28 Juli 2009

Inilah Anak-anak Muda Penerus Bill Gates

Sumber: okezone, Senin 27 Juli 2009
SAN FRANSISCO - Saat Bill Gates menelurkan pemikiran untuk membuat Microsoft, usianya baru 19 tahun. Begitu juga dengan pendiri Dell, Michael Dell. Ke depan, tidak menutup kemungkinan jika akan banyak anak-anak muda yang lahir untuk berperan sama seperti Bill Gates.

Dilansir melalui paidContent.org, Senin (27/7/2009), beberapa anak muda telah digadang-gadang sebagai penerus jejak Bill Gates. Anak-anak muda ini kebanyakan berumur maksimal 21 tahun dan telah berhasil 'mendulang emas' di dunia teknologi (IT).

1. Catherine Cook (19 tahun)
Ia dan saudara kandungnya, David Cook, membuat sebuah situs jejaring sosial bernama myYearbook. Situs ini bermula dari saran dan kritik teman-temannya yang tidak menyukai buku tahunan cetak yang beredar di lingkungan sekolah karena fot-fotonya yang terlihat jadul dan tidak bisa di-update. Catherine pun membuat buku tahunan online dimana teman-temannya bisa mengganti foto mereka dengan yang baru. Dalam waktu dua bulan, mereka bisa menyelesaikan myYearbook dan meluncurkannya pada April 2005. Dalam sehari mampu menjaring 3.000 anggota. Kini, myYearbook punya 9,8 juta unique visitor dalam sebulan, yang rata-rata adalah pelajar dan mahasiswa. Bahkan tahun lalu, Catherine mampu menghasilkan USD10 juta dari myYearbook.

2. Ashton dan Ryan Clark (20 tahun)
Kedua saudara kembar ini memulai bisnis website mereka sejak umur 11 tahun. Situs pertama mereka bernama circuitbreakers, yang merupakan situs jual beli elektronik dengan harga terjangkau. Sekarang, mereka sudah memiliki perusahaan bernama Dynamik Duo yang mampu menghasilkan pendapatan hingga dua digit. Dynamik Duo sendiri merupakan perusahaan yang bertugas dalam menjalankan operasional situs. Saat ini, lebih dari setengah lusin situs aktif berada dalam genggaman mereka. Di antaranya Hostivo, layanan pembuatan situs bagi perusahaan-perusahaan. Juga ada 247 mixtapes, situs yang memungkinkan pengunjung untuk membuat kompilasi musiknya sendiri. Serta We Park Chicago, situs yang memungkinkan para pengendara memesan tempat parkir di mana saja di Chicago.

3. Ashley Qualls (18 tahun)
Sejak umur 14 tahun, Ashley sudah bermain-main dengan kode HTML. Suatu ketika, ia tak sengaja mampu membuat halaman situs yang sangat gemerlap, lengkap dengan pernak-pernik layaknya situs milik seorang gadis seperti pita, button, quote dan glitter. Akhirnya, ia pun membuat situs bernama whateverlife.com yang memungkinkan para gadis untuk mendesain halaman mySpace mereka menjadi berbeda. Hingga kini, whateverlife memiliki 5.000 desain layout. Situsnya mampu me-makeover 60 juta halaman dalam sebulan. Ia pun mendapatkan USD50.000 setiap bulannya dan mampu membeli rumah di Detroit. Sayangnya, Ashley memilih untuk tidak meneruskan pendidikannya untuk menjalankan bisnis ini. Bahkan, pada 2007, ia telah menolak tawaran MySpace yang mau membeli situsnya seharga USD1,5 juta. Ini merupakan keputusan yang harus ia sesali belakangan karena saat ini, visitor di situsnya telah menurun drastis, dari 7 juta visitor menjadi hanya 550.000 saja.

4. Kavyon Beykpour (20 tahun)
Ia memiliki niat mulia yaitu 'membantu perusahaan menjadi ternama hanya melalui internet. Awalnya, Beykpour membuat desan dan aplikasi perusahaan yang akan beriklan di Facebook. Kemudian, ia pun melebarkan sayap untuk mempromosikan kampus dan sekolah agar lebih ternama di internet. Aplikasi kampus dan sekolah inilah yang membuatnya menjadi kaya. Aplikasi mobile bernama iStanford ini memungkinkan mahasiswa dan calon mahasiswa untuk mengakses layanan universitas. Mulai dari katalog perkuliahan, jadwal olahraga, rekomendasi kelas, hingga biodata profesor pengajar. Aplikasi iStanford kini bisa diunduh melalui iPhone. Saking menariknya, iStanford mampu menambah pundi Beykpour hingga USD1 juta.

5. Jenny Liu and Kevin Modzelewski (20 tahun)
Mereka menemukan metode mobile wallet saat baru menjadi mahasiswa di Massachusetts Institute of Technology (MIT). Sayangnya, teknologi ini sangat bergantung dengan keberadaan perangkat RFID yang baru digunakan di toko-toko perbelanjaan besar. Keduanya sempat diundang oleh NFC developer untuk mendemonstrasikan aplikasi temuan mereka. NFC sendiri juga merupakan teknologi mobile wal0
Selengkapnya...

16 Juli 2009

Cadangan Devisa Tiongkok Membengkak

Juni Tembus Hingga USD 2,13 Triliun

sumber: Jawapos, 16 Juli 2009

BEIJING - Posisi Tiongkok sebagai pemilik cadangan devisa terbesar di dunia semakin sulit tergeser. Data yang dirilis Bank Sentral Tiongkok menyebutkan, bahwa cadangan devisa Negeri Panda itu mencapai USD 2,13 triliun per akhir Juni lalu. Bank Sentral mengklaim, angka ini meningkat 17,8 persen atau USD 186 miliar hingga pertengahan tahun ini. Cadangan devisa ini juga dikatakan lebih besar dua kali lipat dari cadangan devisa Jepang yang mencapai USD 988 miliar.

''Bulan Juni saja, cadangan devisa meningkat sekitar USD 42 miliar. Ini hampir sama dengan pertumbuhan empat kuartal tahun lalu yaitu USD 45 miliar,'' demikian penjelasan yang dfisampaikan Bank Sentral seperti dikutip Associated Press.

Para analis Tiongkok berpendapat, naiknya cadangan devisa disebabkan aliran hot money yang dibawa dari luar negeri oleh investor Tiongkok. Dana tersebut kemudian dialirkan ke bursa saham serta real estate. Karena, jika dilihat pertumbuhan dari sektor perdagangan dan investasi langsung di bulan Juni, kondisinya justru sedang merosot. ''Ya, kenaikan cadangan devisa mungkin akibat portfolio inflow yang kemudian berdampak pada bursa dan pasar properti,'' kata ekonomis Citigroup Inc Ken Peng di Beijing.

Ekspor Tiongkok sendiri, sampai Juni lalu kondisinya masih drop hingga 21,4 persen. Sedangkan surplus perdagangan mereka hanya mencapai USD 8,2 miliar. Ini yang membuat Gubernur Bank Sentral Zhou Xiaochuan mencoba mengesampingkan perubahan yang bisa terjadi secara mendadak terhadap cadangan devisa tersebut. Sementara, Perdana Menteri China Wen Jiabao juga mulai mencermati kemungkinan surat berharga Tiongkok senilai USD 763,5 miliar, yang nilainya anjlok lantaran Amerika Serikat (AS) menjual dalam jumlah yang cukup besar untuk mendanai stimulus. "Tak bisa dielakkan, Tiongkok akan melanjutkan investasinya dalam bentuk surat berharga karena curamnya skala dari cadangan devisa itu," lanjut Ken Peng,

Nah, dengan kondisi seperti itu, para petinggi Tiongkok menegaskan akan terus memperhatikan stabilitas dolar. Pasalnya, Tiongkok tercatat tercatat sebagai kreditur asing terbesar bagi AS. Mereka menyimpan hampir separuh cadangannya di sana. (jan/bas)

Selengkapnya...

