19 Juni 2009

Pisau Haifu, Revolusi Dunia Medis dari Chongqing, Tiongkok (2)


Jawapos, Jumat 19 Juni 2009

Kali Pertama, Bisa Ngobrol Sambil Terapi Tumor

Lewat riset yang sudah berlangsung 17 tahun, Chongqing Haifu Technology tidak hanya menemukan "Pisau Haifu". Masih ada dua lagi temuannya yang juga memesona dunia kedokteran. Siapa orang-orang di balik sukses itu?

ROHMAN BUDIJANTO, Chongqing

----

TEMBOK tinggi ruang lobi markas Haifu Chongqing bergambar awal kehidupan, yakni sperma dan telur. Gambar superbesar itu memenuhi tembok samping. Sebuah bulatan telur dengan garis tengah kira-kira satu meter "dikejar" oleh ratusan sperma yang ukurannya sebesar ikan lele dumbo. Gambar biru tua dengan latar biru muda itu diberi aksen kabur, seperti pembesaran foto medis.

"Tubuh kita sudah diprogram sejak awal," kata Xiang Peng, asisten presiden dan manajer internasional Hifu, di markas Hifu, Qingsong Road 1, Chongqing, Tiongkok, Jumat (12/6). Sesuai dengan program itu, setiap organ sudah punya fungsi dan tidak boleh dikurangi. Karena itulah, prinsip tindakan medis penyembuhan yang dikembangkan di Haifu adalah jangan sampai mengorbankan organ yang sehat karena menyalahi kodrat.

Haifu sudah membuktikan prinsip itu dengan metode ultrasound atau "adisuara". Pencapaian pengembangan medis yang dilakukan Haifu itu kian menarik perhatian. Siapa yang tidak tergoda oleh metode penghilangan kanker tanpa pembedahan dan sakit serta bisa sembuh "seketika" sesudah prosedur ditempuh?

Para tamu yang penasaran terus berdatangan ke markas Haifu. Para pemandu di Haifu menerima para tamu ini dengan menjelaskan spesifikasi detail, layaknya penjelasan kepada calon pembeli mobil. Pemerintah Tiongkok sangat bangga, wartawan dari Indonesia yang diundang untuk melihat perkembangan negeri "naga ekonomi" itu pun dimampirkan ke Haifu.

Yang diterangkan kepada para tamu adalah urutan cara kerja Haifu System atau "Pisau Haifu". Mereka juga disuguhi demo secara kasat mata bagaimana pemanasan terfokus dilakukan oleh ultrasound. Juga diputarkan video fragmen berita yang mengapresiasi temuan dan inovasi lembaga berkaryawan 200 orang itu. Berita dari televisi Inggris, BBC, dan Sky News itu melaporkan keberhasilan Pisau Haifu saat diluncurkan di Churchill Hospital, Oxford, Inggris, pada 2005.

Video lain menunjukkan bahwa menjalani terapi itu bisa lebih rileks. Seorang wanita tengkurap yang tumornya sedang "dibunuh" oleh "Pisau Haifu" diwawancarai wartawan. Momen itu diakui sebagai kasus pertama orang sedang menjalani terapi tumor bisa diwawancarai wartawan. Sesudah terapi, setelah bed rest cuma dua jam, perempuan melambai di lift yang akan menutup, pulang.

Pengakuan dari Inggris itu mengangkat reputasi "Pisau Haifu". Constantin Coussios, pakar dari Universitas Oxford, di BBC pada 19 November 2007, menyebut teknologi itu "sekop energi". Haifu atau HIFU (High Intensify Focused Ultrasound) System bisa menyerok kanker sesuai dengan yang kita inginkan.

Prinsipnya, gelombang yang memancar dan mengenai suatu benda akan melambat. Kemudian, energi itu akan memanas. Persis seperti microwave yang memanaskan makanan atau sinar matahari yang memanaskan permukaan bumi. Bedanya, kali ini yang dicecar dengan energi ultrasound dalam HIFU System adalah kanker atau tumor. Itu dilakukan secara non-invasive alias tak perlu membuka kulit atau daging.

Haifu tak hanya mengembangkan "Pisau Haifu". "Pisau Haifu" digunakan untuk prosedur penanganan tumor atau kanker di torso atau badan manusia. Ciptaan lain yang lebih terspesialisasi adalah Seapopinna. Alat persis mesin ATM ini disebut sebagai terapi ultrasound pertama untuk alergi rinitis. Fungsinya bisa menerapi penyakit kelainan pada hidung yang berciri bersin-bersin dan mbeler setelah pernapasan terpapar alergen atau pemicu alergi.

Teknik terapinya adalah memasukkan batang sebesar isi bolpoin ke rongga hidung. Uniknya, fokus pemancar ultrasound itu tidak di ujung batang, tetapi di samping. Dengan begitu, pencarian sumber gangguan lebih fleksibel. Batang untuk menembak benjolan pengganggu di rongga hidung itu dihubungkan dengan pembangkit ultrasound di bagian bawah "mesin ATM" dan dipantau lewat "layar ATM". Prosedur ringan semacam ini hanya perlu waktu singkat.

Kreasi lain adalah Seapostar. Alat ini digunakan untuk menerapi penyakit ginekologis. Seperti diketahui, jenis kanker yang umum menyerang organ reproduksi adalah kanker serviks, ovarium, uterus, vagina, vulva, dan tuba falopii. Bentuk alat ini juga mirip ATM. Bedanya, alat pemfokus ultrasound-nya lebih besar, sebesar jempol tangan. Fokus ultrasound-nya berada di ujung batang itu.

Xian Peng menyebut Seapopinna dan Seapostar berharga hanya sepersepuluh "Pisau Haifu" atau Model JC. Sasaran terapi untuk dua alat itu memang masyarakat yang lebih luas. Sebab, alergi rinitis dan gangguan ginekologis adalah problem sangat banyak orang. "Terapi dengan alat ini bisa lebih cepat dan bisa dipakai banyak orang," klaim sosok yang berpenampilan rapi tersebut.

