20 November 2009

Elegi Minah dan Tiga Buah Kakao di Meja Hijau

RASA KEADILAN
Elegi Minah dan Tiga Buah Kakao di Meja Hijau...

Sumber: Kompas, Jumat 20 November 2009

http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/11/20/02520329/elegi.minah.dan.tiga.buah.kakao.di.meja.hijau...


Oleh Madina Nusrat

Minah (55) hanya dapat meremas kedua belah tangannya untuk menepis kegalauan agar tetap tegar saat menyampaikan pembelaan atau pleidoi di hadapan majelis hakim di Pengadilan Negeri Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Kamis (19/11).

Tanpa didampingi pengacara, ia menceritakan bahwa alasannya memetik tiga buah kakao di kebun PT Rumpun Sari Antan 4, pertengahan Agustus lalu, adalah untuk dijadikan bibit.

Nenek tujuh cucu yang buta huruf ini sesekali melemparkan pandangan kepada beberapa orang yang dikenal guna memperoleh kekuatan. Ia berusaha memastikan bahwa pembelaannya dapat meyakinkan majelis hakim.

Dengan menggunakan bahasa Jawa ngapak (dialek Banyumasan) bercampur bahasa Indonesia, Minah menuturkan, tiga buah kakao itu untuk menambah bibit tanaman kakao di kebunnya di Dusun Sidoharjo, Desa Darmakradenan, Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas. ”Kalau dipenjara, inyong (saya) enggak mau Pak Hakim. Namung (cuma) tiga buah kakao,” ujar Minah kepada majelis hakim.

Minah mengaku sudah menanam 200 bibit pohon kakao di kebunnya, tetapi ia merasa jumlah itu masih kurang. Namun, belum sempat buah tersebut dibawa pulang, seorang mandor perkebunan, Sutarno, menegurnya. Minah lantas meminta maaf dan meminta Sutarno untuk membawa ketiga buah kakao tersebut.

Alih-alih permintaan maafnya diterima, manajemen PT RSA 4 malah melaporkan Minah ke Kepolisian Sektor Ajibarang, akhir Agustus lalu. Laporan itu berlanjut pada pemeriksaan kepolisian dan berakhir di meja hijau.

Minah sudah berusaha melepaskan diri dari jerat hukum. Tapi usahanya sia-sia. Hukum yang mestinya mengayomi masyarakat dengan menegakkan keadilan, bagi nenek Minah, ternyata tak punya nurani. Hukum kita rupanya tak memberi ampun bagi orang kecil seperti Minah. Tetapi, koruptor pencuri miliaran rupiah uang rakyat melenggang bebas dari sanksi hukum.

Di Jawa Tengah, misalnya, empat bekas anggota DPRD dan aparat Pemerintah Kota Semarang yang menjadi terpidana kasus korupsi dana APBD Kota Semarang tahun 2004 sebesar Rp 2,16 miliar divonis bebas. Mereka bebas dari sanksi hukum setelah Mahkamah Agung (MA) mengabulkan permohonan peninjauan kembali mereka. MA menyatakan keempat terpidana itu tidak melakukan tindak pidana.

Muramnya penuntasan masalah hukum di Jateng masih ditambah lagi dengan putusan hakim yang hanya memberikan hukuman percobaan kepada pelaku tindak pidana korupsi. Salah satunya dijatuhkan kepada Ketua DPRD Jateng periode 1999-2004, Mardijo. Terdakwa korupsi dobel anggaran APBD Jateng sebesar Rp 14,8 miliar ini hanya diberi hukuman percobaan selama dua tahun.

Minah memang tak mengerti masalah hukum seperti para terpidana dan terdakwa kasus korupsi itu. Namun, dengan berkata jujur, ia memiliki keyakinan bahwa ia mampu menghadapi rimba hukum formal yang tidak dimengertinya sama sekali.

Terhitung tanggal 13 Oktober sampai 1 November, Minah menjadi tahanan rumah, yakni sejak kasusnya dilimpahkan dari kepolisian kepada Kejaksaan Negeri Purwokerto. Sejak itu hingga sekarang, ia harus lima kali pergi pulang memenuhi panggilan pemeriksaan di Kejaksaan Negeri Purwokerto, dan persidangan di Pengadilan Negeri Purwokerto.

Rumah Minah di dusun, di pelosok bukit. Letaknya sekitar 15 kilometer dari jalan utama Ajibarang-Wangon. Perjalanan ke Purwokerto masih menempuh jarak sejauh 25 kilometer lagi. Jarak sepanjang itulah yang harus ditempuh Minah setiap kali memenuhi panggilan Kejaksaan Negeri Purwokerto dan Pengadilan Negeri Purwokerto.

Satu kali perjalanan ke Purwokerto, Minah mengaku, bisa menghabiskan Rp 50.000 untuk naik ojek dan angkutan umum. Ditambah lagi untuk makan selama di perjalanan. ”Kadang disangoni anak kula (kadang dibiayai anak saya),” katanya.

Sebelum menyampaikan putusan, majelis hakim juga pernah bertanya kepada Minah, siapa lagi yang memberikannya ongkos ke Purwokerto. ”Saya juga pernah dikasih Rp 50.000 sama ibu jaksa, untuk ongkos pulang,” kata Minah sambil menoleh kepada jaksa penuntut umum Noor Haniah.

Noor Haniah yang mendengar jawaban itu hanya dapat memandang lurus ke Minah.

Elegi Minah tentang tiga kakao yang diambilnya melarutkan perasaan majelis hakim. Saat membacakan pertimbangan putusan hukum, Ketua Majelis Hakim Muslich Bambang Luqmono sempat bersuara tersendat karena menahan tangis.

Muslich mengaku tersentuh karena teringat akan orangtuanya yang juga petani.

Majelis hakim memutuskan, Minah dihukum percobaan penjara 1 bulan 15 hari. Jadi, Minah tak perlu menjalani hukuman itu, dengan catatan tidak melakukan tindak pidana lain selama masa percobaan tiga bulan.

Persidangan ditutup dengan tepuk tangan para warga yang mengikuti persidangan tersebut.

Kasus Minah bisa menjadi contoh bahwa penuntasan masalah hukum di negeri ini masih saja berlangsung tanpa mendengarkan hati nurani, yaitu rasa keadilan....

Selengkapnya...

11 November 2009

Baru Lulus setelah 950 Kali Ujian SIM

Sumber: Jawapos, Selasa 10 November 2009
http://www.jawapos.co.id/halaman/index.php?act=detail&nid=99549

SEOUL - Perjuangan panjang Cha Sa-Soon tidak sia-sia. Setelah 950 kali mengikuti ujian teori guna mendapatkan surat izin mengemudi (SIM), perempuan Korea Selatan (Korsel) itu dinyatakan lulus. Tapi, masih ada ujian praktik yang harus dilalui sebelum dirinya benar-benar memperoleh SIM.