Liem Swie King

Sumber: Jawapos, Kamis 16 Juli 2009

Liem Swie King, Legenda Bulu Tangkis setelah 21 Tahun Menghilang

Jangan Salahkan Situasi

Piala Thomas 1988 menjadi kado pahit perpisahan Liem Swie King. Legenda bulu tangkis dunia itu mundur setelah Indonesia dikalahkan Malaysia 2-3 di babak semifinal.

---


TIDAK mudah menemui Liem Swie King akhir-akhir ini. Hari-hari mantan pemain bulu tangkis itu semakin padat setelah biografinya, Panggil Aku King, dan film King beredar di pasaran. Maklum, jadwal promo yang panjang mengisi agendanya ke depan.

Begitu pula kemarin siang (15/7), masih ada agenda nonton bareng "King" di salah satu pusat perbelanjaan di kawasan Senayan, Jakarta. Saat bukunya diluncurkan bertepatan dengan perhelatan Indonesia Terbuka pada Juni lalu, tak sedikit pun King merasa lelah.

"Ah, lebih capai latihan bulu tangkis setiap hari. Ini cukup menyenangkan," ujar King di sela-sela peluncuran biografinya pada 19 Juni lalu. Namun, dalam perjalanannya, King "menyerah" juga. "Maaf, Papi kurang sehat. Jadi, beliau harus beristirahat dulu," ujar Stephanie King, putri King.

Kata dokter, lanjut Stepahnie, King harus beristirahat selama

beberapa hari. Bahkan, percakapan melalui telepon pun tidak mungkin dilakukan karena suaranya "habis".

Banyak pihak seolah berlomba-lomba mencari King. Padahal, namanya menghilang sejak dia memutuskan untuk pensiun pada 1988. Saat itu, usianya memang sudah tidak muda, 32 tahun. Meski demikian, Indonesia masih memercayai dia dan pasangannya, Bobby Ertanto, sebagai ganda penutup perhelatan Piala Thomas 1988. Sayang, keduanya gagal menjadi pahlawan.

Momen itu pula yang kian memantapkan King untuk pensiun. Nama besarnya dengan King Smash's seolah tertelan bumi. Baru beberapa tahun kemudian, bertepatan dengan ajang Indonesia Open Super Series 2009, nama King kembali melambung. Tanpa rencana untuk rilis bersamaan, buku biografinya, Panggil Aku King, dan film yang terinspirasi kisah hidupnya, King, dapat ditemui di pasaran.

Saat ini, King sudah kembali sehat. Aktivitas hariannya juga mulai "normal" lagi. "Memang, masih ada jadwal promo dan udangan dari sana-sini, tapi sudah tidak terlalu padat lagi," jelas Stephanie.

Namun, jangan dibayangkan bahwa aktivitas normal King adalah berangkat kerja pagi dan pulang malam. Predikat wiraswastawan yang melekat kepada juara tiga kali turnamen bulu tangkis bergengsi All England itu tidak mengharuskannya berangkat dan pulang dengan jadwal rutin layaknya saat dia masih menjadi atlet pelatnas. Apalagi, dua hotel, bisnis properti, dan tiga griya pijat miliknya sudah berjalan dengan cukup baik.

Usaha perhotelan yang ditekuni King merupakan warisan sang mertua. Malah, usahanya di griya pijat, yang lahir belakangan, telah mempekerjakan lebih dari 200 karyawan. Namun, jangan salah. Usaha itu berkembang karena latar belakangnya sebagai pemain nasional yang kerap bepergian dan menginap di hotel berbintang. Dia membuka usaha itu berdasar pengalamannya sebagai pemain dengan jadwal latihan dan turnamen yang sangat padat.

King melihat kalangan eksekutif dan pengusaha Jakarta yang gila kerja membutuhkan kesegaran fisik. Karena itu, dia membuka griya pijat kesehatan Sari Mustika di Grand Wijaya Centre. Kemudian, dia membuka griya pijat lainnya di Jl Fatmawati, Jakarta Selatan, dan Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Dalam mengelola usahanya, King tidak sungkan-sungkan menyambut sendiri tamu hotel atau griya pijatnya. Selain pengalaman itu, keluarga King memiliki peran penting. "Latar belakang keluarga saya adalah pedagang. Jadi, saya sudah terbiasa mengatur keuangan sendiri," tutur King.

Kebiasaan itu tumbuh sejak King masih berjaya sebagai atlet. Segala apresiasi berbentuk uang atau uang kontrak dengan sponsor segera dialihkan menjadi tanah atau rumah. Langkah itu diambil King sebagai antisipasi setelah dia

pensiun sebagai pebulu tangkis. Sejak awal, bapak tiga anak tersebut ogah menuntut kesejahteraan pemain di akhir karir.

Dia menyadari bahwa pendidikannya yang hanya sampai sekolah menengah atas dan bekal keterampilan dari bulu tangkis tidak cukup untuk mencari uang kelak. Apalagi, King merasa tidak memiliki kepiawaian sebagai pelatih.

"Atletlah yang harus mempersiapkan masa depannya sendiri. Jangan menyalahkan situasi PBSI atau pemerintah," tegas suami Lucia Alamsyah itu. Pesan singkat yang amat penting bagi semua pihak. (femi diah/diq)

BIODATA:

Nama: Liem Swie King

Lahir: Kudus, 28 Februari 1956

Isteri: Lucia Alamsyah

Anak:

- Alexander King, 25

- Stephanie King, 23

- Michelle King, 13

Prestasi:

- Juara All England 1978, 1979, dan 1981

- Runner-up All England 1976, 1977

- Runner-up Kejuaraan Dunia 1980, 1983

- Peringkat III Kejuaraan Dunia 1985 (ganda pria)

- Juara Piala Thomas 1976, 1979, 1984 dari enam kali ikut serta

- Medali emas Asian Games di Bangkok 1978

- Juara Kejuaraan Nasional 1974, 1975

Penghargaan:

International Badminton Federation Badminton Hall of Fame in 2002

Tentang King:

- Hobi fotografi dan mengoleksi kamera.

- Senang menikmati kicauan burung di rumah.

- Penyuka masakan Indonesia seperti nasi liwet dan soto kudus.

- Penggemar Bruce Lee dan Andy Lau.

- Suka nongkrong di toko buku.

- Bacaan politik dan cerita silat jadi favorit.

- Penyuka warna biru.


Simpan Rapat Misteri All England 1976
Sumber: Jawapos, Kamis 16 Juli 2009

LAGA final All England di London pada 1976 cukup istimewa. Saat itu, partai puncak turnamen bulu tangkis tertua di dunia tersebut diisi wakil Merah Putih, Liem Swie King kontra Rudy Hartono.

Akhirnya, Rudy menang 15-7, 15-6. Kemenangan itu menjadikan Rudy sebagai pemain pertama di dunia yang mencetak gelar juara terbanyak di sana. Yakni, delapan gelar.