Tapi, tidak ada kreasi manusia yang tidak luput dari kritik. Kritik yang dilancarkan kepada "Pisau Haifu" adalah prosedur tersebut juga dilakukan "dalam gelap", yakni hasilnya baru diketahui setelah terapi berakhir. Tidak seperti pembedahan yang bisa dilihat langsung dan dikontrol dengan kasat mata. Ini memang konsekuensi dari prinsip non-invasive tadi.

Yang juga terus dipercanggih adalah bagaimana menangani kanker atau tumor yang sudah menyebar (metastasis). Jadi, perlu metode "merebus" titik-titik itu dengan lebih akurat dan tak meleset ke bagian organ yang sehat. Seperti halnya pembedahan, "Pisau Haifu" makin efektif bila kankernya masih sangat kecil dan lokasinya terkumpul di suatu tempat. Namun, Peng Xiang menyebut, kini "Pisau Haifu" sudah mampu menangani kanker metastasis.

Teknologi Haifu itu terus dikembangkan dan kini sudah mendapatkan paten internasional. Pengembangannya melampaui banyak kerumitan. Sangat banyak percobaan dilakukan. Penyetelan panas ultrasound pernah meleset dan membakar jaringan sehat. "Misalnya, kulit terbakar," kata Peng Xiang. Namun, kini teknologi "Pisau Haifu" sudah jauh lebih maju. Karena itu, Haifu bisa menjamin keamanan penggunaannya.

Teknologi tersebut mula-mula dikembangkan pada 17 tahun lalu, dipimpin oleh dr Wang Zhibiao, wakil direktur Institut Rekayasa Ultrasonik Medis Tiongkok. Menurut situs resmi Haifu, lembaga itu bagian dari Fakultas Kedokteran Universitas Chongqing. Reputasi Profesor Wang sangat moncer, termasuk di Eropa. Karena keahliannya, dia pernah menjadi juri European Inventor of the Year 2007.

Dokter berusia 50-an tahun itu kini menjabat general manager Haifu. Dia terus memimpin riset pengembangan, aplikasi klinis, dan memasarkan buah teknologinya. Klinik yang dikembangkan Haifu sendiri sudah menangani lebih dari seribu kasus tumor menengah dan terminal. Termasuk tumor atau kanker liver, payudara, tulang, dan kanker/tumor dalam jaringan lunak.

Pengembangan ultrasound yang dilakukan dr Wang Zhibiao itu klop karena bekerja sama dengan dr Wu Feng. Profesor ini adalah direktur Pusat Terapi Tumor yang juga berafiliasi dengan Fakultas Kedokteran Universitas Chongqing. Dialah yang turut menemukan alat Haifu bersama dr Wang.

Direktur klinik Chongqing Haifu Technology itulah yang turut membuktikan suksesnya penanganan kanker liver dan payudara dengan prosedur Haifu secara komplet. Tokoh lain yang tidak kalah besar peranannya adalah Profesor Feng Ruo. Keahlian pakar dari Fakultas Kedokteran Universitas Chongqing ini juga mengenai bidang ultrasound.

Terobosan teknologi dari Chongqing (baca: congcing) itu seiring dengan kemajuan provinsi dengan penduduk 32 juta tersebut. Bila peta Tiongkok mirip ayam jago, Congqing terletak di bagian pangkal pahanya. Chongqing Municipality sendiri tercatat punya seratus ribu gedung yang bangunannya melebihi 10 lantai. Jalan tol, jembatan, terowongan, jalan layang terus dibangun di wilayahnya yang berbukit-bukit. Teknologi canggih juga "hidup" di wilayah yang amat sibuk itu. (habis)
Selengkapnya...

Phil Jackson, Pelatih Sepuluh Cincin

Kompas, Kamis 18 Juni 2009 Oleh Gatot Widakdo

Sukses Los Angeles Lakers merebut gelar juara NBA, Minggu (14/6), tidak lepas dari peran pelatihnya, Philip Douglas Jackson. Pria berusia 63 tahun ini juga mencatatkan namanya dalam buku sejarah NBA sebagai pelatih yang meraih sepuluh gelar juara.

Bukan kebetulan kalau Phil Jackson bisa membawa Lakers menjadi juara untuk ke-15 kalinya. Sebelumnya, pelatih yang juga dijuluki dengan nama ”Zen Master” karena keahlian strateginya ini pernah tiga kali memberi gelar buat Lakers dan Chicago Bulls sebanyak enam kali.

Dengan 10 cincin juara, Jackson melewati rekor sembilan titel juara yang dia pegang bersama Red Auerbach, sang pelatih legendaris. Auerbach meraup kesembilan gelarnya itu bersama Boston Celtics.

Seusai meraih cincin kesepuluh, Jackson mengatakan, sebenarnya tidak pernah ada rencana untuk menyamai apalagi melewati rekor Auerbach. Saat era Michael Jordan di Chicago Bulls berakhir tahun 1998, Jackson sempat menyatakan pensiun dan tidak mau melatih lagi.

Akan tetapi, tak lama kemudian Jackson berubah pikiran dan dia menerima pinangan Lakers. Dengan mengandalkan Kobe Bryant dan Shaquille O’Neal, Jackson kemudian tiga kali mengantar Lakers menjadi juara NBA tahun 2000-2002.

Tahun 2004 Jackson sempat meninggalkan Lakers, tetapi kembali lagi setahun kemudian. Setelah tujuh tahun tanpa gelar, Jackson akhirnya berhasil membawa Lakers kembali ke takhta tertingginya pada tahun ini.

Di mata para pemain, Jackson merupakan sosok pelatih yang karismatik. Dia juga selalu berprinsip ingin membantu setiap orang untuk menjadi manusia yang lebih baik. Pemain legendaris Chicago Bulls, Michael Jordan, menilai Jackson sebagai sosok seorang guru, pelatih, teman, sekaligus konselor.

Di mata Jordan, Jackson selalu ”terlihat” dan siap sedia. Dia memerhatikan kesejahteraan dan tidak melebih-lebihkan kesalahan para pemain. Jika pemain berbuat kesalahan dan semua orang tahu pemain tersebut berbuat kesalahan, itu bukanlah kritik pribadi. Jackson menyeimbangkan antara kritik dan pujian.

