

http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/11/20/02520329/elegi.minah.dan.tiga.buah.kakao.di.meja.hijau...


Oleh Madina Nusrat

Minah (55) hanya dapat meremas kedua belah tangannya untuk menepis kegalauan agar tetap tegar saat menyampaikan pembelaan atau pleidoi di hadapan majelis hakim di Pengadilan Negeri Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Kamis (19/11).

Tanpa didampingi pengacara, ia menceritakan bahwa alasannya memetik tiga buah kakao di kebun PT Rumpun Sari Antan 4, pertengahan Agustus lalu, adalah untuk dijadikan bibit.

Nenek tujuh cucu yang buta huruf ini sesekali melemparkan pandangan kepada beberapa orang yang dikenal guna memperoleh kekuatan. Ia berusaha memastikan bahwa pembelaannya dapat meyakinkan majelis hakim.

Dengan menggunakan bahasa Jawa ngapak (dialek Banyumasan) bercampur bahasa Indonesia, Minah menuturkan, tiga buah kakao itu untuk menambah bibit tanaman kakao di kebunnya di Dusun Sidoharjo, Desa Darmakradenan, Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas. ”Kalau dipenjara, inyong (saya) enggak mau Pak Hakim. Namung (cuma) tiga buah kakao,” ujar Minah kepada majelis hakim.

Minah mengaku sudah menanam 200 bibit pohon kakao di kebunnya, tetapi ia merasa jumlah itu masih kurang. Namun, belum sempat buah tersebut dibawa pulang, seorang mandor perkebunan, Sutarno, menegurnya. Minah lantas meminta maaf dan meminta Sutarno untuk membawa ketiga buah kakao tersebut.

Alih-alih permintaan maafnya diterima, manajemen PT RSA 4 malah melaporkan Minah ke Kepolisian Sektor Ajibarang, akhir Agustus lalu. Laporan itu berlanjut pada pemeriksaan kepolisian dan berakhir di meja hijau.

Minah sudah berusaha melepaskan diri dari jerat hukum. Tapi usahanya sia-sia. Hukum yang mestinya mengayomi masyarakat dengan menegakkan keadilan, bagi nenek Minah, ternyata tak punya nurani. Hukum kita rupanya tak memberi ampun bagi orang kecil seperti Minah. Tetapi, koruptor pencuri miliaran rupiah uang rakyat melenggang bebas dari sanksi hukum.

Di Jawa Tengah, misalnya, empat bekas anggota DPRD dan aparat Pemerintah Kota Semarang yang menjadi terpidana kasus korupsi dana APBD Kota Semarang tahun 2004 sebesar Rp 2,16 miliar divonis bebas. Mereka bebas dari sanksi hukum setelah Mahkamah Agung (MA) mengabulkan permohonan peninjauan kembali mereka. MA menyatakan keempat terpidana itu tidak melakukan tindak pidana.

Muramnya penuntasan masalah hukum di Jateng masih ditambah lagi dengan putusan hakim yang hanya memberikan hukuman percobaan kepada pelaku tindak pidana korupsi. Salah satunya dijatuhkan kepada Ketua DPRD Jateng periode 1999-2004, Mardijo. Terdakwa korupsi dobel anggaran APBD Jateng sebesar Rp 14,8 miliar ini hanya diberi hukuman percobaan selama dua tahun.

Minah memang tak mengerti masalah hukum seperti para terpidana dan terdakwa kasus korupsi itu. Namun, dengan berkata jujur, ia memiliki keyakinan bahwa ia mampu menghadapi rimba hukum formal yang tidak dimengertinya sama sekali.

Terhitung tanggal 13 Oktober sampai 1 November, Minah menjadi tahanan rumah, yakni sejak kasusnya dilimpahkan dari kepolisian kepada Kejaksaan Negeri Purwokerto. Sejak itu hingga sekarang, ia harus lima kali pergi pulang memenuhi panggilan pemeriksaan di Kejaksaan Negeri Purwokerto, dan persidangan di Pengadilan Negeri Purwokerto.