Namun, kekalahan King tersebut masih menjadi misteri bagi banyak kalangan bulu tangkis. Maklum, waktu itu, performa King justru lebih bagus daripada Rudy. Misteri kekalahan Liem Swie King pada All England 33 tahun silam tersebut kembali mengemuka dalam peluncuran dan diskusi buku Panggil Aku King. Benarkah King diminta mengalah?

Pemilik PB Djarum Robert Budi Hartono menyatakan kecewa dengan cara King bertanding melawan Rudy Hartono pada saat itu. "Aku melatihmu susah-susah, kok kamu dengan mudahnya memberikan kemenangan. Kalau saja saya berada di London waktu itu, saya akan berkata kepada King bahwa dia harus bermain habis-habisan melawan Rudy Hartono. Saya baca hasil di surat kabar. Saya pikir, King jelas mengalah," paparnya.

Mantan pemain bulu tangkis Tan Joe Hok menuturkan, mantan petinggi PB PBSI Suharso Suhandinata pernah bercerita kepada dirinya bahwa sebelum pertandingan, Suharso memanggil King. Keduanya terlibat pembicaraan empat mata.

Suharso meminta King merelakan Rudy menjadi juara All England untuk kedelapan kalinya demi Merah Putih. Pertandingan final All England 1976 tersebut berlangsung relatif singkat. King tidak menunjukan dirinya sebagai juara sejati. Bahkan, yang terlihat, King masuk ke lapangan dengan lesu dan tanpa gairah.

Namun, King tak mau menjawab dengan tegas persoalan itu. Dia hanya mengaku sangat menyesal karena tidak bisa menjadi juara All England 1976. "No comment saja. Yang penting, saya menang atas pebulu tangkis lain pada uji coba menjelang Piala Thomas," katanya. (vem/diq)

Relakan Raket Istimewa

Sumber: Jawapos, Kamis 16 Juli 2009

SMES King begitu melegenda sampai sekarang. Smes tersebut begitu ditakuti lawan. Smes itu pula yang sampai kini menjadi kajian para pelatih dan ilmuwan olahraga.

Tak hanya berbekal latihan disiplin yang dilakoni setiap hari, King memiliki tip khusus untuk menambah power gebukan raketnya. "Rahasianya berada pada raket itu sendiri. Saya memakai Carbonex yang sudah tidak beredar lagi sekarang. Saya meminta grip yang besar. Senarnya juga beda. Saya selalu memasang senar lebih kencang daripada yang normal," ungkapnya.

Selain itu, King selalu meminta produsen raket agar membuat kepala raket yang lebih berat daripada pegangannya. Raket tersebut kini sudah tidak ada. Smes King juga menjadi bagian dari legenda.

Karena itu, tak mengherankan jika King begitu menyayangi raket yang pernah digunakannya tersebut. Tapi, itu tak membuat King menutup diri saat rekannya sedang kesusahan.

Dia turut berpartisipasi menyumbangkan raket istimewa tersebut kepada keluarga pemain bulu tangkis lainnya, Indra Gunawan. Saat lelang, raket King masuk dalam jajaran raket yang paling banyak ditawar pihak luar. "Kalau untuk teman dan niatnya baik, tak perlu menyayangkannya. Saya masih memiliki yang lain," ujarnya. (vem/diq)


Tak Berbakat Main Film

sumber: Jawapos, 16 Juli 2009

TAMPANG menawan dan tubuh atletis tak kali ini saja menjadi modal seorang pria untuk jadi bintang film. Dulu, Liem Swie King muda juga memanfaatkan dua modal itu untuk terjun ke dunia film.

Bukan saat pensiun, tapi justru ketika dia masih aktif sebagai atlet. Kebetulan, King diskors tiga bulan karena terlambat saat diminta memperkuat tim Indonesia pada SEA Games 1979. Dia malah ditawari bermain dalam dua film. Yakni, Kau dan Aku Sayang serta Sakura dalam Pelukan.

Namun, King hanya memilih film yang disebut terakhir. Dia mendapatkan kesempatan mengolah akting bersama Eva Arnaz dengan sutradara Fritz G. Schadt. "Saya bermain film hanya untuk mencari pengalaman dan selingan. Lumayan menghilangkan jenuh," ujarnya.

Maklum, sejak 1973, King sudah mengayunkan raket pada Pekan Olahraga Nasional (PON). Tinggal di pelatnas juga tak mudah. Selain jauh dari keluarga, di sana juga miskin hiburan. Tidak ada televisi untuk meminimalisasi kejenuhan.

Menurut dia, kebosanan mulai muncul sejak penampilannya pada Piala Thomas Mei 1979. Selain itu, dia ingin mengikuti jejak Rudy Hartono yang lebih dalu menjajal karir di layar lebar. Rudy pernah main dalam film berjudul Matinya Seorang Bidadari bersama Poppy Darsono pada 1971.

Namun, setelah melakoni syuting pertama tersebut, King merasa tak memiliki bakat. Dia lebih enjoy bermain bulu tangkis, meski harus berlatih keras. "Di lapangan, saya bisa mengatur, mengendalikan, dan memutuskan apa pun sendiri. Tapi, kalau main film, banyak aturannya," katanya. (vem/diq)
Selengkapnya...

15 Juli 2009

Inspirasi dari Jade Norman, Eks Gelandangan yang Kini Mahasiswi Cambridge

Hamil di Usia 15 Tahun, Diusir karena Menolak Aborsi

Sumber: Jawapos, Selasa 14 Juli 2009

Berjuta masalah yang menghantam tak menghalangi Jade Norman menggapai prestasi. Dia berharap bisa memboyong keluarga ke asrama kampus.

---

JADE Norman masih sering tidak percaya pada apa yang dinikmati­nya kini. Duduk di perpustakaan, belajar di taman, dan menjadi mahasiswi perguruan tinggi nan prestisius sekaligus tertua kedua di dunia, Universitas Cambridge.

"Saya sering sekali berpikir saat berada di perpustakaan sambil memandangi taman, bagaimana semuanya ini bisa terjadi? Apa yang saya lakukan disini," katanya kepada Daily Mail kemarin (13/7).

Keheranan Norman itu wajar. Sebab, jalan hidup yang harus dia lalui untuk bisa sampai pada keadaan seperti sekarang memang sungguh berliku. Menginjak usia tiga tahun, Norman sudah harus merasakan pahitnya hidup. Orang tuanya bercerai dan pengadilan menyerahkan hak asuhnya kepada sang ibu.

Tapi, Norman yang mulai menginjak usia praremaja sering berselisih paham dengan sang ibu. Maka, pada usia 11 tahun, dia minggat. Gadis asal Bedford, kawasan timur Inggris, itu lantas tinggal bersama sang ayah.

Saat keluarga sudah tidak lagi menjadi masalah, ganti sekolah yang tidak bersahabat dengannya. Norman yang masih belia sering menjadi korban bullying teman-temannya. Kondisi itu sangat memengaruhi kemampuan akademiknya.

Sampai-sampai, pada usia 14 tahun, dia dikeluarkan dari sekolah. Putus sekolah, Norman kemudian tinggal bersama kakek-neneknya di Essex. Berharap membuka lembaran baru yang jauh lebih baik di sekolah dan lingkungan baru, Norman justru semakin terpuruk. Lagi-lagi, dia gagal ber­prestasi di sekolah. Lebih parah lagi, dia hamil di luar nikah pada usia 15 tahun.

"Keluarga menyuruh saya melakukan aborsi. Tapi, saya memilih untuk mempertahankan kehamilan," ujar Norman.