Menurut Jordan, Jackson menyebut caranya melatih itu sebagai kepemimpinan yang simpatik. Dia memperlakukan orang lain dengan rasa hormat dan memberi perhatian yang sama kepada orang lain seperti memperlakukan diri sendiri.

”Saya belajar banyak dari Jackson dan dia merupakan salah satu faktor dari rahasia kesuksesan saya,” ujar Jordan.

Selain simpatik, Jackson juga punya rasa percaya diri yang tinggi. Kepercayaan diri itu membuat dia disegani pemain. Shaquille O’Neal, mantan bintang Lakers, juga memuji kepemimpinan Jackson.

”Setiap Phil memberi instruksi, kami memerhatikannya baik-baik. Dulu, kami suka ngobrol sendiri setiap kali pelatih memberi instruksi,” kata Shaq memuji Jackson.

Soal percaya diri itu, Jackson mengatakan, jika ingin sukses seorang pelatih, memang harus punya rasa percaya diri. Percaya diri yang dia maksud adalah percaya pada keberhasilan rencana yang telah dibuat dan percaya kepada pemain yang diturunkan di lapangan.

”Keberhasilan dalam NBA bukan masalah pada apa yang akan kamu buat, melainkan pada bagaimana kamu melaksanakan itu,” kata Jackson.

Sempat frustrasi

Meski sudah bergelimang kesuksesan, perjalanan karier Jackson di dunia basket sesungguhnya tidak mulus dan sangat berliku. Sebagai mantan pemain NBA di New York Knicks pada 1967-1978 dan di New Jersey Nets selama 1978-1980, tahun 1980 Jackson memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya di Montana.

Itu dia lakukan setelah merasa tidak punya masa depan lagi di dunia basket. Di Montana, dia menjalankan bisnis pusat kebugaran milik keluarganya.

Namun, dunia basket tetap tidak bisa hilang dari kehidupannya. Jackson kemudian mencoba peruntungan dengan menjadi pelatih Chicago Bulls. Ketika itu, akhir tahun 1986, klub Chicago Bulls sedang mencari pelatih pendamping untuk Doug Collins. Seorang makelar menawarkan Phil Jackson kepada manajer Bulls, Jerry Krause.

Jadilah Phil Jackson mulai mengukir namanya di kancah NBA. Setelah itu, kisah sukses Chicago Bulls dengan Phil Jackson di belakangnya sudah menjadi legenda sampai sekarang.

Setelah memberi gelar keenam untuk Bulls, Jackson memilih beristirahat sebelum hengkang dan berlabuh di Los Angeles Lakers. Tugas Jackson di Lakers tidak mudah. Dia dihadapkan pada tantangan besar untuk memberi gelar buat tim yang bertabur bintang tetapi tidak pernah menjadi juara ini.

Sebagai langkah awal, Jackson mulai membenahi masalah psikologi pemain.

”Sekitar 60 persen pemain NBA adalah sosok berkulit hitam dengan latar belakang yang khas. Setelah menjadi pemain NBA, mereka mengalami kehidupan yang sama sekali berbeda dengan latar belakang mereka. Saya harus membawa mereka untuk bisa terus berkembang,” katanya.

Jackson pun membangun Lakers dengan sedikit mengadopsi strategi yang selalu dia terapkan ketika melatih Bulls, yakni ”triangle offence”. Peran Jordan dilakukan Shaquille O’Neal, peran Scottie Pippen dijalankan Kobe Bryant. Adapun peran pemain ketiga tidak terlalu signifikan di Lakers, tetapi sering diperankan Ron Harper, mantan pemain Bulls.

Tak butuh waktu lama, Jackson langsung sukses pada musim pertamanya bersama Lakers yang kemudian dipertahankan pada dua musim selanjutnya. Episode selanjutnya menjadi masa pasang surut buat Jackson. Setelah gagal pada final musim 2003-2004, Jackson kembali memutuskan untuk istirahat.

Setahun tanpa aktivitas, Jackson lalu memutuskan kembali ke Lakers. Namun, dia harus memulai dari bawah. Musim 2005-2006 dan 2006-2007 kinerja Jackson masih belum memuaskan karena timnya selalu tersisih di babak pertama play-off.

Akhir musim 2007, Jackson membuat langkah mengejutkan dengan merekrut Trevor Ariza dari Orlando Magic. Keputusannya ini mengejutkan karena Jackson berani menukarnya dengan Brian Cook dan Maurice Evans ke Orlando.

Awalnya, para pemain Lakers sempat terkejut dengan keputusan sang pelatih. Namun, keputusannya itu ternyata benar. Ariza berhasil menjadi pelapis buat Bryant dan Pau Gasol dalam menyerang dan juga bertahan.

Praktis, keputusan dia membuang small forward muda itu disesali pelatih Magic, Stan Van Gundy. Sementara Jackson mengisap cerutu kemenangan, mengenang tradisi yang dilakukan Red Auerbach ketika meraih juara.

Di NBA, seorang pelatih yang dinobatkan sebagai Pelatih Terbaik akan memperoleh Red Auerbach Trophy. Barangkali, suatu saat trofi itu harus diganti namanya menjadi Phil Jackson Trophy.
Selengkapnya...

Pisau Haifu, Revolusi Dunia Medis dari Chongqing, Tiongkok (1)

Jawapos, Rabu 18 Juni 2009

Tuntaskan Tumor Kecil Hanya dalam Puluhan Menit

Selain mengeksplorasi angkasa luar dan terus membangun megaproyek infrastruktur, Tiongkok -lewat Haifu Chongqing- juga menyelam ke tubuh manusia. "Pisau Haifu" itu membunuh kanker dengan fokus ultrasound. Tanpa pembedahan, kesakitan, transfusi, serta tanpa mengusik sisa organ yang sehat.

ROHMAN BUDIJANTO, Chongqing

---


SALAH satu tantangan terbesar dunia medis adalah bagaimana menyembuhkan tanpa menimbulkan kesakitan baru. Juga tanpa mengorbankan bagian organ yang sehat. Amat kerap orang harus kehilangan salah satu payudara, misalnya, demi menyelamatkan hidupnya dari kanker. Padahal, bagian dari yang dipotong keseluruhan itu hanya beberapa titik yang terkena kanker.