''Saya merasa sangat malu pada diri sendiri karena terus-menerus gagal. Tapi, saya tidak bisa menyerah begitu saja,'' tegas Cha dalam wawancara dengan Kantor Berita Yonhap sebagaimana dikutip Agence France-Presse Minggu (8/11).

Empat anak Cha menyambut gembira berita kelulusan ibu mereka. Maklum, usia sang ibu sudah tidak muda untuk ukuran pencari SIM. Yakni, 68 tahun. Konon, demi mencapai kelulusan, Cha rela mengikuti ujian teori SIM setiap hari. Itu dia lakukan sejak April 2005.

Karena itu, biaya yang dikeluarkan pebisnis sayuran tersebut tidak sedikit. Total nominalnya, menurut Associated Press, lebih dari KRW 5 juta (sekitar Rp 40,6 juta). Itu belum termasuk ongkos perjalanan tiap kali mengikuti ujian di biro layanan SIM Kota Jeonju, sekitar 210 km dari Seoul.

Supaya bisa dinyatakan lulus, peserta ujian teori SIM di Korsel harus mendapatkan skor minimal 60. Selama lebih dari empat tahun mengikuti ujian teori, Cha tidak pernah mencapai skor minimal tersebut. Skor yang dia peroleh berada pada kisaran 30-50. ''Hari ini, dia akhirnya bisa mencapai 60 poin,'' ujar Choi Young-chul, salah seorang polisi yang berdinas di biro layanan SIM tersebut, Rabu (4/11).

Kepada media, Cha mengaku sangat membutuhkan SIM untuk mendukung bisnisnya. Setiap hari, dia keliling dari satu rumah ke rumah yang lain menawarkan sayuran serta peralatan rumah tangga menggunakan gerobak. Setelah mengantongi SIM, dia berencana menjajakan dagangannya menggunakan mobil. Dengan demikian, wilayah yang dijangkau bisa lebih luas dan dagangan yang dibawa lebih banyak.

''Tapi, saya masih harus melewati ujian praktik,'' cetus Cha -yang merahasiakan perihal mengikuti ujian SIM itu dari para tetangganya- kepada The Korea Times.

Kali ini, dia yakin bisa lulus dalam waktu lebih singkat. Sebab, bagi dia, ujian praktik akan jauh lebih mudah daripada ujian teori. (hep/ttg)
Selengkapnya...

03 November 2009

Gaji Menteri dan Penjabat Di Tanggung Negara

GAJI MENTERI DAN PEJABAT
Duh, Enak (dan Tak Enaknya) Ditanggung Negara...

Sumber : Kompas, Senin 2 November 2009 Oleh Suhartono
http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/11/02/02580967/duh.enak.dan.tak.enaknya.ditanggung.negara...

Sebanyak 34 menteri baru yang didampingi para istri/suami menunjukkan wajah sumringah dan berseri-seri seusai Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melantik mereka di Istana Negara, Jakarta, Kamis (22/10).

Maklumlah, tergambar dalam benak mereka, sang suami atau istri bakal dipanggil dengan julukan ”Pak atau Bu Menteri” karena akan memimpin sebuah departemen atau kementerian negara. Adapun sang istri akan memimpin sebuah Dharma Wanita di lingkungan departemen atau kementerian dan lembaga.

Bicara soal fasilitas dan tanggungan yang diberikan negara kepada para menteri dan pejabat tinggi negara, ibaratnya ”dari rumah sampai keluar rumah” semuanya sudah tersedia.

Diawali dengan gaji pokok ditambah tunjangan istri dan anak bersih sebulan sekitar Rp 19 juta. Adapun gaji pokok dan tunjangan pejabat tinggi negara, termasuk Presiden dan Wapres, Rp 45-Rp 60 juta sebulan. Di luar gaji, seorang masih mendapat tunjangan kelebihan jam kerja senilai Rp 7,5 juta. Artinya, gaji yang diterima sesuai slip tak selalu sama dengan pendapatannya selama sebulan.

Gaji menteri dan pejabat tinggi negara tentu cukup besar jika dibandingkan dengan gaji terendah pegawai negeri sipil (PNS) golongan IA dengan masa kerja nol tahun pada tahun ini yang ditetapkan sebesar Rp 1,040 juta per bulan. Bahkan, juga dengan gaji tertinggi PNS golongan IVE yang tercatat sebesar Rp 3,4 juta per bulan.

Padahal, gaji menteri Rp 19 juta itu juga belum termasuk honor-honor lain apabila si menteri menjadi anggota lembaga lain atau anggota komisi atau badan lain di luar tugas utamanya. Kalau ia tercatat menjadi anggota komisi atau badan atau komisaris sebuah BUMN, minimal ia bisa mengantongi honor dari Rp 1 juta hingga Rp 25 juta lagi.

Bisa pakai DOM
Untuk melancarkan tugas dan tanggung jawabnya sehari-hari, si menteri masih bisa memanfaatkan dana taktis yang nomenklatur (penamaan)-nya di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara disebut Dana Operasional Menteri (DOM). Dana ini jumlahnya berbeda-beda setiap menteri atau kementerian atau pejabat tinggi negara, bergantung pada beban tanggung jawabnya.

Ada yang menerima Rp 100 juta, tetapi ada juga yang menerima Rp 150 juta. ”Setiap menteri memiliki pembebanan tugas dan tanggung jawab yang berbeda-beda,” kata seorang mantan menteri yang enggan disebutkan namanya, Kamis (29/10). Menurut dia, seperti Menteri Keuangan dan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas mengantongi DOM sebesar Rp 150 juta sebulan.

Paskah Suzetta, mantan Menneg PPN/Kepala Bappenas membenarkan bahwa ia menerima DOM Rp 150 juta. ”Akan tetapi, yang saya pakai hanya 10-20 persen saja. Itu pun untuk pembelian tiket ke daerah ataupun ke luar negeri, bayar polisi untuk pembuka jalan dan lainnya. Tetapi, itu semua ada kuitansi sebagai bukti pemakaian,” ungkap Paskah.

Itu urusan gaji dan tunjangan serta dana taktis sang menteri. Untuk urusan pelayanan, si menteri juga mendapat ”pelayanan” seorang ajudan yang melekat 24 jam per hari bilamana diperlukan. Ajudan akan siap melayani menteri, mulai dari siap siaga di depan pintu ruang kerja menteri sampai dengan duduk di kursi depan mobil dinas menteri.