Konsekuensinya, dia harus keluar dari rumah nenek dan kakeknya. Beberapa saat menggelandang di jalanan, dia akhirnya tinggal di asrama penampungan khusus kaum tunawisma dan membesarkan sendiri anaknya.

Meski sibuk menjadi orang tua tunggal, Norman tidak pernah memadamkan harapan untuk sekolah. Setelah lebih dari setahun mengurus anak, dia kembali ke jenjang pendidikan. Tapi, dewi fortuna belum berpihak kepadanya. Dia kembali hamil. Ayah si jabang bayi masih tetap sama. Yakni, kekasih masa remaja yang berusia dua tahun lebih tua darinya, Henry Uko.

Dengan dua anak, Jacey dan Christian yang kini berusia enam dan tiga tahun, Norman tetap semangat mengejar ketertinggalan dalam studi. Semangat belajar ibu muda itu sukses mengantarkannya menjadi mahasiswi brilian di bidang sejarah, politik dan pemerintahan, serta sosiologi. Dia pun mendapatkan beasiswa masuk ke Lucy Cavendish College, salah satu college yang menjadi bagian dari Universitas Cambridge.

"Tentu saja saya harus bekerja ekstrakeras. Tapi, saya sangat menikmati semua ini," papar mahasiswi tingkat dua tersebut.

Saat ini, Norman sedang mengajukan permohonan ke kampus untuk mendapatkan akomodasi keluarga di asrama lingkungan kampus. Dengan demikian, dia bisa tetap serius belajar sambil mengasuh putra-putrinya.

Rencananya, dia juga akan tinggal bersama Uko yang tahun ini diterima di Anglia Ruskin University. "Anak-anak saya sangat luar biasa. Jacey adalah gadis periang yang sangat baik hati. Sedangkan, Christian adalah bocah laki-laki yang punya karakter kuat dan lincah," paparnya. (hep/ttg)

Selengkapnya...

12 Juli 2009

Mengikuti Proses ''Menabung'' Tali Pusat Bayi ke Singapura (2-Habis)

Sel Induk Bisa Sembuhkan Leukemia Ganas

Sumber: Jawapos, 12 Juli 2009

Teknologi pengelolaan darah tali pusat (umbilical cord blood) semakin berkembang. Dengan demikian, bukan hanya biayanya yang kini menjadi kian murah, tetapi juga pemanfaatannya. Di beberapa negara maju, darah bawaan bayi saat lahir itu juga bisa disumbangkan untuk orang lain yang DNA-nya tidak sama dengan si bayi.

NUR AINI ROSILAWATI, Surabaya 

---


SEBENARNYA, teknologi pengelolaan darah tali pusat sudah ada lebih dari 30 tahun lalu. Tetapi, teknologi tersebut baru benar-benar dikembangkan secara luas setelah seorang dokter di Amerika Serikat berhasil mentransplantasikan sel induk -yang diambil dari darah tali pusat- kepada seorang anak lelaki berumur enam tahun yang menderita penyakit kelainan darah. Peristiwa bersejarah itu terjadi pada 1988.

Seperti yang disebutkan di bagian pertama tulisan ini kemarin, darah tali pusat mengandung sel-sel induk (stem cells), yang bisa meregenerasi diri sendiri. Untuk mengambil darah tali pusat dari bayi kembar Ny Isna Fitriana itu, Prof Dr dr Suhartono DS SpOG KFER dan dr Hendra Sukma Ratsmawan SpOG bertindak sangat hati-hati. 

Proses dan timing yang tepat memungkinkan dokter mendapatkan sel induk sebanyak-banyaknya dari darah tali pusat. Dari seorang bayi yang baru lahir, umumnya dokter hanya mengambil 75-180 ml darah tali pusat.

Semakin banyak sel induk yang diperoleh, berarti semakin banyak manfaat yang bisa dilakukan. Kalau tidak banyak, sel induk tidak bisa dimanfaatkan untuk transplantasi karena tindakan medis tersebut membutuhkan banyak sel induk.

Tentang pemanfaatan sel induk ini, masih ada beberapa kontroversi. Sampai 2006 saja, dokter-dokter ahli di Barat masih ada yang menentang penggunaan darah tali pusat untuk pemakaian sendiri pada kasus leukemia, pre-leukemia, dan penyakit-penyakit bawaan. Alasan mereka, kalau penyakit-penyakit itu sudah dibawa si bayi sejak lahir, berarti di sel induknya juga sudah ada penyakit-penyakit itu. 

Namun, pada musim panas tahun lalu beberapa percobaan membuktikan bahwa anggapan di atas tidak berlaku. Buktinya, seorang anak yang menderita penyakit diabetes tipe I (bawaan) bisa disembuhkan dengan cara mentransfusikan darah tali pusatnya sendiri.

Ada dua bukti lain yang diangkat para ahli untuk menggugurkan pendapat kolega mereka pada 2006 itu. Bukti pertama, sembuhnya seorang anak yang menderita penyakit cerebral palsy, setelah sel induk dari darah tali pusatnya ditransfusikan. Cerebral palsy adalah kelainan motorik yang permanen akibat tidak sempurnanya pertumbuhan jaringan otak.

Bukti kedua, disembuhkannya seorang anak yang menderita leukemia (kanker darah), juga dengan sel induknya sendiri. Tetapi, ini memang belum bisa dijadikan patokan. Sebab, keberhasilan tersebut baru terjadi pada satu kasus itu saja.

Bahwa sel induk dari darah tali pusat bisa digunakan untuk menyembuhkan secara total seorang penderita leukemia dari tipe yang ganas, tampaknya, semakin dipercaya oleh para ahli. Buktinya, topik itu menjadi bahasan utama dalam simposium internasional ke-7 Transplantasi Darah Tali Pusat, di San Fransisco, Amerika Serikat, awal Juni lalu.

Ketika para dokter ahli membahas dan meneliti penyakit apa saja yang bisa diatasi dengan sel induk dari darah tali pusat, beberapa negara bagian di Amerika Serikat sudah mulai mengembangkan program donasi darah tali pusat. Salah satunya di New York.

Dengan dibukanya program ini, semua ibu bisa menyumbangkan darah tali pusat bayinya untuk orang lain. Caranya dengan memberi tahu bank darah tali pusat untuk umum (publik), sebelum kandungannya genap berumur 34 minggu.

Tim dari bank darah tersebut lantas mendatangi si ibu untuk meminta tanda tangan persetujuannya dan suaminya, serta mengambil sampel darah si ibu untuk diperiksa ''kebersihan" darahnya. 

Proses pemeriksaan, pendaftaran, dan pengambilan darahnya sama persis dengan yang dialami Ny Isna, putri CEO Jawa Pos Group Dahlan Iskan saat melahirkan anak kembar (laki-laki dan perempuan) Kamis lalu (9/7).

Yang membedakan hanya pada biaya dan pemanfaatan darah tali pusat itu. Kalau Isna harus membayar sekitar Rp 15 juta per bayi, plus sekitar Rp 1,8 juta untuk penyimpanan sel induk darah tali pusat bayinya per tahun, ibu yang menyumbangkan darah tali pusat anaknya untuk kepentingan umum itu, gratis.

Mereka tidak mengeluarkan uang sepeser pun. Risikonya, sel induk darah bayinya disimpan tanpa identitas. Kecuali, tentu saja, golongan darah, rhesus, dan identitas penting lain dari darah itu.