Teknologi pembedahan juga mengharuskan pengorbanan berupa kerusakan jaringan kulit dan otot. Untuk membenahi liver yang rewel terkena kanker, orang harus dikoyak perutnya. Belum lagi pengorbanan berupa pendarahan dan karenanya harus disiapkan transfusi. Kalau berhasil, dilanjutkan dengan proses penyembuhan yang memakan waktu.

Tantangan ini dijawab dengan kemajuan teknologi ultrasound untuk bidang medis. Ilmuwan Tiongkok dari Chongqing Haifu Technology menciptakan alat yang mampu "membunuh" kanker tanpa pembedahan. Namanya HIFU (high intensify focused ultrasonic) atau HIFU System. Prinsipnya, misalnya, liver atau payudara terkena kanker sebesar kacang tanah, maka lokasi sebesar itu pula yang diincar dan dimatikan.

"Pasien bisa melalui prosedur ini dengan sadar, tanpa anestesi. Setelah selesai, pasien bisa langsung pulang,'' kata Xiang Peng, asisten presiden dan manajer internasional Haifu di markas Haifu di Qingsong Road 1, Chongqing, Tiongkok, Jumat (12/6). "Kecuali kalau selesainya prosedur itu sudah malam, dia boleh menginap di rumah sakit," lanjutnya, bercanda.

Teknologi ini berbeda dengan teknik laser yang tetap harus melewati jaringan sehat menuju titik yang sakit, dengan konsekuensi bisa mengganggu organ sehat di jalan laser itu. Teknologi ultrasound langsung melokalisasi titik yang sakit lalu "merebusnya" hingga mati.

Selama ini yang dikenal umum memakai teknologi tersebut adalah USG alias ultrasonografi. Karena perbedaan sifat lapisan dalam tubuh, bisa "dilihat" kondisi bagian dalam tubuh lewat pantulan frekuensi suara yang kasat telinga itu. Hasilnya, kita bisa melihat janin dalam kandungan. Tentu saja energi untuk "melihat" janin itu dibuat rendah agar tak mengganggu calon manusia itu.

Sedangkan HIFU System atau juga dikenal sebagai "Pisau Haifu" melakukan penguatan pancaran ultrasound sehingga menimbulkan panas. Prinsip kerja alat ini didemonstrasikan dengan unik. Air dalam kotak kaca diberi pancaran ultrasound dari alat terapi tumor Haifu Model JC200 atau Model JC Focused Ultrasound Tumor Therapeutic System. Tepat di tengah ada titik putih. "Titik ini adalah bagian air yang ditingkatkan suhunya menjadi 65-75 derajat dengan ultrasound,'' jelas Xiang di depan rombongan wartawan Indonesia.

Titik putih itu bisa diatur besarnya, bisa sebesar beras lalu dibesarkan sebesar kacang tanah, atau lebih besar lagi. Artinya, sasaran yang "digarap" ultrasound itu bisa diatur dengan komputer, sesuai besarnya kanker. Energi yang disalurkan di sana bisa dipancarkan dengan akurat.

Xiang juga mendemokan ketika titik energi ultrasound itu tepat ditempatkan di permukaan air. Menyemburlah titik air itu karena mengalami penguapan. Tangan Xiang lalu dimasukkan ke air, tanpa menyentuh titik air yang panas itu. Tapi, dia lewatkan di bawahnya, antara pemancar frekuensi ultrasound yang juga terendam air dengan titik air itu.

"Lihat tak ada yang luka tangan saya," katanya sambil mengelap tangan basah itu dengan tisu. Jadi, antara pemancar ultrasound yang mirip lingkaran mike kecil berwarna merah bata dengan titik pemanasan tak ada "garis" panas. Pemancar ultrasound itu ditempatkan di bawah meja tempat pasien dirawat.

Haifu System bisa mencapai titik kanker tanpa mengubah kondisi di sekitarnya, baik menjadi panas atau menjadi sakit. "Dengan meningkatkan suhunya secara ultrasound, alat ini membunuh kanker di titiknya yang tepat," lanjut pakar berusia sekitar 40 tahun ini. Dengan demikian, organ sehat di sekitar titik itu tak terusik.

Prosedur ini juga disebutkan tak perlu waktu lama. Waktunya hanya beberapa puluh menit untuk kanker atau tumor kecil. Kalau kanker besar memang bisa berjam-jam, bergantung pada kompleksitasnya. "Kalau kanker itu dinyatakan sudah mati, sudah cukup,'' jelasnya.

Sebanyak 20 unit alat ini sudah dipakai di rumah sakit di Tiongkok, termasuk di klinik Haifu sendiri. Yang lain dipakai di Inggris, Jepang, Amerika Serikat, Korea, Hongkong, Rusia, Spanyol, Italia, Ukraina. Untuk membuka mata dunia, demonya di luar negeri dilakukan di Churchill Hospital, Oxford, Inggris. Haifu Chongqing berkolaborasi dengan Ultrasound Therapeutics Limited (UTL) Inggris.

Keberhasilan terapi kanker dari luar tubuh (extracorporeal) ini dinilai sebagai "revolusi" di bidang kedokteran. Tak heran pemerintah Tiongkok sangat membanggakan hasil riset 17 tahun tim pakar mereka di Haifu itu. Sistem ini kemudian dikenal dengan Pisau Haifu, sekalipun sama sekali berbeda dengan fungsi pisau bedah.

Harganya yang USD 2 juta (sekitar Rp 24 miliar) dianggap layak, karena alat ini sangat efisien dalam melayani pasien. Prosesnya tak serumit prosedur pembedahan konvensional biasa. Untuk memastikan alat ini dioperasikan dengan benar, Haifu memasukkan paket harga itu dengan pelatihan dokter ahli yang akan menjadi operator. Sebab, betapapun alat ini bisa dioperasikan siapa pun, dokter tetap diperlukan untuk memastikan diagnosis yang tepat. Haifu sendiri mengoperasikan klinik, bekerja sama dengan Teknik Ultrasound Fakultas Kedokteran Universitas Chongqing.