Sebuah Toyota Camry seharga Rp 350 juta, berikut seorang sopir, akan menemani menteri ke mana pun pergi. Ia juga tidak perlu merogoh kantongnya untuk bahan bakar, uang perawatan mobil, dan karcis tol.

”Kalau menteri mau pakai sirene yang ngiung ngiung dan pengawalan, menteri bisa saja meminta bantuan polisi. Otomatis DOM-nya akan banyak terpakai karena dananya dari situ,” ujar Paskah, yang menolak menggunakan sirene dan mobil pembuka atau kendaraan bermotor karena risi.

Bawakan tas

Seorang ajudan menteri juga harus melayani mulai dari menerima dan menyambungkan telepon, terkecuali jika ada telepon dari Presiden, sang pejabat harus mengangkatnya sendiri. Bilamana diperlukan, ajudan juga mengatur jadwal menerima tamu sampai membawakan tas.

Di rumah, seorang menteri dan pejabat tinggi negara juga mendapat fasilitas negara, mulai dari rumah dinas di kompleks para menteri hingga biaya untuk dua pembantu rumah tangga, seorang tukang kebun, dan dua atau tiga satpam yang bisa bergantian menjaga rumah. Listrik dan air PAM pun dijamin.

Di sebuah lembaga tinggi negara, seorang satpam pernah bercerita harus ikut membantu membersihkan rumah dinas pejabat tinggi negara, seperti menyapu dan membersihkan lantai. ”Jika dihitung-hitung, total pengeluaran untuk seorang menteri per bulannya itu bisa mencapai Rp 200 juta-Rp 250 juta,” ungkap Paskah, yang bersama Menkeu banyak mengurusi anggaran negara.

Saat ditanya apakah ia merasa enak menjadi menteri? Paskah menjawab, enak dan tidak enak. ”Jangan dilihat enaknya saja dari sisi fasilitas dan dana yang ditanggung negara, tetapi juga beratnya memikul tanggung jawab segudang untuk negara,” tambahnya.

”Hilang” rumah

Sebagai menteri yang berasal dari partai politik seperti dirinya, Paskah mengaku harus mengeluarkan dana ekstra yang berasal dari kantong pribadinya.

”Sebagai menteri parpol, kita harus siap mengeluarkan dana apabila ada permintaan sumbangan dari para konstituen di daerah. Juga untuk bantuan-bantuan sosial lainnya jika ada proposal. Kalau ditotal, pengeluaran saya cukup besar selama menjadi menteri. Minimal, saya kehilangan satu rumah,” katanya.

Mantan Menteri Kehutanan MS Kaban justru mempertanyakan ukuran enaknya menjadi menteri atau pejabat. ”Fasilitas rumah menteri? Lihatlah, rumahnya sudah tua dan lingkungannya juga tidak nyaman lagi. Mobil dinas? Saya kira biasa saja,” tandas Kaban.

”Kalau gaji Rp 19 juta, memang sudah tahu. Akan tetapi, mau main proyek tidak mungkin. Orang sekarang takut dengan penyadapan. Padahal, permintaan sumbangan luar biasa jumlahnya. Sementara beban pekerjaan itu sangat tinggi sekali,” papar Kaban.

”Nombok”

Mantan Menneg Pemberdayaan Perempuan Meutia Farida Hatta membenarkan besaran gaji yang diterima menteri setiap bulan sebesar Rp 19 juta. Namun, gaji menteri itu sudah lama tidak naik. Sesuai slip gaji, dalam dua tahun gaji itu hanya naik Rp 10.000.

”Padahal, sering kali saya mengeluarkan dana yang lebih dari gaji yang diterima. Jumlahnya bisa mencapai Rp 10 juta hingga Rp 20 juta,” kata Meutia.

Setiap kali kunjungan ke daerah, Meutia menghabiskan dana sekitar Rp 4 juta untuk bantuan kepada masyarakat. Itu tidak termasuk dana program departemen.

Menurut Meutia, sejumlah menteri lain pun pernah mengungkapkan keluhan serupa. Namun, ia tak mempermasalahkan bila harus mengambil uang pribadi karena menjadi menteri adalah sebuah amanah.

Seorang menteri di bidang ekonomi disebut-sebut juga mengaku ”kehilangan” tak hanya rumahnya, tetapi juga sebidang tanah dan mobil mewahnya untuk menopang operasionalisasi jabatan menterinya.

Inilah sisi tidak mengenakkan untuk menjadi seorang menteri. ”Kalau menteri ingin lebih terhormat dan bergaya, memang semakin besar kocek yang harus ia keluarkan,” ungkap Paskah.

Mantan Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Aburizal Bakrie, yang akrab disapa Ical, saat ditanya Kompas terus terang mengaku terpaksa menjual sejumlah saham perusahaannya untuk menomboki pengeluaran yang diakuinya sangat besar sekali sebagai menteri senior.

”Jabatan sebagai menko itu hanya untuk berbakti dan terus terang tidak enak. Karena dari segi dana, lebih banyak kekurangan daripada kelebihannya. Kalau untuk berbakti kepada negara, tentu enak-enak saja menjadi menteri. Itu sebuah kehormatan,” ujar Ical.

Ical menambahkan, ”Menjadi menteri tidak bisa untuk mencari rezeki. Malah uang pribadi yang banyak terpakai. Punya saham terpaksa juga dijual untuk menomboki karena kalau tidak begitu, tidak cukup.”

”Mengapa nombok? Misalnya, kalau kita harus cepat sampai ke tempat tujuan seperti Papua, ya terpaksa pakai uang pribadi. Ini yang tidak enak kalau menjadi menteri,” ujar Ical terkekeh. Ical disebut-sebut acap kali menggunakan pesawat pribadinya untuk menjalankan tugas negara ke tempat-tempat yang jauh di pelosok.

Terkait itu, ia setuju jika gaji menteri dinaikkan. ”Itu terserah pada hasil kerja. Orang tidak bisa diukur dari jumlah yang diterimanya, tetapi dari hasil kerjanya. Apakah itu kerjanya cukup besar dan setara dengan gaji yang diterimanya. Dalam alam reformasi ini, kerja menteri memang bertambah, tetapi juga harus disertai dengan kenaikan gajinya,” papar Ical.

Setelah lima tahun tidak pernah naik, gaji pejabat diusulkan dinaikkan. Pertanyaannya, apakah tepat waktunya pada saat para menteri dan pejabat tinggi negara belum menunjukkan kinerja yang sesungguhnya bagi kesejahteraan rakyat?
Selengkapnya...