Karena sudah diserahkan kepada negara, tidak mungkin bagi si ibu maupun bayinya untuk suatu saat memanfaatkan darah itu. Kecuali darahnya masih tersimpan di situ. Artinya, belum ditransplantasikan ke orang lain atau keburu digunakan untuk penelitian. Dan, karena darah itu tidak diberi identitas pemiliknya, yang dicocokkan adalah data-data darahnya saja. Jadi, bisa saja, itu bukan miliknya sendiri.

Meski di sana sudah ada bank darah tali pusat untuk umum, tidak berarti para ibu tidak bisa menyimpan darah tali pusat bayinya untuk kepentingan pribadi? Pasti bisa. Tetapi, ya seperti Ny Isna: Harus bayar.

Biaya pengambilan dan pendaftarannya lebih mahal daripada di Singapura dan Indonesia. Yakni, sekitar USD 2.000. Jasa pemeliharaan dan penyimpanannya USD 125 per tahun. Angka ini merupakan data 2007. Bisa jadi, sekarang sedikit lebih mahal dari itu.

Melihat perkembangan teknologi dan semakin banyaknya peneliti yang tertarik pada sel induk darah tali pusat ini, bisa dipastikan kelak ada ratusan jenis penyakit yang berhasil disembuhkan oleh sel induk dari darah tali pusat. Saat ini literatur sudah menyebutkan bahwa ada sekitar 80 jenis penyakit yang bisa disembuhkan oleh sel induk dari tali pusat. 

Data di bank darah tali pusat untuk publik yang ada di New York atau NYCBBP menyebutkan bahwa 20 persen dari 25 ribu darah tali pusat yang disumbangkan ke situ telah ditransplantasikan. Sekitar satu persennya lagi digunakan untuk riset.

Yang juga perlu diketahui, NYCBBP bukan satu-satunya badan pemerintah di AS yang menangani darah tali pusat. Jadi, kalau semua bank sejenis di sana dan di negara-negara maju lain melakukan riset, bisa dipastikan dalam beberapa tahun mendatang, bisa jadi, transplantasi pun tak lagi menggunakan donor hidup maupun cadaver (dari tubuh yang mati batang otaknya). 

Transplantasi menggunakan organ dari tubuh lain memiliki potensi rejeksi (ditolak) yang cukup besar. Karena itu, semua pasien transplan harus minum obat antirejeksi seumur hidup.

Dengan menggunakan sel induk dari darah tali pusat, organ yang rusak itu bisa dibangun kembali tanpa memerlukan obat antirejeksi, karena "kontraktornya" adalah sel induk dari tubuhnya sendiri.

Kegunaan darah tali pusat ini sebenarnya diketahui masyarakat sejak lebih dari 100 tahun lalu. Hanya, cara mereka menyimpan dan memanfaatkannya sulit dibenarkan secara ilmiah.

Uniknya, meski teknologi penyimpanan dan penggunaan darah tali pusat sudah sedemikian maju, ternyata masih banyak anggota masyarakat yang menyimpan tali pusat bayinya dengan cara tradisional. Yakni, dibungkus kain atau disimpan di laci.

Cerita dr Sulung Budianto, direktur RS Surabaya Internasional, misalnya. Dia menyimpan rapi tali pusat ketiga anaknya di laci lemari sampai sekarang. ''Saya kan hanya melakukan pesan orang tua agar tali pusat anak-anak disimpan semua,'' terangnya. Tali pusat itu disimpan di sebuah plastik kecil, lantas ditaruh dalam laci. 

Dia lalu bercerita bahwa tali pusat tersebut bisa digunakan sebagai obat ketika anak (pemilik tali pusat) sakit. Caranya, tali pusat digerus sedikit, lantas direndam dalam air. Airnya diminumkan ke anak yang sakit panas tinggi. Apa tali pusat tersebut pernah digunakan? Sulung menggelengkan kepala. ''Ya, tak pernah. Sampai sekarang, tali pusatnya tetap kering,'' ungkapnya. (*)


Selengkapnya...

11 Juli 2009

Mengikuti Proses ''Menabung'' Tali Pusat Bayi ke Singapura (1)

Ambil Darah, Dokter Berpacu dengan Ari-Ari Bayi

Sumber: Jawapos, Sabtu 11 Juli 2009


Belajar dari pengalamannya harus ganti hati, ketika dua hari lalu memperoleh cucu kembar, Dahlan Iskan, chairman/CEO Jawa Pos, meminta agar tali pusat cucunya itu disimpan. Bukan dengan cara tradisional, melainkan dengan cara baru yang lagi banyak dicoba di seluruh dunia: menyimpannya di bank tali pusat di Singapura. Berikut laporan mengenai hal itu.

Nur Aini Rosilawati, Surabaya

---

Yang disimpan itu sebenarnya tidak lagi berupa tali pusat, tapi darah yang diambil dari tali pusat. Darah yang sudah dimasukkan dalam kantong plastik dengan didesain khusus itulah yang dikirim ke Singapura. Di sana darah tersebut dipisah-pisahkan lagi untuk hanya diambil inti selnya.

Inti sel darah tali pusat itulah yang disimpan baik-baik di dalam tabung yang dinginnya mencapai 196 derajat celcius di bawah nol. Kelak, siapa tahu, inti sel darah itu diperlukan. Yakni, ketika si bayi, setelah besar atau tua kelak, terkena penyakit.

Inti sel darah tali pusat tersebut bisa disuntikkan (ditransplantasikan) untuk mengatasi penyakitnya itu. Misalnya, kelak si bayi mengalami sakit liver seperti kakeknya. Maka, secara teoretis, tidak perlu lagi menjalani transplantasi. Cukup diatasi dengan inti sel darah tali pusat tersebut. (Lihat bagian 2 serial tulisan ini besok).

Karena itulah, Dahlan mengizinkan wartawan Jawa Pos dan fotografernya ikut masuk ke ruang persalinan di RS Surabaya Internasional ketika putrinya, Isna Fitriana, melahirkan bayi kembar itu Kamis lalu (9/7). Dengan begitu, mereka bisa melihat langsung proses pengambilan darah dari tali pusat tersebut.

Bahkan, wartawan Jawa Pos sudah mendampingi Isna sejak sehari sebelumnya. Sebab, untuk mengikuti program penyimpanan darah tali pusat itu, sang ibu harus menjalani serangkaian pemeriksaan sejak sehari sebelumnya. Tujuannya, terutama, melihat apakah darah sang ibu memiliki beberapa kelemahan. Misalnya, mengidap virus atau penyakit.

Informasi itu diperlukan untuk membandingkan dengan darah dari tali pusat bayinya. Lebih khusus lagi, apakah ada virus HIV/AIDS, hepatitis B dan C, cytomegalovirus (CMV), dan sifilis. ''Jika hasil pemeriksaan darah ibu tidak menunjukkan adanya penyakit tersebut, darah bayi bisa disimpan di bank darah,'' terang Hidayat, branch representative Surabaya PT Cordlife Indonesia, perusahaan penyimpanan inti sel darah tali pusat di Singapura. Artinya, jika darah ibu tercemar, bayinya juga mungkin mengidap penyakit tersebut. Dalam kondisi begitu, darah dari tali pusat bayi tidak bisa disimpan dalam bank darah.