Alat ini bisa melayani banyak pasien secara ringkas. Kapasitasnya bisa dua ribu pasien setahun atau lima pasien sehari. Bergantung lama tidaknya dan kompleks tidaknya kanker atau tumor yang ditangani. Di Eropa, pasien membayar ongkos sekitar 6 ribu euro (sekitar Rp 85 juta) untuk pelayanan alat ini. Sedangkan di Tiongkok sedikit lebih murah. Menurut situs Haifu, sekitar 10 ribu pasien kanker sudah dilayani dengan alat ini.

Kanker dan tumor yang bisa diterapi dengan alat ini adalah kanker liver, payudara, sarcoma (jaringan ikat), pankreas, renal, dan kanker tulang. Kemampuannya diklaim termasuk menangani kanker yang sudah menyebar.

Ongkos-ongkos tadi dianggap Xiang Peng layak bila dibandingkan dengan bedah konvensional. Apalagi, prosedur ini tak perlu membuat pasien kesakitan dan opname. Kalau prosedur pertama tak berhasil, tinggal diulangi. "Dalam bedah konvensional, akan rumit bila prosedur gagal jahitannya dibuka lagi," ujar sosok yang sangat fasih berbahasa Inggris ini.

Lalu bagaimana hasil "rebusan" bekas kanker di dalam organ sehat tadi? "Akan mengerut," kata Xiang. Dicontohkan, tumor berukuran 148 plus minus 54,2 cm2 setelah "direbus" dengan ultrasound dalam jangka 6 bulan jadi 49,2 plus minus 31,0 cm3 atau mengerut jadi 63,2 persen. Bekas kanker yang terus akan mengerut ini diklaim tidak mengganggu organ sehat. (bersambung)

Selengkapnya...

17 Juni 2009

Bryant Lepas dari Bayang-bayang

Kompas, 17 Juni 2009 Oleh J Waskita Utama

Sejak masuk draft NBA tahun 1996, predikat calon bintang sudah melekat pada diri seorang pemuda berusia 17 tahun bernama Kobe Bean Bryant. Setelah tiga belas tahun menanti, semua ekspektasi akan kebintangannya itu terwujud di Amway Arena, Orlando, Florida, Amerika Serikat, Minggu (14/6).

Bryant mengantar Los Angeles Lakers mengalahkan Orlando Magic 4-1, untuk merebut gelar juara ke-15 sepanjang sejarah klub itu. Sang pelatih, Phil Jackson, juga masuk buku rekor dengan merebut cincin juara ke-10. Bagi Bryant sendiri, ini gelar keempat, gelar yang mengukuhkan namanya sebagai seorang bintang NBA.

Bryant bergabung ke NBA pada paruh kedua dominasi mahabintang NBA, Michael Jordan. Bersama Chicago Bulls yang diasuh Jackson, Jordan enam kali menjuarai NBA pada tahun 1991-1993 dan 1996-1998.

Sepeninggal Jordan, NBA sibuk mencari bintang lain untuk mempertahankan popularitas liga yang mulai merosot. Bryant dan nama lain seperti Grant Hill, Vince Carter, Allen Iverson, dan Tracy McGrady digadang-gadang menjadi bintang baru. Akan tetapi, tidak ada yang benar-benar layak menjadi penerus sang legenda.

Hanya dua tahun setelah dominasi Bulls berakhir, Bryant sebenarnya sudah membawa Lakers menjadi juara NBA. Tak hanya sekali, tetapi tiga kali berturut-turut hingga tahun 2002. Namun, pebasket kelahiran Philadelphia ini tak bisa mengklaim keberhasilan itu sebagai sukses pribadi karena ada bintang lain bernama Shaquille O’Neal yang mendapat kredit lebih besar.

Peran center bertubuh raksasa ini dinilai lebih menonjol bagi Lakers. O’Neal pula yang dinobatkan sebagai pemain terbaik (most valuable player/MVP) final NBA tiga kali berturut-turut, dalam setiap kesuksesan Lakers tersebut.

Meski rekan setim, O’Neal dan Bryant tidak bisa dibilang berteman dekat. Rivalitas keduanya semakin menonjol dan berpuncak pada kegagalan Lakers di tangan Detroit Pistons pada final NBA tahun 2004. Jackson pun mundur dari kursi pelatih dan O’Neal hengkang ke Miami Heat.
O’Neal menuduh kepergian mereka itu karena manajemen Lakers berusaha memuaskan keinginan Bryant.

Reputasi Bryant juga tercemar karena tuduhan pelecehan seksual terhadap seorang pegawai hotel pada musim panas 2003. Namun, kasus tersebut dihentikan setahun kemudian karena korban menolak bersaksi di pengadilan. Bryant kemudian meminta maaf secara terbuka, dan kedua pihak lalu sepakat menyelesaikan kasus itu secara tertutup.
Berdamai

Jackson kembali ke Lakers pada tahun 2005. Dia berdamai dengan Bryant untuk membangun kembali kekuatan Lakers. Kehadiran pemain Spanyol, Pau Gasol, pada awal tahun 2008 membangun harapan Bryant. Kesempatan pertama langsung datang pada akhir musim itu juga.

Bryant mengantar Lakers ke final NBA menghadapi Boston Celtics setelah sebelumnya meraih gelar MVP reguler untuk pertama kali. Namun, Bryant ternyata belum berhasil melepaskan diri dari bayang-bayang O’Neal karena Lakers ditundukkan musuh bebuyutannya ini, Celtics.
Kekalahan menyakitkan itu memompa semangatnya. Sepanjang musim ini, penampilannya semakin matang dan dia tak lagi egois. Bryant lebih kerap memberikan peluang bagi rekan setimnya untuk mencetak angka.

Akhirnya, saat yang ditunggu-tunggu tiba. Lakers lolos ke final menghadapi Magic. Rekan-rekan Bryant membalas kepercayaan sang bintang dengan memberi kontribusi penting sepanjang seri final. Hanya perlu lima game, Lakers pun menghentikan Magic dan Bryant dinobatkan sebagai pemain terbaik final.

Jackson yang saat berseteru dengan Bryant sempat mengecap dia sebagai pemain egois kemudian bisa melihat anak asuhnya ini semakin matang pada usia 30 tahun.