19 Oktober 2009

Perkembangan Turisme Kota Beijing 3

Dahlan Iskan: Pesatnya Perkembangan Kota Beijing (3-habis)
Tarif Parkir Akan Dinaikkan Setinggi Yao Ming

Sumber: Jawapos, Sabtu 17 Oktober 2009
(http://www.jawapos.co.id/halaman/index.php?act=detail&nid=95627)


MELEDAKNYA pembangunan kota Beijing memang juga membawa sisi buruk: kemacetan total di jalan-jalan raya. Sangat melelahkan. Dari Beijing Hotel ke lapangan basket di Fuxing Lu (untuk nonton pertandingan basket NBA) perlu waktu satu jam. Untuk ke stasiun kereta api Beijing Selatan (stasiun kereta api yang modern dan mewahnya setara dengan Bandara Hongkong) juga satu jam. Padahal, kalau lagi lancar, jarak itu bisa ditempuh hanya 15 menit.

Di kota Beijing saja, kini memang sudah ada 4.920.000 mobil. Dan masih terus bertambah setiap hari. Meski harga bensin 6 yuan/liter (sekitar Rp 9.000/liter), itu tidak membuat orang menghemat. Padahal, naik kereta bawah tanah ke mana pun arahnya dan ganti kereta berapa kali pun, tarifnya hanya 2 yuan (sekitar Rp 3.000).

Memang sudah ada aturan baru. Mobil dengan nomor-nomor tertentu tidak boleh terlihat di jalan raya pada hari-hari tertentu. Bukan lagi aturan genap-ganjil, tapi sudah dua nomor sekaligus. Kalau hanya genap-ganjil, orang masih bisa mengakali dengan membeli dua mobil. Pemerintah Beijing tidak mau ''tertipu" seperti itu. Bahkan, nomor-nomor yang dilarang beroperasi pun selalu diubah setiap delapan minggu. Pengaturan nomor ini saja sudah mengurangi beroperasinya 200.000 mobil setiap hari.

Tapi, ternyata Beijing masih macet saja. Terutama pada hari libur Sabtu-Minggu, ketika semua nomor boleh masuk jalan raya. Saya selalu berpikir apa yang akan terjadi dengan lalu lintas di Beijing lima tahun lagi?

Ternyata sudah ada konsep matang. Tinggal melaksanakan dalam waktu dua tahun ini: menaikkan tarif parkir setinggi pemain basket Yao Ming. Jalan keluar ini diambil setelah para pejabat Beijing melakukan kunker ke luar negeri. Yakni ke Tokyo. Pulang dari kunker, mereka langsung membahas hasil kunker itu dan membuat keputusan untuk dilakukan segera.

Berapa tingginya kenaikan itu, kini masih disimulasikan. Yang jelas, akan sangat tinggi dan revolusioner. Tidak ada jalan lain untuk menghindarkan kota Beijing dari neraka kemajuan. Sekarang ini tarif parkir di Beijing memang tergolong murah untuk kota metropolis. Di pusat kota sampai wilayah ring road 2, tarifnya 10 yuan per jam (Rp 15.000/jam). Di kawasan antara ring road 2 sampai ring road 5, tarifnya 5 yuan per jam (sekitar Rp 7.500/jam). Sedangkan di luar ring road 5 adalah 2 yuan/jam (sekitar Rp 3.000/jam).

Sistem ring road itu sebenarnya dibangun untuk menjamin agar lalu lintas kota Beijing yang kian besar tersebut tetap lancar. Prinsipnya: infrastruktur jalan akan terus ditambah seiring dengan pertambahan mobil dan perkembangan kota. Dengan sistem ring road, kendaraan dari timur ke barat atau dari selatan ke utara tidak harus lewat tengah kota. Sampai-sampai pembangunan jalan lingkar itu terus ditambah. Sekarang ini sudah membangun jalan lingkar yang kedelapan! Toh, kenaikan kemakmuran Tiongkok yang pesat tidak bisa mengatasi bertambahnya jumlah mobil. Maka, aturan yang sangat ''kejam" terpaksa akan diberlakukan.

Sangat mungkin, tarif parkir di kawasan pusat kota sampai ring road 2 akan naik dari 10 yuan menjadi 50 yuan/jam (atau sekitar Rp 75.000/jam). Ini masih sedikit lebih murah daripada tarif parkir di kota San Fransisco. Bahkan, masih jauh lebih murah daripada tarif parkir di Tokyo. Karena itu, kalau tarif semahal itu masih belum juga bisa mengatasi kemacetan Beijing, tidak ada jalan lain kecuali akan terus dinaikkan sampai ke angka di mana masyarakat terpaksa mengendalikan diri untuk tidak menggunakan mobil pribadi lagi.

Saya bayangkan, nanti, kota Beijing yang sudah sangat elegan itu akan mencapai tahap yang setara dengan Tokyo: modern, bersih, dan tidak terasa sesak. Tentu ada kurang lebihnya. Mungkin, di beberapa sektor Tokyo masih unggul, tapi di banyak sektor, Beijing akan jauh lebih unggul.

Karena itu, janganlah lagi punya pikiran bahwa belanja di Beijing lebih murah. Beijing sudah kian mahal saja. Dulu, makan di Beijing lebih murah daripada di Jakarta. Kini sudah terbalik. Dulu, koki-koki terbaik Tiongkok ''lari" ke Hongkong karena bisa lebih makmur. Itulah sebabnya, makanan di Hongkong terkenal enaknya. Restoran-restoran di Hongkong dipegang oleh juru masak-juru masak terbaik. Kini mereka sudah mulai kembali ke Tiongkok, khususnya ke Beijing, karena kemakmuran juga sudah ada di sana.

Beijing saya lihat juga sudah mulai ''mengancam" posisi Shanghai. Inilah yang membuat Shanghai, sebuah kota yang sudah lebih dulu mempunyai citra lebih modern dan menjadi pusat keuangan, juga terus berbenah. Shanghai yang akan menjadi tuan rumah Ekspo Dunia tahun depan (Arab Saudi untuk kali pertama akan memamerkan bentuk masa depan kota Mina di World Expo ini) lagi berusaha keras untuk menjadi satu dengan Hanzhou. Yakni, dengan jalan membangun kereta berkecepatan 330 km/jam yang menghubungkan dua kota itu.

Persaingan Beijing yang sedang mencoba menjadi satu dengan Tianjin ini akan sangat keras di saat Shanghai sedang dalam proses bersatu dengan Hanzhou. Persaingan itu juga telah mendorong Guangzhou untuk menjalin kombinasi dengan Shenzhen di wilayah selatan.