Hari Kamis lalu itu, pukul 10.00, Isna mulai dibawa ke ruang operasi. Istri Martha Dinata itu memang akan melahirkan secara caesar. "Sebenarnya, saya ingin melahirkan secara alamiah saja. Tapi, saya sudah tidak kuat bergerak lagi," ujar Isna yang kini menjadi pengusaha mandiri itu. "Baru 36 minggu saja sudah seperti ini. Bagaimana kalau harus melahirkan pada minggu ke-40," tambahnya sambil terus berbaring. Kandungannya memang begitu besar sehingga tiap ke dokter pun dia harus pakai kursi roda.

Kemudian, setelah bayi lahir, memang diketahui berat masing-masing bayi mencapai 2,6 kg dan 2,7 kg. Dokter yang menangani adalah Prof dr Suhartono DS SpOG KFER, dokter spesialis kandungan yang juga konsultan fertilitas endokrin dan reproduksi yang juga membantu kelahiran Isna itu 27 tahun lalu.

Pukul 10.30, Isna sudah menjalani pembiusan lokal yang dilakukan oleh dr Hardiono SpAnKIC, spesialis anestesi. Terdengar jerit pelan dari mulut Isna ketika jarum disuntikkan ke tulang punggungnya. Perawat berusaha memegangi tubuh Isna yang diposisikan melengkung, seperti udang, agar tidak bergerak. ''Ditahan ya Mbak. Agak sakit,'' kata dr Hardiono.

Sesaat kemudian, Isna mengatakan kakinya sakit, namun tidak bisa digerakkan. ''Tidak apa-apa, itu memang efek obatnya,'' lanjut dr Hardiono. Beberapa menit kemudian, Isna terlihat sudah mengantuk.

Tidak lebih dari lima belas menit, Prof Suhartono, didampingi dr Hendra Sukma Ratsmawan SpOG, masuk ke ruang operasi. Prof Suhartono melakukan insisi (pembedahan) melintang sekitar delapan sentimeter pada perut Isna. Dengan menggunakan pisau, Prof Suhartono dan dr Hendra membuka perut Isna hingga sampai bagian rahim.

Sekitar pukul 11.02, lahirlah bayi pertama berjenis kelamin laki-laki yang beratnya 2.600 gram dan panjang 48 sentimeter. Dari situlah proses pengambilan darah tali pusat itu dimulai. Ketika dikeluarkan, tentu si bayi masih terikat dengan tali pusat yang menghubungkannya dengan plasenta (ari-ari). Prof Suhartono lantas menjepit tali pusat itu di dua tempat. Jarak antarjepitan sekitar 5 cm.

Selesai menjepit, Prof Suhartono lantas memotong tali pusat agar si bayi bisa diserahkan kepada dr Agus Harianto SpA (K), dokter anak yang akan memeriksa kondisi sang bayi.

Tidak sulit bagi dr Hendra melakukan itu. Dia mencari vena yang memang mudah dilihat karena berwarna biru dari sisa tali pusat yang masih terhubung dengan plasenta. Vena itulah yang dia coblos dengan jarum yang sudah terhubung dengan kantong plastik.

Ketika dr Hendra mengambil darah tali pusat dan dr Agus merawat bayi yang baru diputus tali pusatnya, Prof Suhartono mulai mengambil bayi kedua. Yakni bayi wanita yang beratnya 2.700 gram dengan panjang sama: 48 cm. Kepada bayi kedua ini, juga dilakukan proses yang sama. Yakni mengambil darah tali pusatnya sebanyak kira-kira 100 ml.

Agar darah yang bisa diambil cukup banyak, Prof Suhartono terlebih dulu memperbaiki posisi tali pusat agar tidak melintir. Prinsipnya memang sebanyak-banyaknya darah yang bisa diambil. Tentu tujuannya agar bisa mendapatkan sebanyak-banyaknya inti sel darah tali pusat itu. Kian banyak inti sel yang bisa didapat, kian tinggi sukses yang bisa dicapai -seandainya kelak inti sel darah itu dipergunakan untuk memperbaiki organ-organ tubuh yang sakit. Karena itu, untuk memaksimalkan perolehan darah, Prof Suhartono sampai memijat pelan bagian vena hingga seluruh darahnya keluar tuntas.

Prof Suhartono mengatakan, pengambilan darah tali pusat harus dilakukan secepatnya. Sebab, ari-ari keluar paling lama empat menit setelah bayinya lahir. Nah, bila ari-ari sudah keluar, darah tali pusat akan mengering. ''Jadi, berkejaran dengan waktu. Sebelum ari-ari keluar, darah tali pusat sesegera mungkin diambil,'' terangnya.

Berapa banyak seharusnya darah tali pusat yang diambil? Prof Suhartono mengatakan, tidak ada batasan. ''Pokoknya, sebanyak mungkin. Agar sel inti yang disimpan juga tambah banyak,'' katanya. Namun, menurut literatur, darah tali pusat yang diambil sebaiknya lebih dari 50 ml. Dengan begitu, darah tersebut bisa diproses dengan mesin SEPAX, mesin pemisah sel inti dan bagian darah lainnya. Jika kurang dari 50 ml, SEPAX tidak bisa berputar.

Dengan demikian, kurang dari 50 ml pun masih bisa. Tetapi, pemrosesannya harus dilakukan secara manual. Dengan pemrosesan secara manual, tingkat keefektifan pemisahan sel inti dan bagian darah lainnya hanya 82 persen. Lain halnya bila menggunakan mesin SEPAX. Tingkat keefektifannya 96 persen. Ibarat jeruk, diperas hingga hanya sarinya.

Darah tali pusat tersebut lantas diberi label, berisi nama ibu dan identitas lengkapnya. Kemudian, dimasukkan dalam kantong plastik transparan. Selanjutnya, dimasukkan dalam kit yang telah disediakan. ''Darah tersebut akan diterbangkan dengan kurir khusus untuk bahan biomedis,'' kata Hidayat.

Karena itu, kotak berisi darah tersebut juga tidak akan melewati x-ray saat pemeriksaan di bandara. Paparan x-ray dikhawatirkan akan merusak struktur darah. Pihak kurir telah membuat sertifikat khusus mengenai hal tersebut. ''Sebelum 36 jam sudah harus sampai di bank darah Singapura,'' jelasnya.

Hidayat mengatakan, begitu sampai di Singapura, darah tali pusat akan menjalani serangkaian pemeriksaan. Yakni, bakteri, jamur, golongan darah dan rhesusnya, serta sel CD34+. Sel CD34+ merupakan bagian penting dalam prolif­erasi, produksi DNA agar menjadi jaringan.

Sama halnya dengan pemeriksaan darah ibu, darah tali pusat juga bebas dari bibit penyakit. Hidayat menuturkan, pemeriksaan atas darah tali pusat berlangsung dua kali. Sebelum dan sesudah darah tali pusat tersebut diproses. ''Penting untuk memastikan darah tidak tercemar,'' ujarnya.

Jika terjadi pencemaran, darah tidak bisa diberi antibiotik. Sebab, antibiotik tidak bisa menghilangkan endotoksin, komponen luar dari bakteri gram negatif. ''Bakterinya memang terbunuh oleh antibiotik. Namun, endotoksinnya tidak bisa. Endotoksin inilah yang bisa menimbulkan komplikasi pada tubuh bila suatu saat nanti sel inti darah tali pusat tersebut digunakan,'' lanjutnya.

Dalam kondisi tercemar, darah tali pusat tidak bisa digunakan lagi. Pihak Cordlife akan memberi tahu kliennya mengenai hal tersebut. Jika dalam waktu 30 hari tidak ada surat pemberitahuan dari klien, Cordlife secara otomatis akan membuang darah tercemar tersebut.