Rumah Minah di dusun, di pelosok bukit. Letaknya sekitar 15 kilometer dari jalan utama Ajibarang-Wangon. Perjalanan ke Purwokerto masih menempuh jarak sejauh 25 kilometer lagi. Jarak sepanjang itulah yang harus ditempuh Minah setiap kali memenuhi panggilan Kejaksaan Negeri Purwokerto dan Pengadilan Negeri Purwokerto.

Satu kali perjalanan ke Purwokerto, Minah mengaku, bisa menghabiskan Rp 50.000 untuk naik ojek dan angkutan umum. Ditambah lagi untuk makan selama di perjalanan. ”Kadang disangoni anak kula (kadang dibiayai anak saya),” katanya.

Sebelum menyampaikan putusan, majelis hakim juga pernah bertanya kepada Minah, siapa lagi yang memberikannya ongkos ke Purwokerto. ”Saya juga pernah dikasih Rp 50.000 sama ibu jaksa, untuk ongkos pulang,” kata Minah sambil menoleh kepada jaksa penuntut umum Noor Haniah.

Noor Haniah yang mendengar jawaban itu hanya dapat memandang lurus ke Minah.

Elegi Minah tentang tiga kakao yang diambilnya melarutkan perasaan majelis hakim. Saat membacakan pertimbangan putusan hukum, Ketua Majelis Hakim Muslich Bambang Luqmono sempat bersuara tersendat karena menahan tangis.

Muslich mengaku tersentuh karena teringat akan orangtuanya yang juga petani.

Majelis hakim memutuskan, Minah dihukum percobaan penjara 1 bulan 15 hari. Jadi, Minah tak perlu menjalani hukuman itu, dengan catatan tidak melakukan tindak pidana lain selama masa percobaan tiga bulan.

Persidangan ditutup dengan tepuk tangan para warga yang mengikuti persidangan tersebut.

Kasus Minah bisa menjadi contoh bahwa penuntasan masalah hukum di negeri ini masih saja berlangsung tanpa mendengarkan hati nurani, yaitu rasa keadilan....

Selengkapnya...

11 November 2009

Baru Lulus setelah 950 Kali Ujian SIM

Sumber: Jawapos, Selasa 10 November 2009
http://www.jawapos.co.id/halaman/index.php?act=detail&nid=99549

SEOUL - Perjuangan panjang Cha Sa-Soon tidak sia-sia. Setelah 950 kali mengikuti ujian teori guna mendapatkan surat izin mengemudi (SIM), perempuan Korea Selatan (Korsel) itu dinyatakan lulus. Tapi, masih ada ujian praktik yang harus dilalui sebelum dirinya benar-benar memperoleh SIM.

''Saya merasa sangat malu pada diri sendiri karena terus-menerus gagal. Tapi, saya tidak bisa menyerah begitu saja,'' tegas Cha dalam wawancara dengan Kantor Berita Yonhap sebagaimana dikutip Agence France-Presse Minggu (8/11).

Empat anak Cha menyambut gembira berita kelulusan ibu mereka. Maklum, usia sang ibu sudah tidak muda untuk ukuran pencari SIM. Yakni, 68 tahun. Konon, demi mencapai kelulusan, Cha rela mengikuti ujian teori SIM setiap hari. Itu dia lakukan sejak April 2005.

Karena itu, biaya yang dikeluarkan pebisnis sayuran tersebut tidak sedikit. Total nominalnya, menurut Associated Press, lebih dari KRW 5 juta (sekitar Rp 40,6 juta). Itu belum termasuk ongkos perjalanan tiap kali mengikuti ujian di biro layanan SIM Kota Jeonju, sekitar 210 km dari Seoul.