Di Guangzhou, misalnya, saya diberi kesempatan meninjau pembangunan ''kota baru" seluas 28 km2 yang khusus untuk segala fasilitas Asian Games tahun depan. Begitu Asian Games selesai, kota baru tersebut akan menjadi kota modern Guangzhou menggantikan kota yang sekarang. Karena itu, meski dibangun untuk Asian Games, perencanaan dan penataan kota di selatan Guangzhou tersebut sudah disesuaikan dengan perencanaan sebuah kota baru.

Siapa yang kalah dalam persaingan itu nanti? Saya kira tiga-tiganya tidak akan kalah. Yang akan kalah justru Singapura dan Tokyo yang tidak terlibat dalam persaingan tersebut. Ini biasa dalam marketing. Dua raksasa bertempur habis-habisan, yang kalah justru perusahaan yang kecil-kecil. (*)
Selengkapnya...

Perkembangan Turisme Kota Beijing 2

Dahlan Iskan: Pesatnya Perkembangan Kota Beijing (2)
Saatnya Menarik Turis Tiongkok ke Indonesia

Sumber: Jawapos, 16 Oktober 2009

(http://jawapos.com/halaman/index.php?act=detail&nid=95465)


"Beijing baru" telah membuat sikap orang Beijing berubah. Kalau dulu terbiasa naik sepeda dan gerobak, kini sudah harus hidup dengan fasilitas serbadigital dan eskalator. Perokok berat (yang antara lain juga membuat kota kotor) menurun drastis karena terlalu banyak tempat "dilarang merokok". Kebiasaan berdahak dan meludah tidak terlihat lagi di jalan-jalan dan tempat umum. Toilet-toilet yang dulu berbau menyengat tiba-tiba lenyap.

Bus kotanya bagus-bagus dan bersih. Sistem karcisnya juga digital. Sistem kereta bawah tanahnya sudah meluas bersilang-silang ke seluruh penjuru kota. Petunjuk jalan di stasiun bawah tanahnya serbadigital. Petanya digital. Iklan-iklan di dalam kereta bawah tanah itu hanya ada iklan digital.

Kalau dulu hanya ada satu lin, kini kereta bawah tanahnya sudah 10 lin. Dari 10 lin itu tinggal satu yang tidak serbadigital. Yakni, lin timur-barat yang melewati Tian An Men. Maklum, inilah lin yang pertama dibangun 30 tahunan lalu. Tapi, 9 jurusan lainnya sudah serbadigital dan tangganya sudah eskalator semua. Saya yang 10 tahun lalu merasa lebih modern dari mereka, kini harus banyak bertanya tentang cara membeli karcis di mesin-mesin yang tidak bisa diajak bicara itu. Saya sudah kalah dengan orang-orang kampung yang dulu menarik gerobak itu.

Maka, kalau dulu orang Beijing sangat memimpikan pergi ke Singapura untuk bisa merasakan kehidupan yang modern, kini berubah total. Pikiran seperti itu sudah dianggap masa lalu. Mereka sendiri sehari-hari sudah berada di kehidupan itu sekarang. Orang Beijing sudah semakin tidak tertarik ke Singapura. Orang-orang Tiongkok di luar Beijing pun, misalnya yang di wilayah selatan, akan kian mimpi ke Beijing daripada ke Singapura.

Perayaan 1 Oktober lalu, misalnya, ternyata telah membuat orang Tiongkok begitu bermimpi ingin melihat Beijing. Perayaan yang isinya perpaduan antara kekuatan militer dan kekuatan hiburan itu memang dikemas sangat intertainment. Lalu harus disiarkan secara langsung di semua channel televisi. Bahkan, selama penyiaran perayaan itu sehari semalam, tidak boleh ada iklan sama sekali. Hari itu semua stasiun tv yang memang dimiliki negara, harus mengabdi sepenuhnya kepada negara. Pemerintah komunis Tiongkok sadar benar peran dan kekuatan media massa dalam memobilisasi emosi dan mengaduk-aduk perasaan. Termasuk membangkitkan perasaan ai guo -cinta negara.

Dan berhasil. Sebagaimana yang dilakukan selama Olimpiade tahun lalu, upaya membangun kebanggaan rakyat melalui pengerahan televisi bukan main dampaknya. Keesokan harinya, setelah Kota Beijing ditutup satu hari untuk perayaan itu, Beijing kebanjiran turis sembilan hari. Di kawasan sekitar Tian An Men, tempat yang sangat populer dalam siaran masal televisi itu, padat manusia. Mereka ingin melihat langsung apa yang mereka lihat di televisi sehari sebelumnya. Apalagi semua yang diparadekan masih dipamerkan di sana. Termasuk dua vtron raksasa masih terus memutar video rekaman parade itu.

Meski penyiarannya dipaksakan oleh pemerintah, siaran itu sendiri memang sangat layak ditonton. Kalaupun ada tv yang dibolehkan menyiarkan acara lain, tidak akan ditonton orang. Parade itu sendiri, dan hiburan pada malam harinya, sangat layak dikagumi: serbaindah dan serbakolosal. Penari, penyanyi, bintang film, pemain kungfu, dan kekuatan persenjataan terbaik yang dimiliki negara memang dikerahkan habis-habisan. Termasuk Peng Li Yuan, penyanyi yang sampai mendapat pangkat tituler brigjen, yang kini menjadi isteri Xi Jinping. Xi Jinping adalah wakil presiden Tiongkok yang tiga tahun mendatang hampir dipastikan menjabat presiden menggantikan Hu Jintao.

Perayaan seperti itu memang hanya boleh dilakukan 10 tahun sekali. Karena itu, sangat emosional. Apalagi, bersamaan dengan kebangkitan Tiongkok dari negara gagal ekonomi (lebih rendah dari status negara sangat miskin) menjadi superpower seperti sekarang.

Di satu pihak apa yang terjadi di Beijing pekan lalu kian membuat kita tertinggal. Tapi, di pihak lain ada pula kesempatan. Yakni, ketika mereka sudah kian makmur dan tidak lagi tertarik ke Singapura. Saatnya kita mengisap turis mereka ke Indonesia. Minat mereka melihat Indonesia sudah kian besar. Apalagi, ke Bali dan Jogja. Sebuah kekayaan alam yang tidak akan bisa dimiliki Beijing sampai kapan pun.

Tinggal bagaimana usaha keras kita mengalihkan turis Tiongkok yang kian lama kian banyak jumlahnya itu. Saya bangga bahwa Garuda mulai melangkah maju. Bahkan, pekan lalu Garuda menjadi berita penting di koran terbesar Hongkong. Judulnya begini: Garuda telah memberi pelajaran pada perusahaan penerbangan Tiongkok.