Kalau dinyatakan tidak tercemar, sel darah lantas diproses untuk diambil sel intinya saja. Pemrosesan darah tali pusat menggunakan triple bag. Tiga kantong darah dengan ukuran berbeda. Satu kantong besar untuk darah yang belum diproses dengan mesin atau manual. Setelah diproses, sel inti darah yang nanti disimpan di bank darah langsung mengalir ke kantong lebih kecil. Sisanya, bagian darah yang tidak terpakai, masuk ke kantong lain. Pemrosesan dengan triple bag itu meminimalkan kontaminasi saat pemisahan sel inti dari bagian darah lainnya.

''Setelah itu, sel inti darah tali pusat bisa langsung disimpan ke bank darah dengan suhu minus 196 derajat Celcius,'' jelas Hidayat.

Penyimpanan menggunakan tabung nitrogen. Bila sewaktu-waktu terjadi bencana alam, ada kemungkinan gas nitrogen habis. Dalam kondisi begitu, sel darah inti masih tetap aman hingga dua minggu. ''Sebelum dua minggu, gas nitrogen harus diisi lagi,'' terangnya. (bersambung/kum)

Selengkapnya...

01 Juli 2009

Irwan Hidayat, Bos PT Sido Muncul

Racikan Cespleng Si Bengal Irwan

  1. Jawapos, Selasa 30 Juni 2009
  2. Jawapos, Selasa 30 Juni 2009
  3. Jawapos, Selasa 30 Juni 2009


Pendidikan tinggi lengkap dengan gelar keilmuan mentereng bagi banyak orang adalah modal penting meniti tangga sukses. Tetapi, menyimak perjalanan Irwan Hidayat, 62, menjadikan Sido Muncul sebagai pabrik jamu terbesar di Indonesia, pendapat itu tidak sepenuhnya benar.

---

BAGI penikmat jamu atau pehobi nonton layar kaca, nama Sido Muncul tentu tidak asing lagi di telinga. Hampir semua kedai jamu dan toko kelontong menjual produk-produk Sido Muncul seperti Kuku Bima dan Tolak Angin. Dan hampir setiap jam, produk minuman energi dan penyembuh gejala influenza itu muncul di setiap jeda iklan televisi.

Sambil menyantap ikan bakar dan sea food saat makan malam di Rumah Makan Gama di Semarang pekan lalu, Irwan bercerita tentang jerih payahnya membangun Sido Muncul. Saat mengawali cerita, pria kelahiran Jogjakarta ini justru merasa bersyukur hanya lulusan SMA. ''Itupun lulusnya setelah saya pindah lima kali,'' ungkapnya sambil tertawa. Katanya, kalau dia pintar, dia tidak mungkin membawa Sido Muncul, perusahaan jamu keluarga yang didirikan tahun 1951 menjadi market leader di tanah air bahkan menembus pasar mancanegara.

''Wah, saya itu dulunya nggak karu-karuan,'' ungkapnya. Irwan mengakui, waktu dia bersekolah, dia bukan tipe pelajar bintang pelajar yang berpenampilan rapi, mematuhi peraturan sekolah, dan nilai-nilai pelajarannya excellent semua. ''Saya males belajar,'' tegasnya.

Irwan menggambarkan dirinya saat SMA dulu, berambut gondrong, bangun selalu kesiangan, buku tulis pun cuma satu. Di selipkan dikantong pula.

"Udah gitu nek ulangan suka ngrepek (nyontek,Red), makanya saya nggak pinter-pinter'' lanjut Irwan dengan logat Jawa Semarang yang kental.

Keadaan itu masih diperparah dengan seringnya dia berpindah-pindah SMA, hingga lima kali. Bukan karena tinggal kelas, tapi sekolahnya dibakar. Maklum, ketika dia SMA dulu, berbarengan dengan masa pemberontakan di Indonesia. ''Lha piye, masuk sekolah A dibakar, pindah sekolah B dibakar lagi, sampe capek sekolahnya dibakar terus. Pindah lagi ke tempat lain, eh, saya masuk sekolahnya ditutup, pindah lagi. Sampai lima kali,'' ungkapnya. Akhirnya, setelah pindah kesana kemari, Irwan berhasil lulus dari SMA Kristen Jogjakarta. "Itupun, sekarang sudah tutup," ujar pengusaha yang punya hobi nonton acara infotainment itu.

Setelah lulus SMA tahun 1965, Irwan tidak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Seperti yang dia katakan, dia malas belajar. Makanya sulung dari lima bersaudara ini memilih untuk mencari kerja. Ternyata, rencananya tidak berjalan mulus. Lamarannya seringkali ditolak. Sempat dia bekerja menjadi sales obat di PT Ireco Pharmaceutical pada 1969. Hanya satu tahun Irwan bertahan. Kebiasaan bangun kesiangan membuat dia gagal bertahan. Pada 1970, Irwan akhirnya masuk ke dalam lingkungan Sido Muncul. Perusahaan jamu keluarga yang didirikan oleh neneknya, Ibu Rahmat Sulistyo.''Mau bagaimana lagi, saya kepepet nggak ada pilihan. Mau kerja ditempat lain juga susah. Nggak ada yang mau nerima,'' ucapnya beralasan.

Irwan sendiri merupakan penerus generasi ke tiga. Setelah neneknya, tongkat kepemimpinan diserahkan ke ibunya, Desi Sulistyo Hidayat. Saat Irwan masuk, tempat produksi Sido Muncul berada di Mlaten, Trenggulun 154, Semarang. Lalu tahun 1981 pabriknya pindah lagi ke Bugangan, Semarang. ''Dari awal saya masuk, saya diberi ibu jabatan direktur. Nggak pernah naik atau turun pangkat,'' kelakarnya.

Jabatan boleh saja direktur, tapi pengetahuan Irwan mengelola perusahaan kala itu benar-benar minim. Dia benar-benar tidak tahu apa-apa.

Bahkan dia mengatakan, baru memiliki ide-ide segar setelah tahun 1990.''Selama dua puluh tahun, dari tahun 1970 sampai 1990, saya ndak maju-maju. Keliruuuuuuu terus,'' katanya.

Bagaimana tidak, setelah menjabat jadi direktur dia datang ke kantor jam 12.00 siang. ''Jam dua siang main kartu, jam empat pulang,'' lanjutnya. Beruntung, dia tidak sendirian. Keempat adiknya, Sofyan Hidayat, Johan Hidayat, Sandra Linata, dan David Hidayat juga ikut terlibat dalam perusahaan tersebut. Makanya, mereka saling bahu membahu.

Setelah dua puluh tahun lebih dia memegang perusahaan, tidak ada kemajuan yang berarti. Barulah dia sadar. Mulailah Irwan memikirkan bagaimana membuat jamu yang baik, bagaimana meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap produknya. ''Lha gimana lagi, dua puluh tahun jualan tapi nggak laku-laku,'' candanya.

Saat krisis, 1997, Irwan membangunkan pabrik modern. Saat itu, banyak kolega mengingatkan keputusan itu nekat. Namun ,sikap ''tidak mau tahu'' itu yang malah menyelamatkan Irwan dan Sido Muncul. Tahun 2000, pabrik rampung dan beroperasi. Sido Muncul menjadi perusahaan paling siap setelah krisis reda. ''Makanya saya bersyukur meski hanya lulusan SMA. Kalau sudah hebat dari awal, mungkin saja pabrik ini belum berdiri. Soalnya kebanyakan spekulasi,'' kata suami dari M. Shinta Ekoputri Sujarwo ini.