Supaya bisa dinyatakan lulus, peserta ujian teori SIM di Korsel harus mendapatkan skor minimal 60. Selama lebih dari empat tahun mengikuti ujian teori, Cha tidak pernah mencapai skor minimal tersebut. Skor yang dia peroleh berada pada kisaran 30-50. ''Hari ini, dia akhirnya bisa mencapai 60 poin,'' ujar Choi Young-chul, salah seorang polisi yang berdinas di biro layanan SIM tersebut, Rabu (4/11).

Kepada media, Cha mengaku sangat membutuhkan SIM untuk mendukung bisnisnya. Setiap hari, dia keliling dari satu rumah ke rumah yang lain menawarkan sayuran serta peralatan rumah tangga menggunakan gerobak. Setelah mengantongi SIM, dia berencana menjajakan dagangannya menggunakan mobil. Dengan demikian, wilayah yang dijangkau bisa lebih luas dan dagangan yang dibawa lebih banyak.

''Tapi, saya masih harus melewati ujian praktik,'' cetus Cha -yang merahasiakan perihal mengikuti ujian SIM itu dari para tetangganya- kepada The Korea Times.

Kali ini, dia yakin bisa lulus dalam waktu lebih singkat. Sebab, bagi dia, ujian praktik akan jauh lebih mudah daripada ujian teori. (hep/ttg)
Selengkapnya...

03 November 2009

Gaji Menteri dan Penjabat Di Tanggung Negara

GAJI MENTERI DAN PEJABAT
Duh, Enak (dan Tak Enaknya) Ditanggung Negara...

Sumber : Kompas, Senin 2 November 2009 Oleh Suhartono
http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/11/02/02580967/duh.enak.dan.tak.enaknya.ditanggung.negara...

Sebanyak 34 menteri baru yang didampingi para istri/suami menunjukkan wajah sumringah dan berseri-seri seusai Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melantik mereka di Istana Negara, Jakarta, Kamis (22/10).

Maklumlah, tergambar dalam benak mereka, sang suami atau istri bakal dipanggil dengan julukan ”Pak atau Bu Menteri” karena akan memimpin sebuah departemen atau kementerian negara. Adapun sang istri akan memimpin sebuah Dharma Wanita di lingkungan departemen atau kementerian dan lembaga.

Bicara soal fasilitas dan tanggungan yang diberikan negara kepada para menteri dan pejabat tinggi negara, ibaratnya ”dari rumah sampai keluar rumah” semuanya sudah tersedia.

Diawali dengan gaji pokok ditambah tunjangan istri dan anak bersih sebulan sekitar Rp 19 juta. Adapun gaji pokok dan tunjangan pejabat tinggi negara, termasuk Presiden dan Wapres, Rp 45-Rp 60 juta sebulan. Di luar gaji, seorang masih mendapat tunjangan kelebihan jam kerja senilai Rp 7,5 juta. Artinya, gaji yang diterima sesuai slip tak selalu sama dengan pendapatannya selama sebulan.

Gaji menteri dan pejabat tinggi negara tentu cukup besar jika dibandingkan dengan gaji terendah pegawai negeri sipil (PNS) golongan IA dengan masa kerja nol tahun pada tahun ini yang ditetapkan sebesar Rp 1,040 juta per bulan. Bahkan, juga dengan gaji tertinggi PNS golongan IVE yang tercatat sebesar Rp 3,4 juta per bulan.

Padahal, gaji menteri Rp 19 juta itu juga belum termasuk honor-honor lain apabila si menteri menjadi anggota lembaga lain atau anggota komisi atau badan lain di luar tugas utamanya. Kalau ia tercatat menjadi anggota komisi atau badan atau komisaris sebuah BUMN, minimal ia bisa mengantongi honor dari Rp 1 juta hingga Rp 25 juta lagi.

Bisa pakai DOM
Untuk melancarkan tugas dan tanggung jawabnya sehari-hari, si menteri masih bisa memanfaatkan dana taktis yang nomenklatur (penamaan)-nya di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara disebut Dana Operasional Menteri (DOM). Dana ini jumlahnya berbeda-beda setiap menteri atau kementerian atau pejabat tinggi negara, bergantung pada beban tanggung jawabnya.