Isinya menceritakan bagaimana manajemen baru Garuda di bawah Dirut Emirsyah Satar telah melakukan perombakan yang membuat Garuda dari berantakan dan rugi besar menjadi perusahaan berlaba. Lalu mampu menambah pesawat-pesawat baru dari jenis Airbus 330 dan Boeing 737-800. Lalu bisa membuka rute baru di dalam negeri dan luar negeri. Termasuk akan menambah penerbangan Jakarta-Shanghai dan Jakarta-Beijing menjadi setiap hari. Satar juga tahu bahwa turis dari Tiongkok kian meledak saja dan tahun ini mencapai 48 juta orang. Dari jumlah itu baru 250.000 yang ke Indonesia.

Dengan menampilkan Satar itu kelihatannya koran terbesar di Hongkong tersebut ingin mengkritik pemerintah Tiongkok dengan cara halus. Misalnya, ketika menulis bagaimana Satar berani mengurangi jumlah karyawan Garuda dari 6.000 menjadi 5.000. Keberanian seperti inilah yang tidak dimiliki perusahaan penerbangan Tiongkok, sehingga dua tahun terakhir banyak yang rugi besar. Koran itu mengkritik bagaimana panggabungan China Eastern Airlines (Dongfang) dengan Shanghai Airlines akhir tahun ini nanti tidak diikuti restrukturisasi karyawan yang jumlahnya mencapai 52.000. Bagaimana pemerintah Tiongkok telah menjanjikan tidak adanya PHK itu hanya demi terjaminnya lapangan kerja mereka.

Koran itu juga menulis bagaimana Satar berani mengajukan syarat khusus kepada menteri perhubungan ketika dia akan diangkat menjadi CEO Garuda pada 2004 dulu. Syarat itu adalah agar pemerintah tidak mencampuri penetapan rute mana yang harus diterbangi dan rute mana yang harus dihapus. Satar juga minta agar boleh melakukan apa saja untuk membuat perusahaan bisa laba. Ini, kata koran tersebut, bisa dijadikan pelajaran bagi Tiongkok untuk memperbaiki perusahaan penerbangannya.

Persaingan antarnegara, bahkan antarkota, memang kian keras. Diperlukan orang-orang seperti Emirsyah lebih banyak lagi. Saya yakin Indonesia akan punya hubungan ekonomi yang kuat dan saling menguntungkan dengan Tiongkok. Tinggal bagaimana kita memanfaatkannya. Dan, Indonesia akan maju, mengalahkan negara-negara seperti Thailand, Filipna, Malaysia, dan Vietnam dalam waktu tujuh tahun ke depan. (*)
Selengkapnya...

16 Oktober 2009

Perkembangan Turisme Kota Beijing 1

Dahlan Iskan: Pesatnya Perkembangan Turisme Kota Beijing (1)
Geser Singapura sebagaiPusat Turisme KotaAsia

Sumber: Jawapos/Batampost, Kamis 15 Oktober 2009
(http://batampos.co.id/Kolom/Catatan_Dahlan_Iskan/Pesatnya_Perkembangan_Turisme_Kota_Beijing_(1).html)

KALAU dulu hanya ditemani Wangfujing, kini pusat turisme Tian An Men -Forbiden City sudah dikitari tiga pusat kya-kya sekaligus. Masing-masing dengan ciri khas dan segmennya sendiri-sendiri. Ditambah pembangunan CDB (Central Business District) di arah timur Tian An Men, saya sudah bisa membuat kesimpulan ini: turisme-kota di Asia yang selama ini hanya disimbolkan oleh Singapura, segera diambil alih Beijing.


Setelah penutupan World Media Summit, saya pergi ke CDB dan naik ke lantai 66 sebuah gedung baru di kompleks yang isinya hanya gedung-gedung yang menuding langit. Saya masuk ke restorannya di beberapa lantai di atas lantai 66, lalu naik lagi untuk mengintip diskoteknya, naik lagi untuk melongok ke bar-barnya: saya tidak tahu lagi kalau malam itu berada di Beijing yang pernah saya kenal. Saya sudah seperti berada di kehidupan malam Los Angeles, atau New York, atau Tokyo. Sudah mengalahkan Singapura.

Di samping wisata yang mengandalkan kekunoannya, belanjanya, dan kya-kyanya, kini Beijing pun sudah memiliki wisata hiburan malam yang elegannya seperti di Barat. Bahkan, dengan alokasi ruangan yang lebih besar. Ini karena Beijing juga sudah menjadi salah satu pusat keuangan di luar Shanghai dan Shenzhen.

Pembenahan Kota Beijing yang gila-gilaan lima tahun terakhir memang telah membuat kota ini sangat modern, bersih, cantik, dan terasa sekali sangat elegan. Beijinglah kota paling elegan di Tiongkok. Sudah lebih 15 tahun ini saya tidak pernah tidak ke Beijing setiap tahun. Yakni, sejak saya masih tinggal di hotel yang di halamannya masih berserakan batubara yang sangat kotor untuk menyediakan air panas sampai kini masuk ke hotel yang lobinya saja di lantai 66. Bahkan belakangan, dengan semakin banyaknya kegiatan, saya bisa ke Beijing tiga-lima kali setahun. Saya bisa "menggrafikkan" dengan baik perkembangan Beijing dari tahun ke tahun. Terasa sekali ambisinya untuk mengalahkan Tokyo segera terwujud. Tidak lagi memperhitungkan Singapura.

Maka, kalau dulu turisme hanya mengandalkan peninggalan kuno yang memang sangat berharga seperti Kota Terlarang dan Tembok Besar, kini Beijing sudah benar-benar masuk ke turisme kota. Tian An Men dengan Forbiden Citynya, terus dibenahi sehingga kekunoannya ditambahi daya tarik modernisasi: air mancur bermain di sepanjang tembok depan Kota Terlarang, perombakan tata cahaya di waktu malam dan vtron-vtron raksasa. Orang yang pernah ke kawasan Tian An Men pun akan selalu ingin melihat perkembangan barunya.

Dari sini, ke timur sedikit ada tempat jalan-jalan Wangfujing yang sudah legendaris, tapi juga terus diperbarui. Kini orang juga sudah diberi pilihan untuk jalan-jalan ke arah barat: Xidan. Kawasan inilah yang disiapkan untuk anak-anak muda dengan turisme gaya hidup mudanya.

Bahkan, sekarang ini (baru sekali ini saya lihat karena memang baru saja jadi), kampung di belakang (selatan) Tian An Men sudah pula diubah menjadi pusat jalan-jalan baru yang desainnya sangat modern, tapi dengan ciri khas Tiongkok. Inilah pusat kya-kya baru yang khas dan elegan sepanjang 1 km: Qianmen.