”Dia belajar menjadi pemimpin yang dihormati rekan-rekannya. Hal itu sangat penting karena dia belajar untuk membalas dukungan mereka. Dia kini lebih banyak memberi, bukannya seorang pemimpin yang banyak menuntut. Hal ini baik untuk dia dan menarik untuk ditonton,” puji Jackson terhadap Bryant.

Bryant menyamai rekor O’Neal dan Tim Duncan. Dia meraih empat cincin juara NBA dan menjadi pemain tersukses setelah era Michael Jordan. Namun, hal yang lebih penting adalah dia kini terbebas dari bayang-bayang O’Neal. Bryant membuktikan diri bisa menjadi juara NBA tanpa O’Neal, komentar yang kerap didengarnya selama tujuh tahun ini.

”Hal itu konyol dan sangat mengganggu. Seperti menyiksa orang dengan air yang menetes terus-menerus di kepala. Namun, itu menjadi tantangan yang harus dihadapi karena saya tidak bisa membantahnya. Anda bisa terus mencari pembenaran sampai pingsan, tetapi tak akan ada yang percaya sampai Anda membuktikan bahwa hal itu keliru. Kami sudah menjawab tantangan itu,” ujar Bryant.

O’Neal pun tak ragu mengucapkan selamat pada kesuksesan Bryant. ”Selamat, Kobe, kamu layak mendapatkannya. Kamu bermain sangat baik. Nikmatilah itu, teman, nikmatilah,” tulis O’Neal di situs Twitter-nya.

Dalam lima pertandingan final, Bryant mengoleksi rata-rata 32,4 angka, 7,4 assist, dan 5,6 rebound. Selama play off, jarang terlihat dirinya tersenyum. Dia terlihat sangat berdedikasi untuk menyelesaikan tantangan ini.

”Saya sangat fokus dengan laga ini. Untuk sesaat rasanya seperti kehilangan kesadaran. Namun sekarang saya sangat gembira, seperti anak kecil yang masuk toko permen,” ujarnya.
Bryant mewarisi bakat basket dari ayahnya, Joe ”Jellybean” Bryant, mantan pemain Philadelphian 76ers dan pelatih LA Sparks. Masa kecilnya banyak dihabiskan di Eropa mengikuti karier sang ayah yang bermain di Italia. Tak heran, Bryant fasih berbahasa Italia dan Spanyol, serta berteman dekat dengan Gasol.

Nama Bryant mulai dikenal di AS lewat prestasinya selama bersekolah di Lower Merion High School. Pada tahun ketiganya, dia membawa Lower Merion Aces menjadi juara negara bagian. Dengan nilai SAT 1.080, Bryant dijamin mendapat tawaran beasiswa basket ke banyak perguruan tinggi. Namun, dia memutuskan langsung menuju NBA dalam usia 17 tahun.
Tiga belas tahun kemudian, Bryant membuktikan keputusannya itu tidak keliru.
Selengkapnya...

30 Mei 2009

Hepatitis C, Periksa dan Sembuhkan Segera!

Sumber : okezone, Rabu 27 Mei 2009

HEPATITIS C merupakan jenis penyakit yang sangat mudah menular. Edukasi "Ayo Periksa, Sembuhkan Segera" terus dikampanyekan untuk menekan jumlah penderita penyakit ini.

Hepatitis C adalah salah satu jenis infeksi virus pada hati. Infeksi ini dapat mengakibatkan peradangan dan kerusakan hati. Pada sebagian kasus, hepatitis C bisa menjadi sirosis (pengerasan) hati, kanker hati, dan atau kematian akibat gagal hati.

Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dari 170 juta penderita hepatitis C di dunia, tujuh juta di antaranya adalah penduduk Indonesia. Sekitar 80 persen dari orang yang baru terinfeksi, penyakitnya akan terus berkembang menjadi infeksi kronis. Sirosis terjadi pada sekitar 10-20 persen penderita hepatitis C kronis, dan kanker hati terjadi pada 1-5 persen penderita hepatitis C kronis dalam kurun waktu 20-30 tahun.

"Sekitar 30 persen dari penderita hepatitis C apabila dibiarkan dalam jangka waktu yang lama memiliki kecenderungan terkena penebalan hati (sirosis) dan kanker hati," tutur Ketua Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia (PPHI) dr Unggul Budihusodo SpPDKGEH.

Semua orang memang berisiko untuk tertular virus hepatitis C. Virus ini dapat menular melalui darah dan cairan tubuh, misalnya transfusi darah, hubungan seks yang tidak aman, tato, tindik, dan injeksi.

Virus hepatitis C juga menyebar lewat kontak langsung dengan darah atau produk darah. Jalur utama penularan melalui transfusi darah yang tidak ditapis dan pemakaian jarum suntik yang tidak steril secara bergantian atau pemakaian berulang.

"Orang-orang yang pekerjaannya berhubungan dengan penggunaan jarum suntik dan cairan tubuh manusia, seperti petugas kesehatan dan petugas laboratorium, juga termasuk kelompok yang berisiko," tandas Unggul.

Penularan secara seksual dan perinatal dapat pula terjadi, tetapi lebih jarang. Risiko tertular pada anak dari ibu relatif rendah, hanya sekitar 5 persen. Dan yang perlu diingat, virus hepatitis C tidak ditularkan melalui bersin, pelukan, batuk, makanan, air, penggunaan peralatan makanan atau kontak biasa.

Sampai saat ini telah ditemukan tujuh virus yang dinamai menurut abjad, yakni hepatitis A, B, C, D, E, G, dan TT. Perbedaan antara virus hepatitis ini terletak pada perbedaan kronisitas infeksi dan kerusakan jangka panjang yang mereka timbulkan.

Hepatitis C merupakan masalah kesehatan masyarakat karena paling sering berlanjut menjadi hepatitis kronik, sirosis, dan kanker hati primer. Dibandingkan dengan hepatitis B, virus hepatitis C lebih sering menyebabkan penyakit hati menahun. Replikasi atau berkembangbiaknya virus ini sangat produktif dan dapat mencapai 10 triliun kopi virus per hari.