Ada yang menerima Rp 100 juta, tetapi ada juga yang menerima Rp 150 juta. ”Setiap menteri memiliki pembebanan tugas dan tanggung jawab yang berbeda-beda,” kata seorang mantan menteri yang enggan disebutkan namanya, Kamis (29/10). Menurut dia, seperti Menteri Keuangan dan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas mengantongi DOM sebesar Rp 150 juta sebulan.

Paskah Suzetta, mantan Menneg PPN/Kepala Bappenas membenarkan bahwa ia menerima DOM Rp 150 juta. ”Akan tetapi, yang saya pakai hanya 10-20 persen saja. Itu pun untuk pembelian tiket ke daerah ataupun ke luar negeri, bayar polisi untuk pembuka jalan dan lainnya. Tetapi, itu semua ada kuitansi sebagai bukti pemakaian,” ungkap Paskah.

Itu urusan gaji dan tunjangan serta dana taktis sang menteri. Untuk urusan pelayanan, si menteri juga mendapat ”pelayanan” seorang ajudan yang melekat 24 jam per hari bilamana diperlukan. Ajudan akan siap melayani menteri, mulai dari siap siaga di depan pintu ruang kerja menteri sampai dengan duduk di kursi depan mobil dinas menteri.

Sebuah Toyota Camry seharga Rp 350 juta, berikut seorang sopir, akan menemani menteri ke mana pun pergi. Ia juga tidak perlu merogoh kantongnya untuk bahan bakar, uang perawatan mobil, dan karcis tol.

”Kalau menteri mau pakai sirene yang ngiung ngiung dan pengawalan, menteri bisa saja meminta bantuan polisi. Otomatis DOM-nya akan banyak terpakai karena dananya dari situ,” ujar Paskah, yang menolak menggunakan sirene dan mobil pembuka atau kendaraan bermotor karena risi.

Bawakan tas

Seorang ajudan menteri juga harus melayani mulai dari menerima dan menyambungkan telepon, terkecuali jika ada telepon dari Presiden, sang pejabat harus mengangkatnya sendiri. Bilamana diperlukan, ajudan juga mengatur jadwal menerima tamu sampai membawakan tas.

Di rumah, seorang menteri dan pejabat tinggi negara juga mendapat fasilitas negara, mulai dari rumah dinas di kompleks para menteri hingga biaya untuk dua pembantu rumah tangga, seorang tukang kebun, dan dua atau tiga satpam yang bisa bergantian menjaga rumah. Listrik dan air PAM pun dijamin.

Di sebuah lembaga tinggi negara, seorang satpam pernah bercerita harus ikut membantu membersihkan rumah dinas pejabat tinggi negara, seperti menyapu dan membersihkan lantai. ”Jika dihitung-hitung, total pengeluaran untuk seorang menteri per bulannya itu bisa mencapai Rp 200 juta-Rp 250 juta,” ungkap Paskah, yang bersama Menkeu banyak mengurusi anggaran negara.

Saat ditanya apakah ia merasa enak menjadi menteri? Paskah menjawab, enak dan tidak enak. ”Jangan dilihat enaknya saja dari sisi fasilitas dan dana yang ditanggung negara, tetapi juga beratnya memikul tanggung jawab segudang untuk negara,” tambahnya.

”Hilang” rumah

Sebagai menteri yang berasal dari partai politik seperti dirinya, Paskah mengaku harus mengeluarkan dana ekstra yang berasal dari kantong pribadinya.

”Sebagai menteri parpol, kita harus siap mengeluarkan dana apabila ada permintaan sumbangan dari para konstituen di daerah. Juga untuk bantuan-bantuan sosial lainnya jika ada proposal. Kalau ditotal, pengeluaran saya cukup besar selama menjadi menteri. Minimal, saya kehilangan satu rumah,” katanya.