Begitu kuatnya pembentukan ciri khas pusat jalan-jalan di Qianmen ini sehingga tidak satu gerai pun yang boleh melanggar ciri khas yang sudah ditetapkan. Tidak ada kompromi untuk mencapai pencitraan yang kuat itu. Merek terkuat di dunia seperti Starbuck pun harus tunduk. Tidak boleh menampilkan logo Starbuck yang amat spesial itu di sini. Warna gerainya juga tidak boleh menggunakan warna khas Starbuck. Harus diubah menjadi agak abu-abu-hitam yang mencitrakan bangunan modern, tapi terasa kuno.

Inilah rasanya kasus marketing di mana pemilik merek yang menguasai dunia harus kalah total di Beijing. Sampai-sampai di papan nama besar di luarnya pun tidak boleh ada tulisan Starbuck. Yang boleh adalah tulisan Xing Pa Ke dalam huruf Mandarin. Xing Pa Ke adalah nama Mandarin untuk Starbuck sebagaimana nama Iskan menjadi Yu Shi Gan. Nama Starbuck hanya boleh ditulis kecil di bawah samping gerai, itu pun di barisan kedua. Maka, orang asing yang jalan-jalan ke situ tidak akan mengira kalau gerai itu adalah gerai Starbuck.

Ini menandakan bahwa posisi tawar pusat jalan-jalan Qianmen sangat kuat. Sampai bisa membuat merek kelas dunia tunduk pada aturannya. Saya jadi ingat ketika diberi hak sewa tiga tahun untuk mengelola Jalan Kembang Jepun menjadi Kya Kya di malam hari: ingin mengecat bangunan di sepanjang Jalan Kembang Jepun saja tidak mendapat respons dari pemiliknya. Betapa lemahnya posisi saya saat itu. Mungkin juga karena saat itu saya hanya dapat hak kelola dari pemda tiga tahun sehingga tidak bisa mendapat kepercayaan pasar.

Di Qianmen ini bahkan restoran Peking Duck tertua di Tiongkok (tahun ini berumur 145 tahun) harus tunduk pula. Akibatnya, restoran ini harus mundur ke barisan kedua di belakang bangunan barisan pertama. Kalaupun ngotot tetap buka di barisan pertama, restoran ini tidak akan bisa mendapat jatah ruang yang luas. Padahal, ribuan orang makan bebek di sini.

Saya harus minta tolong teman di Beijing mengantrekan sejak pukul 15.00 untuk bisa mengajak rombongan para pengelola DBL dari seluruh Indonesia untuk makan pukul 16.30 (saat restoran mulai dibuka). Itu pun sudah kalah dulu. Mendapat nomor 17.

Tembok depan berumur 145 tahun yang menjadi ciri khas restoran ini pun harus dipindah! Tidak cocok dengan karakter yang ingin dibentuk pusat jalan-jalan ini. Pemilik restoran terpaksa mengabadikan tembok bersejarah itu dengan cara membangun tembok baru dengan desain yang sama di pintu masuknya yang baru di barisan kedua bangunan di Qianmen.

Sebenarnya restoran ini sudah punya satu cabang tidak jauh dari situ. Yakni, sebuah bangunan besar 7 lantai yang setiap lantai selalu penuh dengan orang yang makan bebek. Saya juga sering membawa keluarga makan di sini. Kelebihannya: kita mendapat sertifikat yang berisi pemberitahuan bebek ke berapa yang kita makan hari itu. Bebek yang saya makan hari itu, misalnya, adalah bebek yang ke 1.684.356.245. Artinya, sampai hari itu sudah 1,6 miliar lebih bebek yang oleh manusia tidak dihargai perikebebekannya.

Tentu saya tidak pernah bertanya apakah benar bebek yang saya makan itu adalah bebek yang ke 1.684.356.245. Saya takut dianggap tidak percaya lalu disuruh menghitung sendiri. Angka yang saya tulis itu pun tidak perlu Anda tanyakan keakuratannya. Sertifikat asli saya sudah hilang. Saya hanya ingat angka-angka depannya. Kalau tidak percaya, Anda terpaksa membantu menemukan kembali sertifikat saya....(*)
Selengkapnya...

09 Oktober 2009

Herman Hartanto Pemilik Tanto Line

Herman Hartanto, Pemilik Perusahaan Pelayaran/Perkapalan Tanto Line
Modal Kaya: Bisa Marah, Memerintah, dan Tanda Tangan

Sumber: Jawapos, Kamis 8 Oktober 2009

Salah satu perusahaan yang di masa sulit pun masih bisa terus berkembang adalah yang satu ini: Tanto Line. Yakni, sebuah perusahaan milik Herman Hartanto, warga kebanggaan Surabaya, yang bergerak di bidang pelayaran/perkapalan. Sebagai orang Hokkian yang bermarga Tan, maka di bagian belakang nama Indonesianya tertulis Hartanto. Bahkan, nama perusahaannya itu pun tidak lepas dari nama marganya dan nama belakang Indonesianya.

Dahlan Iskan, Hongkong

---

DI Surabaya memang ada tiga perusahaan pelayaran yang sangat besar. Yakni Spil, Meratus, dan Tanto. Sulit menilai siapa di antara tiga itu yang terbesar. Tiga-tiganya saya kenal dengan baik. Setiap saya tanya siapa di antara mereka yang terbesar tidak pernah ada yang menepuk dada. Yang satu selalu menyebut yang lain sebagai yang lebih besar. "Kami ini kecil, Pak," ujar Herman Hartanto saat kebetulan bersama-sama terbang ke Hongkong Rabu kemarin (7/10).

Demikian juga Soegeng Hendarto (Huang Dji Tju), si pemilik Spil, mengatakan dirinya masih kecil. Ketua marga Huang Indonesia itu bukan main rendah hatinya. Sikap yang sama juga ditunjukkan pemilik Meratus, Menaro, sampai ke anaknya yang memegang kendali perusahaan sekarang, Charles Menaro. Bahkan, orang seperti mendiang Menaro bukan saja mengaku kecil, melainkan seumur hidupnya tidak pernah naik pesawat di kelas bisnis.

Yang jelas, tiga-tiganya kini masih terus berkembang. Armada kapal mereka masih terus bertambah. Tanto sendiri dalam perjalanannya ke Hongkong kali ini harus mengajak banyak anak buah. Mengapa? Tanto baru saja membeli kapal tambahan. Anak buahnya itulah yang akan membawa kapal tersebut menuju Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Itu adalah kapalnya yang ke-39. Dalam enam bulan terakhir ini saja, Tanto sudah menambah 12 kapal di jajaran armadanya.