"Infeksi virus hepatitis C telah menjadi suatu pandemik atau wabah global, di mana penderita lebih banyak daripada yang terinfeksi human immunodeficiency virus (HIV)," jelas dokter yang berpraktik di RSCM ini.

Virus hepatitis C ini amat variatif secara genetik. Virus ini juga memiliki angka mutasi atau perubahan genetik yang tinggi, sehingga sering muncul virus mutan yang kerap dapat menghindari antibodi tubuh.

Penyakit ini tidak memiliki gejala khusus. Oleh sebab itu, sering juga disebut sebagai infeksi terselubung (silent infection) karena infeksi dini virus hepatitis C sering kali tidak bergejala dan tidak khas sehingga terlewatkan.

"Hepatitis C kronis dikenal sebagai silent killer karena sekitar 90 persen kasusnya hampir tidak bergejala.
Situasi ini meningkatkan risiko penularan hepatitis C tanpa disadari pembawa virus," jelasnya saat menghadiri acara peringatan Hari Hepatitis Sedunia di Blitzmegaplex, Jakarta, baru-baru ini.

Unggul menyarankan agar segera sadar untuk memeriksakan kesehatan secara mandiri. Hal itu tidak saja penting untuk mencegah penyebaran virus hepatitis C, tetapi juga meningkatkan peluang keberhasilan terapi terhadap peradangan hati menahun akibat infeksi virus tersebut.

"Sebaiknya segera memeriksakan diri jika merasa melakukan sesuatu yang berisiko. Jika tidak berisiko, setidaknya periksa sekali seumur hidup," ucap dokter yang juga berpraktik di Rumah Sakit Omni ini.

Tingginya produksi virus bisa memunculkan generasi virus hepatitis C yang beraneka ragam, dan memungkinkan virus ini meloloskan diri dari sergapan sistem kekebalan. Akibatnya, belum ada vaksin yang berhasil dibuat untuk mencegah infeksi virus hepatitis C. Pengobatan infeksi hepatitis C tipe 1 membutuhkan waktu satu tahun, sedangkan infeksi hepatitis C tipe dua dan tiga selama enam bulan.

Tingkat keberhasilan pengobatan virus hepatitis C dipengaruhi faktor usia, jenis kelamin, berat badan, serta jumlah dan tipe virus. Keberhasilan pengobatan infeksi hepatitis C sekitar 85 persen. "Semakin tua semakin susah diobati. Peluang keberhasilan pengobatan pada perempuan lebih besar dibandingkan laki-laki. Kelebihan berat badan juga menurunkan tingkat keberhasilan pengobatan," tutur Unggul.

Staf Ahli Menteri Kesehatan Bidang Medikolegal dr Rahmi Untoro MPH yang datang menyampaikan sambutan dari Menteri Kesehatan mengatakan, pemerintah telah melakukan pendataan kasus, melakukan surveilans, dan meningkatkan akses pelayanan kesehatan untuk menanggulangi penyebaran infeksi virus hepatitis.

Peningkatan akses pelayanan yang sudah dilakukan di antaranya kerja sama pemerintah dengan PT Roche Indonesia, di mana telah mengumpulkan data hepatitis C di 21 provinsi dari unit transfusi darah, rumah sakit, dan laboratorium sejak Oktober 2007. "Kegiatan ini dimaksudkan untuk melihat besaran penyakit hepatitis di Indonesia," tutur Rahmi.

Unggul mengatakan, kampanye hepatitis C "Ayo Periksa, Sembuhkan Segera" harus terus dilakukan. "Sekarang mereka yang berisiko dapat segera memeriksakan diri dan mereka yang telah terdiagnosis bisa menjalankan pengobatan," pesannya.
Selengkapnya...

23 Mei 2009

Mengatasi Tab System Restore Windows XP Professional Yang Hilang

Pernah anda mengalami ketika klik kanan di My Computer| Properties tab System restore anda tidak ada alias hilang. Jika yang anda alami demikian, jangan panik, berikut cara mengembalikan system restore:

  1. Buka windows explorer

  2. Masuk ke c:\windows\inf\

    Bagaimana jika tidak ketemu c:\windows\inf\ ? Tenang, setelah anda membuka windows explorer pilih Tools | Folder Options | Tab View | klik Show hidden Files and folders | Apply | OK

  3. Cari File bernama sr.inf, jika sudah ketemu klik kanan pada mouse di file tersebut, kemudian pilih install.

  4. Saat sr.inf kita install, siapkan juga cd OS Windows XP yang anda gunakan. Karena saat install kadang membutuhkan beberapa file yang ada di cd OS Windows XP.

  5. Setelah selesai proses install, silakan restart pc anda dan cek. Apa tab system restore anda sudah tampil kembali ?


Sekian sharing tips dari saya, semoga membantu mengatasi masalah yang anda hadapi.


Regard's

D. Wijaya

dwijaya18@gmail.com





Selengkapnya...

07 Mei 2009

LeBron James, Gabungan Bakat dan Usaha

Kamis, 7 Mei 2009 | 03:08 WIB Oleh J Waskita Utama
Sumber : Kompas

”Tidak akan ada orang di sana,” pikir Pelatih Cleveland Cavaliers Mike Brown pada suatu pagi di bulan Mei 2008. Pagi itu, Brown mengajak putranya, Elijah, pergi ke fasilitas latihan klub Cavaliers untuk menghabiskan waktu bersama.

Musim 2007-2008 baru saja berakhir untuk Cavaliers. Beberapa hari sebelumnya, tim asuhan Brown kalah menyakitkan dari Boston Celtics dalam semifinal Wilayah Timur. Para pemainnya pun langsung angkat koper menuju Cancun, Riviera, atau lokasi wisata lain bersama keluarga masing-masing untuk liburan panjang.

Ternyata, lampu menyala terang di lapangan latihan ketika Brown tiba. Semakin dekat ke lapangan, terdengar suara pantulan bola basket di lantai hardwood. Rupanya satu pemain memilih tetap tinggal dan berlatih, dia adalah LeBron James.

Elijah terpana melihat pemain favoritnya ada di depan mata, dan sang ayah berkata kepadanya, ”Lihat, LeBron tidak hanya menjadi ’Superman’ saat bertanding di lapangan. Dia berlatih keras jauh melebihi pemain yang lain. Itu sebabnya dia menjadi LeBron.”