Mantan Menteri Kehutanan MS Kaban justru mempertanyakan ukuran enaknya menjadi menteri atau pejabat. ”Fasilitas rumah menteri? Lihatlah, rumahnya sudah tua dan lingkungannya juga tidak nyaman lagi. Mobil dinas? Saya kira biasa saja,” tandas Kaban.

”Kalau gaji Rp 19 juta, memang sudah tahu. Akan tetapi, mau main proyek tidak mungkin. Orang sekarang takut dengan penyadapan. Padahal, permintaan sumbangan luar biasa jumlahnya. Sementara beban pekerjaan itu sangat tinggi sekali,” papar Kaban.

”Nombok”

Mantan Menneg Pemberdayaan Perempuan Meutia Farida Hatta membenarkan besaran gaji yang diterima menteri setiap bulan sebesar Rp 19 juta. Namun, gaji menteri itu sudah lama tidak naik. Sesuai slip gaji, dalam dua tahun gaji itu hanya naik Rp 10.000.

”Padahal, sering kali saya mengeluarkan dana yang lebih dari gaji yang diterima. Jumlahnya bisa mencapai Rp 10 juta hingga Rp 20 juta,” kata Meutia.

Setiap kali kunjungan ke daerah, Meutia menghabiskan dana sekitar Rp 4 juta untuk bantuan kepada masyarakat. Itu tidak termasuk dana program departemen.

Menurut Meutia, sejumlah menteri lain pun pernah mengungkapkan keluhan serupa. Namun, ia tak mempermasalahkan bila harus mengambil uang pribadi karena menjadi menteri adalah sebuah amanah.

Seorang menteri di bidang ekonomi disebut-sebut juga mengaku ”kehilangan” tak hanya rumahnya, tetapi juga sebidang tanah dan mobil mewahnya untuk menopang operasionalisasi jabatan menterinya.

Inilah sisi tidak mengenakkan untuk menjadi seorang menteri. ”Kalau menteri ingin lebih terhormat dan bergaya, memang semakin besar kocek yang harus ia keluarkan,” ungkap Paskah.

Mantan Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Aburizal Bakrie, yang akrab disapa Ical, saat ditanya Kompas terus terang mengaku terpaksa menjual sejumlah saham perusahaannya untuk menomboki pengeluaran yang diakuinya sangat besar sekali sebagai menteri senior.

”Jabatan sebagai menko itu hanya untuk berbakti dan terus terang tidak enak. Karena dari segi dana, lebih banyak kekurangan daripada kelebihannya. Kalau untuk berbakti kepada negara, tentu enak-enak saja menjadi menteri. Itu sebuah kehormatan,” ujar Ical.

Ical menambahkan, ”Menjadi menteri tidak bisa untuk mencari rezeki. Malah uang pribadi yang banyak terpakai. Punya saham terpaksa juga dijual untuk menomboki karena kalau tidak begitu, tidak cukup.”

”Mengapa nombok? Misalnya, kalau kita harus cepat sampai ke tempat tujuan seperti Papua, ya terpaksa pakai uang pribadi. Ini yang tidak enak kalau menjadi menteri,” ujar Ical terkekeh. Ical disebut-sebut acap kali menggunakan pesawat pribadinya untuk menjalankan tugas negara ke tempat-tempat yang jauh di pelosok.

Terkait itu, ia setuju jika gaji menteri dinaikkan. ”Itu terserah pada hasil kerja. Orang tidak bisa diukur dari jumlah yang diterimanya, tetapi dari hasil kerjanya. Apakah itu kerjanya cukup besar dan setara dengan gaji yang diterimanya. Dalam alam reformasi ini, kerja menteri memang bertambah, tetapi juga harus disertai dengan kenaikan gajinya,” papar Ical.

Setelah lima tahun tidak pernah naik, gaji pejabat diusulkan dinaikkan. Pertanyaannya, apakah tepat waktunya pada saat para menteri dan pejabat tinggi negara belum menunjukkan kinerja yang sesungguhnya bagi kesejahteraan rakyat?
Selengkapnya...