"Ini perusahaan jasa. Kami harus terus-menerus meningkatkan servis. Antara lain dengan harus terus menambah kapal," ujar Tanto, merendah. Kapal-kapal yang lama, di samping sudah mulai tua, juga tidak bisa mencukupi keinginan pelanggan yang terus meningkat. Pelanggan menginginkan Tanto Line punya kian banyak tujuan. Itu berarti diperlukan kian banyak kapal.

Herman Hartanto membangun Tanto Line atas usahanya sendiri. Sejak remaja, dia sudah memisahkan diri dari orang tuanya di Medan. "Umur 16 tahun kami bersama empat teman sebaya pergi ke Jakarta," kisah Herman, mengenang masa kecilnya. Waktu itu dia tidak tahu Jakarta itu seperti apa. Tapi, sebagai remaja yang senang sepak bola, dia ingin melihat Asian Games di Jakarta. Itu berarti tahun 1962. Dia naik kapal Ambolombo yang kebetulan singgah di Medan dalam perjalanannya dari Jeddah ke Jakarta mengangkut jamaah haji.

"Tiba di Jakarta, kami kaget. Kok Jakarta ini hebat sekali. Besar sekali. Kami bingung mau ke mana dulu," ujarnya, mengenang. Tapi, sebagai remaja 16 tahun, mereka senang-senang saja. Mereka keliling Jakarta. Bahkan, kemudian mereka hanya bisa nonton Asian Games di televisi hitam putih karena karcis masuk stadion tergolong mahal bagi para remaja itu. Di Jakarta (juga Indonesia) saat Asian Games itulah pertama ada siaran televisi dan masih hitam putih.

Beberapa hari di Jakarta, masing-masing baru ingat bahwa kepergian mereka ke Jakarta itu belum diberitahukan kepada orang tuanya. Mereka pun segera ke kantor pos untuk kirim telegram. "Kami di Jakarta. Ingin nonton Asian Games." Begitu bunyi telegramnya. "Kami saat anak-anak memang sudah biasa tidak pulang. Tidur di rumah teman. Kalau tidak pulang 2-3 hari saja tidak akan dicari orang tua," kata Tanto.

Ternyata, itulah kepergiannya keluar dari Medan yang pertama dan tidak pernah kembali lagi. Dia hijrah dalam pengertian yang sebenarnya. Sekolahnya di kelas 1 SMA tidak dia teruskan. Di Jakarta, karena sudah tidak punya uang lagi, Herman lantas ikut famili temannya. Lalu pindah ikut orang lain. Akhirnya mulai ikut-ikutan bekerja di toko ban. Lalu kirim-kirim onderdil mobil. Pernah juga ikut kapal bea cukai ke Karimun. "Saat berada di Karimun, saya pergi naik perahu ke Singapura. Itulah pertama kalinya saya lihat Singapura," ujarnya. "Kesan saya ketika itu Jakarta jauh lebih hebat daripada Singapura. Jakarta sudah punya Jalan Thamrin yang hebat. Singapura masih seperti kota nelayan," katanya. Dia tidak mengira dalam sekian tahun kemudian, Singapura bisa seperti sekarang.

Setelah malang-melintang di usia pemudanya itu, akhirnya Tanto tahu bagaimana harus mulai usaha sendiri. Yakni usaha jasa pengiriman: ekspedisi. Karena sering kirim barang ke Surabaya, akhirnya dia pun memutuskan untuk menetap di Surabaya.

Lima tahun bekerja di perusahaan ekspedisi, Herman mulai berpikir kalau saja punya kapal sendiri akan bisa lebih untung. Tapi, membeli kapal belumlah waktunya. Dia cari akal bagaimana tidak punya uang, tapi bisa menguasai kapal. Maka, dia sewa kapal milik orang lain. Kebetulan, ada kapal milik Pemda Kalimantan Selatan (Kalsel) yang rusak. Kapal itu sudah tiga tahun tidak beroperasi. Mesinnya sudah hancur.

Herman berusaha memperbaiki kapal itu. Dari sini pula, Herman belajar mesin kapal. Juga belajar bagaimana mengelola kapal -yang kelak menjadi sangat berarti ketika sudah memiliki kapal sendiri. Meski dia bukan insinyur (tamat SMA pun tidak), dia punya kemauan keras untuk belajar. Dia banyak bertanya di bengkel-bengkel mesin. Bahkan, dia ikut menunggui ketika bengkel memperbaiki mesin. Lama-lama Herman mengerti mesin kapal. "Pengusaha kapal yang tidak mengerti mesin kapal sangat bahaya. Bisa dibohongi terus-menerus," katanya.

Usaha apa pun, kalau mau sukses, haruslah kerja keras, ulet, tidak mudah putus asa, dan memegang kepercayaan. Itulah juga prinsip kerja Herman. Bahkan, dia menilai bisnis di bidang perkapalan jauh lebih sulit daripada yang lain. "Kalau bisnis pabrik, begitu pabriknya dibuka, bisa jalan, tidak terlalu stres. Kerja kapal ini siang-malam harus deg-degan. Apalagi kalau ada telepon berdering. Langsung saja punya pikiran ada apa ini? Kapal tenggelam? Kandas? Bocor di tengah laut? Dan seterusnya," kisahnya. "Apalagi kalau dering teleponnya tengah malam di saat tidur nyenyak. Pasti deg-degan," ungkapnya.

Kini, di usianya yang 65 tahun, Tanto masih kelihatan antusias. Badannya yang langsing dan sehat membuat dirinya kelihatan lebih muda daripada umurnya. Sampai tahun 2009 ini, berarti sudah 38 tahun dia menggeluti bisnis perkapalannya itu. "Saya tidak pernah menyesali mengapa saya terjun ke bisnis kapal ini," ujarnya. "Memang banyak sekali kesulitan, tapi harus dihadapi. Kian sulit persoalan yang dihadapi kian menantang untuk diselesaikan," katanya.

Bagaimana soal latar belakang pendidikannya yang tidak tamat SMA? Dengan bergurau, Tanto mengatakan bahwa yang penting dirinya bisa melakukan tiga hal saja: bisa marah, bisa memerintah, dan bisa tanda tangan... ha ha ha.

Tiga perusahaan kapal (Spil, Meratus, dan Tanto) itu tentu menjadi kebanggaan Surabaya. Sebab, tiga perusahaan itu saja, di tambah banyak lagi perusahaan Surabaya lainnya, kalau disatukan sudah lebih besar daripada perusahaan serupa di Jakarta. Maka, kalau sampai sekarang Surabaya masih layak disebut sebagai Kota Maritim, antara lain, itu berkat jasa tiga perusahaan tersebut. Tanpa mereka, gelar Surabaya itu harus dicabut. (*)


Selengkapnya...