James memang tidak pernah berhenti berlatih. Kekalahan dari Celtics sangat mengecewakan James sehingga dia bertekad untuk membalasnya.

”Sejak hari pertama, target saya adalah menjadi juara NBA. Tidak kurang dari itu,” tegas James.

James pun mencanangkan dua perubahan. Hal yang pertama dilakukan secara terbuka meminta General Manager Cavaliers Danny Ferry mencari pemain yang bisa membantunya mengatur permainan dan mencetak angka. Ferry menjawab dengan melepas dua pemain dan mendatangkan point guard Mo Williams.

Hal yang kedua dilakukan James pada dirinya sendiri. Untuk pertama kalinya sejak bergabung dalam NBA sebagai draft pilihan pertama tahun 2003, James serius berlatih fisik. Dia berlatih angkat beban selama 30 menit sebelum bertanding. Untuk kelincahan dan kelenturannya, dia juga mendalami yoga.

James terus memperbaiki fisiknya meski secara alamiah dia lebih unggul dibandingkan dengan pebasket pada umumnya. Majalah Sports Illustrated edisi Februari 2009 secara khusus membahas keunggulan fisik pemain kelahiran Akron, Ohio, 30 Desember 1984, ini. Dalam enam tahun, bobot badannya bertambah 12 kilogram menjadi 120 kg, tetapi ini sama sekali tak mengurangi kelincahannya.

Saat sebagian besar pemain membutuhkan 11 hingga 14 langkah berlari dari satu ring ke ring yang lain, James hanya perlu sembilan atau 10 langkah. Loncatan vertikal dua kakinya tercatat 110 sentimeter, dan 140 cm jika meloncat dengan satu kaki. Ditambah dengan ancang-ancang, dia bisa meloncati lemari pakaian tanpa kesulitan.

Tidak biasa

Ukuran tangan James juga tidak biasa. Panjang tangannya dari pangkal pergelangan hingga ujung jari tengah mencapai 24 cm sehingga dia sudah bisa memegang bola basket dengan satu tangan sejak kelas I SMA.

Satu hal lain, tak banyak orang yang tahu kalau James punya masalah dengan penglihatan jarak jauh karena dia terlalu gengsi untuk memakai kacamata. Baru pada tahun lalu dia menjalani operasi mata.

”Asyik sekali, sekarang saya bisa melihat dengan jelas,” ujarnya.

Dengan penglihatan lebih jelas, James berlatih khusus memperbaiki kelemahannya dalam lemparan lompat. Bersama asisten pelatih Chris Jent, James berlatih lima hari seminggu selama dua jam per hari. Hasilnya, musim ini James menyarangkan 49 persen lemparan lapangan, catatan terbaiknya.

”Penggemar cuma melihat permainan dia yang fantastis dan bakatnya yang luar biasa. Tidak banyak yang tahu usahanya untuk selalu menjadi lebih baik. Jika semua berjalan bagus, dia berlatih keras. Jika hasilnya buruk, dia berlatih lebih keras lagi,” ujar Jent tentang James.

Namun, perubahan terbesar James adalah memperbaiki kemampuan bertahan. Dia kerap turun tangan menjaga bintang tim lawan. Aksinya mengeblok bola belakangan ini ditayangkan ulang di televisi sama seringnya seperti slam dunk James yang terkenal.

Musim ini pun menjadi pembuktian James. Cavaliers dibawanya menjadi tim terbaik dengan 66 kemenangan. James terpilih sebagai pemain bertahan nomor dua terbaik setelah Dwight Howard (Orlando Magic). Ini menjadikan dia pemain paling dominan di kedua sisi lapangan setelah era mahabintang Michael Jordan.

Di almamater

Cavaliers hingga kini masih berjuang di semifinal Wilayah Timur, tetapi James sudah menerima penghargaan lain, yaitu pemain terbaik NBA 2008-2009. Jika pemain lain menerima penghargaan ini di stadion tempat mereka bermain, James memilih tempat yang paling berkesan untuknya: gedung olahraga SMA St Vincent-St Mary, almamaternya.

Dengan pengawalan polisi, Senin (4/5), James mengendarai Ferrari-nya pulang ke Akron, melewati rumah pertamanya di Hickory. Kemudian dia melintasi sebuah rumah di Silver Street, tempat sang ibu, Gloria James, membesarkannya.

James juga mampir sejenak ke The Boondocks, taman bermain tempat dia dan teman-temannya pertama kali bermain basket saat masih kecil. James kemudian memasuki kompleks sekolah lamanya dengan sambutan meriah para siswa yang meneriakkan ”M-V-P!” tanpa henti.

Di sekolah ini, James merintis kariernya sebagai calon bintang. Selama tiga tahun berturut-turut, dia mengantar Fighting Iris memenangi gelar antar-SMA di Ohio, prestasi yang mengantarnya masuk NBA tanpa melewati jenjang perguruan tinggi ketika lulus tahun 2003.

Di gedung bersejarah untuknya itu, James mengucapkan terima kasih untuk keluarga, pelatih, rekan setim, dan pada ibunya yang telah membesarkan dia sebagai orangtua tunggal.

”Saya tak tahu bagaimana Mama bisa melakukan semua ini, terima kasih banyak,” ujarnya.

James mengaku perjalanannya belum selesai. ”Misi saya belum selesai. Saya ingin sebuah perayaan lain yang lebih meriah pada bulan Juni (sebagai juara NBA),” katanya.

Target yang tak mudah, tetapi, seperti kata Brown, menjadi lebih mudah karena usaha James. Latihan keras yang dia jalani membuat rekan setimnya termotivasi melakukan hal yang sama.

”Dia membuat budaya baru dalam tim ini. Saya bisa menyuruh pemain melempar ekstra 1.000 kali, berlatih lebih lama, dan upaya lain. Pemain biasanya terpaksa melakukan itu karena disuruh atau diancam hukuman. Namun, kami tidak melakukannya di sini. Karena pemain seperti James, semua menjalaninya dengan senang hati,” kata Brown menambahkan.
Selengkapnya...