Kini, Sido Muncul menjadi produsesn jamu yang kian diperhitungkan. Memiliki pabrik seluas kurang lebih 46 hektar di Klepu, Ungaran, Semarang, Jawa Tengah, Sido Muncul didukung 3.500 karyawan dan delapan laboratorium modern untuk pengembangan produk. Pabrik Sido Muncul kini mampu memproduksi Tolak Angin sampai 40 juta sachet dan 300 juta sachet untuk pabrik Kuku Bima Energi dan minuman energi lainnya per bulan

Karena Sido Muncul merupakan perusahaan keluarga, generasi ke tiga ini sudah mulai mempersiapkan memberikan tongkat estafet ke generasi ke empat. Yaitu anak-anak mereka. ''Anak-anak kami sudah mulai terlibat di dalam perusahaan. Banyak yang bilang, mempertahankan perusahaan keluarga itu sulit. Setelah generasi ke tiga performa perusahaan mulai melorot. Tapi itu tidak berlaku bagi kami. (janesti/kim)

Tentang Irwan Hidayat

Tempat/Tanggal Lahir : Jogjakarta, 23 April 1947

Jabatan : Direktur Utama PT Sido Muncul

Istri : M. Shinta Ekoputri Sujarwo

Anak : tiga

Pendidikan: SMA

Produk : Jamu dan minuman energi

Omzet : 40 juta sachet Tolak Angin dan 300 juta

sachet Kuku Bima Energi per bulan.

Pemasaran : Seluruh kota di Indonesia dan Malaysia,

Hongkong, dan negara timur tengah.


Bersatu, Jamu Sido Muncul Maju

SELAIN selalu beradaptasi dengan perkembangan zaman, tantangan perusahaan keluarga yang sudah beroperasi turun-temurun adalah menjaga keharmonisan antar-anggota keluarga. Sebagai anak pertama dari lima bersaudara pewaris Sido Muncul, Irwan Hidayat merasa persatuan menjadi kunci suksesnya meneruskan perusahaan keluarga yang sudah berdiri sejak 1940 ini.

Irwan mengakui, menjaga keutuhan bisnis keluarga yang sudah jadi warisan turun temurun bukan suatu pekerjaan yang mudah, mengingat sebelum manajemen perusahaan diserahkan kepadanya, banyak kepentingan beradu di masing-masing anggota keluarga pewarisnya. "Perbedaan pendapat itu tidak salah yang penting tahan diri, kendalikan diri dan jangan saling mementingkan diri sendiri. Apalagi saat miskin, kita justru harus rukun," ujar bapak tiga anak dan kakek dua cucu ini.

Bertutur tentang masa lalunya, Irwan kecil yang fotonya bersama sang nenek dijadikan logo perusahaan Sido Muncul ini justru mengaku suka berbeda pendapat dalam banyak hal. Namun, saat perbedaan pendapat terjadi antara dirinya dan saudara-saudara yang lain, justru sang ibu menyalahkan dirinya. " Menurut ibu, kalau ada konflik berarti anak tertua yang salah karena dia memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga kerukunan adik-adiknya," ujarnya. Dengan berbekal kesabaran, akhirnya sedikit demi sedikit Irwan mencari jalan tengah untuk menjaga kerukunan antarsaudara yang satu dengan yang lain. Upaya itu dilakukan dengan mulai mendengarkan pendapat adik-adiknya satu per satu dan membicarakan setiap perbedaan pendapat melalui jalan musyawarah.

Sejak saat itu Irwan sadar, tanpa kerukunan maka tidak akan berbuah kesuksesan. Sebaliknya, kesuksesan tanpa kerukunan juga tidak ada artinya.

Ternyata visi menjaga kerukunan itu terbukti sukses membawa Sido Muncul menjadi perusahaan industri jamu terbesar di Indonesia.

Bahkan kerukunan itu pula yang terus menerus dia pesankan kepada anak-anak serta keponakan-keponakannya yang akan jadi generasi penerus perusahaan. (jan/kim)


Iklan Sido Muncul Pilih Marijan-Chris John karena Penakut

SELAIN produk jamunya yang mujarab, Sido Muncul juga dikenal karena strtegi memasarkan produknya yang "berani beda". Jika perusahaan lain suka memajang artis yang cantik dan ganteng untuk menjual produk, pabrik jamu terbesar ini malah berani menampilkan bintang-bintang iklan lokal, dengan penampilan "pas-pasan", namun punya prestasi menjulang.

Tidak heran, jika Sido Muncul dalam iklannya menampilkan Mbah Marijan, penjaga Gunung Merapi, sebagai ikon minuman suplemen Kuku Bima. Tidak itu saja, Sido Muncul juga menggandeng petinju kelas dunia, Chris John, untuk sekadar memberi branding image kepada masyarakat bahwa Kuku Bima cocok untuk yang memerlukan energi tambahan setiap hari. Padahal sejak tahun 1970, Sido Muncul juga rajin beriklan dengan artis top seperti Aminah Cendrakasih, Teti Kadi, Sophan Sophian sampai Agnes Monica. ''Sebenarnya tidak harus pakai orang ngetop untuk main iklan. Orang-orang seperti Mbah Marijan, Chris John, bahkan TKW dan orang cacat yang masih tetap bekerja pun bisa menjadi ikon. Mereka gambaran orang yang survive dan kuat,'' ujar Irwan memberi alasan.

Ide menggunakan orang-orang "special" itu muncul ketika dirinya dan penulis skenario serial Si Doel Anak sekolahan Harry Tjahjono berkunjung ke Gunung Merapi bertemu dengan Juru Kunci Mbah Maridjan. Dalam sebuah obrolan akhirnya mereka tahu, kalau sebenarnya Mbah Maridjan takut dengan wedhus gembel (awan bergulung penanda gunung meletus,red) . ''Padahal kita tahu, ketika gunung Merapi diberitakan akan meletus Mbah Maridjan ngotot bertahan,'' ucapnya. Begitu juga saat bertemu Chris John. Siapa yang tidak kenal petinju asal Banjarnegara Jawa Tengah ini. Di dalam ring, pria ini tangguh tak terkalahkan. ''Kelihatannya begitu, kan. Tapi ternyata dia itu takut kalau lagi di ring lho,'' katanya. Meski takut, baik Mbah Maridjan dan Chris John tetap bertahan dengan tugasnya masing-masing. Mengetahui sisi lain kedua pria itu, Irwan dan Harry Tjahjono akhirnya mengangkat mereka berdua menjadi ikon lelaki pemberani.

Selain iklan yang lebih merakyat, Sido Muncul juga terkenal dengan mudik gratisnya. Sudah puluhan ribu penyeduh jamu se-jabodetabek ''dipulangkan'' ke kampung halaman oleh Sido Muncul saat hari raya. ''Ide awal mudik gratis sebenarnya dari adik saya, Sofyan. Saya sih cuma bagian klebet bendero (mengibarkan bendera),'' ucapnya merendah.

Ide itu tercetus karena sebenarnya mereka ingin memberikan hadiah untuk penjual jamu. Dan, menurut dia, hadiah yang tepat adalah mudik gratis. ''Penjual jamu itu kebanyakan orang desa. Dan kami lihat kalau pas waktunya mudik, mereka kesusahan cari tiket,'' ungkapnya. Mudik Gratis sendiri tercetus kali pertama tahun 1991. Sampai tahun lalu, mudik gratis sudah berjalan 19 kali. (jan/kim)
Selengkapnya...